Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ikatan Sepuluh Cincin 3


__ADS_3

Gu Sheng terperangah juga melihat munculnya Luh Jingga yang tiba-tiba sudah berada di depannya. Buru buru dia memutar palu besi nya untuk bersiap menyerang.


"Gadis busuk, minggir kau!


Jangan halangi jalan ku atau kau terima akibatnya", ancam Gu Sheng dengan logat khas bahasa Tionghoa nya. Meski dia tidak paham dengan bahasa Jawa Kuno yang di ucapkan oleh Luh Jingga, tapi dia tahu bahwa gadis cantik berbaju kuning kemerahan itu berniat untuk menghalangi niat nya melarikan diri.


Meski Gu Sheng mengomel meminta agar Luh Jingga minggir, namun gadis cantik itu tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Dengan gusar, Gu Sheng melesat ke arah Luh Jingga sembari mengayunkan palu besi nya ke arah kepala Luh Jingga.


Whhhuuuggghhhh..!!


Luh Jingga dengan gesit menghindari hantaman palu besi besar milik Gu Sheng hingga senjata itu menghantam tanah dengan keras.


Bhhuuuuummmmmmhh !


Hantaman palu besi Gu Sheng menciptakan lobang sebesar kepala kerbau di tanah. Luh Jingga yang berkelit menghindari gebukan palu besi Gu Sheng dengan cepat menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala berhawa panas kearah Gu Sheng.


Shhiiiuuuuuuttttt...


Angin panas berseliweran cepat mengikuti selarik sinar merah menyala yang menerabas cepat kearah Gu Sheng. Merasakan sesuatu tengah mengincar nyawanya, Gu Sheng mengumpat keras dan segera berguling ke tanah secepat mungkin demi menghindari sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Agni yang di lepaskan oleh Luh Jingga.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Ledakan keras terdengar saat sinar merah Ajian Tapak Dewa Agni menghantam tanah tempat Gu Sheng berdiri. Debu beterbangan ke udara bersamaan dengan asap tebal yang membumbung tinggi ke udara. Gu Sheng mencolok memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari arena pertarungan. Melawan Luh Jingga hanya akan berakhir mati konyol sia-sia.


Gu Sheng yang sudah kehilangan semangat bertarung nya menjejak tanah dengan keras berusaha menerjang ke arah kepulan asap yang menutupi sebagian tempat itu. Namun saat itu, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah pergerakan nya dan menebas leher Gu Sheng secepat kilat.


Chhrrrraaaaaasssshh..!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!


Terdengar suara jerit keras menyayat hati dari mulut Gu Sheng. Pria bertubuh gendut dengan perut buncit ini segera terjatuh ke tanah dengan memegangi batang leher nya yang robek besar seperti baru saja di sembelih. Rupanya tebasan pedang si bayangan berkelebat cepat yang tak lain adalah Luh Jingga itu merobek tenggorokan nya namun memotong lehernya keseluruhan. Darah segar muncrat keluar dari luka di batang leher Gu Sheng menyebarkan aroma amis darah yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Pria bertubuh gempal itu pun roboh ke tanah karena sudah terlalu banyak kehilangan darah hingga membuat tubuhnya semakin memucat. Dia tewas dengan darah segar menggenang di bawah tubuhnya.


Satu persatu tetua Ikatan Sepuluh Cincin berjatuhan di tangan para pengikut Panji Tejo Laksono.


Geram Lin Kai Sang melihat anggota kelompok nya berjatuhan di tangan para anak buah Panji Tejo Laksono. Sembari menggeram keras, dia melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Kuku jari tangan nya yang tajam dengan bentuk cakar langsung terarah ke wajah tampan Panji Tejo Laksono.


Shrraaaakkkkhhhh !


Gerakan gesit Panji Tejo Laksono mampu menghindari cakaran Lin Kai Sang yang mengincar wajah. Lin Kai Sang terus memburu Panji Tejo Laksono yang dia lihat sebagai pimpinan kelompok ini. Serangan cepat bertubi tubi di lancarkan oleh Lin Kai Sang, namun sang pangeran muda dari Kadiri ini menghadapi nya dengan ilmu silat Padas Putih nya yang merupakan ilmu beladiri tangan kosong.


