
Dua orang lelaki bertubuh sedikit kurus namun berotot terlihat tergesa-gesa berlari menembus rimbunnya pepohonan. Meskipun kaki mereka sudah penuh dengan luka akibat goresan duri tajam semak belukar, keduanya seolah tak peduli dengan itu semua. Hutan lebat di kawasan barat daya Kotaraja Daha ini hanyalah satu penghalang bagi mereka untuk segera sampai di pinggiran Kota Pakuwon Randu.
Begitu keluar dari dalam hutan itu, keduanya segera berlari menuju ke sebuah rumah tua yang terletak di pinggir barat Kota Pakuwon Randu. Beberapa orang lelaki bertubuh kekar namun berpakaian seperti rakyat jelata pada umumnya, terlihat sedang duduk di sebuah tempat berteduh yang ada di ujung halaman rumah tua ini. Sekilas mereka menatap ke arah dua orang itu karena mengenali keduanya dan membiarkannya pergi begitu saja memasuki rumah tua ini.
"Katiwasan Gusti Tumenggung..
M-mereka sudah mulai bergerak!!!", lapor salah seorang dari dua lelaki itu begitu memasuki dalam rumah.
Orang yang di maksud oleh dua orang itu tidak lain adalah Tumenggung Landung. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Akhirnya, mereka bergerak juga untuk memulai perang ini.
Wignyo, Prakoso...
Kalian berdua yang paling hebat dalam berkuda. Cepat laporkan ini pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono di Seloageng. Berangkat sekarang juga!", perintah Tumenggung Landung segera. Dua orang yang di tunjuk, cepat haturkan sembah sebelum bergegas keluar dari dalam tempat itu.
"Wangsa, Mandura..
Kirim pesan lewat merpati kalian ke Kotaraja Daha dan Pasukan Garuda Panjalu. Kau, Gempil dan Raharja, kumpulkan semua barang-barang kita secepatnya. Kita harus bergabung dengan kelompok Kakang Tumenggung Ludaka di dekat tapal batas Kotaraja. Semuanya, lekas bergerak", mendengar perintah dari sang pimpinan, mereka berempat pun segera melaksanakan tugas yang diberikan.
Hanya dalam waktu singkat, seluruh anggota Kelompok Pasukan Lowo Bengi yang ada di tempat itu langsung meninggalkan tempat itu untuk bergabung dengan kelompok lain di bawah pimpinan Tumenggung Ludaka.
Wignyo dan Prakoso terus memacu kuda mereka sekencang-kencangnya, melintasi jalan yang menuju ke arah Kota Kadipaten Seloageng. Tanpa mempedulikan rasa pegal dan lelah yang mereka rasakan, dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi itu menggebrak kuda tunggangan mereka masing-masing menuju ke arah Kota Kadipaten Seloageng. Mereka berdua memacu kuda mereka melintasi puluhan wanua dan perkampungan penduduk di wilayah Kabupaten Gelang-gelang tanpa mengurangi kecepatan berkuda mereka.
Kecepatan berkuda dua orang prajurit ini memang bisa diandalkan. Hanya dalam waktu kurang dari tiga kali waktu menanak nasi, mereka berdua telah sampai di tempat yang dituju.
Panji Tejo Laksono sedang menerima pisowanan para punggawa dan perwira prajurit Seloageng di Pendopo Agung Istana Kadipaten Seloageng. Senopati Gardana yang sedang menyampaikan laporan nya terkait dengan kesiapan para prajurit Seloageng, langsung di hentikan oleh Panji Tejo Laksono yang melihat kedatangan dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi itu.
"Katakan, apa tujuan kalian berdua kemari?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Mohon ampun bila kedatangan kami mengganggu pisowanan agung ini, Gusti Pangeran Adipati. Tapi kami membawa berita penting.
Pasukan pemberontak telah bergerak menuju ke arah Kotaraja Daha", ujar Wignyo sembari menghormat pada Adipati Seloageng ini.
Semua orang terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Wignyo dan Prakoso. Para punggawa yang duduk bersila berdekatan langsung kasak kusuk, mengira-ngira apa sikap Panji Tejo Laksono selanjutnya.
