
"Bagus Tejo Laksono..
Besok bersiap untuk mengikuti Panglima Agung Narapraja. Sebagai perwira lama, dia adalah orang yang bisa diandalkan untuk menghadapi segala situasi. Belajarlah dari dia ilmu peperangan, jangan sampai mengecewakan", ujar Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Kanjeng Romo", Panji Tejo Laksono langsung membungkuk hormat setelah menyarungkan Pedang Naga Api kembali.
"Sebaiknya kita segera pulang..
Besok persiapkan diri mu baik-baik Anak ku. Ingat untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dharma ksatria mu sebagai prajurit Panjalu", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum tipis. Dengan menggunakan Ajian Halimun, mereka berdua segera menghilang dari pandangan dan muncul kembali di dalam puri Panji Tejo Laksono di Keputran Kadiri.
Malam semakin larut. Suasana malam yang dingin dan gelap semakin membuat suasana terasa begitu sepi. Para penghuni Istana Katang-katang telah terlelap dalam buaian mimpi indah mereka sendiri-sendiri.
Pagi segera tiba menggantikan malam menguasai bumi. Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos sela sela awan hitam yang menggantung di angkasa. Cericit burung dan kicau burung perkutut bersahutan di ranting pohon yang tumbuh di taman sari dekat Keputran Daha.
Panji Tejo Laksono menggeliat dari tidurnya. Semalam dia tidak bersemedi lagi karena badannya capek setelah mengeluarkan banyak tenaga untuk menguasai Pedang Naga Api. Perlahan sang pangeran muda membuka mata nya dan segera menoleh ke arah cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah jendela kamar tidur nya.
Sang pangeran muda bergegas bangun dan berjalan keluar dari bilik kamar tidur. Saat membuka pintu kamar, terlihat Luh Jingga sudah duduk di serambi kediaman nya.
Panji Tejo Laksono segera mendekati nya.
"Tumben pagi sekali kau kemari. Biasanya kau sedikit siang datangnya, Luh Jingga.
Ada yang mau kau bicarakan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Aku ini kan pelayan mu, Gusti Pangeran. Jadi sudah seharusnya aku datang untuk menyiapkan semua kebutuhan mu", jawab Luh Jingga kalem sambil menundukkan kepalanya.
"Hei kau tidak luwes bicara seperti itu. Bersikaplah seperti kemarin kemarin, jangan sok halus seperti itu, aku tidak suka..
Tolong kau siapkan beberapa potong baju ganti untuk persiapan berangkat ke medan perang. Aku mau mandi dulu", ujar Panji Tejo Laksono sembari berbalik badan menuju ke arah tempat mandi.
"Tunggu Gusti Pangeran..
Kau mau ikut ke medan tempur? Kalau begitu aku ikut dengan mu", ucap Luh Jingga sambil berdiri dari tempat duduknya.
Panji Tejo Laksono langsung membalikkan badannya dan menatap wajah cantik Luh Jingga.
"Medan perang bukan tempat untuk jalan jalan, Jingga.
Kau jangan berpikir bahwa kita kesana untuk bersenang-senang. Setiap saat kita bisa kehilangan nyawa, juga kawan dan sahabat. Apa kau sudah siap dengan itu semua?", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Aku adalah pelayan mu, hidup mati ku bersamamu, Gusti Pangeran.
Aku juga tidak akan merepotkan mu, Gusti Pangeran. Aku bisa menjaga diri ku sendiri", jawab Luh Jingga dengan penuh keyakinan.
Hemmmmmmm..
"Terserah kamu saja kalau begitu. Kalau terjadi apa-apa, aku tidak akan bertanggungjawab atas hal yang terjadi", Panji Tejo Laksono segera melangkah menuju ke arah tempat mandi sementara Luh Jingga bersorak kegirangan karena Panji Tejo Laksono mengijinkan nya untuk ikut. Dia segera bergegas menuju ke balai tamu kehormatan untuk mempersiapkan barang bawaan nya sebelum berangkat bersama Panji Tejo Laksono.
Pagi itu usai berdandan layaknya seorang bangsawan, Panji Tejo Laksono keluar dari kamar tidur nya. Pedang Naga Api tersandang di punggungnya.