Whuuthhh..


Plaaakkkkk plaaakkkkk !!


Dhasshhh dhasshhh !!!


Panji Tejo Laksono bersalto dua kali di udara menghindari cakaran Lin Kai Sang yang kembali mengincar dada. Dengan memanfaatkan Ajian Sepi Angin, Panji Tejo Laksono langsung membuat gerakan berputar cepat dan menyikut punggung Lin Kai Sang dengan keras.


Bhhhuuuuuuggggh..

__ADS_1


Oooouuuuuugggghhhhh !!


Lin Kai Sang nyaris jatuh terjungkal ke depan saat sikutan keras Panji Tejo Laksono telak menghantam punggung nya. Pria paruh baya bertubuh kekar itu segera berbalik badan sembari meringis menahan rasa sakit lalu menatap wajah Panji Tejo Laksono tajam.


"Sudah cukup main-main nya.. Sekarang waktunya aku cabut nyawa mu!", teriak Lin Kai Sang sembari mempersiapkan kuda-kuda ilmu andalan.


Lin Kai Sang dengan cepat memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada setiap jengkal kulit di tubuhnya. Ini adalah Ilmu Ashura 8 Tangan yang merupakan ilmu andalannya. Matanya memerah menatap tajam kearah Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya mengamati situasi karena tahu lawan terberat dalam kelompok ini adalah Lin Kai Sang, Si Setan Seribu Nyawa. Kedua tangan Lin Kai Sang memegang sikap mudra seperti seorang Ashura, hingga aura raksasa menyeramkan berwarna biru tua dengan 8 tangan muncul di atas tubuh nya.


Julukan sebagai Setan Seribu Nyawa memang bukan isapan jempol belaka. Pada masa mudanya, banyak tokoh besar persilatan Tanah Tiongkok yang mencoba untuk membunuh Lin Kai Sang, namun pendek satu ini selalu berhasil selamat. Entah karena ilmu beladiri nya atau mungkin keberuntungan yang dia miliki.


Melihat lawan utama sudah mulai bergerak, Panji Tejo Laksono dengan cepat mengumpulkan dua pertiga tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari miliknya. Seketika sekitar tempat nya berdiri di penuhi oleh hawa panas yang luar biasa layaknya panas dari matahari di siang bolong.


Burung burung yang berdiam di sekitar tebing batu seketika langsung terbang menjauh dari sekitar tempat itu karena hawa panas yang keluar dari tubuh Panji Tejo Laksono serasa sanggup memanggang mereka hidup hidup. Orang lain yang berada di dekat arena pertarungan mereka pun memilih untuk menjauh karena hawa panas yang menyebar ke sekeliling tempat itu.


'Ilmu apa ini? Aku merasa tidak asing dengan hal semacam ini. Jangan jangan ini....


Gawat !


Pemuda keparat ini rupanya memiliki Ilmu Sembilan Matahari seperti milik Yan Luo si Koki Kuil Shaolin. Aku tidak boleh membuang waktu lagi!', batin Lin Kai Sang. Dahulu sekitar 15 tahun yang lalu, Lin Kai Sang pernah berhadapan dengan Yan Luo di kaki Gunung Song. Hasilnya dia di pecundangi habis-habisan oleh Yan Luo dan nyaris di bunuh oleh si Koki Kuil Shaolin itu andai saja tidak merengek-rengek minta ampun dan memohon agar nyawanya diampuni. Meski kemampuan beladiri nya yang sekarang sudah jauh meningkat pesat, namun jika harus berhadapan dengan seorang yang menguasai Ilmu Sembilan Matahari maka Lin Kai Sang akan berpikir tidak hanya 2 kali tapi puluhan kali sebelum bertanding melawan nya. Tapi kali ini tidak ada pilihan lain selain bertarung melawan Panji Tejo Laksono.


