Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Utusan Istana Kadiri


__ADS_3

"Huh Tapak Naga dari Bukit Walang,


Biar aku yang mewakili Dewa Angin Utara untuk bicara dengan mu", sahut seorang lelaki bertubuh bungkuk yang memegang tongkat kayu dengan bonggol berbentuk bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa. Jubah hitamnya terlihat gombrong menutup hingga menyentuh mata kaki. Wajahnya tak terlihat jelas karena rambutnya awut-awutan hanya di gelung asal saja. Namun sorot matanya terlihat tajam seperti mata seekor elang.


Meski terlihat seperti orang lemah, namun dia adalah seorang pendekar yang memiliki nama besar di dunia persilatan. Namanya Wasesodirjo, tapi orang persilatan menjulukinya sebagai Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut. Di wilayah Kadipaten Mataram, namanya sangat terkenal lebih lebih lagi karena Adipati Mataram, Rakai Panumbangan adalah saudara seperguruan nya.


Sekedar tahu, Kadipaten Mataram adalah bekas wilayah Kadipaten Bhumi Sambara yang terpaksa berpindah ibukota setelah bencana letusan Gunung Mandrageni menghancurkan sebagian besar ibukota lama. Kadipaten Mataram bergeser ke arah timur laut dari ibukota lama karena menghindari bahaya letusan Gunung Mandrageni terulang kembali. Kini Kadipaten Mataram menjadi salah satu daerah penghasil beras terbesar di wilayah Kerajaan Panjalu, setelah Kalingga dan Seloageng. Mereka menjelma sebagai kekuatan besar di wilayah barat.


"Dewa Angin Utara ingin kau berpihak pada siapa dalam pemilihan pimpinan aliran putih ini?


Kalau kau berpihak pada Dewa Angin Utara, tentu saja ada keuntungan yang kau dapatkan Suradharma. Setiap tahun kalian akan menerima 200 kepeng emas yang bisa kau gunakan untuk membesarkan perguruan mu. Sebagian besar para pemimpin perguruan silat sudah menyatakan kesediaannya untuk mendukung Dewa Angin Utara menjadi pimpinan aliran putih. Tinggal perguruan silat mu beberapa lainnya yang belum memberikan dukungan", imbuh Wasesodirjo sembari menatap tajam ke arah Begawan Suradharma.


"Terima kasih atas tawaran mu tapi terus terang saja, kami belum memberikan dukungan kepada pihak manapun dalam pemilihan ini, Wasesodirjo..


Aku baru akan mengungkapkan siapa yang aku dukung saat pertemuan nanti. Tapi tidak untuk sekarang ini", ucap Begawan Suradharma sambil menatap ke arah Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara.


"Kau jangan keras kepala, Suradharma..


Cepat tentukan pilihan mu sebelum kesepakatan sebelumnya hilang dan kau pasti akan menyesalinya", ujar Wasesodirjo dengan nada penuh ancaman.


"Maaf Wasesodirjo..


Aku tidak akan menyesal membuat keputusan apapun untuk menentukan pilihan. Lihat saja besok dalam pertemuan aku akan mendukung siapa", ujar Begawan Suradharma dengan tegas.


Wasesodirjo mendengus keras mendekati sikap keras kepala Begawan Suradharma. Namun saat akan bergerak, tangan Dewa Angin Utara terangkat menghalangi nya.


"Begawan Suradharma benar, Wasesodirjo..


Tidak perlu repot-repot lagi bicara tentang pemilihan esok hari. Mereka orang bijak tentu mana yang terbaik untuk ke depannya. Sebaiknya kita kembali ke tempat peristirahatan kita.


Begawan Suradharma, Resi Linggajati..


Kami undur diri lebih dulu. Permisi", ujar Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara sembari tersenyum tipis lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar dari tempat peristirahatan rombongan Begawan Suradharma. Para pengikutnya pun segera mengikuti langkah sang pimpinan meninggalkan tempat itu.


"Dewa Angin Utara, kenapa kau lepaskan Suradharma dan Resi Linggajati begitu saja?


Mereka sudah membantai Kelelawar Mata Iblis yang merupakan sekutu terkuat kita. Jika mereka sampai berbalik memusuhi kelompok kita dan kita biarkan saja, kita pasti kesulitan untuk mendapatkan dukungan dari semua pendekar", ujar Wasesodirjo sembari berjalan di samping Ki Gendar Pekik begitu mereka menjauhi tempat peristirahatan kelompok Begawan Suradharma dan Resi Linggajati. Lelaki tua berjanggut panjang itu segera menghentikannya langkah kakinya. Semua orang langsung mengikuti langkah sang pemimpin.