Melihat dandanan Panji Tejo Laksono yang terlihat berbeda dari biasanya, Luh Jingga tampak melongo. Panji Tejo Laksono terlihat gagah dan berwibawa dengan gelang bahu emasnya, juga selempang sutra yang melintang di bahu kirinya. Sebuah mahkota kecil sebagai tanda bahwa dia putra Maharaja Panjalu juga tersemat di kepala nya. Sebilah keris juga terselip di pinggangnya. Rambutnya yang lebat tergerai indah sebahu semakin menambah kesan ketampanan sang pangeran muda saat tertiup angin semilir.
Siwikarna dan Jaluwesi yang sudah menunggu sang pangeran juga tak bisa untuk tidak memuji kegagahan dan ketampanan sang pangeran muda.
"Ckckckckckck..
Bendoro kita memang tampan ya Lu.. Dengan tampang rupawan seperti itu, pasti semua perempuan akan tergila-gila pada nya", ujar Siwikarna sambil menggosok hidungnya.
"Kau benar, Karna..
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memang setampan Gusti Prabu Jayengrana sewaktu muda. Coba kau lihat si gadis cantik itu sampai hampir mengiler menatap wajah tampan Gusti Pangeran", Jaluwesi menunjuk ke arah Luh Jingga yang masih terpana melihat ketampanan Panji Tejo Laksono.
"Lah ya wajar to Lu..
Setidaknya ada satu gadis cantik lagi yang kedanan dengan Gusti Pangeran di balai tamu kehormatan. Katanya sih masih terhitung keluarga dengan Gusti Ratu, tapi itu juga bukan halangan untuk mereka di kawinkan", tukas Siwikarna seraya tersenyum lebar.
Ehhemmmmmmm..
Terdengar deheman keras dari Panji Tejo Laksono dan itu cukup untuk menyadarkan Jaluwesi, Siwikarna dan Luh Jingga.
__ADS_1
"Apalagi yang kalian tunggu? Ayo kita berangkat", perintah Panji Tejo Laksono sembari melangkah keluar dari Puri nya. Jaluwesi, Siwikarna dan Luh Jingga langsung mengikuti langkah sang pangeran.
Di alun-alun Kotaraja Kadiri, ribuan prajurit Panjalu sudah berbaris rapi di bawah arahan para pimpinan mereka. Setidaknya ada 10 ribu prajurit yang bersenjata lengkap tengah berbaris rapi disana. Dengan ratusan umbul umbul perang dan pukulan genderang mereka bersiap menunggu perintah.
Dari 10 ribu prajurit itu, mereka di bagi menjadi beberapa kelompok. 2 ribu prajurit pemanah, 4 ribu prajurit berjalan kaki, 3 ribu prajurit berkuda dan 1000 prajurit perlengkapan sudah siap untuk berangkat.
Senopati Agung Narapraja di bantu Senopati Jarasanda yang memimpin mereka di bantu Tumenggung Landung dan Demung Gumbreg. Sedangkan Tumenggung Ludaka sudah berangkat lebih awal untuk melihat pergerakan musuh bersama 500 anggota pasukan Lowo Bengi nya, bekerjasama dengan Pasukan Garuda Panjalu yang berjumlah 2500 prajurit di pimpin oleh Tumenggung Rajegwesi.
Kedatangan Panji Tejo Laksono dan ketiga pengikutnya langsung membuat semua orang terdiam.
"Mari Paman Narapraja, silahkan paman pimpin mereka untuk berangkat", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Kita tunggu Gusti Prabu Jayengrana, Nakmas Pangeran..
Beliau yang berwenang untuk memimpin pasukan selama masih di dalam Kotaraja Kadiri", jawab Panglima Agung Narapraja sambil tersenyum tipis.
Tak berapa lama kemudian, Prabu Jayengrana datang bersama Dewi Anggarawati, Ayu Galuh, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Beberapa pejabat istana juga turut mengiringi langkah sang Raja Panjalu. Begitu sampai di depan para prajurit, Prabu Jayengrana langsung menatap ke arah ribuan prajurit yang ada disana.
Dhhhiiiieeeeenggggg!!!
Terdengar suara bunyi nyaring bende di tabuh sebelum Panji Watugunung berbicara.
"Hari ini kalian semua akan berangkat menuju ke medan tempur. Belum tentu semuanya bisa kembali dengan selamat tapi aku yakin bahwa pengabdian kalian semua untuk Kerajaan Panjalu akan di catat dalam tinta emas sejarah anak cucu kita nanti sebagai pahlawan yang mempertahankan kewibawaan Kerajaan Panjalu dari rongrongan para prajurit Blambangan.
