
Hooooaaaaaarrrrrrrggggghhhhh...!!
Suara lengkingan penuh kemarahan Si Tengkorak Hitam terdengar memekakkan gendang telinga. Para pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei yang lain memilih untuk menjauhi tempat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Luo Fan. Mereka semua takut terkena serangan nyasar.
Luo Fan yang sedang dalam Ilmu Delapan Belas Tulang Iblis dengan cepat menjejak tanah dengan keras.
Bhhuuuuummmmmmhh!
Tanah seketika retak dan menjalar cepat kearah Panji Tejo Laksono. Dari dalam tanah muncul tulang tulang lancip dan tajam seperti duri yang menyerbu ke arah Panji Tejo Laksono.
Jllleeeeeppppphhh jleeppph..
Kraaatttaaakkkk!!
Saat tulang lancip itu melesak ke arah Panji Tejo Laksono, tulang tulang hitam ini seperti kehilangan ketajaman nya dan menjadi tumpul. Panji Tejo Laksono dengan cepat menghantamkan kepalan tangan kanannya ke tanah dengan keras hingga retakan tanah ini bergetar sekali lagi dan menutup dengan cepat.
Kesal karena semua serangan nya berhasil di mentahkan oleh Panji Tejo Laksono, Luo Fan kembali melesat cepat kearah sang lawan sembari menghantamkan kedua tinju tangan kanan dan kirinya bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.
Bhhuuuuummmmmmhh bhhuummhh..
BLLLAAAMMMMMMMM !!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Asap tebal dan debu beterbangan menutupi seluruh tempat itu hingga membuat jarak pandang jadi terbatas. Luo Fan melompat menjauh dari gumpalan asap tebal itu namun saat yang bersamaan bayangan kuning keemasan berkelebat cepat kearah nya sembari menghantam perut Luo Fan.
Dhiiieeeessshh...
Aaauuuuggggghhhhh !!
Luo Fan terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Ada darah kehitaman yang mengalir keluar dari sudut bibirnya. Rupanya pukulan keras si bayangan kuning keemasan yang tidak lain adalah Panji Tejo Laksono melukai organ dalam tubuh nya.
Perlahan Ilmu Delapan Belas Tulang Iblis andalan nya memudar seiring dengan luka dalam yang dia terima.
'Brengsek, aku terlalu meremehkan pemuda ini. Sekarang aku luka dalam parah, harus kabur sebelum dia menyadari nya. Aku harus mencari cara', batin Luo Fan sembari mengedarkan pandangannya. Mata lelaki bertubuh kurus itu langsung terpaku pada sosok Wanyan Lan yang masih terduduk dengan luka dalam yang di terimanya.
Dengan cepat, Luo Fan Si Tengkorak Hitam langsung menyambar tongkat besi bergagang tengkorak manusia yang kebetulan berada di dekat tempat dia berdiri.
Segera Luo Fan mengayunkan tongkat besi nya ke arah Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuggghhhh..!
Selarik sinar hitam redup berhawa dingin langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung melompat tinggi ke udara menghindari serangan Luo Fan yang merupakan serangan pengalih perhatian.
Saat itu juga, Luo Fan langsung melesat cepat kearah Wanyan Lan dan dengan cepat tangan kiri nya mencengkeram erat leher sang putri Kepala Suku Jurchen. Panji Tejo Laksono yang sedikit lengah dengan kecohan Luo Fan, langsung melesat cepat mendekati Luo Fan yang menyandera Wanyan Lan.
"Mundur !
Atau ku patahkan leher gadis ini !", ancam Luo Fan sembari mempererat cekikan tangan kirinya ke leher Wanyan Lan. Melihat itu, Panji Tejo Laksono urungkan niat untuk maju mendekat. Sementara itu, pertarungan sengit antara para pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei dan para pengikut Panji Tejo Laksono langsung terhenti. Mereka langsung mundur ke belakang pimpinan masing-masing. Dari 8 orang pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei, tinggal 5 yang tersisa. Itupun dengan beberapa luka sayatan senjata di tubuh mereka.
"Lepaskan dia, kakek tua..
Kalau kau mengaku pendekar, seharusnya kau tidak melakukan tindakan memalukan seperti ini", ucap Panji Tejo Laksono segera.
__ADS_1
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Peduli setan dengan gelar pendekar. Saat aku sudah melanglang buana, kau masih ngompol di dalam pelukan ibu mu, pemuda tengik!
Jadi jangan sok menggurui ku tentang arti dari seorang pendekar kalau kau belum cukup pengalaman", bentak Luo Fan kereng. Panji Tejo Laksono hanya mendengus dingin sembari menatap tajam ke arah Luo Fan yang masih menyandera Wanyan Lan.
"Sudah jangan pedulikan aku, Kak Thee..