"Apa kau pikir aku mau memberikan hormat kepada dua pandita tua bangka itu jika aku tidak butuh dukungan mereka? Kalau tidak butuh sudah ku buat mereka menjadi makanan anjing liar di hutan karena sikap sombong mereka.


Satu hal yang perlu kamu tahu, Wasesodirjo. Di belakang dua pandita busuk tadi ada seorang pendekar muda yang terus memperhatikan gerak-gerik kita. Ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda itu. Dia mampu menekan tenaga dalamnya hingga aku hampir tak bisa meraba seberapa tinggi kemampuan nya. Kita perlu berhati-hati dengan nya", ucap Ki Gendar Pekik sembari mendengus dingin.


"Maksud Ki Gendar Pekik, apa pemuda berkulit kuning langsat yang memakai baju biru kehitaman tadi?", tanya Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut penuh penasaran.


"Benar, Wasesodirjo..


Pemuda tampan itu sangat mencurigakan. Jika bisa menyelidiki nya tentu lebih baik", jawab Ki Gendar Pekik segera.


"Akan ku laksanakan Ki. Tunggu saja kabar baik dari ku", ujar Wasesodirjo sembari menghormat pada Ki Gendar Pekik sebelum beranjak pergi. Melihat itu, Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara segera melangkah menuju ke tempat tinggal yang disediakan untuknya. Para pengikutnya pun mengekor di belakangnya.


Udara di sekitar lereng Gunung Damalung atau juga dikenal sebagai Gunung Pamrihan pada malam hari itu terasa begitu dingin menusuk tulang. Semua orang yang menghadiri pertemuan pendekar itu sebagian besar memilih untuk berdiam diri dalam tempat peristirahatan yang di sediakan terutama para pendekar yang datang dari pesisir Utara pulau Jawa yang terbiasa dengan udara hangat.


Di tempat peristirahatan Kelompok Begawan Suradharma dan Resi Linggajati, seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis namun terlihat berwibawa nampak duduk bersila di depan perapian yang berkobar bersama dengan Panji Tejo Laksono dan Gayatri juga Luh Jingga. Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka juga turut serta disana. Usia lelaki itu kurang lebih sepantaran dengan Panji Watugunung, namun pakaian yang merah berselempang warna hijau tua nampak berkibar di tiup angin yang berhembus sepoi-sepoi.


Dia adalah Wirotama, murid Mpu Sasi yang sekarang menjadi pimpinan Padepokan Padas Putih, usai para pinisepuh padepokan ini seperti Mpu Sakri, Mpu Sasi dan Mpu Narashima meninggal dunia karena usia sepuh. Senja tadi dia yang juga turut menghadiri pertemuan pendekar itu melihat hadirnya Panji Tejo Laksono berniat untuk menyapanya, namun di cegah oleh Tumenggung Ludaka dan meminta agar sang pimpinan Padepokan Padas Putih itu menemui Panji Tejo Laksono setelah malam tiba. Meski sedikit heran dengan sikap Tumenggung Ludaka, Wirotama memilih untuk menyetujui permintaan itu.


"Tak ku sangka kau juga akan ikut dalam acara ini, Gusti Pangeran..

__ADS_1


Ku lihat kemampuan beladiri mu jauh meningkat pesat setelah beberapa bulan tidak bertemu", ujar Wirotama sembari tersenyum simpul.


"Paman Guru,


Mohon maaf jika aku lancang. Tapi aku dalam penyamaran jadi mohon Paman Guru tidak memanggil ku dengan sebutan Gusti Pangeran agar upaya penyamaran ku sia-sia", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Oh jadi itu alasan kenapa tadi Gusti Tumenggung Ludaka meminta ku untuk tak segera menemui mu..


Baiklah, aku akan memanggil mu dengan sebutan Denmas Panji saja karena bagaimanapun kau adalah putra Gusti Prabu Jayengrana.


Oh iya kau belum menjelaskan pada ku alasan kalian untuk mengikuti acara ini? Bukankah pihak Istana Katang-katang tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan?", tanya Wirotama kemudian.


"Kami memang tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan, Paman Guru. Tapi kami juga harus melakukan pengawasan terhadap para pendekar agar semua nya bisa selaras tanpa saling menjatuhkan.


Paman Guru sendiri akan memilih siapa untuk menjadi pimpinan aliran putih ke depannya?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Wirotama.


Belum sempat Wirotama menjawab pertanyaan tersebut, Resi Linggajati dan Begawan Suradharma datang mendekati mereka berdua.


"Rupanya Pendekar Topeng Emas kenal juga dengan Tejo Laksono ini ya?", sapa Resi Linggajati menyebut julukan Wirotama sembari tersenyum tipis.