"Ku bunuh kau, bajingan !! Ashura 8 Tangan !!


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat....!!"


Lin Kai Sang segera menggerakkan tangan kanan dan kirinya bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono yang di liputi oleh kabut merah kekuningan serta hawa panas yang terus keluar dari dalam tubuh nya. Bayangan mahkluk biru tua menyeramkan di atas tubuh Lin Kai Sang langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan 8 tangan nya ke arah sang pangeran dari Kerajaan Panjalu.


Whhhuuuggghhhh whuuthhh whuuthhh !!


Bhhhuuuuummmmhhh!!!


Kuatnya pengaruh ledakan dahsyat itu membuat orang orang yang berada di samping arena pertarungan antara Panji Tejo Laksono melawan Lin Kai Sang juga ikut terkena imbasnya. Mereka terpelanting akibat adanya gelombang kejut yang menyebar. Debu beterbangan di udara menutupi seluruh tempat di tepi tebing batu Lembah Tanpa Nama bersamaan dengan asap tebal yang membumbung tinggi ke langit.


Saat asap menghilang dan debu mulai mereda terlihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Lin Kai Sang, Si Setan Seribu Nyawa tewas dengan separuh tubuhnya hancur bercerai-berai. Momok menakutkan bagi kaum dunia persilatan Tanah Tiongkok ini tewas bersimbah darah, separuh tubuh bawahnya putus dan kedua tangan hancur berantakan.


Sisa sisa anggota Ikatan Sepuluh Cincin yang berjumlah sekitar 80 orang langsung berhamburan kabur dari tempat itu di bawah pimpinan salah satu tetua mereka yang masih hidup, Ying Yue. Mulai hari itu, nama besar perampok Ikatan Sepuluh Cincin menghilang dari dunia persilatan.


Demung Gumbreg langsung berjalan mendekati Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang nampak sedang mengatur nafasnya.


"Kadang saat melihat Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono bertarung, aku merasa seperti melihat Gusti Prabu Jayengrana saat masih muda ya Lu..


Sama sama tangguh dan berilmu tinggi", ujar Gumbreg sambil memanggul senjata pentung sakti nya ke pundak kanan.


"Kau benar Mbreg..


Ibarat kata buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kesaktian Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sudah bisa di katakan setingkat dengan Gusti Prabu Jayengrana saat ini. Aku bersedia mengikuti langkah nya karena aku yakin dia lah yang akan menjadi Raja Panjalu selanjutnya", Tumenggung Ludaka menyarungkan sepasang pedang pendek nya ke sarung pedang yang ada di pinggang.


"Iya Lu, sama sama sakti sama sama berwibawa.


Dan satu lagi yang mirip dengan Gusti Prabu Jayengrana. Sama sama penakluk wanita hehehehe", imbuh Gumbreg seraya cengengesan.

__ADS_1


"Ssssttttttt... Jaga mulutmu, Mbreg...


Kalau sampai kedengaran Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono bisa bisa kau di tinggal di tempat ini. Mau kau?", Tumenggung Ludaka melotot ke arah Gumbreg.


"Ya pokoknya kau tidak buka mulut, semuanya aman Lu. Kecuali kalau kau cerita, ya pasti Gusti Pangeran akan tahu", sahut Demung Gumbreg segera.


"Nah karena itu, sebaiknya kau jangan macam-macam dengan ku. Nanti malam kau pijiti punggung ku. Rasanya badan ku pegal pegal setelah bertarung hari ini", Tumenggung Ludaka tersenyum penuh kemenangan.


"Eh aku bukan babu mu ya Lu, enak saja main perintah sembarangan", omel Demung Gumbreg sambil melengos ke arah lain.


"Ya kalau tidak mau ya tidak memaksa. Aku mau cerita sedikit pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ah, soal omongan mu baru saja", ujar Tumenggung Ludaka yang segera melangkahkan kakinya ke arah Panji Tejo Laksono. Melihat langkah sahabat karibnya itu, Gumbreg segera menyusul Tumenggung Ludaka yang kini sudah ada di dekat Panji Tejo Laksono.


