Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Tabir Yang Mulai Tersingkap


__ADS_3

Setelah menyerahnya para prajurit Jenggala, Panji Tejo Laksono segera mengatur pembagian tugas antara para perwira tinggi prajurit Panjalu untuk membereskan kekacauan yang terjadi setelah perang ini terjadi.


Senopati Muda Jarasanda di tugaskan oleh Panji Tejo Laksono untuk mengatur para tawanan perang di benteng pertahanan Panjalu di Wanua Sungging. Di bantu oleh Tumenggung Purubaya dari Muria, sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan sigap mengatur penempatan para tawanan perang.


Demung Gumbreg di perintahkan untuk mengumpulkan harta rampasan perang yang ada di barak perkemahan besar itu dan membawanya ke benteng pertahanan Panjalu. Di bantu oleh Weleng dan Gubarja, dua orang pembantu setia nya, Demung Gumbreg dengan cepat melaksanakan tugas yang diberikan oleh Panji Tejo Laksono.


Sedangkan Tumenggung Lamuri dan Demung Krida dari Lasem di beri tanggung jawab untuk mengumpulkan mayat mayat para prajurit Panjalu yang terbunuh dan menguburkannya. Sedangkan para prajurit Jenggala yang tewas, mereka kumpulkan jadi satu dan membakarnya agar tidak menjadi sarang penyakit.


Lain halnya dengan Tumenggung Landung dan Tumenggung Ludaka. Dua orang perwira yang pernah menjadi pucuk pimpinan Pasukan Lowo Bengi ini bertugas untuk menginterogasi para perwira prajurit Jenggala untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pasukan Jenggala lain yang di perintahkan untuk menyerbu ke Panjalu. Di bantu oleh Pasukan Lowo Bengi nya, mereka menanyai para perwira prajurit Jenggala.


Di salah satu sudut benteng pertahanan Panjalu, di sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruang tahanan, Tumenggung Ludaka duduk di sebuah kursi kayu. Di sampingnya ada Tumenggung Landung dan beberapa orang anggota Pasukan Lowo Bengi yang berjaga.


Di hadapannya Tumenggung Dananjaya sedang berlutut dengan tangan terikat di belakang punggungnya. Wajah perwira tinggi prajurit Jenggala itu terlihat lebam dengan bibir pecah.


"Sekarang katakan pada ku sejujurnya. Jika sampai kau berani untuk berdusta, kami tidak akan segan-segan untuk menyiksa mu hingga kau sampai memilih mati daripada merasakan siksaan yang kami berikan.


Pimpinan prajurit Jenggala yang melarikan diri itu, siapa namanya? Dan apa jabatannya di pemerintahan Kahuripan?", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap tajam ke arah Tumenggung Dananjaya. Namun perwira tinggi prajurit Jenggala itu masih diam seribu bahasa.


Tumenggung Landung segera menoleh ke salah satu anggota Pasukan Lowo Bengi yang ada di sana. Paham dengan apa yang diinginkan oleh Tumenggung Landung, sang anggota Pasukan Lowo Bengi yang bertubuh gempal itu segera melangkah maju dan menampar pipi kiri sang perwira Jenggala.


Plllaaaakkkkk!!!


"Cepat jawab pertanyaan Gusti Tumenggung Ludaka!", bentak sang anggota Pasukan Lowo Bengi ini segera.


Darah segar meleleh keluar dari sudut bibir Tumenggung Dananjaya yang pecah. Namun sang perwira Jenggala itu masih juga belum mau bicara.


"Kurang ajar!!


Kau bandel rupanya ya? Baik, akan ku lihat sejauh mana kamu bisa untuk bertahan. Kawan-kawan, hajar dia!!", teriak sang anggota Pasukan Lowo Bengi sambil melayangkan tinjunya ke wajah Tumenggung Dananjaya.


Para anggota Pasukan Lowo Bengi yang ada di tempat itu langsung bergegas maju dan memukuli Tumenggung Dananjaya yang terikat tak berdaya.


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..


Bhhaaagggg.. Bhhhuuuuuuggggh!!!


Suara pukulan bertubi-tubi di selingi lengguh kesakitan dari mulut Tumenggung Dananjaya terdengar dari tempat. Setelah cukup lama bertahan, akhirnya Tumenggung Dananjaya tidak tahan juga di siksa oleh para anggota Pasukan Lowo Bengi.