Berjuanglah dan bawa pulang kemenangan untuk Kerajaan Panjalu!", titah Prabu Jayengrana yang langsung di sambut teriakan para prajurit Panjalu.
"Hidup Gusti Prabu Jayengrana!"
"Hidup Kerajaan Panjalu!"
"Hidup Gusti Prabu Jayengrana!!"
"Hidup Kerajaan Panjalu!!"
Sorak sorai membahana mengiringi keberangkatan para prajurit Panjalu. Senopati Agung Narapraja dan Panji Tejo Laksono beserta para pimpinan pasukan langsung menyembah pada Panji Watugunung sebelum berangkat. Sang Maharaja Panjalu mengangkat tangan kanannya pertanda dia merestui mereka.
Thhhhhuuuuuuuutttttttth!!!
Setelah tanduk kerbau berbunyi, pasukan Panjalu bergerak meninggalkan Alun alun Kotaraja Kadiri. Para penduduk Kotaraja Kadiri berdiri di tepi jalan menyaksikan pergerakan prajurit Panjalu.
"Anggarawati,
Putra mu benar benar mirip dengan Kangmas Prabu saat masih muda ya? Benar benar gagah dan tampan", ujar Ratna Pitaloka yang menemani Dewi Anggarawati dan Panji Watugunung berdiri melepas kepergian pasukan Panjalu.
"Iya Anggarawati..
Kau sungguh beruntung punya putra seperti dia", imbuh Sekar Mayang sembari tersenyum simpul.
"Dia bukan cuma putra ku Kangmbok Mayang, Kangmbok Pitaloka..
Tapi dia juga putra kalian. Putra sulung dari semua istri Kangmas Prabu", jawab Dewi Anggarawati sambil memeluk lengan kiri Panji Watugunung yang masih berdiri menatap ke arah perginya pasukan Panjalu.
Pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke arah timur.
Menjelang senja mereka sampai di perbatasan Pakuwon Lawor yang merupakan wilayah paling timur Kadipaten Seloageng yang juga merupakan wilayah perbatasan dengan Jenggala.
Di sana pasukan dari Kadipaten Seloageng dan Singhapura sudah mendirikan ratusan tenda mereka berkemah.
Senopati Kadipaten Seloageng, Gardana dan Senopati Kadipaten Singhapura, Kandasambu menyambut kedatangan pasukan Panjalu dengan penuh hormat.
"Selamat datang di perkemahan para prajurit, Gusti Panglima Agung Narapraja", ujar Senopati Gardana dengan cepat.
"Terimakasih atas penghargaan mu, Senopati Gardana.
Tapi sebaiknya kau juga menyapa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang ikut hadir dalam peperangan ini", balas Senopati Agung Narapraja sambil menoleh ke samping kanan nya. Senopati Gardana dan Senopati Kandasambu saling berpandangan sejenak sebelum mereka segera berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono dan menyembah pada pangeran muda itu.
"Mohon ampuni kami Gusti Pangeran.
Kami yang bodoh ini tidak bisa mengenali Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dengan baik", ujar Senopati Gardana dengan cepat.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian wajar saja jika tidak mengenali ku karena baru pertama kali bertemu dengan ku.
Pimpinan Pasukan Panjalu adalah Paman Senopati Agung Narapraja, jadi selama peperangan ini dia yang akan memimpin pasukan, bukan aku.
Satu gunung hanya boleh ada satu singa, satu hutan hanya boleh ada satu harimau dan satu pasukan hanya bisa di kendalikan oleh satu pimpinan. Camkan itu.
Sekarang berdirilah seperti seorang ksatria", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Senopati Gardana dan Senopati Kandasambu langsung bangkit dari tempat berlutut nya. Mereka berdua tersenyum tipis mendengar ucapan Panji Tejo Laksono.
Sore itu, pasukan Panjalu menambahkan puluhan tenda besar untuk para prajurit mereka. Demung Gumbreg yang mengurusi perbekalan para prajurit dengan sigap mengatur orang orang nya untuk menyiapkan semua kebutuhan para prajurit.
Di bantu Weleng dan Gubarja, dua bawahan setia nya Demung Gumbreg yang terlatih dalam perlengkapan dengan cepat menyelesaikan tugas.
