
Semua pendekar yang hadir di tempat itu terkejut mendengar perkataan Panji Tejo Laksono. Lencana emas bergambar Candrakapala di tangan kanannya adalah bukti bahwa dia benar-benar utusan dari Prabu Jayengrana. Resi Linggajati dan Begawan Suradharma sampai melongo melihat hal yang sedang terjadi di depan mata mereka. Dua pendekar besar dunia persilatan ini mulai menyadari kenapa Panji Tejo Laksono sedikit sekali bicara bila ditanya soal asal usul nya. Pemuda tampan itu selalu menjawab bahwa ia berasal dari Kadipaten Seloageng saja tanpa memperinci lebih jelas lagi.
"Ja-jadi dia utusan dari Kotaraja Kadiri, Suradharma?
Kenapa kau tidak memberi tahu ku sejak awal? Kau tahu bukan bahwa murid ku Lumana sudah berbuat kesalahan besar dengan mengganggu nya?", tanya Resi Linggajati setengah berbisik pada Begawan Suradharma.
"Aku juga baru tahu sekarang ini, Linggajati.
Pantas saja ada pengawal pengawal tangguh yang menyertai nya dalam setiap kesempatan", jawab Begawan Suradharma segera.
"Selepas acara ini berakhir, ingatkan aku untuk meminta maaf pada nya Suradharma.
Aku tidak mau perguruan silat yang aku bangun dengan susah payah akan berakhir dalam penyerbuan prajurit Panjalu hanya karena kesalahan seorang murid ku yang tidak tahu telah menyinggung perasaan seorang pembesar istana Kadiri", ucap Resi Linggajati sembari menghela nafas berat.
Sementara itu Resi Mpu Wasista, Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara dan Resi Guru Jnanabajra langsung bergegas mendekati Panji Tejo Laksono.
"Hormat kami, wahai Utusan Istana Kadiri...", ujar ketiga tokoh besar golongan putih bersamaan seraya membungkukkan badannya pada Panji Tejo Laksono.
"Sudahlah, aku tidak ingin hormat kalian. Jangan terlalu banyak adat padaku.
Aku khawatir jika persoalan pemilihan pimpinan aliran putih ini akan menjadi masalah jika terjadi perselisihan makanya aku sengaja tidak memperlihatkan diri. Karena sudah menjadi kesepakatan bersama antara para pendekar dengan Gusti Prabu Jayengrana bahwa antara dunia persilatan dan pemerintah tidak akan saling campur urusan masing-masing kecuali terjadi hal yang luar biasa seperti ini.
Aku tidak akan ikut campur dalam penetapan pimpinan namun karena kalian menemui jalan buntu maka demi menjaga keamanan wilayah Kerajaan Panjalu dan menghindari pertumpahan darah antara sesama pendekar golongan putih, maka aku akan menjadi penengah perselisihan antara kalian.
Apa ada yang keberatan dengan usulan ku?", Panji Tejo Laksono menatap wajah ketiga orang sepuh di hadapannya.
Tanpa ragu-ragu, ketiga orang tersebut langsung mengangguk setuju.
"Kami mengerti, Gusti Utusan Istana".
"Kalau begitu, untuk Ki Gendar Pekik maupun Resi Guru Jnanabajra silahkan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Setelah ini, kita semua akan berkumpul di halaman Padepokan Pedang Awan untuk melihat kalian unjuk kebolehan di depan semua pendekar", ucap Panji Tejo Laksono dengan tegas.
Ketiga orang tua itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum kembali ke tempat mereka masing-masing.
Si Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut langsung mendekati Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara sesaat setelah dia berjalan ke arah kelompok nya. Setengah berbisik dia berbicara pada Ki Gendar Pekik.
"Dewa Angin Utara,
Kenapa kau begitu mudahnya menerima perintah dari bocah bau kencur itu? Resi Guru Jnanabajra itu bukan orang sembarangan, bahkan sekelas kakak seperguruan ku saja sampai luka parah saat menantang nya", ucap Wasesodirjo segera.
"Apa kau meragukan kemampuan beladiri ku, Bongkok?", ada nada suara tidak suka dengan suara Ki Gendar Pekik.
"Bukan begitu, Ki..
Tapi aku mempertanyakan mengapa kau sangat mudah menerima perintah dari seorang pemuda yang hanya memiliki sebuah lencana emas bergambar Candrakapala itu? Kenapa dia tidak kau hajar saja?", Wasesodirjo masih belum mengerti.
"Kau ini bodoh atau tolol, Wasesodirjo?
