
Panji Tejo Laksono buru-buru melesat cepat kearah sumber suara namun dia tidak menemukan siapapun ada disana.
Perlahan debu beterbangan yang menutupi seluruh tempat itu mereda. Namun sosok Nyi Kembang Sore dan Dyah Kirana sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.
"Perempuan itu telah menculik Kirana. Aku tidak tahu dimana letak Istana Perut Bumi.
Apa yang sebaiknya aku lakukan?", gumam Panji Tejo Laksono yang membuat Ki Jatmika dan Song Zhao Meng saling berpandangan sejenak. Mereka berdua pun tak tahu menahu tentang tempat itu. Ketiga orang itu terdiam beberapa saat lamanya, berpikir keras apa yang harus dilakukan.
"Apa tidak sebaiknya Kakang Tejo bertanya kepada Gusti Prabu Jayengrana?"
Ucapan Song Zhao Meng yang memecahkan keheningan itu seketika menyadarkan Panji Tejo Laksono. Pangeran muda dari Kadiri ini tersenyum lega.
"Kau benar, Wulandari.. Saat ini hanya itu saja yang bisa kita lakukan", ucap Panji Tejo Laksono sembari segera duduk bersila di tanah.
Kedua telapak tangan Panji Tejo Laksono segera menangkup di depan dada. Matanya terpejam rapat sedangkan mulutnya komat-kamit membaca mantra Ajian Bayu Swara.
Tak lama kemudian, angin dingin berdesir semilir ke arah barat.
Di dalam Istana Katang-katang, Prabu Jayengrana sedang duduk di singgasana Maharaja Panjalu, berhadapan dengan beberapa punggawa istana dan perwira tinggi prajurit Panjalu. Tiba-tiba saja muncul angin dingin berdesir kencang yang diikuti oleh suara Panji Tejo Laksono yang hanya bisa di dengar oleh sang prabu.
"Kanjeng Romo Prabu Jayengrana..
Apakah Kanjeng Romo Prabu mendengar suara ku?", suara itu terngiang jelas di gendang telinga sang Maharaja Panjalu. Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana pun segera berdiri dan mengambil sikap mudra dengan meletakkan telapak tangan kanan nya di depan dada.
"Aku mendengar mu, putra ku..
Katakan pada ku, ada kesulitan apa yang membuat mu harus mencari ku?", jawab Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.
"Kirana, calon istri ku, di culik oleh seorang perempuan yang bernama Nyi Kembang Sore ke sebuah tempat yang bernama Istana Perut Bumi saat kami baru saja keluar dari Kota Kadipaten Pasuruhan sisi selatan.
Aku tidak tahu dimana letak tempat itu dan bagaimana caranya agar aku bisa masuk kesana. Berilah petunjuk pada ku, Kanjeng Romo Prabu", kembali suara Panji Tejo Laksono terdengar oleh Prabu Jayengrana.
Hemmmmmmm...
"Istana Perut Bumi adalah satu dari sekian banyak tempat kerajaan siluman yang ada di Bumi Jawadwipa ini, anak ku.
Gunakan saja Keris Nagasasra di dalam tubuh mu untuk memaksa masuk kesana. Letak Istana Perut Bumi ada di bawah tempat mu sekarang berdiri.
Berhati-hatilah dalam bertindak di tempat itu, putra ku", balas Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana dengan cepat.
"Terimakasih atas petunjuknya, Kanjeng Romo Prabu.
Ananda mohon pamit", setelah berucap demikian, suara Panji Tejo Laksono menghilang. Bersamaan dengan itu, angin dingin yang berdesir perlahan itu juga turut menghilang.
Prabu Jayengrana menarik nafas panjang sembari menurunkan tangannya. Dia kembali melanjutkan pisowanan para punggawa Istana Kotaraja Daha itu.
Di tempat lain, Panji Tejo Laksono membuka mata nya dan segera menghembuskan nafas panjang sambil menurunkan kedua tangan nya ke arah dengkulnya. Melihat Panji Tejo Laksono membuka mata, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika yang penasaran segera bertanya kepada sang pangeran muda dari Kadiri.
