
Danapati mencoba untuk berdiri dari tempat jatuhnya namun putra Resi Danarasa itu justru malah limbung dan kembali tersungkur ke tanah.
Melihat putranya yang jatuh, Resi Danarasa segera berkelebat secepat kilat mendekati Danapati. Cepatnya pergerakan Resi Danarasa membuat Adipati Aghnibrata dan orang orang di panggung kehormatan tak menyadari bahwa pimpinan Padepokan Teratai Segara itu sudah menghilang dari tempat duduknya. Begitu kakek tua berjanggut putih itu ada di dekat Danapati mereka baru sadar.
"Resi Danarasa,
Apa yang mau kau lakukan?", teriak Adipati Aghnibrata yang segera melompat turun dari panggung kehormatan menyusul Resi Danarasa. Tumenggung Ludaka pun segera ikut melompat turun menyusul Adipati Aghnibrata ke tengah lapangan pertandingan.
Para pengikut Panji Tejo Laksono pun langsung melompat ke arah sang junjungan begitu Resi Danarasa menghampiri Danapati.
Sembari memapah tubuh Danapati yang lemas karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Resi Danarasa menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Gusti Pangeran, kau memang lebih layak untuk Ayu Ratna di bandingkan dengan putra ku Danapati. Aku akui kekalahan ku", ucap Resi Danarasa seraya menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Kau berjiwa ksatria, Resi Danarasa. Mau mengakui keunggulan Gusti Pangeran atas Danapati putra mu.
Reksonoto,
Bawa Resi Danarasa dan Danapati ke Kepatihan. Panggilkan tabib istana untuk merawat luka dalam Danapati", perintah Adipati Aghnibrata segera.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati ", jawab Patih Reksonoto sembari menghormat pada Adipati Aghnibrata. Lelaki paruh baya itu segera bergegas meninggalkan alun alun Kota Kalingga menuju ke arah Kepatihan diikuti oleh Resi Danarasa dan Danapati juga para murid Padepokan Teratai Segara yang mengawal mereka.
Adipati Aghnibrata langsung menatap ke arah Tumenggung Sumantri yang menjadi juru pengadil pada pertandingan ini. Perwira prajurit Kadipaten Kalingga itu pun mengerti.
"Sesuai dengan yang kita lihat semuanya, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memenangkan pertandingan ini dan berhak untuk menjadi suami dari Gusti Putri Dyah Ayu Ratna", ucap Tumenggung Sumantri dengan lantang.
Sorak sorai para pendukung Panji Tejo Laksono terdengar riuh rendah. Para penjudi yang memberikan dukungan kepada Panji Tejo Laksono pun bersorak kegirangan, sementara para pendukung Danapati berulang kali mengumpat karena kebodohan mereka sendiri.
Panji Tejo Laksono langsung di gandeng Ayu Ratna untuk kembali ke balai tamu kehormatan bersama para pengikut Panji Tejo Laksono termasuk Gayatri dan Luh Jingga. Sedangkan Adipati Aghnibrata menyiapkan jamuan besar untuk merayakan kemenangan ini. Segera dapur istana Kadipaten Kalingga menjadi sibuk karena Adipati Aghnibrata memerintahkan kepada para juru masak dan abdi dalem Istana untuk menyembelih seekor kerbau sebagai bahan makanan utama perayaan kemenangan itu.
Saat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sedang bersukacita karena kemenangan mereka, dua orang prajurit penjaga gerbang istana menghadap Panji Tejo Laksono karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan nya.
"Mohon maaf jika hamba mengganggu Gusti Pangeran.
Ada seorang juragan besar, Ki Karmoyoso yang ingin bertemu dengan Gusti Pangeran. Apa Gusti Pangeran bersedia untuk menerima kedatangan nya?", ujar si prajurit penjaga istana itu setelah menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Ki Karmoyoso? Aku tidak kenal dengan nama yang kau sebut itu.
Ayu Ratna,
Apa kau kenal dengan nama itu?", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Ayu Ratna yang duduk di sebelah.
"Ki Karmoyoso adalah saudagar kaya raya, Gusti Pangeran. Dia pedagang hasil bumi terkaya di timur kota ini. Dia terkenal cukup royal dan juga baik hati meskipun punya sifat buruk suka berjudi.
Kalau dia mencari Gusti Pangeran, pasti ada sesuatu yang diinginkan nya", jawab Ayu Ratna segera.
Hemmmmmmm
"Tidak ada salahnya untuk mencoba berkawan dengan pedagang. Suruh saja dia masuk", perintah Panji Tejo Laksono sembari tersenyum.
