Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Telik Sandi


__ADS_3

Sepanjang pertemuan malam hari itu, Mapanji Jayagiri terus menatap wajah cantik Wanyan Lan yang masih pingsan di atas dipan kayu di sudut ruangan. Panji Tejo Laksono beberapa sempat menyenggol kaki Mapanji Jayagiri, namun pangeran muda yang baru saja melewati usia 2 windu ini tetap saja mencuri pandang ke arah Wanyan Lan.


Pertemuan malam hari itu akhirnya memutuskan bahwa para prajurit Pasukan Lowo Bengi akan terlebih dulu bergerak untuk menyusup ke dalam Kota Kadipaten Rajapura. Ini bukan perkara mudah bagi siapapun, karena sejak mereka memberontak terhadap Kadiri, penjagaan ketat di berlakukan hampir di setiap sudut kota. Apalagi penjagaan di gerbang kota, serasa semut pun tak bisa lolos dari pengamatan para prajurit yang berjaga.


"Lantas bagaimana caranya kalian bisa masuk ke dalam Kota Kadipaten Rajapura, Paman Landung?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Hamba akan menugaskan Siwikarna dan Jaluwesi yang memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi dan bisa menyamar dengan baik.


Kakang Ludaka yang lebih dulu melatih mereka, tentu tahu kemampuan telik sandi kedua orang itu", jawab Tumenggung Landung sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Benar Gusti Pangeran..


Dua orang prajurit setia ini bisa diandalkan untuk menyusup ke dalam tempat musuh tanpa di sadari. Selain itu, hamba akan menugaskan mereka untuk menghubungi Nyi Nila Saroya, mata-mata lama Gusti Prabu Jayengrana yang di tugaskan oleh Gusti Prabu Jayengrana untuk mengawasi pergerakan Adipati Warasambu setelah pemberontakan Pangeran Suryanata.


Hamba dengar, dia menyamar sebagai penjual dawet di pasar besar Kota Rajapura. Dengan semua pengetahuan Nyi Nila Saroya tentang Kota Kadipaten Rajapura, tentu kita akan lebih mudah untuk menjebol pertahanan mereka", imbuh Tumenggung Ludaka yang ingat akan sosok mata-mata lama di dalam Kota Rajapura.


Hemmmmmmm...


"Kalau kalian begitu yakin, lakukan saja. Tapi ingat untuk tetap menjaga keselamatan selama menjalankan tugas sebagai abdi kerajaan Panjalu.


Lantas, kapan mereka bisa berangkat?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Landung.


"Malam ini juga mereka akan berangkat, Gusti Pangeran. Cuaca seperti ini akan membuat penjagaan keamanan sedikit mengendor", balas Tumenggung Landung yang kemudian menoleh ke arah kegelapan malam yang terus di guyur hujan deras. Malam itu hujan turun seakan tumpah dari langit, membuat siapapun pasti enggan untuk beranjak dari tempat istirahat nya.


Di tengah guyuran hujan deras, dua orang berbadan kekar dengan langkah kaki ringan seperti tidak menapak tanah terlihat melesat cepat diantara pepohonan yang tumbuh liar di Hutan Koncar. Berselimutkan kain hitam yang menutupi sebagian wajah mereka, dua orang itu terus bergerak cepat menuju ke arah pinggiran kota Rajapura.


Mata salah seorang diantara mereka langsung tertuju pada tembok besar yang menutup sisi timur Kota Kadipaten Rajapura. Tembok setinggi hampir 2 tombak itu nampak kokoh menjulang ke atas. Agak jauh dari tempat mereka berhenti, terdapat sebuah pintu gerbang kota yang nampak di jaga beberapa puluh orang prajurit bersenjata lengkap.


"Jalu, sebaiknya kita agak menjauh dari pintu gerbang timur itu. Kalau kita memaksa untuk melompat dari sini, pasti akan kelihatan oleh mereka", ujar salah satu dari dua bayangan hitam yang tak lain adalah Siwikarna, anggota Pasukan Lowo Bengi yang ditugaskan oleh Tumenggung Landung untuk menyusup ke dalam Kota Rajapura. Kawan karibnya, Jaluwesi, nampak ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Siwikarna. Sebentar kemudian dia mengedarkan pandangannya ke arah lain dan melihat sebatang pohon waru gunung besar yang cabang nya menjorok ke arah tembok pertahanan Kota Rajapura.


"Itu ada pohon waru gunung, Siwi..


Kita bisa menggunakan nya sebagai jembatan untuk masuk ke dalam Kota Rajapura ini. Ayo kita lewat pohon itu saja", ajak Jaluwesi yang membuat Siwikarna mengangguk setuju. Dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi itu segera bergegas menuju ke arah pohon waru gunung besar yang terletak cukup jauh dari pengawasan para prajurit Rajapura.