Di barat Sungai Lawor kini sudah terkumpul tak kurang 20 ribu prajurit.
Menjelang malam, semua perwira tinggi prajurit Panjalu berkumpul di tenda besar yang menjadi pusat pergerakan prajurit Kerajaan Panjalu.
"Kita akan menggunakan wyuha ( gelar perang ) apa menurut kalian?
Sebagian besar pasukan kita adalah pasukan berjalan kaki, dan medan perang adalah sungai Lawor ini", tanya Senopati Agung Narapraja sambil menatap ke arah para perwira yang hadir di tempat itu.
"Bagaimana kalau kita gunakan wyuha Garuda Nglayang, Gusti Senopati Agung.
Banyak nya prajurit yang berjalan kaki itu bisa menjadi sayap garuda yang bisa mengibas musuh", ujar Senopati Gardana segera.
"Tapi medan tempur ini terlalu sempit, Senopati Gardana. Susah untuk membangun gelar perang Garuda Nglayang jika tempat nya seperti ini", tukas Senopati Kandasambu menunjuk tempat pertempuran yang tergambar dalam gulungan kulit kambing.
Hemmmmmmm..
"Memang sulit untuk membangun gelar perang jika tempat nya seperti ini.
Senopati Jarasanda,
"Apa kau punya usul?", Senopati Agung Narapraja menoleh ke arah Senopati Jarasanda yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Gusti Senopati Agung,
Melihat sempitnya ruang yang ada disini, saya teringat dengan gelar perang yang pernah di pakai oleh Gusti Prabu Jayengrana saat mengalahkan para prajurit Jenggala di tepi Kali Aksa dulu.
Dulu dengan mengandalkan kekuatan prajurit Panjalu yang hanya setengah dari jumlah pasukan Jenggala, Gusti Prabu Jayengrana berhasil menghancurkan pasukan Jenggala dengan taktik yang jitu.
Apakah Gusti Senopati Agung ingat dengan hal itu?", ucapan Senopati Jarasanda langsung membuat Senopati Agung Narapraja manggut-manggut mengerti.
"Kau benar Senopati Jarasanda..
Kita hanya perlu sedikit mengubah siasat perang itu namun dasarnya masih sama. Selain itu untuk menata pasukan, kita juga butuh kabar mengenai perkiraan jumlah prajurit Blambangan yang bergerak kemari.
Tumenggung Ludaka,
Apa sudah ada kabar dari Pasukan Lowo Bengi mu?", kali ini Senopati Narapraja menoleh ke arah Tumenggung Ludaka. Pria bertubuh gempal dengan kumis yang mulai memutih itu menunggu laporan dari sang pimpinan pasukan telik sandi.
"Mohon ampun Gusti Senopati Agung,
Laporan awal menyebutkan jumlah orang yang bergerak dari Blambangan sekitar 15 ribu prajurit. Namun sehari yang lalu, menurut laporan telik sandi, jumlah mereka sudah dua kali lipat. Ada kecurigaan pihak Istana Kahuripan diam diam memberikan bantuan kepada mereka", Lapor Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Senopati Agung Narapraja.
Hemmmmmmm..
"Mereka selalu mencoba membuat masalah dengan kita. Meskipun raja mereka sudah berganti tapi Jenggala selamanya akan membuat jalan untuk menjadi musuh bagi Panjalu.
Kalau begitu besok pagi kita mulai menata bagian untuk menghadapi mereka. Kita gunakan saja cara Gusti Prabu Jayengrana untuk menghadapi orang-orang Blambangan itu.
Kita gunakan wyuha Vajra. Pasukan pemanah di pimpin oleh Tumenggung Landung akan bersiap di sekitar tebing sungai di dua titik utara dan selatan. Begitu mereka masuk jarak tembak anak panah, segera lepaskan serangan.
Kita akan bergerak dalam tiga ujung vajra. Senopati Gardana akan memimpin ujung vajra selatan. Senopati Jarasanda di tengah dan Senopati Kandasambu akan bergerak di ujung Utara. Aku menjadi pangkal vajra dengan pasukan Panjalu yang berjalan kaki", ujar Senopati Agung Narapraja yang membuat semua orang mengangguk mengerti.
Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya memperhatikan persiapan itu, segera angkat bicara.
"Lantas apa bagian ku Paman?"
__ADS_1