Si prajurit penjaga istana itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan mundur dari serambi balai tamu kehormatan. Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama seorang lelaki yang cukup berumur, sekitar seusia dengan Prabu Jayengrana. Tubuhnya gempal. Pakaiannya terbuat dari bahan sutra halus yang menandakan bahwa ia adalah orang yang kaya raya. Di belakang nya, dua orang yang merupakan centeng berbadan besar mengangkat sebuah peti kayu jati yang terlihat berat.
Begitu sampai di hadapan Panji Tejo Laksono, si lelaki bertubuh gempal yang bernama Ki Karmoyoso itu segera menyembah pada sang pangeran muda lalu duduk bersila di lantai serambi balai tamu kehormatan. Panji Tejo Laksono mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia mengijinkan Ki Karmoyoso bicara lebih dulu.
"Mohon ampun Gusti Pangeran.
Perkenalkan hamba Karmoyoso, warga Kota Kadipaten Kalingga. Sedikit banyak Gusti Putri Dyah Ayu Ratna pasti sudah pernah dengar nama hamba", ujar Ki Karmoyoso dengan sopan.
__ADS_1
"Ki Karmoyoso ya?
Baiklah aku terima perkenalan mu. Ada keperluan apa kau kemari?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Hamba membawa sedikit oleh oleh untuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Mohon maaf sebelumnya, tadi pagi hamba bertaruh untuk kemenangan Gusti Pangeran melawan Danapati. Hamba sudah berjanji pada diri hamba sendiri, jika Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memenangkan pertandingan tadi, maka separuh kemenangan akan hamba haturkan kepada Gusti Pangeran.
Mohon di terima ", Ki Karmoyoso segera menghormat pada Panji Tejo Laksono. Lalu para centeng nya langsung membuka peti kayu jati berwarna coklat kehitaman itu. Begitu tutupnya terbuka, ratusan kepeng emas dan perak terlihat bertumpuk di dalam peti kayu itu. Mata semua orang terbelalak melihat uang yang ada di dalam peti.
"Hehehe, kau sungguh orang yang menepati janji.
Baiklah karena ini niat baik mu maka akan aku terima. Karena sekarang ini menjadi milik ku, maka aku berhak menggunakan nya bukan?
Paman Ludaka dan Paman Gumbreg,
Separuh kepeng emas dan perak itu belikan bahan makanan lalu bagikan kepada semua orang kurang mampu di sekitar istana Kadipaten Kalingga. Seperempat nya lagi, bagikan untuk para prajurit penjaga istana Kadipaten Kalingga, untuk menambah uang bayaran mereka. Seperempatnya, Gayatri yang akan menyimpan nya sebagai bekal untuk kita semua", perintah Panji Tejo Laksono.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", jawab Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka sambil menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Ki Karmoyoso, kau orang baik..
Jika suatu saat nanti kau ingin berdagang di Kadiri, atau sekedar ingin berkunjung ke Keputran Daha, aku akan senang hati menerima kedatangan mu", imbuh Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis pada Ki Karmoyoso.
"Suatu kehormatan bagi hamba bisa berkawan baik dengan Gusti Pangeran.
Kalau begitu hamba mohon diri Gusti Pangeran", Juragan Ki Karmoyoso segera menyembah pada Panji Tejo Laksono. Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya. Ki Karmoyoso segera mundur dari tempat itu.
****
Jauh di timur, di Kotaraja Kadiri...
Siang itu sedang diadakan pisowanan rutin setiap bulan nya di Sitihinggil Balai Paseban Agung Istana Kadiri. Sejumlah pejabat istana negara hadir di tempat itu. Nampak duduk dengan rapi para pejabat tinggi Istana Kotaraja Kadiri seperti Mapatih Warigalit, Mahamantri Jayakerti, Mahamantri Mpu Kepung, Dang Acarya Ring Kasaiwan Mpu Gandasena, Dang Acarya Ring Kasogatan Wiku Wikalpa, Senopati Agung Narapraja, Senopati Tunggul Arga, Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Landung, Tumenggung Sindupraja, Tumenggung Rajegwesi dan beberapa pamong praja setingkat Demung dan Juru.
Pisowanan rutin ini membahas aneka hal mulai laporan keamanan hingga keadaan perekonomian di seputar Kotaraja Kadiri khususnya dan Kerajaan Panjalu pada umumnya. Prabu Jayengrana nampak termenung sesaat setelah mendengar penuturan Mahamantri Jayakerti mengenai rencana pengiriman utusan dari Panjalu yang hendak di kirim ke Tanah Tiongkok sebagai duta besar untuk persahabatan kedua kerajaan.