Saat akan memanjat pohon besar itu, tiba tiba mata tajam Siwikarna melihat serombongan prajurit Rajapura yang berjumlah 4 orang sedang berpatroli mendekati mereka dengan berjalan kaki. Mereka mengenakan daun pisang sebagai tudung pelindung dari air hujan yang deras mengguyur seputar wilayah Kota Kadipaten Rajapura. Segera Siwikarna menjawil lengan Jaluwesi dan dua orang itu segera bersembunyi di balik pohon besar.

__ADS_1


"Kakang Songgol, kata orang orang, di sekitar pohon pohon besar ini ada penunggunya.


Malahan ada yang pernah melihat sosok setan gentayangan loh di tempat hii takut aku", ujar salah seorang prajurit berbadan sedikit pendek dengan perut buncit pada kawan nya yang di panggil dengan nama Songgol. Dia memang terkenal penakut di antara mereka.


"Kau ini jangan mengada-ada, Dor..Mana ada setan gentayangan di tempat seperti ini? Dasar penakut..", omel Si Songgol pada kawannya yang bernama Bedor ini.


"Sumpah Kang..


Aku juga pernah melihatnya sendiri. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Sagopa itu. Dia juga pernah melihatnya", Bedor keukeuh dengan omongan nya. Songgol segera menoleh ke arah Sagopa yang berjalan di belakang nya.


"Benar Pa apa yang di omongkan si Bedor? Aku kog tidak bisa percaya", Songgol mulai ragu dengan dirinya sendiri.


"Benar itu Nggol, tempo hari aku patroli dengan Gusti Bekel Ranugotri lewat tempat ini melihat sesosok bayangan hitam yang muncul dari balik pohon besar itu. Tapi karena takut Gusti Bekel Ranugotri, aku tidak berani bilang apa-apa", sahut Sagopa sembari menunjuk ke arah pohon waru gunung besar yang hendak mereka lewati. Songgol pun jadi bergidik mendengar jawaban Sagopa. Prajurit Rajapura bertubuh gempal itu segera sedikit menyisih berjalan menjauhi dekat pohon waru gunung besar itu.


Tiba tiba kilat membuat suasana menjadi terang di tempat sepi itu. Di sambung suara guntur yang memekakkan gendang telinga.


Jlleegggggeerrrrrrr...!!


Tentu saja itu membuat keempat orang prajurit patroli Rajapura ini kaget dan melihat sesosok bayangan hitam berdiri di samping pohon waru gunung besar. Keempat orang yang sudah terpengaruh oleh kata kata dari Bedor tentu saja berjingkrak ketakutan. Mereka saling berpandangan sejenak dan langsung terbirit-birit kabur meninggalkan tempat itu. Bedor yang kakinya tiba tiba saja kaku, langsung ngompol melihat sosok bayangan hitam di samping pohon waru gunung besar. Sekuat tenaga dia menyeret kaki kanan nya yang tiba-tiba tak bisa di gerakkan, mengejar Sagopa, Songgol dan seorang kawannya yang lari lebih dulu.


Sementara para prajurit patroli Rajapura ketakutan setengah mati, si bayangan hitam itu segera menoleh ke sampingnya.


"Kenapa mereka berlari seperti kesurupan begitu, Jalu?", tanya Siwikarna sembari menatap ke arah Jaluwesi yang berdiri di balik pohon waru gunung besar.


"Aku juga tidak tahu, Wi..


Sudah jangan di pikirkan. Ayo kita segera memanjat pohon ini untuk masuk ke dalam Kota Rajapura", selesai berkata demikian, Jaluwesi segera memanjat pohon waru gunung besar itu. Dengan bantuan tenaga dalam nya, Jaluwesi memanjat pohon besar itu dengan cepat. Siwikarna pun segera mengikuti langkah kawan karibnya itu. Tak butuh waktu lama, mereka sudah di atas pohon waru gunung besar. Segera mereka menajamkan penglihatan pada atas tembok kota Rajapura. Setelah memastikan bahwa keadaan aman, barulah dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi itu melompat ke atas tembok Kota Rajapura.


Whuuthhh whuuthhh..


Jllleeeeeggh jllleeeeeggh !!


Dua orang telik sandi ini dengan cepat melesat ke arah barat dimana pasar besar Kota Kadipaten Rajapura berada. Memanfaatkan kegelapan malam sebagai perlindungan, Siwikarna dan Jaluwesi mengendap-endap mendekati sebuah rumah kecil yang ada di belakang pasar besar Kota Rajapura. Pasar besar ini terletak di sisi kanan jalan masuk ke istana Rajapura.


