
"Ananda bersedia, Ayahanda Kaisar", jawab Song Zhao Meng sambil mengangguk cepat.
"Hahahaha...
Sudah ku duga kalau kau pasti bersedia. Baiklah, karena ini merupakan keinginan yang baik maka tidak perlu di tunda lagi. Setelah kau cukup tinggal di Kota Kaifeng, saat kau pulang ke negeri Po Chia Lung, bawalah Meng Er bersama mu, Pangeran Thee..
Sebagai ayahnya, aku titipkan putri ku untuk kau jaga dengan baik. Ingat, kalau sampai kau ketahuan menyakiti hati nya, tentara Kekaisaran Song tidak akan segan-segan untuk menggempur Tanah Cho PO", ujar Kaisar Huizong sembari mengelus janggut tipisnya. Kasim Tong Guan tampak tidak suka dengan ucapan Kaisar Negeri Song ini namun dia masih menahan diri untuk tidak menyela omongan sang penguasa.
"Saya mengerti Yang Mulia Kaisar.. Saya berjanji akan selalu menjaga Meng Er di sisa umur yang saya miliki", Panji Tejo Laksono membungkuk hormat kepada Kaisar Huizong segera.
"Bagus bagus..
Sekarang kau boleh beristirahat. Meng Er, antar calon suami mu ke tempat peristirahatan di aula tamu kehormatan", perintah Kaisar Huizong sembari mengangkat tangan kanannya. Mendengar perintah sang penguasa Kekaisaran Song, Putri Song Zhao Meng langsung menghormat pada ayahnya dan bergegas mengantar Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan menuju aula tamu kehormatan.
Selepas mereka pergi, Kasim Tong Guan langsung membuka mulutnya, " Mohon ampun Yang Mulia Kaisar bila hamba lancang. Ada hal yang mengganjal pikiran hamba. Kenapa Yang Mulia begitu mudah menyerahkan Putri Meng Er pada pangeran negeri asing itu?".
"Hehehehe, Kasim Tong kenapa kau lugu sekali?", Kaisar Huizong terkekeh kecil sembari menatap ke Kasim Tong Guan yang kebingungan dengan sikap Penguasa Tanah Tiongkok ini.
"Maksud Yang Mulia?
Tong Guan sangat bodoh, kurang mengerti maksud dari perjodohan Putri Meng Er ", Kasim Tong Guan membungkuk hormat kepada Kaisar Huizong.
"Hehehehe...
Dengarkan aku, Tong Guan. Menjalin hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Po Chia Lung di Tanah Cho Po, itu akan menguntungkan bagi kita. Satu sisi, kita mendapat sekutu dari daerah selatan terus yang kedua, perdagangan antar wilayah kita akan menaikkan pamor Kekaisaran Song di mata dunia.
Di tambah lagi, kita tidak perlu repot-repot lagi dengan semua sikap pemberontak Meng Er yang merepotkan. Aku hanya ingin hidup tenang dan nyaman tanpa perlu takut ada keturunan ku yang berbuat onar di Daratan Tengah ini. Kita bisa menjauhkan Meng Er dari tahta Kekaisaran Song, sekaligus menempatkan diri nya sebagai pengikat hubungan antara Kekaisaran Song dengan Po Chia Lung di Tanah Cho Po.
Ibarat kata, dengan hubungan ini, kita bisa menjatuhkan dua burung dengan satu lemparan batu. Apa kau mengerti sekarang, Tong Guan?", Kaisar Huizong tersenyum penuh arti.
"Yang Mulia Kaisar sungguh bijaksana. Semoga Yang Mulia panjang umur untuk terus memimpin rakyat ", Kasim Tong Guan membungkuk hormat kepada Kaisar Huizong sembari tersenyum tipis.
Sementara Kaisar Huizong dan Kasim Tong Guan bergembira dengan kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan, di aula tamu kehormatan Putri Song Zhao Meng terlihat berbahagia dengan keputusan Kaisar Huizong mengenai perjodohan nya dengan Panji Tejo Laksono. Sebab walaupun di halangi oleh Kaisar Huizong, Song Zhao Meng akan bertekad untuk mengikuti langkah sang pangeran muda dari Kadiri itu meninggalkan Tanah Tiongkok.
"Kakak Thee,
Aku sangat bahagia sekarang. Ayahanda Kaisar memenuhi semua hal yang aku inginkan", ujar Song Zhao Meng yang segera mengangkat cangkir teh nya.
"Aku juga turut senang, Meng Er..