Bunuh saja bajingan keparat ini sekarang. Sekarang amat mudah bagi mu untuk melenyapkan orang sesat ini", teriak Wanyan Lan yang masih mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Luo Fan.
"Diam kau, gadis sial..
Sekarang berikan kepada ku Stempel Giok Naga sekarang! Cepat! ", ucap Luo Fan setengah mengancam pada Wanyan Lan. belum sempat Wanyan Lan menjawab omongan Luo Fan, tiba-tiba...
"Untuk apa kau menyandera Wanyan Lan, manusia tulang? Benda yang kau cari tidak ada padanya".
Semua orang yang ada di tempat itu langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara yang berasal dari pintu kereta kuda. Putri Song Zhao Meng turun dari kereta kuda. Cai Yuan yang terlambat untuk menahan gerakan Putri Song Zhao Meng, akhirnya memutuskan untuk diam. Selangkah demi selangkah, Putri Song Zhao Meng berjalan menuju samping Panji Tejo Laksono.
"Apa maksud dari ucapan itu, Putri Song?
Apa kau tahu dimana letak Stempel Giok Naga itu berada? Cepat katakan pada ku!", hardik Luo Fan sembari menatap tajam ke arah Putri Song Zhao Meng.
"Tentu saja aku tahu. Tapi untuk apa ku beritahukan kepada mu? Tidak ada untungnya juga bagi ku", jawab Putri Song Zhao Meng dengan senyuman mencibir ke arah Luo Fan. Pendekar tua bertubuh kurus kering seperti tengkorak manusia itu langsung mendesis keras.
"Bangsat!
Rupanya kau berani sekali ya? Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi pada mu sekarang.
Wanyan Lan,
Panji Tejo Laksono terpecah perhatian nya antara menolong Wanyan Lan yang luka dalam parah atau menyelamatkan nyawa Putri Song Zhao Meng. Tiba-tiba saja muncul hawa dingin yang berhembus perlahan di samping Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri segera melirik ke arah Putri Song Zhao Meng yang tersenyum tipis kearahnya.
Segera sang pangeran muda ini sadar bahwa Song Zhao Meng kini bukan putri kaisar biasa saja. Dengan cepat Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah tubuh Wanyan Lan dan menyambar tubuh gadis itu secepat mungkin.
Sementara itu di sisi lain, Luo Fan yang melesat cepat kearah Putri Song Zhao Meng terkejut bukan main saat merasakan hawa dingin yang sanggup membekukan tulang tiba tiba berhembus kencang dari arah Putri Song Zhao Meng. Apa yang ada di depan mata nya sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan.
Putri Song Zhao Meng memutar pergelangan tangannya di depan dada sembari menatap tajam ke arah Luo Fan. Dari dalam tubuhnya muncul kabut putih dingin yang dengan cepat membekukan sekitar tempat dia berdiri. Mata Putri Song Zhao Meng langsung berubah warna menjadi putih yang menakutkan. Secepat kilat Putri Song Zhao Meng menghantamkan kedua tangan nya ke arah Luo Fan yang menuju ke arah nya. Rupanya Putri Song Zhao Meng mengeluarkan jurus bagian dari Ilmu Bulan Es yang di sebut Hawa Bulan Membeku.
Whhhuuuggghhhh..!!
Hawa dingin yang mengerikan dengan cepat berhembus ke arah Luo Fan. Kakek tua renta bertubuh kurus ini mencoba untuk menghindar dari hawa dingin yang di lepaskan oleh Putri Song Zhao Meng dengan merubah gerakan tubuhnya. Namun dia terlambat beberapa saat.
Kaki kirinya yang tersapu hawa dingin dari Putri Song Zhao Meng langsung membeku tak dapat di gerakkan. Perlahan es menutupi seluruh tubuh Luo Fan yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Sekejap mata kemudian, tubuh tua Luo Fan langsung berubah menjadi bongkahan es.
Semua orang terkejut bukan main melihat kejadian itu. Tak terkecuali Jenderal Liu King, Chen Su Bing dan Cai Yuan yang masih melongo melihat pemandangan mengerikan ini. Sedangkan anak buah Panji Tejo Laksono pun segera menjauh dari tempat Song Zhao Meng untuk menghindari hawa dingin yang menyebar.
Panji Tejo Laksono sambil menggendong Wanyan Lan, langsung melesat cepat kearah tubuh Luo Fan yang membeku. Satu tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono langsung menghantam dada Luo Fan.
Dhaaaasssshhh...
Kraaatttaaakkkk...!
__ADS_1
BLLLAAAAAARRR !!
Tubuh Luo Fan yang membeku langsung hancur berkeping keping dalam serpihan es. Dia tewas dengan mengenaskan. Melihat Luo Fan tewas, sisa pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei langsung melompat untuk melarikan diri.