"Gusti Pangeran, hamba..."


Belum sempat Tumenggung Ludaka menyelesaikan omongannya, Demung Gumbreg dengan cepat membekap mulutnya. Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg di sampingnya sembari bertanya, " Ada apa Paman Ludaka?"


Heeemmmmppppphh hemmpphhh..


Hanya itu saja yang terdengar dari mulut Tumenggung Ludaka yang di bekap oleh Demung Gumbreg.


"Ti-tidak ada apa apa, Gusti Pangeran. I-ini Ludaka ingin ijin sebentar untuk buang air kecil hek eh buang air kecil. Kami permisi dulu", ujar Gumbreg yang sudah pucat wajahnya karena ketakutan. Dengan cepat ia menggelandang Tumenggung Ludaka menjauh dari samping Panji Tejo Laksono.


Begitu sampai di dekat tebing batu, Demung Gumbreg melepaskan bekapan tangan nya pada mulut Tumenggung Ludaka.


"Kau ini mau mencelakai ku ya Lu? Tega sekali ingin melaporkan omongan ku pada Gusti Pangeran. Teman macam apa kau?", gerutu Demung Gumbreg sambil melotot ke arah Tumenggung Ludaka.


"Salah mu sendiri tidak mau memijit punggung ku. Terpaksa aku laporkan omongan mu tadi", Tumenggung Ludaka terlihat menekan nada suara nya.


"Iya iya Lu iya..


Nanti aku pijiti sampai kau puas. Nah sekarang kita damai ya?", Demung Gumbreg terpaksa mengalah.


"Nah begitu saja kan beres. Ingat nanti malam kau pijit punggung ku sampai hilang pegal badan ku", usai berkata demikian, Tumenggung Ludaka meninggalkan Demung Gumbreg.


"Ah nasib nasib...


Gara gara salah omong aku jadi dukun pijat nya Si Ludaka. Dasar apes", gerutu Demung Gumbreg sembari berjalan menuju ke arah rombongan Panji Tejo Laksono yang terlihat mulai membenahi perlengkapan perjalanan mereka menuju ke arah Kota Lin'an.


Dalam pertarungan antara rombongan Panji Tejo Laksono melawan kelompok Ikatan Sepuluh Cincin, sebanyak 20 orang pengikut Panji Tejo Laksono tewas dan 15 luka luka. Untung saja para perwira tinggi mereka memiliki kemampuan beladiri tinggi hingga korban tewas di kelompok mereka tidak terlalu banyak. Panji Tejo Laksono segera memerintahkan kepada para pengikutnya untuk memakamkan jenazah kawan kawan mereka yang gugur. Sedangkan untuk mayat para anggota Ikatan Sepuluh Cincin, Panji Tejo Laksono memerintahkan kepada mereka untuk mengumpulkan mayat mayat mereka dan membakarnya agar tidak menjadi sarang penyakit.


Selepas semuanya rampung, rombongan Panji Tejo Laksono meneruskan perjalanan mereka ke Kota Lin'an.


Menjelang matahari memerah dan hampir tenggelam di langit barat, rombongan Panji Tejo Laksono memasuki gerbang kota Lin'an dari arah Utara. Tanpa menunggu lama lagi, mereka bergegas menuju ke arah pelabuhan Sungai Qiantang.


Sebuah perahu jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono nampak tertambat di salah sisi dermaga pelabuhan Sungai Qiantang. Tak terasa sudah hampir 4 purnama lebih, perahu jung besar yang membawa mereka dari Tanah Jawadwipa itu tertambat di sana.


Seorang prajurit yang sedang duduk di geladak kapal jung, melihat rombongan Panji Tejo Laksono yang mendekat ke arah perahu mereka dengan cepat berteriak keras hingga membangunkan salah satu perwira menengah prajurit berpangkat Bekel yang di tugaskan untuk menjaga kapal jung selama di tinggal pergi.


"Gusti Bekel,

__ADS_1


Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sudah kembali!"


__ADS_2