"Bagaimana Kakang? Sudah ada jawaban dari Gusti Prabu Jayengrana?", Song Zhao Meng menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono lekat-lekat.
"Sudah Wulandari..
Ki Jatmika, tolong jaga Wulandari di tempat ini. Tunggu sampai aku kembali dengan membawa Kirana", pinta Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Ki Jatmika mengangguk mengerti.
"Baik Pendekar.."
__ADS_1
Setelah mendengar kata-kata itu, Panji Tejo Laksono langsung bersedekap tangan di depan dada sambil memejamkan matanya. Segenap cipta dan karsa nya bersatu memanggil keberadaan Keris Nagasasra yang bersemayam di dalam tubuh nya.
Cahaya kuning keemasan muncul di bahu kiri Panji Tejo Laksono bersamaan dengan keluarnya Keris Nagasasra dari dalam tubuh sang pangeran. Setelah wujud Keris Nagasasra itu tercipta, Panji Tejo Laksono segera membuka mata nya dan meraih gagang keris pusaka yang melayang di depan nya ini.
Begitu Keris Nagasasra terpegang di tangan kanannya, Panji Tejo Laksono segera menusukkan keris pusaka itu ke tanah.
Krraatttttaaaaaaakkkk...
Tiba-tiba saja tanah di bawah kaki Panji Tejo Laksono retak dan terbelah menjadi dua. Sang pangeran muda pun segera melompat masuk ke dalam rekahan tanah itu.
Tubuh Panji Tejo Laksono terus bergerak cepat menembus rekahan tanah itu yang seakan membelah begitu bersentuhan dengan Keris Nagasasra. Tak berapa lama kemudian, sebuah tabir gaib tertembus bilah Keris Nagasasra dan akhirnya Panji Tejo Laksono sampai di sebuah istana gaib milik para siluman.
Begitu menjejak tanah, 6 sosok makhluk hitam bertanduk seperti yang tadi sempat menjadi lawannya, muncul dengan cepat. Mereka semua langsung mengepung Panji Tejo Laksono.
Tak mau membuang waktu lagi, Panji Tejo Laksono langsung menerjang ke arah para siluman yang mengepungnya. Dengan sekuat tenaga, dia mengayunkan Keris Nagasasra di tangan kanannya ke arah lawan.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!
Satu kali tebas, seorang siluman yang menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono langsung tersungkur dan segera berubah menjadi abu hitam. Ini karena Keris Nagasasra adalah pusaka ampuh yang mampu di gunakan untuk membantai siluman sekalipun tanpa harus merapal mantra.
Seorang siluman lagi langsung menerjang dari sisi kiri Panji Tejo Laksono. Sang pangeran memutar tubuhnya dan kembali mengayun Keris Nagasasra ke dada lawannya.
Shhhrrrraaaaaakkkkkkh..
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!
Terdengar suara jeritan keras dari mulut si makhluk hitam bertanduk itu saat Keris Nagasasra di tangan Panji Tejo Laksono merobek perutnya. Dia langsung roboh dan tewas seketika. Seperti kawannya yang lain, seketika tubuhnya hancur menjadi abu hitam yang segera hilang tersapu angin.
Beberapa makhluk hitam ini mulai was-was karena dua kawannya terbunuh dengan mudah. Mereka yang tersisa pun segera kabur dari tempat itu. Seketika itu juga, pintu batu di sudut tempat itu terbuka..
Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat masuk ke dalam pintu batu itu. Dua orang makhluk menyeramkan yang mencoba menghalangi pergerakan Panji Tejo Laksono harus menerima kenyataan bahwa mereka bukan lawan yang sebanding dengan sang pangeran muda.
Satu kali tebas Keris Nagasasra yang memancarkan cahaya kuning keemasan sanggup membunuh semua siluman yang mencoba untuk menghentikan langkah Panji Tejo Laksono.
Setelah melewati beberapa ruang yang berpenjaga makhluk hitam menyeramkan itu, akhirnya Panji Tejo Laksono tiba di sebuah ruangan yang luas. Mata Panji Tejo Laksono langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu segera.