Apa kau tidak tahu arti lencana emas itu ha? Benda itu hanya bisa dimiliki oleh seorang kerabat dekat Istana Kadiri. Paling tidak dia adalah saudara Prabu Jayengrana atau mungkin malah seorang pangeran. Siapapun yang memegang lencana emas itu sama dengan dia membawa wajah Prabu Jayengrana kemari. Sedangkan tujuan perebutan gelar pimpinan kelompok aliran putih ini adalah agar aku lebih dekat dengan pihak istana tapi kau malah menyuruh aku melawannya?
Apa kau sudah tidak waras?", Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara mendelik tajam ke arah Wasesodirjo.
Wajah Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut langsung pucat seketika mendengar ucapan Ki Gendar Pekik.
"A-aku memang bodoh Ki, maafkan aku", ucap Wasesodirjo sembari menundukkan kepalanya.
"Huhhhhh, kalau pengetahuan mu masih cetek jangan sok mengajari ku Wasesodirjo", ujar Ki Gendar Pekik sembari melangkah meninggalkan tempat itu. Para pengikutnya menatap wajah Wasesodirjo dengan penuh rasa kasihan lalu meninggalkan Wasesodirjo untuk mengikuti langkah Dewa Angin Utara yang menuju ke arah halaman.
Wasesodirjo segera mengepalkan tangannya erat-erat.
'Utusan Istana Kadiri, kau sudah mengacaukan rencana ku. Tunggu saja pembalasan ku setelah ku laporkan ini pada majikan ku', batin Wasesodirjo sembari berjalan dengan penuh kewaspadaan meninggalkan lereng Gunung Damalung. Setelah tak ada yang memperhatikan, Wasesodirjo segera melesat cepat kearah Utara.
Di halaman Padepokan Pedang Awan, dua orang tokoh besar golongan putih sedang berdiri berhadapan. Jual beli serangan juga pertahanan mereka dalam beradu ilmu silat tangan kosong cukup menegangkan untuk di lihat.
Sedangkan para pendukung masing masing calon pimpinan kelompok aliran putih riuh rendah memberikan dukungan kepada jagoan mereka dari tepi halaman.
Panji Tejo Laksono duduk dengan tenang bersama dengan para pengawal setia nya. Di kanan kiri nya berdiri Gayatri dan Luh Jingga yang berdandan cantik sebagaimana biasanya. Demung Gumbreg yang duduk di samping kiri Panji Tejo Laksono terlihat begitu antusias menonton pertandingan ini.
"Menurut Denmas Panji,
Diantara mereka siapa yang lebih unggul?", tanya Demung Gumbreg sambil terus menatap ke arah pertandingan.
__ADS_1
"Mereka berdua adalah pendekar besar, Paman Gumbreg.
Sulit menentukan siapa yang lebih unggul karena keduanya sama-sama memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Kalau melihat pergerakan dari Resi Guru Jnanabajra, sepertinya Ki Gendar Pekik lebih baik dalam penyerangan. Tapi Resi Guru Jnanabajra juga tidak kalah hebatnya dengan pertahanan nya yang nyaris sempurna itu", jawab Panji Tejo Laksono.
"Ya kalau menurut ku sih, Ki Gendar Pekik lebih baik dari Resi Guru Jnanabajra itu Denmas.
Lihat saja Resi Guru sampai terdesak ke pinggir halaman", ujar Demung Gumbreg sambil menunjuk ke arah pertandingan dimana Resi Guru Jnanabajra terlihat mundur beberapa langkah usai mendapat serangan beruntun dari Ki Gendar Pekik.
"Kau tidak bisa menilai kemampuan beladiri Resi Guru hanya dengan sekali melihat, Mbreg...
Coba kau perhatikan. Meski Resi Guru Jnanabajra di desak hingga tepi halaman, tapi wajahnya masih terlihat tenang saja.
Bisa jadi Resi Guru Jnanabajra sedang menjajaki seberapa tinggi kemampuan beladiri lawannya ", sahut Tumenggung Ludaka segera.
"Kau ini kog masih ngeyel Lu..
Nah lihat itu itu.. Resi Guru Jnanabajra berulang kali hanya mundur dan menghindari serangan Ki Gendar Pekik. Aku yakin pasti dia yang akan memenangkan pertandingan ini. Aku berani bertaruh untuk nya", kata Demung Gumbreg sambil terus menatap ke arah pertarungan sengit antara Resi Guru Jnanabajra dan Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara.
"Yakin kau mau bertaruh untuk Dewa Angin Utara itu Mbreg?", tanya Tumenggung Ludaka yang duduk di sebelahnya.
"Yakin seyakin-yakinnya Lu", jawab Demung Gumbreg dengan cepat.