"Dia adalah salah satu murid Padepokan Padas Putih, Resi..


Bagaimana mungkin aku tidak mengenali nya?", Wirotama tersenyum penuh arti.


"Oh pantas saja aku melihat Tejo Laksono ini mengeluarkan Ajian Tapak Dewa Api saat mengalahkan Kelelawar Mata Iblis kemarin. Ternyata dari Padepokan Padas Putih.


Murid mu sangat hebat Wirotama", puji Begawan Suradharma sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Dia bukan murid ku, Begawan Suradharma..


Kedua orang tua itu terkaget mendengar jawaban Wirotama.Namun dengan cepat menguasai diri lalu mengangguk mengerti.


Malam semakin larut. Udara Gunung Damalung yang dingin menusuk tulang membuat suasana semakin terasa sunyi.


Ayam jantan berkokok lantang dari dalam kandang Padepokan Pedang Awan. Menandakan bahwa sebentar lagi pagi akan segera tiba di lereng Gunung Damalung. Perlahan gelap malam terusir dari angkasa, berganti dengan langit cerah di ufuk timur. Cericit burung kutilang dan kepodang terdengar riuh rendah bersahutan dari ranting-ranting pohon di sekitar tempat itu.


Pagi itu diadakan persiapan pemilihan pimpinan aliran putih yang baru. Para murid Padepokan Pedang Awan dengan sigap dan cekatan menata tempat di serambi joglo besar yang menjadi tempat diadakannya acara pemilihan.


Berbagai pimpinan dan ketua perguruan silat hadir di tempat itu sesuai dengan tempat yang di siapkan sebelumnya.


Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang nampak duduk di kursi kayu yang ada di ujung tempat itu. Wajahnya yang sepuh penuh dengan keriput dan air muka nya terlihat berwisata meski usianya sudah lebih dari seabad. Mata kakek tua itu terlihat menyapu seluruh hadirin yang hadir pada pertemuan.


"Kisanak semuanya,


Hari ini akan di adakan pemilihan pimpinan aliran putih untuk ke depannya. Aku harap ajang pemilihan ini bukan di jadikan sebagai tempat untuk mencari ketenaran dan kekayaan pribadi. Sebagai penerus Maharesi Purnamasidi, silahkan tentukan pilihan kalian.


Padepokan Pedang Awan sebagai tuan rumah akan bersikap netral dalam kegiatan ini", ujar kakek tua yang merupakan pimpinan Padepokan Pedang Awan, Resi Mpu Wasista. Seorang lelaki bertubuh gempal yang memanggul senjata kapak besar langsung berdiri dari tempat duduknya begitu Resi Mpu Wasista selesai bicara.


"Aku Baleman dari Padepokan Gunung Kendeng, mengajukan Dewa Angin Utara sebagai pimpinan aliran putih mengganti Maharesi Purnamasidi", ucap sang lelaki yang mengaku bernama Baleman itu dengan lantang.


Melihat itu, seorang lelaki bertubuh kekar berbaju biru dengan kumis tipis dan rambut bergelung ukel langsung berdiri. Dia pun langsung ikut bicara.


"Aku tidak setuju dengan pendapat Pendekar Kapak Perunggu itu. Aku Setaguna dari Perguruan Pedang Biru mengharapkan agar Resi Guru Jnanabajra dari Pertapaan Gunung Ungaran sebagai pengganti Maharesi Purnamasidi yang telah berpulang", usai berkata demikian, Setaguna membungkukkan badannya pada seorang lelaki paruh baya yang berpakaian layaknya seorang agamawan di sisi kanan Resi Mpu Wasista.


"Huh apa hebatnya pertapa dari Gunung Ungaran itu, Setaguna?


Dia hanya seorang pertapa yang tidak tahu merasakan pahit getirnya dunia persilatan. Dewa Angin Utara lebih cocok sebagai pimpinan", sahut Baleman dengan cepat.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Baleman..


Resi Guru Jnanabajra lebih bijak dalam memutuskan perkara. Menjadi pimpinan aliran putih bukan hanya harus berilmu tinggi tapi juga mesti bisa adil dan bijaksana dalam mengayomi para pendekar aliran putih yang menjadi bawahan nya. Tidak seperti Dewa Angin Utara yang bahkan bersekutu dengan perguruan aliran hitam untuk memaksa bergabung dengan kelompok nya", ujar Setaguna tak mau kalah.


"Mulut mu sungguh beracun, Setaguna..