Hemmmmmmm...
"Saat yang diramalkan itu akhirnya datang juga..
Kalian berdua boleh segera kembali ke kelompok kalian. Katakan saja pada Paman Landung dan Paman Ludaka untuk terus mengawasi pergerakan mereka tapi jangan mencoba untuk menghadapi secara langsung", titah sang pangeran muda ini segera.
"Baik Gusti Pangeran.. Segala titah akan hamba sampaikan kepada Gusti Tumenggung Landung dan Gusti Tumenggung Ludaka.
Kami mohon pamit..", Prakoso segera menghormat diikuti oleh Wignyo usai berbicara. Keduanya berbalik badan dan melangkah meninggalkan pendopo agung ini sesegera mungkin.
Usai kepergian dua orang telik sandi ini, Panji Tejo Laksono segera mengedarkan pandangannya kepada seluruh orang yang ada di tempat itu.
"Panjalu sedang menghadapi tantangan besar dari para pejabat negara yang ingin merongrong kewibawaan pemerintah pusat. Seloageng tidak akan tinggal diam melihat ini semua.
__ADS_1
Sebagai Adipati Seloageng, aku memutuskan untuk pergi ke medan palagan bersama para prajurit Seloageng. Urusan tata laksana pemerintahan, akan di atur oleh Romo Patih Sindupraja bersama para punggawa istana negara yang lain.
Senopati Gardana, bawa seluruh perwira tinggi dan 15 ribu orang prajurit mu untuk bersiap berperang. 5 ribu lainnya berjaga di sekitar Kota dan Istana Kadipaten Seloageng. Juru Wingking yang akan menjadi pimpinan sementara prajurit selama kau tidak ada. Berangkatlah sekarang, kita tidak boleh menunda keberangkatan", perintah Panji Tejo Laksono yang membuat Senopati Gardana segera menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati", usai menghormat, Senopati Gardana segera mundur dari tempatnya lalu bergegas menuju ke arah Ksatrian Seloageng.
Hari itu juga, para prajurit Kadipaten Seloageng bergerak menuju ke arah perbatasan Kotaraja Daha. Di pimpin oleh Panji Tejo Laksono langsung, 15 ribu orang prajurit ini bergerak cepat menggunakan kuda. Senopati Gardana, Tumenggung Wirosakti yang merupakan perwira baru yang diangkat oleh Patih Sindupraja, Demung Suryo dan beberapa bekel prajurit ikut mengiringi perjalanan sang pangeran. Dari para istri, Endang Patibrata, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng saja yang ikut dalam peperangan ini.
Ratusan umbul-umbul dan bendera kebesaran Kadipaten Seloageng yang berwarna putih dengan gambar gapura batu di tengah menjadi simbol kebesaran daerah di utara Sungai Kapulungan ini turut menyemarakkan perjalanan mereka. Puluhan pedati mengangkut ratusan kati bahan pangan menjadi barisan paling belakang dari rombongan ini.
Di perbatasan antara Kabupaten Gelang-gelang dan Kadipaten Seloageng, rombongan prajurit Gelang-gelang yang dipimpin oleh Pangeran Bupati Panji Manggala Seta, Patih Dyah Sumantri, Senopati Gringsing dan Tumenggung Banyubiru menyambut kedatangan mereka dengan 10 ribu orang prajurit.
"Darimana kau memperoleh kabar tentang masalah ini, Dhimas Manggala Seta?", tanya Panji Tejo Laksono dari atas kuda nya.
"Aku mendengar dari Akuwu Janti, Kangmas Pangeran..
Kita harus bekerjasama untuk segera menumpas para pemberontak ini. Kalau tidak, Panjalu tidak akan damai Kangmas Pangeran", balas Panji Manggala Seta segera.
"Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu lagi Dhimas Manggala Seta.
Semuanya, kita berangkat menuju perbatasan Kotaraja!", teriak Panji Tejo Laksono sembari mengangkat tangan kanannya yang membuat seluruh prajurit mengangkat senjata mereka dengan penuh semangat.
Menjelang sore hari...