"Ampun !! Ampuunnn...!!!


Aku akan bicara. Aku akan bicara... Tolong jangan hajar lagi! Ampuunnn!!!"


Mendengar ucapan itu, Tumenggung Ludaka segera bertepuk tangan dua kali dan para anggota Pasukan Lowo Bengi yang sedang menghajar Tumenggung Dananjaya segera menghentikan pekerjaan mereka.


Segera mereka menyeret tubuh Tumenggung Dananjaya dan melemparkannya ke depan Tumenggung Ludaka. Tubuh lelaki yang sangat dihormati di Kotaraja Kahuripan ini langsung menghantam tanah ruang tahanan itu dengan keras. Badannya pada bengkak dan beberapa bagian kepalanya terdapat benjolan akibat pukulan dan tendangan anggota Pasukan Lowo Bengi.

__ADS_1


"Aku akan bicara. Tolong jangan pukul aku lagi. Aku akan bicara, aku pasti bicara sejujurnya..", ucap Tumenggung Dananjaya yang terlihat sangat ketakutan.


"Nah begitu baru benar..


Kalau kau bicara dari tadi, kau tidak perlu menerima siksaan dari mereka. Sekarang jawab pertanyaan ku tadi. Cepat!", Tumenggung Ludaka kembali menatap tajam ke arah Tumenggung Dananjaya.


"Di-dia adalah Pa-pangeran Ganeshabrata. Putra mantu Prabu Samarotsaha dari Blambangan. Dia adalah suami Dewi Rukmini", ucap Tumenggung Dananjaya cepat.


"Dewi Rukmini yang cacat mata sebelah nya itu? Bagaimana mungkin seorang pangeran tampan seperti dia mau menikahi wanita cacat seperti Dewi Rukmini?", kata Tumenggung Landung merasa ada yang tidak beres dengan Pangeran Ganeshabrata.


"Ka-kalau itu aku kurang tahu. Yang jelas dia adalah putra mantu Prabu Samarotsaha dari Blambangan.


Hanya saja...", Tumenggung Dananjaya menghentikan omongannya.


"Hanya saja apa?


Cepat lanjutkan. Jangan setengah-setengah kalau bicara", ancam Tumenggung Ludaka segera.


"I-iya iya, aku teruskan aku teruskan..


Hanya saja ada desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat Jenggala bahwa Pangeran Ganeshabrata mau memperistri Dewi Rukmini yang cacat karena ingin menguatkan kedudukan nya untuk menguasai Jenggala. Selain itu juga ada kabar angin yang mengatakan bahwa dia terlibat dalam Kelompok Bulan Sabit Darah", ucapan Tumenggung Dananjaya langsung membuat Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung terkejut bukan main. Keduanya saling berpandangan sejenak seolah saling berbicara.


"Apa itu bukan hanya sekedar fitnah yang di lemparkan oleh orang yang tidak suka dengan kehadiran Pangeran Ganeshabrata atau kau sudah punya bukti mengenai hal itu", ucap Tumenggung Ludaka kemudian.


Namun belum sempat dia bicara banyak, sebuah senjata api sudah mencabut nyawa nya. Tapi sebelum dia tewas, dia sempat bercerita bahwa Pangeran Ganeshabrata adalah salah satu pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah.


Tapi karena aturan istana yang tidak memperbolehkan kami memeriksa keluarga dekat istana tanpa seijin raja, maka kami tidak meneruskan perkara ini dan hanya menyimpannya sebagai rahasia umum yang kami ketahui", urai Tumenggung Dananjaya panjang lebar.


Mendengar itu, pikiran Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung hanya satu, segera melaporkan temuan ini pada Panji Tejo Laksono.


"Baiklah, untuk sementara ini kami mempercayai kata kata mu..


Prajurit, bawa orang ini dan masukkan dia ke dalam tahanan. Ingat jaga ketat tempat ini", ujar Tumenggung Ludaka segera. Dia segera bangkit dari tempat duduknya.


Dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi segera menghormat pada Tumenggung Ludaka dan memapah Tumenggung Dananjaya kembali ke ruang tahanan nya. Sedangkan Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung segera bergegas menuju ke arah tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya.


"Sudahlah Dhimas Jayagiri..