Tapi kita juga harus ingat untuk segera memberikan Biji Lotus Salju 100 tahun pada Tabib Chu. Nyawa Wanyan Lan sedang dalam bahaya sekarang ", Panji Tejo Laksono meneguk air teh hijau yang di sajikan untuk nya.
"Kakak Thee tenang saja..
Aku sudah menyuruh Qiao Er untuk mengantar Biji Lotus Salju 100 tahun pada Tabib Chu. Sebentar lagi dia pasti kembali. Kita sudah bisa bernafas lega sekarang ", Song Zhao Meng tersenyum lebar ketika berkata demikian.
Selama hampir sepekan kemudian, Panji Tejo Laksono tinggal di Istana Kekaisaran Song. Meski dengan pengawalan ketat dari pihak istana, Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng bisa berjalan di sekitar Kota Kaifeng karena ingin membeli barang oleh oleh untuk di bawa pulang ke Kadiri. Aneka kain sutra halus nan indah, di beli untuk Ayu Ratna dan Gayatri. Selain itu, untuk Luh Jingga, Panji Tejo Laksono juga membelikan beberapa pasang pakaian khas Tanah Tiongkok dan aneka kain sutra halus sebagai penghargaan atas kesetiaan nya.
Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Rakryan Purusoma dan Tumenggung Rajegwesi yang mengikuti langkah sang pangeran muda, turut berbelanja di pasar besar Kota Kaifeng. Tangan Demung Gumbreg nampak mengusap kain sutra halus yang ada di depannya ini.
"Purusoma,
Tanyakan pada penjual nya, berapa harga kain ini?", Gumbreg bicara tanpa menoleh ke arah Rakryan Purusoma. Tangan kanannya masih mengusap kain sutra halus berwarna biru ini.
"Eh Mbreg buat apa kau menanyakan perihal harga kain sutra halus ini? Kain ini untuk perempuan Mbreg", sergah Tumenggung Ludaka sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Memangnya kau mau pakai pakaian perempuan Mbreg?
Hahahaha tidak lucu dan sangat menggelikan jika ada banci berbadan tambun seperti mu hihihihi", sambung Tumenggung Rajegwesi sambil terkekeh geli.
Rakryan Purusoma yang hendak ikut bicara langsung mengkerut saat melihat mata Gumbreg melotot kereng ke arah nya.
"Kampret..
Kalian berdua kalau ngomong asal bunyi saja ya? Ini bukan buat ku tapi untuk Dhek Jum dan putri ku Kresnawati. Sembarangan saja kalau bicara!", omel Demung Gumbreg sambil mendengus keras.
"Hehehehe...
Kalau kau yang pakai aku bersedia untuk membelikannya, Mbreg. Pasti akan sangat terlihat lucu saat ada orang gendut seperti mu memakai pakaian perempuan hahahaha", Tumenggung Ludaka tertawa lepas.
"Teman macam apa kau ini Lu? Suka banget melihat kawan di olok-olok.
Purusoma,
Cepat tanyakan berapa harga kain ini? Aku sedang malas untuk berdebat dengan Ludaka", Gumbreg segera mengalihkan pandangannya pada Rakryan Purusoma. Perwira menengah Prajurit Panjalu itu segera mendekati seorang wanita paruh baya yang menjadi penjual kain sutra halus ini.
"Maaf Nyonya..
Berapa harga kain sutra halus ini?", tanya Rakryan Purusoma dengan sopan.
"Ah Tuan pintar melihat barang bagus.. Ini kain sutra dari Fujian, di buat dari kepompong ulat sutra terbaik hingga menghasilkan kain yang bagus. 1 lembar kain sutra halus ini harganya 10 tail perak", jawab si penjual ini sembari tersenyum simpul. Suatu senyum palsu yang biasa di gunakan oleh para penipu.
"Hah??!!! Mahal sekali Nyonya..
Apa tidak bisa kurang lagi dari harga segitu?", Rakryan Purusoma mencoba untuk menawar harga kain sutra halus ini. Sang penjual kain hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. Rakryan Purusoma segera menoleh ke arah Gumbreg.
"Harganya 10 tail perak, Kakang Gumbreg. Tidak boleh kurang, aku sudah mencoba untuk menawar harga nya", mendengar jawaban Rakryan Purusoma, wajah Demung Gumbreg langsung kecewa. Dia ingin sekali memberikan oleh oleh untuk istri nya. Saat itu, Song Zhao Meng bersama dengan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga yang masih melihat beberapa barang di lapak sebelah mereka, sedikit sedikit memahami omongan bahasa Jawa Kuno yang mereka pakai. Dia cukup keras belajar bahasa Jawa Kuno pada Rakryan Purusoma beberapa hari belakangan ini. Segera Song Zhao Meng mendekati si penjual kain sutra halus itu.