Seperti yang sudah-sudah, duta besar harus berasal dari lingkungan istana, tidak boleh orang luar. Ini yang membuat Prabu Jayengrana pusing memikirkan siapa yang harus berangkat. Para saudara iparnya dari Ayu Ratna jelas tidak bisa dipercaya untuk mengemban tugas seberat ini. Semua warangka praja sedang menunggu titah dari sang raja.
Mpu Kepung melirik ke arah Mpu Gandasena. Pejabat tua itu terlihat mengangguk halus sebagai isyarat kepada Mpu Kepung untuk membuka suara.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu..
Apa sudah di putuskan siapa yang akan berangkat ke Tanah Tiongkok? Kalau boleh hamba mengusulkan, sebaiknya Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang di tugaskan untuk menjadi duta besar Panjalu. Ini akan menjadi pengalaman besar untuk Gusti Pangeran jika nanti dia terpilih sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya", ujar Mpu Kepung sembari menghormat pada Panji Watugunung.
Kasak kusuk langsung terdengar dari para pejabat istana yang hadir di tempat itu.
Mahamantri Jayakerti menghela nafas berat. Dia tahu maksud Mpu Kepung menyarankan agar Panji Tejo Laksono yang berangkat. Meski terdengar mendukung namun Mahamantri Jayakerti tahu ada maksud lain di balik dukungan yang Mpu Kepung berikan. Selama ini dia di kenal sebagai sosok pendukung Mapanji Jayawarsa untuk duduk di atas kursi Yuwaraja Panjalu. Namun sebagai pejabat istana yang berpengalaman, Mahamantri Jayakerti tahu bahwa itu adalah satu-satu pilihan terbaik bagi Kerajaan Panjalu saat ini.
Tapi jika itu dilakukan, maka penerus tahta Kerajaan Panjalu yang paling berbakat akan dalam bahaya karena perjalanan panjang ke negeri antah berantah. Maka dalam hal ini, Mahamantri Jayakerti memilih untuk menunggu keputusan dari Prabu Jayengrana.
Mpu Gandasena, Dang Acarya Ring Kasaiwan segera menghormat pada Panji Watugunung.
"Hamba setuju dengan pendapat Mahamantri Mpu Kepung, Gusti Prabu..
Masalah ini bukan hanya menyangkut kepentingan pribadi tapi juga seluruh Kerajaan Panjalu. Dinasti Song adalah mitra dagang terbesar kita. Saat ini mereka tengah dalam masalah karena serangan bangsa Jin dari daerah utara. Dengan pengakuan dari kita tentang tahta kekaisaran mereka, itu akan membuat mereka menaruh kepercayaan besar pada Kerajaan Panjalu sebagai sekutu dagang mereka di Nusantara. Ini adalah kesempatan bagus. Mumpung kerajaan Sriwijaya di Suvarnabhumi sedang dalam pertikaian, kita bisa mengambil peran sebagai daulat yang di akui oleh Kekaisaran Dinasti Song.
Pendapat Mpu Kepung ini benar benar jitu untuk mengutus Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai duta. Beliau adalah putra sulung dari Gusti Prabu Jayengrana, sudah selayaknya mikul duwur mendem jero terhadap semua persolan kerajaan Panjalu ini Gusti Prabu ", Mpu Gandasena langsung menghormat usai berbicara panjang lebar.
Mpu Kepung tersenyum tipis sembari melirik ke arah Mpu Gandasena. Dua orang ini memang cukup licik.
__ADS_1
Semalam sebelumnya mereka telah mengadakan pertemuan untuk acara pisowanan rutin ini. Mereka telah sepakat untuk meminta Prabu Jayengrana mengutus Panji Tejo Laksono sebagai duta besar ke Kekaisaran Dinasti Song di Tanah Tiongkok. Terlihat sekali mereka seperti mereka mendukung, namun sesungguhnya itu hanyalah siasat mereka untuk menjauhkan Panji Tejo Laksono dari tahta kerajaan Panjalu. Dukungan mereka sebenarnya tetap pada Mapanji Jayawarsa.
Ayu Ratna hanya mengepalkan tangannya erat-erat mendengar ucapan dari kedua punggawa istana Kadiri itu. Dalam hatinya ia tidak ingin Panji Tejo Laksono yang berangkat ke Tanah Tiongkok, namun dia juga tidak tega untuk membiarkan putra nya itu dalam bahaya besar.
Sementara itu Dewi Anggarawati hanya menghela nafas panjang. Mau tidak mau, persoalan pemilihan duta besar Panjalu ke Tanah Tiongkok bukanlah masalah sepele. Panji Tejo Laksono yang merupakan putra tertua Prabu Jayengrana memang wajib untuk melaksanakan tugas ini.
Hemmmmmmm...