Tak perlu bersedih hati terus menerus. Aku paham apa yang kau rasakan saat ini tapi itu tidak akan membuat Lan Er hidup kembali", Panji Tejo Laksono menepuk-nepuk bahu Mapanji Jayagiri yang masih duduk berlinang air mata di samping jasad Wanyan Lan yang terbujur kaku di ruang utama benteng pertahanan ini. Luh Jingga dan Dyah Kirana juga turut hadir di tempat itu. Mata keduanya sembab karena ikut menangisi kepergian Wanyan Lan untuk selamanya.


"A-aku tidak bisa melindungi orang yang ku cintai, Kangmas Tejo Laksono hiks..


Aku lemah, aku tidak berguna sama sekali", ucap Mapanji Jayagiri putus asa. Dia benar benar merasa bersalah pada Wanyan Lan.


"Kau tidak lemah, Dhimas Jayagiri..

__ADS_1


Lawan mu memang bukan pendekar sembarangan. Kematian Lan Er adalah garis takdir yang sudah di tulis oleh para Dewata di Kahyangan Suralaya. Tapi ini juga bisa menjadi cambuk semangat untuk mu untuk lebih meningkatkan kemampuan beladiri mu agar kelak mampu melindungi semua orang yang kau sayangi", hibur Panji Tejo Laksono. Mapanji Jayagiri terdiam mendengar ucapan dari kakak nya ini.


"Kau boleh jadi berduka cita atas meninggalnya Wanyan Lan, adik ku..


Tapi kau juga harus ingat bahwa bukan kau saja yang kehilangan dia. Aku dan Meng Er juga Luh Jingga dan Paman Ludaka yang baik padanya juga merasa sangat kehilangan.


Kelak, kau harus belajar lebih giat lagi untuk membalaskan kematian Wanyan Lan pada bajingan keparat itu", imbuh Panji Tejo Laksono.


"Aku mengerti Kangmas Tejo Laksono..


Sekarang biarkan aku sendiri bersama Wanyan Lan untuk terakhir kalinya sebelum kita menguburkan jasad nya Kangmas", ucap Mapanji Jayagiri segera.


Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti dan segera menggandeng tangan Dyah Kirana dan Luh Jingga untuk memberi waktu bagi Mapanji Jayagiri sendiri. Mereka bertiga pun segera melangkah meninggalkan tempat itu.


Belum genap 10 langkah mereka meninggalkan ruang utama benteng pertahanan ini, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung yang baru saja dari ruang tahanan berjalan tergesa-gesa mendekati mereka bertiga. Kedua perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Ada hasil apa yang Paman berdua dapatkan dari ruang tahanan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Sebaiknya kita tidak bicara disini, Gusti Pangeran Adipati. Ini adalah berita penting", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm...


"Baiklah kalau begitu.. Mari kita bicara di tempat peristirahatan ku saja", ucap Panji Tejo Laksono segera. Mereka berlima segera berjalan menuju ke salah satu bangunan yang ada di dekat sanggar pamujan kecil yang menjadi tempat tinggal Panji Tejo Laksono selama di tempat ini.


Mereka berlima segera duduk bersila di lantai balai peristirahatan Panji Tejo Laksono.


"Sekarang katakan pada ku, Paman berdua..


Hal penting apa yang kalian ketahui dari pengakuan para perwira Jenggala itu?", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap wajah Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung bergantian.


Tumenggung Landung segera menceritakan semua hal yang di dengar nya dari ocehan Tumenggung Dananjaya. Sesekali Tumenggung Ludaka menimpali dengan beberapa kata untuk memperjelas pemahaman tentang cerita Tumenggung Landung.


Wajah Panji Tejo Laksono langsung merah padam begitu mendengar ucapan Tumenggung Landung perihal bahwa kemungkinan besar Pangeran Ganeshabrata adalah salah satu pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah. Bara api dendam dalam dadanya yang sempat memudar seiring berjalannya waktu atas kejadian di Jurang Menjing waktu itu kembali terbakar.


"Jadi bajingan tengik yang sudah membunuh Lan Er itu kemungkinan besar adalah salah satu pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Benar Gusti Pangeran..


Besar kemungkinan bahwa dia adalah pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah", tambah Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada sang pangeran muda.


Mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono langsung mendengus keras. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa lawannya adalah pimpinan dari orang-orang yang berusaha untuk mencelakai Istana Kadipaten Seloageng tempo hari.


"Maksud Paman,


Dia adalah Malaikat Bertopeng Emas?"

__ADS_1


__ADS_2