Di dalam pertemuan agung seperti ini, kenapa bisa kau tebar fitnah keji untuk menjatuhkan Dewa Angin Utara? Apa pantas hal itu di ucapkan oleh pimpinan Perguruan Pedang Biru seperti mu?", sergah seorang lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos yang merupakan pimpinan Padepokan Macan Putih dari wilayah Kadipaten Paguhan.


"Itu bukan fitnah keji belaka, Gopala.. Semua orang yang ada di sini juga tahu bahwa Ki Gendar Pekik bekerjasama dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Racun Kembang untuk menghalangi jalan para pendekar pendukung Resi Guru Jnanabajra ke Padepokan Pedang Awan.


Kepala gundul mu itu memang kosong tidak ada isinya", tukas seorang lelaki paruh baya sembari menatap tajam ke arah Gopala, pimpinan Padepokan Macan Putih dari Paguhan.


"Kurang ajar kau, tua bangka!


Kau pikir aku takut dengan mu ha? Padepokan Sriti Gunting mu itu hanya kumpulan cecunguk pengecut yang takut mati. Ayo kita adu siapa yang lebih jago di dunia persilatan ini?", ujar Gopala sambil menggenggam senjata cakar besi nya.


Saat suasana semakin panas dengan sengitnya perdebatan antara dua pendukung itu dan hampir berubah menjadi bentrokan, Resi Mpu Wasista segera berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kalian semua tidak memandang ku?!"


Suara berat penuh wibawa dari Resi Mpu Wasista langsung membuat adu mulut antara dua kelompok yang bertikai itu terhenti seketika. Suasana langsung berubah sunyi.


"Sekarang aku tentukan tata cara pemilihan pimpinan aliran putih ini agar tidak menjadi petaka bagi pendekar golongan putih.


Satu perguruan hanya berhak untuk satu suara. Pendekar bergelar yang aku akui juga punya satu suara. Sekarang kita hitung saja suara siapa yang terbanyak mendapat pilihan dari kalian", ujar Mpu Wasista segera.


Penghitungan suara itu segera terjadi. Masing masing kelompok merasa kelompoknya yang lebih unggul dari kelompok lainnya.


Setelah di hitung ternyata jumlah pendukung antara Resi Guru Jnanabajra maupun Ki Gendar Pekik sama. Ini semakin memperkeruh suasana yang sempat dingin akhirnya kembali memanas. Pun meski di hitung ulang, semua perwakilan dari semua perguruan silat juga sudah hadir di acara.


Resi Mpu Wasista sampai memijit pelipisnya yang keriput karena pusing mencari jalan keluar yang pas untuk semua nya.


Saat semua nya masih ribut dengan pemecahan masalah, satu suara lantang langsung membuat semuanya berhenti gaduh.


"Mohon perhatian semua nya!!"


Semua mata langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono yang berdiri di belakang rombongan Begawan Suradharma dan Resi Linggajati. Perlahan sang pangeran muda dari Kadiri itu berjalan ke depan Resi Mpu Wasista.


"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah berbuat lancang dengan meminta waktu kalian.


Aku hanya seorang pendekar muda yang tidak memiliki nama besar seperti kalian tapi ijinkan aku untuk bicara.


Begini, aku punya sebuah usulan untuk memecahkan masalah pemilihan ini", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke sekeliling tempat pertemuan.


"Anak muda, cepat katakan usulan apa yang kau punya. Aku sudah pusing memikirkannya", sahut Resi Mpu Wasista segera.


"Karena keduanya sama-sama punya pendukung yang sama, bagaimana kalau mereka berdua adu kemampuan beladiri?", ucapan Panji Tejo Laksono sontak membuat semua orang terkejut mendengar nya. Belum pernah ada sebelumnya pemilihan pimpinan aliran putih di selesaikan dengan cara seperti ini. Kelompok Ki Gendar Pekik yang tidak mau jagoannya kalah, langsung berteriak keras.


"Kau ini sudah gila ya? Aku tidak setuju dengan pendapat mu", ujar Wasesodirjo dengan cepat.


"Setuju atau tidak, ini adalah satu satunya cara agar semua kelompok merasa puas dengan hasil pertemuan kali ini. Jika sampai keributan kalian di dengar oleh pihak Istana Kotaraja Kadiri, apa yang akan terjadi?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut.


Kaget semua orang mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Mereka segera saling berpandangan sejenak sebelum salah satu dari mereka bicara.


"Beraninya kau mengancam kami. Memangnya siapa kau?", teriak Gopala sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda itu langsung merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan sebuah lencana emas bergambar Candrakapala dan mengangkat nya tinggi-tinggi agar di lihat semua orang.


"Aku adalah utusan Istana Kadiri"

__ADS_1


__ADS_2