
Semua orang terkejut dengan berita yang mereka dengar baru saja dari Resi Ranukumbolo. Tak di sangka, keinginan Dyah Kirana untuk melepas rindu malah mendapat kejutan besar yang berpengaruh besar terhadap kehidupannya. Wajah cantik perempuan itu langsung muram.
"Lantas, si-siapa ayah kandung ku Kanjeng Romo?", air mata Dyah Kirana langsung menggenang di pelupuk mata perempuan cantik itu.
Hemmmmmmm..
Terdengar helaan nafas panjang dari Resi Ranukumbolo sebelum akhirnya dia berbicara.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengungkapkan rahasia ini, tapi kejujuran yang menyakitkan lebih baik daripada sebuah kebohongan, Kirana...
Kisahnya bermula dari 2 dasawarsa yang lalu.
Saat itu, Kanjeng Romo Maharesi Padmanaba baru saja pulang dari Pasuruhan dengan membawa seorang bayi perempuan cantik yang terbungkus kain sutra putih bersulam emas. Saat ku tanyakan pada beliau darimana dia mendapatkan bayi cantik ini, dia hanya menjawab kalau dia mendapat amanah untuk merawat bayi ini dari seorang perempuan yang bernama Nyi Padmi.
Saat itu Nyi Padmi sedang di kejar oleh segerombolan orang yang merupakan anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang dipimpin oleh pimpinannya yang bernama Si Dewa Tangan Besi. Kanjeng Romo Maharesi Padmanaba berhasil mengalahkan Si Dewa Tangan Besi dan anak buahnya namun masih sempat melukai Nyi Padmi yang memilih untuk mengorbankan nyawa nya demi melindungi mu.
Karena aku tidak memiliki keturunan dengan istri ku Nyi Sri Tanjung, maka kami sepakat untuk merawat dan membesarkan mu layaknya putri kandung kami sendiri", ucap Resi Ranukumbolo sembari mengelus jenggotnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu uban
"Apakah Nyi Padmi itu ibu kandung ku, Kanjeng Romo? Lantas siapa ayah ku?", kembali Dyah Kirana melontarkan pertanyaan.
Mendengar pertanyaan itu, Resi Ranukumbolo tersenyum simpul.
"Sabar Kirana, jangan terburu nafsu..
Romo belum selesai cerita nya. Cermati uraian yang Romo bicarakan, nanti kau bisa menelaah nya sendiri.
Setelah satu purnama kau disini, Romo turun gunung untuk mencari tahu siapa itu Nyi Padmi dan Romo bertemu dengan Mpu Purwa yang merupakan suami dari Nyi Padmi. Dari nya, akhirnya aku tahu siapa orang tua mu yang sebenarnya.
Ayah mu adalah Maharaja Mapanji Alanjung Ahyes dari Jenggala, dan ibu mu adalah Gusti Permaisuri Dewi Citrawati. Nama asli mu adalah Dewi Chandrakirana. Aku memberi mu nama Dyah Kirana untuk menghilangkan jejak mu yang di buru oleh penguasa Jenggala yang baru, Maharaja Samarotsaha. Dia ingin menghabisi seluruh keturunan Prabu Mapanji Garasakan agar dia tenang berkuasa di Kahuripan!", bagaikan petir menyambar di siang bolong, kata demi kata yang terucap dari mulut Resi Ranukumbolo langsung membuat semua orang terkejut bukan main. Bukan hanya Dyah Kirana yang kaget setengah mati mendengar perkataan itu, tapi juga Ki Jatmika dan Panji Tejo Laksono yang terperangah ketika mendengar kata kata dari Resi Ranukumbolo.
"Aku juga berani bersaksi bahwa ucapan Resi Ranukumbolo ini benar, Nini Kirana. Mpu Purwa adalah kawan baik ku yang kita temui tempo hari.
Dia pernah bercerita tentang hal yang sama seperti cerita Resi Ranukumbolo ini pada ku. Jadi bisa dikatakan bahwa kau benar-benar putri dari Maharaja Jenggala Mapanji Alanjung Ahyes dan permaisurinya", timpal Ki Jatmika membenarkan omongan Resi Ranukumbolo.