Putri Song Zhao Meng segera menata nafasnya. Perlahan hawa dingin yang keluar dari dalam tubuh nya memudar dan menghilang. Begitu juga matanya yang berwarna putih berangsur pulih kembali seperti sedia kala.
Melihat para pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei itu kabur, Gumbreg yang berdiri tak jauh dari Panji Tejo Laksono langsung melompat ke arah para pendekar sewaan Pangeran Zhao Wei yang kabur sembari berteriak keras, "Ayo kita kejar mereka!"
Baru dua langkah, Gumbreg segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Luh Jingga yang masih terlihat berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun.
"Kog kalian semua tenang saja? Ayo kita kejar mereka mumpung belum terlalu jauh", ucap Demung Gumbreg segera.
"Kau kejar saja sendiri, Mbreg. Kami tidak berminat.
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono saja tidak memerintahkan kepada kami untuk mengejar kog", jawab Tumenggung Ludaka sambil mencebikkan bibir nya ke arah Gumbreg. Mendengar jawaban itu, Gumbreg langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Gusti Pangeran,
Mereka kita biarkan saja?", tanya Gumbreg segera. Mendengar pertanyaan Gumbreg, Panji Tejo Laksono segera mengangkat tubuh Wanyan Lan yang pingsan sembari berkata perlahan, "Kalau Paman Gumbreg ingin mengejar mereka, silahkan saja. Tapi yang lain biarkan saja tetap di tempat ini".
Mendengar jawaban itu, Gumbreg langsung cengar-cengir sembari memanggul pentung sakti nya ke pundak.
"Ya kalau gak di kejar ya gak apa apa. Kita malah bisa istirahat kog. Benar ya Lu?", Gumbreg mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Ludaka.
"Yo mboh sak karep mu,Mbreg ( Ya terserah sesuka hati mu, Mbreg)", jawab Tumenggung Ludaka acuh tak acuh. Sembari menggerutu dalam hati, dengan muka blingsatan karena malu, Gumbreg segera berjalan mendekati kawan kawan nya.
Panji Tejo Laksono dengan cepat mendudukkan tubuh Wanyan Lan yang masih pingsan di bantu Luh Jingga dan Song Zhao Meng.
Dengan cepat, Panji Tejo Laksono segera duduk bersila di belakang punggung Wanyan Lan usai menotok beberapa titik nadi di tubuh Wanyan Lan dan menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Wanyan Lan sesegera mungkin. Hawa hangat dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh putri Kepala Suku Jurchen ini.
Perlahan mata Wanyan Lan terbuka. Dengan mata sayu dan wajah pucat, perempuan cantik itu menatap ke sekeliling nya. Melihat Wanyan Lan sadar, semua orang merasa gembira. Panji Tejo Laksono segera menambah tenaga dalam yang dia salurkan ke punggung Wanyan Lan untuk mempercepat proses penyembuhan.
Huuuuooogggghhh..!!
Putri Kepala Suku Jurchen ini kembali muntah darah segar bercampur kehitaman pertanda bahwa darah yang membeku di dalam tubuhnya sudah keluar. Setelah darah kehitaman ini keluar, nafas Wanyan Lan menjadi lebih tenang dan wajah nya berangsur lebih dari sebelumnya.
"Sebaiknya kita segera membawa dia ke tabib istana, Kakak Thee..
Luka dalam nya cukup parah dan butuh sekali perawatan dari ahli obat dan tabib istana yang berpengalaman", ujar Song Zhao Meng yang langsung mendapat anggukan kepala dari Panji Tejo Laksono. Segera Panji Tejo Laksono menggendong tubuh Wanyan Lan ke dalam kereta kuda.
Setelah membereskan barang-barang, rombongan Panji Tejo Laksono segera melanjutkan perjalanan ke arah Kaifeng. Selepas matahari bergulir ke arah barat, mereka sudah sampai di Kota Kaifeng, Ibukota Kekaisaran Song. Para prajurit penjaga gerbang kota langsung membuka jalan bagi rombongan itu setelah melihat kehadiran Jenderal Liu King dan Chen Su Bing.
Atas perintah dari Putri Song Zhao Meng, rombongan itu tidak segera menuju ke arah Istana Kaisar Song yang ada di tengah kota. Mereka membelokkan arah pergerakan mereka pada sebuah rumah besar yang berdiri megah di dekat tembok istana Kaisar. Pada pintu gerbang rumah ini, ada sebuah tulisan yang berbunyi,
'Rumah Tabib Dewa'.
______________________________________________
Assalamualaikum
Mohon maaf jika update episode nya lambat. Author sedang sibuk dengan pekerjaan kantor yang kemarin sempat memaksa begadang di hingga pagi.
__ADS_1
Tetap dukung author berkarya ya..
Terimakasih sebelumnya.