"Kalau begitu aku ladeni taruhan mu. Kalau kau yang menang, aku beri kau sepuluh kepeng perak. Tapi kalau aku yang menang, begitu sampai di kota besar kau harus mentraktir makan semua orang yang ada di rombongan kita.
Bagaimana? Kau berani?", Tumenggung Ludaka tersenyum simpul.
"Siapa takut?
Toh pasti aku yang akan menang. Siapkan uang mu Lu, kau jangan ingkar janji", ujar Demung Gumbreg dengan penuh keyakinan.
Mendengar pertaruhan kedua punggawa Istana Kadiri itu, Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum tipis.
Di tengah halaman, Ki Gendar Pekik meluncur di atas tanah dengan kedua kaki menggunting kaki Resi Guru Jnanabajra untuk merobohkan kuda-kuda nya yang kokoh.
Jreeeggg!
Kaki Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara mengunci pergerakan Resi Guru Jnanabajra namun tak berhasil menjatuhkan nya. Justru Resi Guru Jnanabajra malah menekuk lutut nya lalu melayangkan hantaman keras kearah dada Ki Gendar Pekik.
Secepat kilat Ki Gendar Pekik langsung menyilangkan kedua tangan nya untuk menahan hantaman itu. Usai serangan tertahan, Resi Guru Jnanabajra langsung memutar tubuhnya dan menghantam punggung Ki Gendar Pekik dengan keras.
Bhuuukkkhhh!
Rasa sakit yang dirasakan oleh Ki Gendar Pekik segera membuat Dewa Angin Utara itu mengendurkan guntingan kakinya yang mengunci pergerakan Resi Guru Jnanabajra hingga membuat pendekar sepuh dari Gunung Ungaran itu berhasil keluar dari kuncian kaki.
Lalu secepat kilat Resi Guru Jnanabajra langsung mengayunkan kakinya, bermaksud menyepak kepala Ki Gendar Pekik yang masih terbaring di tanah.
Dhhaaaassshhh!!
Ki Gendar Pekik yang masih sempat melihat serangan itu, segera memiringkan kepalanya. Meski kepalanya lolos dari sepakan keras Resi Guru Jnanabajra, namun bahunya masih terkena tendangan keras Resi Guru Jnanabajra yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Lengguh tertahan terdengar saat tubuh Ki Gendar Pekik terlempar jauh ke sudut halaman dan menyusruk tanah sejauh 2 tombak. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya. Namun lelaki sepuh berjenggot panjang itu segera bangkit. Secepat kilat dia mencabut sebilah keris pusaka yang ada di pinggangnya kemudian melesat ke arah Resi Guru Jnanabajra.
Satu tusukan keris mengarah ke ulu hati sang pertapa.
Jllleeeeeppppphhh!
Resi Guru Jnanabajra hanya tersenyum tipis melihat bilah keris pusaka Ki Gendar Pekik yang menusuk ulu hati nya tembus punggung.
Mata Ki Gendar Pekik terlihat melotot lebar seperti hendak keluar dari rongga mata nya. Begitu pula dengan semua orang yang hadir di tempat itu.
"Ajian Raga Dewa. Rupanya Resi Guru Jnanabajra menguasai ilmu kanuragan langka itu", gumam Begawan Suradharma yang duduk di samping kanan Panji Tejo Laksono.
Panji Tejo Laksono yang mendengar ucapan perlahan itu hanya diam saja sembari terus menatap ke arah pertarungan.
Resi Guru Jnanabajra langsung mengibaskan tangan kanannya ke arah muka Ki Gendar Pekik.
Plakkkk!!
Ki Gendar Pekik terhuyung mundur. Keris pusaka di tangan kanannya terlempar jauh dan menancap di tanah. Belum sempat dia berdiri tegak, Resi Guru Jnanabajra langsung memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah dada lawannya.
__ADS_1
Dhiiieeeessshh!!
Gerakan secepat kilat itu membuat Ki Gendar Pekik terpental dan jatuh terduduk di tanah. Darah segar meleleh keluar dari bibirnya. Namun pendekar besar dunia persilatan ini masih berupaya mempertahankan harga diri nya. Dengan cepat ia berdiri dengan kedua tangan berputar. Ini menciptakan pusaran angin dingin yang sanggup membekukan lawan yang dihadapi.
Rupanya Ki Gendar Pekik mengeluarkan Ajian Angin Utara yang membuatnya tersohor di dunia persilatan sebagai Dewa Angin Utara.
Ki Gendar Pekik dengan cepat menghantamkan pusaran angin dingin yang tercipta kearah Resi Guru Jnanabajra.
Whuuussshh !
Whuuussshh !