"Biadab!!
__ADS_1
Jadi kisah mangkatnya Gusti Prabu Mapanji Alanjung Ahyes itu adalah pengaturan yang di lakukan oleh Mapanji Samarotsaha, Kanjeng Romo? Benar begitu?", kembali Dyah Kirana melayangkan pertanyaan seolah ingin segera mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Sejak lama dia mendengar desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat Jenggala bahwa Mapanji Alanjung Ahyes yang meninggal muda adalah akibat ulah para durjana yang di pimpin oleh Rakryan Samarotsaha yang masih terhitung pamannya sendiri.
"Itu tidak salah, Kirana..
Mapanji Alanjung Ahyes memang tewas di racun orang dalam istana Kotaraja Kahuripan atas suruhan Rakryan Samarotsaha. Ibu mu Dewi Citrawati yang curiga dengan polah tingkah Samarotsaha, membuat para punggawa istana untuk menyelidiki sebab musabab kematian Gusti Prabu Mapanji Alanjung Ahyes, namun dia ternyata salah besar karena dalam orang yang dia tugaskan, ada anak buah Samarotsaha.
Akibat tindakan ini, Rakryan Samarotsaha yang licik dengan cepat merubah kenyataan yang terjadi di istana hingga berbalik menjatuhkan Dewi Citrawati. Akibatnya, ibu mu di hukum pancung karena semua bukti mengarah kepada nya. Namun Nyi Padmi, sang dayang istana, berhasil menyelamatkan nyawa mu di bawah perintah Dewi Citrawati sesaat sebelum dia di seret ke dalam penjara.
Jadi, kau bukan orang biasa Kirana. Di darah mu masih mengalir darah biru dari Sang Maharaja Diraja Prabu Airlangga yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Panjalu dan Jenggala", Resi Ranukumbolo menutup uraian nya sambil mengelus janggut nya.
"Tapi masih bolehkah aku menyebut mu dan Biyung Sri Tanjung sebagai Romo dan Biyung ku?", pertanyaan tiba-tiba itu diiringi dengan derai air mata yang terus membasahi pipi Dyah Kirana.
"Gadis bodoh!!
Saat tangan ini pertama kali menggendong mu Kirana, saat itu juga kau adalah putri ku, putri Resi Ranukumbolo dan Nyi Sri Tanjung dari Pertapaan Gunung Mahameru", ujar Resi Ranukumbolo sembari membuka lebar kedua tangan nya. Dyah Kirana segera menubruk tubuh tua Resi Ranukumbolo sembari menangis tersedu-sedu.
Setelah adegan penuh haru biru itu sedikit mereda, Resi Ranukumbolo segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Pangeran Panji Tejo Laksono..
Aku menunggu jawaban mu", ucap Resi Ranukumbolo tegas. Dyah Kirana pun langsung menghentikan tangisannya dan segera melepaskan pelukannya pada Resi Ranukumbolo lalu menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Hatinya berdebar-debar tak karuan menunggu setiap kata yang terucap dari mulut sang pangeran muda dari Kadiri ini.
"Jujur saja, aku sangat terkejut mendengar cerita mu baru saja Resi Ranukumbolo. Sungguh aku tak menyangka bahwa Kirana adalah seorang putri dari istana Kahuripan.
Tapi meskipun begitu, bagi seorang ksatria Panjalu pantang ingkar janji yang telah di ucapkan. Sekalipun dia putri raja Jenggala ataupun anak dari seorang kaum sudra sekalipun, aku tidak akan pernah mengingkari janji ku apapun yang terjadi pada Kirana", ujar Panji Tejo Laksono mantap.
Mendengar jawaban itu, baik Resi Ranukumbolo maupun Dyah Kirana segera tersenyum lebar. Tak salah memang mereka percaya pada Panji Tejo Laksono.