Kemampuan bersembunyi Siwikarna dan Jaluwesi pun di uji ketika melewati tempat itu. Para prajurit Rajapura yang sebentar sebentar berpatroli menyisir kawasan dekat istana membuat mereka harus lebih hati-hati dalam bergerak. Derasnya hujan yang mengguyur kawasan Kota Kadipaten Rajapura benar benar membantu pergerakan Siwikarna dan Jaluwesi.

__ADS_1


Di sebuah rumah kecil yang terletak di belakang pasar besar, Jaluwesi dan Siwikarna menghentikan langkah kaki mereka. Mereka segera mendekati pintu rumah kecil yang sedikit reyot karena di makan usia itu dengan hati-hati.


Saat hendak memegang gagang pintu rumah, tiba-tiba saja..


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Dua buah pisau kecil melesat cepat kearah mereka dari jendela rumah reyot itu. Siwikarna sudah terlatih menerima serangan senjata rahasia ini, dengan cepat menangkap pisau belati kecil itu dengan tangan kosong, sedang Jaluwesi segera mengangkat goloknya hingga salah satu pisau belati kecil itu menancap pada sarung golok milik nya.


Dua orang telik sandi Panji Tejo Laksono itu langsung menoleh ke arah jendela kamar rumah reyot itu dengan penuh kewaspadaan.


"Siapa kalian? Kalau mau maling, bukan disini tempatnya!", suara ancaman seorang perempuan tua terdengar dari balik daun jendela rumah reyot itu.


"Kami adalah pedang kekuasaan para dewa yang memimpin arcapada", ucap Jaluwesi segera. Ini adalah istilah rahasia yang hanya di mengerti oleh para telik sandi Kerajaan Panjalu pada saat Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana menjadi Yuwaraja di Kadiri. Mendengar jawaban itu, terdengar suara langkah kaki menuju ke arah pintu rumah kecil reyot itu. Sebentar kemudian pintu terbuka dan seorang perempuan paruh baya berdiri di sana.


"Dan aku adalah sarung pedang yang menutupi segala angkara dari iblis pengacau dunia.


Masuklah..", ucap perempuan paruh baya itu segera. Mendengar ucapan perempuan paruh baya itu, Jaluwesi dan Siwikarna saling berpandangan sejenak dan mengangguk mengerti. Mereka segera masuk ke dalam rumah kecil reyot itu. Perempuan paruh baya itu segera menutup pintu rumahnya begitu Siwikarna dan Jaluwesi masuk ke dalam.


"Ada perlu apa utusan Yang Mulia Pangeran Yuwaraja Jayengrana datang kemari? Sudah lama sekali tidak ada yang datang ke tempat ku ini", ujar perempuan paruh baya itu sembari meletakkan lampu minyak jarak di meja rumahnya yang sempit agar wajah Siwikarna dan Jaluwesi terlihat jelas. Dia masih menyebut nama Prabu Jayengrana dengan sebutan Pangeran Yuwaraja. Ini menandakan bahwa dia sudah mengabdi kepada Kerajaan Panjalu dari masa muda Panji Watugunung.


"Apakah aku sedang berjumpa dengan Nyi Nila Saroya? Mata-mata lama Gusti Prabu Jayengrana di Rajapura?", tanya Jaluwesi segera.


"Hehehehe , sudah lama sekali tidak ada orang yang memanggil nama asli ku. Hanya beberapa orang kepercayaan Gusti Pangeran Yuwaraja Jayengrana saja yang tahu itu.


Sekarang orang orang disini memanggil nama ku dengan sebutan Nyi Kenikir.


Sekarang katakan pada ku, ada urusan apa kalian menemui ku?", tanya Nyi Nila Saroya alias Nyi Kenikir sembari menatap ke arah Jaluwesi dan Siwikarna bergantian.


"Nyi Kenikir tahu sendiri seperti apa situasi di Rajapura sekarang. Mereka telah memberontak terhadap Kadiri. Pasukan Panjalu sedang bergerak menuju kemari Nyi.


Kami di tugaskan oleh Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung Gusti Prabu Jayengrana untuk mencari berita terbaru Rajapura dari Nyi Kenikir sekaligus mempelajari tentang keadaan di Kota Kadipaten Rajapura ini Nyi", ujar Jaluwesi segera.


Hemmmmmmm...


"Sudah ku duga cepat atau lambat, Gusti Pangeran Yuwaraja Jayengrana akan menindak tegas tindakan makar adik Pangeran Suryanata ini..", Nyi Kenikir alias Nyi Nila Saroya menghela nafas panjang sebelum melanjutkan omongannya,

__ADS_1


"Begini situasi Rajapura sekarang...."


__ADS_2