Di ruangan yang luas itu nampak Nyi Kembang Sore sedang duduk di kursi singgasana Istana Perut Bumi. Di sampingnya nya ada sesosok makhluk tinggi besar berkulit hijau dengan mata merah dan lidahnya terjulur keluar. Sementara itu di sisi lainnya, seorang lelaki tua dengan janggut panjang berwarna putih dengan tubuh gempal yang mengenakan pakaian serba hitam terlihat mendelik kereng pada Panji Tejo Laksono. Di pojokan ruangan, terlihat Dyah Kirana sedang terlilit selendang kuning yang masing-masing ujungnya terikat pada tepi bebatuan. Sebuah pagar besi terlihat mengurung Dyah Kirana yang nampak tak berdaya sedikitpun.
"Hebat juga kau bisa menembus batas gaib Istana Perut Bumi, Pendekar tampan..
Apa kau sudah merubah pikiran mu dan ingin bersanding dengan ku sebagai raja dan ratu di istana ini?", senyum lebar terukir di wajah cantik Nyi Kembang Sore.
"Jangan bermimpi, Nyi Kembang Sore..
Aku sudah punya tempat ku sendiri dan aku juga tidak berminat untuk menjadi raja siluman seperti mu. Aku kemari hanya untuk mengambil kembali calon istri ku ", balas Panji Tejo Laksono tegas.
Huuuhhhhhhh...
"Dasar manusia tidak tahu diri. Akan ku buat kau menyesal karena telah berani merendahkan martabat ku.
Buto Ijo, Raksijana..
Beri pelajaran yang akan di ingat manusia itu seumur hidupnya ", Nyi Kembang Sore mendengus keras lalu memerintahkan kepada dua bawahannya untuk menghadapi Panji Tejo Laksono. Mahkluk hijau yang di panggil Buto Ijo dan kakek tua yang di sebut dengan nama Raksijana ini langsung melompat ke arah Panji Tejo Laksono. Buto Ijo membawa gada yang terbuat dari tulang gajah sedangkan Raksijana mencabut keris pusaka di pinggang nya.
Dengan sekuat tenaga, Buto Ijo mengayunkan gada tulang nya ke arah kaki Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
Brreeeeettttthhh!!
Panji Tejo Laksono santai saja angkat satu kaki kanan menghindari gebukan gada tulang dari lawannya. Di lain sisi, Raksijana dengan cepat tusukkan keris pusaka nya ke arah dada sang pangeran muda. Tanpa ragu, Panji Tejo Laksono langsung menangkis tusukan keris pusaka milik Raksijana.
Thhraaaangggggggg!!
Sedangkan Buto Ijo yang serangannya di hindari dengan mudah, kembali mengayunkan gada tulang gajah nya ke arah punggung Panji Tejo Laksono. Hawa dingin berdesir kencang mengikuti ayunan gada tulang gajah. Merasakan sesuatu yang berbahaya sedang mengincar nya, Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Bersalto dua kali di udara, sang pangeran muda lalu mendarat di belakang tubuh Raksijana. Sedikit membungkuk, dia menyikut punggung Raksijana hingga lelaki tua itu langsung limbung ke depan. Saat yang bersamaan serangan gada tulang gajah milik Buto Ijo melesat cepat kearah kepala Raksijana.
Dhhaaaassshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Raksijana mengaduh keras dan tubuhnya terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Namun hebatnya orang tua itu segera bangkit dari tempat jatuhnya dan melotot lebar ke arah Buto Ijo.
"Eh goblok!! Kalau bertarung dengan kawan, lihat dimana kawan mu berada. Jangan main gebuk sembarangan!!", maki Raksijana sambil mengelus kepala nya yang benjol sebesar telur ayam.
"A-aku tidak sengaja, sumpah!!
Tujuan ku menggebuk orang itu. Tidak ada niat menyerang mu, Ki", ucap Buto Ijo yang sepertinya ketakutan pada Raksijana.
"Tolol!!
Awas jika kau sekali lagi berani bertindak bodoh seperti itu! Akan ku cabut semua gigi mu itu!", ancam Raksijana sambil kembali mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.