Di luar tapal batas Kotaraja Daha, tepatnya di tepi hutan kecil Jatiwangi, sudah menunggu kedatangan mereka para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Agung Jarasanda bersama dengan Senopati Tunggul Arga.
Bersamaan dengan itu, dari arah timur Pasukan Garuda Panjalu yang di pimpin oleh Tumenggung Sembada dan Tumenggung Naratama. Ribuan orang prajurit yang telah di latih dengan keras oleh Senopati Agung Jarasanda, mengekor di belakangnya.
Semua perwira tinggi prajurit Panjalu, baik dari Kotaraja Daha, Kabupaten Gelang-gelang dan Kadipaten Seloageng mengikuti langkah sang pimpinan tertinggi prajurit Panjalu itu segera.
"Bangunlah Paman Senopati Agung.. Sekarang bukan waktunya bersopan santun", ujar Panji Tejo Laksono sembari mengangkat tangan kanannya. Mendengar perkataan itu, Senopati Agung Jarasanda bersama seluruh perwira tinggi prajurit Panjalu bangkit dari tempat menyembahnya.
.
"Kami sudah mengatur tempat bagi para prajurit kita.
Sebaiknya kita segera mengatur rencana untuk menghadapi para pemberontak ini", ujar Senopati Agung Jarasanda segera.
"Silahkan Paman Senopati Agung memimpin lebih dulu. Aku akan mengikuti langkah paman", jawab Panji Tejo Laksono yang segera membuat Senopati Agung Jarasanda membungkuk hormat sebelum melangkah ke sebuah tenda besar yang sudah di bangun oleh pasukan perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg.
Sesampainya di bangunan yang sudah di tata sedemikian rupa, mereka semua segera duduk bersila di lantai tenda yang sudah di lapisi tikar pandan. Kesemuanya segera duduk melingkar tanpa memandang derajat dan pangkat yang mereka miliki.
"Gusti Pangeran, apa langkah kita selanjutnya? Apa rencana yang Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono buat untuk menghadapi situasi ini?", pertanyaan ini langsung terucap dari mulut Senopati Agung Jarasanda setelah sekian lama orang di tempat itu hanya diam menunggu.
"Pertama, aku ingin mengetahui setiap titik pertahanan kita di luar Kotaraja Daha.
Coba kalian jelaskan apa yang kalian semua tahu", ujar Panji Tejo Laksono mengawali pertemuan para perwira tinggi prajurit Panjalu kali ini.
Satu persatu perwira mulai melaporkan semua hal yang mereka ketahui tentang situasi terkini di sekitar Kotaraja Daha. Tinggal giliran Tumenggung Ludaka yang melaporkan hasil kerja nya.
__ADS_1
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Saat ini Kotaraja Daha sedang di kepung dari tiga arah yang berbeda", ucapan Tumenggung Ludaka itu sontak membuat semua orang terkejut bukan main.
"Apa maksud mu Paman Ludaka? Coba kau jelaskan ", ucap Panji Tejo Laksono dengan nada tenang.
"Begini Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..
Jika pasukan dari selatan di bawah pimpinan Mpu Gandasena, maka ada pasukan lain yang bergerak dari arah barat. Tepatnya dari wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Mereka bergerak cepat dan kini telah sampai di tepi Sungai Kapulungan. Selain itu, ada serombongan orang orang dunia persilatan yang telah berkumpul di dekat dermaga penyeberangan Wanua Jinjing yang merupakan wilayah paling selatan dari Kadipaten Bojonegoro. Baru saja kabar terkirim dari telik sandi yang ada di Pakuwon Watugaluh dekat dengan tempat itu, ada puluhan ribu orang prajurit dengan jarit hijau tua sedang bersiap siap untuk menyeberangi Sungai Kapulungan. Bisa dipastikan bahwa mereka adalah para prajurit Kadipaten Bojonegoro", lapor Tumenggung Ludaka.
Laporan ini seketika membuat semua orang kaget bukan main. Mereka yang semula merasa yakin bisa mengatasi para pemberontak ini dengan mudah, langsung sadar bahwa kini situasi mereka sedang dalam kesulitan besar.
Hemmmmmmm...