"Aku rasa Tejo Laksono memang satu-satunya pilihan untuk tugas ini. Sebagai putra sulung, sudah menjadi kewajiban nya untuk berangkat sebagai duta ke Kekaisaran Dinasti Song.
Dengarkan titah ku,
Putra sulung ku, Pangeran Panji Tejo Laksono di tugaskan untuk menjadi pimpinan duta besar Panjalu ke Tanah Tiongkok. Walaupun saat ini dia masih di Kalingga, tapi itu bukan masalah. Dia bisa berangkat ke sana lewat pelabuhan Halong.
Untuk menemani perjalanan Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Demung Gumbreg aku tugaskan sebagai pengawal pribadi nya. Di samping itu Rakryan Purusoma, yang pintar berbahasa Tiongkok akan menjadi pemandu sekaligus penerjemah bahasa Tionghoa bagi putra ku selama di Tanah Tiongkok.
Tumenggung Sindupraja,
Bawalah hadiah dan cinderamata dari Kerajaan Panjalu ke Kalingga untuk selanjutnya di bawa ke Kekaisaran Dinasti Song. Hari ini juga aku utus kau berangkat ke Kalingga.
Pisowanan ini aku bubarkan. Selanjutnya urusan lain akan di tangani oleh Kakang Mapatih Warigalit", ucap Prabu Jayengrana dengan tenang dan berwibawa.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu!"
Seluruh nayaka praja yang hadir dalam pisowanan rutin ini langsung berjongkok dan menyembah pada Prabu Jayengrana. Sang Maharaja Panjalu itu segera berjalan meninggalkan singgasana diikuti oleh kedua permaisurinya, Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh.
Prabu Jayengrana tidak langsung kembali ke ruang pribadi Raja melainkan ke arah sanggar pamujan yang terletak di timur istana. Dia meminta kepada kedua permaisurinya untuk kembali ke Puri Agung mereka masing-masing. Dua ratu Panjalu itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan dengan patuh melakukan apa yang di perintahkan.
Di dalam sanggar pamujan, Panji Watugunung segera duduk bersila di depan altar pemujaan setelah membakar dupa dan kemenyan. Bau wangi dengan cepat menyebar ke sekeliling tempat itu.
"Sebaiknya aku temui langsung Tejo Laksono untuk membicarakan masalah ini", gumam Panji Watugunung. Dengan cepat, mulut Raja Panjalu itu komat kamit membaca mantra. Sekejap kemudian kabut putih tipis muncul di sekeliling tubuh Prabu Jayengrana. Begitu kabut putih tipis hilang tertiup angin semilir, Prabu Jayengrana juga menghilang dari pandangan.
Di serambi balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga, Panji Tejo Laksono sedang asyik berbincang dengan para pengiring nya. Tiba tiba terdengar suara di telinga sang pangeran muda.
"Putra ku Panji Tejo Laksono, apa kau dengar suara ku?", suara Prabu Jayengrana terngiang jelas di pendengaran Panji Tejo Laksono. Dengan cepat Panji Tejo Laksono duduk bersila sembari mengerahkan tenaga dalam nya.
"Saya dengar Kanjeng Romo Prabu..
Ada gerangan apa yang membuat Kanjeng Romo berbicara dengan saya?", ucap Panji Tejo Laksono segera.
"Romo ingin bertemu dengan mu sekarang di luar tapal batas timur kota Kalingga. Berangkatlah sekarang juga", usai berbunyi demikian, suara itu lantas menghilang.
Panji Tejo Laksono langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Paman Ludaka, bawa dua ekor kuda ke timur tapal batas kota Kalingga. Aku tunggu di sana".
Selepas berkata demikian, Panji Tejo Laksono dengan cepat merapal Ajian Sepi Angin dan melesat ke arah atap bangunan istana Kalingga dan menghilang dari pandangan mata semua orang.
Hanya dalam 5 tarikan nafas, Panji Tejo Laksono sudah sampai di tapal batas timur kota Kadipaten Kalingga. Diatas sebuah batu besar di bawah pohon rindang, Panji Tejo Laksono melihat ayahanda nya berdiri tegak membelakanginya. Segera Panji Tejo Laksono mendekati Prabu Jayengrana.
"Sembah bakti saya, Kanjeng Romo", Panji Tejo Laksono dengan cepat berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Berdirilah putra ku. Ada sesuatu hal penting yang perlu kamu perhatikan", ucap Panji Watugunung segera. Panji Tejo Laksono segera berdiri di belakang Panji Watugunung.
"Ada hal penting apa yang membuat Kanjeng Romo harus kemari seperti ini?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
Hemmmmmmm..
__ADS_1
Terdengar dengusan nafas panjang dari mulut Prabu Jayengrana sebelum berbicara.
"Ada tugas yang harus kau lakukan".