"Nyonya,
Kalau jualan sebaiknya kau jujur. Boleh mengambil untung tapi jangan menipu orang. Jelas jelas ini kain sutra halus dari Hangzhou, tapi kenapa kau bilang dari Fujian? Kau mau menipu siapa?", ucapan Song Zhao Meng yang sedikit keras langsung membuat si wanita paruh baya itu segera tertunduk malu.
"Nona Muda,
Maafkan aku sudah berbuat salah. Kalau Nona Muda ingin kain ini, aku bisa memberikannya cuma-cuma kepada Nona Muda tapi tolong kecilkan suara mu", ujar si penjual kain sutra halus ini dengan sedikit ketakutan.
"Aku tidak suka dengan sogokan. Aku ingin kain mu ini dua potong. Harga aslinya 3 tail perak, tapi aku kasih kau untung satu tail perak jadi semua 4 tail perak. Cepat lipat sekarang!", perintah Song Zhao Meng yang langsung membuat si penjual kain sutra halus ini dengan cekatan melipat kain sutra ini dan memberikan pada Song Zhao Meng. Putri Kaisar Huizong ini segera menyerahkan 4 tail perak kepada si penjual. Setelah itu, Song Zhao Meng segera mengulurkan kain sutra halus ini pada Gumbreg.
"Pa-man, ini hadiah dari ku un-tuk mu", ujar Song Zhao Meng dalam bahasa Jawa Kuno dengan sedikit terbata-bata yang membuat semua orang terkejut mendengar nya. Gumbreg bahkan melongo tak sempat mengucapkan terima kasih kepada Song Zhao Meng yang segera berlalu menuju kearah Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga yang sedang melihat-lihat barang di lapak sebenarnya.
"Lu.. Aku tidak salah dengar kan?"
***
Nun jauh di belahan bumi selatan, di Tanah Jawadwipa.
"Gusti Adipati Waramukti,
Sudah berpuluh tahun kita memendam perasaan dendam pada Prabu Jayengrana. Kematian Paman Suryanata yang menjadi tumbal nyawa saat pengangkatan Panji Watugunung menjadi Raja Panjalu harus kita balas.
Toh selama ini, Panjalu kurang memperhatikan perkembangan wilayah kita yang ada di wilayah perbatasan dengan Tatar Pasundan.
__ADS_1
Aku sarankan agar kita memberontak saja pada Panjalu dan berdiri sendiri sebagai kerajaan merdeka", ucap seorang pemuda berwajah kaku dengan badan tegap dan kumis tipis berapi-api. Melihat dari pakaiannya yang terdiri dari kain halus yang mahal juga perhiasan emas di gelung rambut juga kalung lehernya, dia adalah seorang lelaki bangsawan.
Dia adalah Gurunwangi, putra Galungwangi pengawal setia Pangeran Suryanata yang terbunuh dalam pertarungan sengit di tepi Wanua Cenggini beberapa puluh tahun silam oleh Dewi Srimpi. Saat kematian Galungwangi, Gurunwangi masih seorang bocah berusia 3 warsa. Adipati Warasambu, Penguasa Kadipaten Rajapura ketika itu melihat kesetiaan Galungwangi pada putranya Pangeran Suryanata, akhirnya memboyong istri Galungwangi ke Kota Rajapura sebagai bentuk penghargaan nya. Istri Galungwangi kemudian di nikahkan dengan seorang Bekel Prajurit Rajapura sebagai tempat mereka berdua menyambung hidup.
Kini ayah tiri Gurunwangi telah menjadi seorang mantri dharmadyaksa pada masa pemerintahan Adipati Waramukti, penerus Adipati Warasambu yang sudah meninggal dunia. Gurunwangi sendiri telah diangkat menjadi seorang pimpinan prajurit Kadipaten Rajapura dengan pangkat Tumenggung. Dia sangat dekat dengan Adipati Waramukti yang merupakan adik bungsu dari Pangeran Suryanata.
Rupanya bara api dendam kepada Panji Watugunung dan para punggawa Istana Kadiri masih tersimpan di dalam hati Gurunwangi. Dia ingin menghancurkan semua orang yang terlibat dalam kematian ayahnya dengan segala cara.