"Rupanya Dhimas Mapanji Jayawarsa juga terlibat dalam masalah ini. Berani-beraninya dia bersekongkol dengan para pemberontak itu saat Kanjeng Romo Prabu Jayengrana sedang sakit.
Dengarkan aku semuanya..
Situasi yang kita hadapi sekarang ini sangat sulit. Mana kawan dan mana lawan akan sulit dibedakan karena mereka adalah kawan kita sendiri. Karena itu, untuk membedakan mana kawan mana lawan, aku perintahkan kepada seluruh prajurit untuk mengenakan pita dari kain merah pada lengan sebelah kiri sebagai tanda pengenal.
Selanjutnya aku akan membagi pasukan Panjalu menjadi tiga kelompok yang akan dipimpin oleh seorang pimpinan. Mereka adalah.....", Panji Tejo Laksono langsung membagi pasukan Panjalu. Masing-masing dipimpin oleh seorang pimpinan yang bertanggungjawab penuh atas pasukannya langsung kepadanya. Jabatannya sebagai Mahamantri I Sirikan memberikan kuasa itu kepadanya.
Pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Tumenggung Sembada dan Tumenggung Naratama, sebagai pasukan khusus, ditugaskan untuk menghadapi para pendekar dunia persilatan yang berkumpul di wilayah Kadipaten Bojonegoro paling selatan.
Tiga pasukan besar lainnya, masing-masing dipimpin oleh Panji Tejo Laksono dengan 25 ribu orang prajurit di wilayah selatan, Panji Manggala Seta bersama dengan para perwira Istana Gelang-gelang berikut 30 ribu orang prajurit menghadapi pemberontak dari barat, sedangkan Senopati Agung Narapraja di bantu oleh Senopati Tunggul Arga akan menjadi penghalang bagi para prajurit Kadipaten Bojonegoro bersama dengan 30 ribu orang prajurit.
Selesai pembagian tugas, malam itu juga Panji Manggala Seta segera memimpin pasukan nya ke arah barat, sedang Senopati Agung Narapraja bersama Senopati Tunggul Arga bergerak menuju ke arah Utara.
Malam itu, Panji Tejo Laksono langsung mengatur para prajurit yang tersisa untuk bersiap siaga. Berbagai macam taktik pun segera diatur sedemikian rupa sehingga mereka yang biasa mengikuti langkah sang pangeran dengan cepat mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Meskipun gelap malam terasa dingin mencekam di wilayah sekitar Kotaraja Daha, namun suasana tegang membuat para prajurit Panjalu yang ada di tempat itu nyaris tak dapat memejamkan mata.
Pagi hari datang seperti biasanya. Cahaya matahari perlahan mulai muncul di langit timur dengan indahnya. Langit nampak cerah tanpa awan berarak disana hingga warna biru sang langit begitu sedap dipandang mata.
Panji Tejo Laksono baru saja selesai menyantap sarapan pagi bersama para istri nya saat tiba tiba terdengar suara terompet tanduk kerbau ditiup lantang.
Thhhhhuuuuuuuuuuuutttttttttttthhh...
Sontak saja Panji Tejo Laksono langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyambar jirah perang miliknya yang tergantung di tiang tenda tempat bermalam nya. Sedikit terburu-buru, Endang Patibrata, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng membantu suaminya mengikatkan tali pengikat jirah itu. Begitu selesai, Panji Tejo Laksono segera menyandang Pedang Naga Api di punggungnya sembari melangkah keluar dari dalam tenda diikuti oleh ketiga orang istrinya.
Begitu sampai di luar tenda, para perwira tinggi prajurit Panjalu seperti Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung, Demung Gumbreg, Senopati Gardana dan Tumenggung Wirosakti sudah berjajar rapi menunggu kedatangan sang pangeran. Semuanya langsung membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Apakah para pemberontak itu sudah sampai di sini?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Mereka semua telah sampai. Jumlah mereka sekitar 30 ribu orang prajurit", Tumenggung Landung membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
Panji Tejo Laksono langsung mengelus dagunya sebelum berbicara,
__ADS_1
"Kalau begitu, ini saatnya kita hancurkan mereka!!"