Kakek tua itu segera komat-kamit merapal mantra ilmu kanuragan nya. Tiba-tiba saja muncul cahaya hijau kemerahan di tangan kirinya. Selepas itu dia langsung melompat maju ke arah Panji Tejo Laksono. Buto Ijo pun segera ikut menerjang ke arah Panji Tejo Laksono. Kembali pertarungan sengit antara mereka di teruskan.
Selepas 10 jurus terlewati, tempat itu telah porak poranda akibat pertarungan sengit antara mereka. Beberapa ledakan keras terdengar saat sinar hijau kemerahan dari Raksijana menghantam beberapa bagian ruangan itu. Sang pangeran muda terus bergerak lincah kesana kemari menghindari setiap serangan cepat Raksijana maupun gebukan gada tulang gajah milik Buto Ijo. Namun dua petinggi Istana Perut Bumi ini tidak menyadari bahwa mereka berdua telah masuk ke dalam jebakan yang di buat oleh Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda bersalto mundur beberapa kali ke arah belakang. Sebentar dia melirik ke arah kurungan besi yang mengurung Dyah Kirana. Beberapa bagian telah jebol akibat hantaman gada tulang gajah dan ajian Raksijana.
Panji Tejo Laksono tersenyum tipis lalu dengan cepat merapal mantra Ajian Brajamusti. Cahaya putih kebiruan berpendar cepat dari tapak tangan kiri sang pangeran. Saat itu serangan Raksijana yang melesat cepat kearah nya terlihat oleh mata sang pangeran muda.
Saat hantaman Raksijana hampir mengenai tubuh nya, sang pangeran muda dengan keras menjejak lantai Istana Perut Bumi. Tubuhnya seketika melenting tinggi ke udara, hingga hantaman tapak tangan Raksijana menghantam besi kurungan penjara Dyah Kirana.
Blllaaammmmmmmm!!
Panji Tejo Laksono dengan cepat meluncur turun ke arah Buto Ijo yang bersiap untuk menyerang. Kecepatan tinggi sang pangeran membuat Buto Ijo terkejut bukan main dan berusaha mempertahankan diri dengan gada tulang gajah nya saat hantaman tangan kiri Panji Tejo Laksono yang di lambari Ajian Brajamusti mengarah ke dadanya.
Blllaaammmmmmmm..
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!
Buto Ijo meraung keras saat Ajian Brajamusti menghancurkan gada tulang gajah nya yang juga terus menghantam dada nya. Makhluk tinggi besar berkulit hijau itu langsung terpental ke belakang dengan dada bolong tembus punggung. Dia langsung tewas seketika dan berubah menjadi abu hitam.
Raksijana yang melihat Panji Tejo Laksono masih membelakanginya, melesat cepat sembari menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah sang pangeran muda dari Kadiri ini. Panji Tejo Laksono yang merasakan hawa panas merangsek dari belakang, segera berbalik badan. Dia tak punya pilihan lain selain memapak hantaman tangan kiri Raksijana dengan tapak tangan kiri nya yang masih diliputi oleh cahaya putih kebiruan Ajian Brajamusti.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat kedua ilmu kedigdayaan ini beradu. Raksijana mengaduh keras lalu terpental ke hadapan Nyi Kembang Sore. Lelaki sepuh berjenggot i itu meringis kesakitan karena sebelah kiri tangannya hancur dan putus.
Sedangkan Panji Tejo Laksono setelah ledakan dahsyat itu terjadi, dia buru-buru melesat cepat kearah kurungan Dyah Kirana yang sudah hancur berantakan. Dengan menggunakan Keris Nagasasra, dia memotong dua ujung selendang kuning yang membelit tubuh Dyah Kirana. Lalu secepat mungkin, dia melesat keluar dari dalam tempat itu.
Kejadian kaburnya Panji Tejo Laksono ini begitu cepat hingga tidak disadari oleh Nyi Kembang Sore ataupun Raksijana. Begitu mereka tersadar bahwa Dyah Kirana telah hilang bersama dengan Panji Tejo Laksono, Nyi Kembang Sore mengumpat keras.
"Bajingan itu kabur!!
__ADS_1
Akan ku kejar sampai di ujung dunia sekalipun!!!"