Sejak kecil, Gurunwangi berguru kepada beberapa orang pendekar yang cukup tersohor di dunia persilatan Tanah Jawadwipa , utamanya di wilayah Rajapura hingga ke Kalingga bahkan hingga ke Tatar Pasundan. Ini menjadikannya sebagai seorang perwira prajurit yang memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang tinggi. Ini semua demi membalas dendam kematian Galungwangi.
Hemmmmmmm...
Terdengar hembusan nafas panjang dari mulut Adipati Waramukti. Adipati muda yang berusia sekitar 4 dasawarsa ini nampak tengah berpikir keras.
"Ucapan mu ada benarnya juga, Gurunwangi.
Kanjeng Romo Adipati Warasambu juga berpesan agar aku membalas dendam kematian Kangmas Pangeran Suryanata sesaat sebelum ajal menjemput nya. Kadiri memang kurang memperhatikan nasib kita. Mereka hanya menuntut pajak bumi dan upeti tanpa memikirkan keadaan yang sedang terjadi di daerah.
Ini yang membuat aku semakin gerah dengan sikap mereka. Kita memang harus mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap kekuasaan Kadiri di Kadipaten Rajapura", ucap Adipati Waramukti sembari mengepalkan tangannya erat-erat sambil memukul-mukul tiang penyangga ruang pribadi nya. Mendengar jawaban itu, Tumenggung Gurunwangi tersenyum lebar.
"Gusti Adipati Waramukti tenang saja.
Sebagai persiapan untuk menghadapi para prajurit Panjalu, hamba sudah menjalin hubungan dengan beberapa perguruan silat yang cukup besar di wilayah Kadipaten Rajapura dan Kalingga. Mereka bersedia untuk membantu perjuangan kita asal saat nanti kita sudah menjadi negeri merdeka, anak murid mereka diangkat menjadi prajurit dan putra putra pimpinan mereka kita angkat sebagai punggawa istana", ucap Tumenggung Gurunwangi dengan penuh keyakinan.
"Perguruan silat mana saja yang sudah kau hubungi, Tumenggung Gurunwangi?
Kita butuh banyak prajurit karena Kadiri memiliki puluhan ribu prajurit juga ratusan perwira rendah, menengah dan tinggi yang memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Menantang mereka harus juga melihat kekuatan kita lebih dulu ", ucap Adipati Waramukti segera.
"Padepokan Golok Dewa dari lereng Gunung Pojoktiga sisi timur, dengan jumlah murid sekitar 1000 orang sudah siap untuk bergabung.
Perguruan Pedang Kembar dengan murid lebih dari 2000 orang dari lereng Gunung Agung, menyatakan bahwa kapanpun kita butuh tenaga mereka, semuanya akan di turunkan. Belum lagi beberapa perguruan silat yang memiliki murid ratusan juga menyatakan diri masuk dalam rencana kita untuk menggempur Kadiri. Jumlah keseluruhan dari mereka tak kurang dari 5000 orang pendekar, Gusti Adipati.
Jika ini di tambah dengan para prajurit Kadipaten Rajapura, seluruh nya kita memiliki 20 ribu orang prajurit ", Tumenggung Gurunwangi menghormat pada Adipati Waramukti.
Hemmmmmmm...
"Ini sangat kurang, Tumenggung Gurunwangi.
Untuk menantang kekuatan Kadiri, setidaknya kita butuh sekitar 30 ribu orang prajurit. Apa kau bisa mengumpulkan prajurit sebanyak itu dalam waktu singkat?", tanya Adipati Waramukti sembari menatap ke arah Tumenggung Gurunwangi.
"Gusti Adipati Waramukti tidak perlu khawatir.
Mulai hari ini hamba akan menghubungi para pendekar golongan hitam untuk membantu kita.
Hamba yakin bahwa mereka pun akan bersedia untuk membantu perjuangan kita melawan wong wong Kadiri itu", ujar Tumenggung Gurunwangi dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu, berangkatlah sekarang juga.
Aku tunggu kabar baik dari mu, Tumenggung Gurunwangi", titah Adipati Waramukti sembari mengangkat tangan kanannya.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Tumenggung Gurunwangi segera menyembah pada Adipati Waramukti sebelum beranjak dari tempat duduknya. Sembari melangkah keluar meninggalkan Istana Kadipaten Rajapura, Tumenggung Gurunwangi mendesis penuh dendam,
"Prabu Jayengrana,
Tunggu pembalasan dendam dari ku!"
__ADS_1