Resi Guru Jnanabajra langsung melompat tinggi ke udara menghindari pusaran angin dingin yang mengincar nyawanya. Dua pusaran angin dingin langsung menghantam sebatang pohon pisang.
Blllaaaaaarrr !
Pohon pisang itu langsung meledak dan hancur. Sisa sisa pelepah pisang nya langsung berselimut es dan membeku. Melihat Resi Guru Jnanabajra yang mendarat di atas dahan pohon, Ki Gendar Pekik kembali menghantamkan kedua tapak tangan nya ke arah lawannya.
Blllaaaaaarrr !
Thraakkkk Bruuuuaaaakkkkhhh !
Dahan pohon besar itu meledak hancur dan roboh menciptakan kepulan asap putih yang tebal. Tiba tiba saja, Resi Guru Jnanabajra yang berhasil menghindari angin dingin yang di lepaskan oleh Ki Gendar Pekik, menghilang dari pandangan mata semua orang. Lalu muncul tiba-tiba di depan Ki Gendar Pekik sembari menghantamkan tangan kanannya yang berwarna biru terang.
Whhuuuuuuuggggh!
Mendapat serangan dadakan itu, Ki Gendar Pekik hanya bisa bertahan dengan menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada.
Blllaaammmmmmmm!!
Ki Gendar Pekik terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pendekar sepuh yang berjuluk Dewa Angin Utara itu muntah darah segar.
Saat yang bersamaan, Resi Mpu Wasista yang menjadi wasit pertandingan ini langsung melesat cepat kearah pertarungan mereka.
"Sudah cukup, Resi Guru..
Jika di teruskan lagi, sudah tentu Dewa Angin Utara akan terluka lebih parah lagi. Kau adalah pemenang nya", ucap Resi Mpu Wasista segera.
"Om swastyastu..
Aku mengerti Kakang Resi", ucap Resi Guru Jnanabajra sembari membungkukkan badannya pada Resi Mpu Wasista. Mereka berdua segera bergegas menuju ke arah Ki Gendar Pekik yang masih tergeletak di tanah. Dengan segera, Resi Mpu Wasista menyalurkan tenaga dalam nya pada Ki Gendar Pekik hingga lelaki itu kembali muntah darah kehitaman pertanda luka dalam nya berkurang banyak. Pernafasan nya menjadi lebih lancar. Segera Ki Gendar Pekik berdiri dan membungkuk hormat kepada Resi Guru Jnanabajra.
"Resi Guru Jnanabajra lebih pantas menjadi pimpinan kelompok aliran putih selanjutnya", ucap Ki Gendar Pekik yang mengakui keunggulan Resi Guru Jnanabajra.
"Ini hanya sebuah latihan, Kisanak..
Kalau kau sungguh melawan ku, belum tentu aku bisa mengalahkan mu", balas Resi Guru Jnanabajra dengan rendah hati.
"Karena Resi Guru Jnanabajra sudah unggul dalam pertandingan kali ini, maka dengan ini aku tetapkan bahwa Resi Guru Jnanabajra menjadi pimpinan kelompok aliran putih selanjutnya.
Semua pendekar aliran putih aku mohon kembali bersatu tanpa mengedepankan kelompok masing-masing", ujar Resi Mpu Wasista yang disambut dengan sorak sorai dan kegembiraan dari para pendekar golongan putih yang hadir di tempat itu.
"Mbreg, ingat taruhan kita ya? Hehehe", ucap Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Iya iya aku tidak akan lupa..
Eh tadi berada taruhan kita Lu?", tanya Gumbreg segera.
"Semua orang kau traktir makan begitu sampai di kota besar nanti", jawab Tumenggung Ludaka sembari melangkah mengikuti langkah Panji Tejo Laksono yang ikut bergabung bersama dengan para pendekar yang bersukacita.
"Semuanya 8 orang. Kalau sekali makan habis dua kepeng perak berarti 16 kepeng perak.
Wah aku rugi dong. Lu, tunggu aku... Kau menipu ku ya?", Demung Gumbreg segera menyusul ke arah Tumenggung Ludaka yang senyum senyum tanpa mengindahkan perkataan sahabat karibnya.
Sementara itu, jauh di kaki Gunung Damalung sisi Utara, tepatnya di tepi hutan bambu.
"Jadi usaha yang kita lakukan selama beberapa purnama ini sia-sia?
Dasar keparat! Siapa yang melakukannya Wasesodirjo? Cepat katakan pada ku", ujar seorang lelaki bertubuh kekar dengan baju hitam berhias sulaman benang merah. Mata nya membeliak lebar menebas ancaman bagi siapapun yang memandang nya.
"Aku pasti akan membunuhnya!!"
__ADS_1