Maka hari itu di susunlah rencana untuk upacara pernikahan antara Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana. Ini dikarenakan Panji Tejo Laksono tidak bisa berlama-lama tinggal di wilayah Jenggala. Selain berada di dalam wilayah lawan Kerajaan Panjalu, ada banyak musuh berbahaya yang mengincar mereka terutama dari Kelompok Bulan Sabit Darah yang senantiasa selalu mencari kesempatan untuk menghabisi nyawa sang pangeran muda ini.
Telah diputuskan bahwa pernikahan antara Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana akan dilakukan pada esok lusa sembari menyiapkan segala sesuatunya untuk kepentingan acara itu.
Seketika, seluruh Pertapaan Gunung Mahameru di sibukkan dengan persiapan acara pernikahan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana. Beberapa hiasan janur kuning mulai di pasang di beberapa sudut Pertapaan Gunung Mahameru oleh para murid. Beberapa juga sibuk memotong kerbau dan kambing untuk persiapan lauk pauk di acara. Ada pula beberapa wanita yang di datangkan dari Wanua Karang Lawang untuk menumbuk padi di lesung juga membantu menyiapkan aneka macam masakan yang akan di hidangkan saat upacara pernikahan ini berlangsung.
Tak cukup satu hari, keesokan harinya persiapan acara pernikahan ini di lanjutkan. Rombongan penghibur keliling di panggil untuk memeriahkan acara. Mereka datang dalam satu rombongan besar berikut para penari dan penabuh gamelan. Tak hanya itu, beberapa tamu undangan pernikahan seperti Mpu Suta sang Lurah Wanua Karang Lawang, Resi Mpu Dipa dari Padepokan Lereng Selatan Mahameru, Gardika si Pendekar Harimau Putih dari Perguruan Macan Mahameru dan Ki Sambada, saudagar kaya raya dari Kadipaten Dinoyo yang menjadi sahabat Resi Ranukumbolo pun telah hadir lebih awal karena tak ingin ketinggalan berpartisipasi dalam acara pernikahan ini.
__ADS_1
Menjelang sore hari, Resi Ranukumbolo tersenyum penuh arti melihat persiapan untuk pernikahan putrinya telah rampung di tata. Sebuah panggung megah dengan hiasan janur kuning yang di bentuk aneka macam nampak berdiri di tengah halaman Pertapaan Gunung Mahameru.
'Akhirnya putri ku akan menjadi seorang istri hari ini. Semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk masa depan nya', batin Resi Ranukumbolo sembari tersenyum simpul melihat kesibukan para murid Pertapaan Gunung Mahameru yang sedang menata hiasan di sekitar tempat upacara pernikahan.
*****
"Jadi mereka sedang berada di Pertapaan Gunung Mahameru? Bagaimana ini?", ucap Mpu Jiwan sambil mengerutkan keningnya pertanda sedang berpikir keras.
Bagaimanapun juga, Pertapaan Gunung Mahameru adalah salah satu dari beberapa pertapaan yang di pandang oleh Maharaja Samarotsaha. Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, tentu saja mereka harus bersiap untuk menghadapi para prajurit Jenggala yang akan di kerahkan untuk memburu mereka.
"Apa yang kau takutkan, Sesepuh Hantu Misterius? Apa kau kurang percaya diri dengan kemampuan orang orang kita?", tanya Bidadari Bertopeng Perak yang berdiri di sudut tempat itu.
"Aku tidak mengkhawatirkan kemampuan beladiri orang orang kita, Pimpinan Kedua.
Yang aku khawatirkan adalah sikap Maharaja Samarotsaha jika sampai kita berani menyerbu ke Pertapaan Gunung Mahameru. Ini bisa mengacaukan semua rencana besar kita, Pimpinan..", jawab Mpu Jiwan segera.
Hemmmmmmm...
"Aku rasa bukan itu alasan mu, Sesepuh Hantu Misterius.
Kau pasti mengkhawatirkan keselamatan orang orang kita kalau berhadapan dengan Maharesi Padmanaba bukan? Kau harus tahu, orang tua itu sudah lama mati..", sahut Malaikat Bertopeng Emas sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah yang tiba-tiba muncul di pintu masuk bangunan yang menjadi markas sementara mereka di Pasuruhan.
"Hormat kami pada pimpinan utama. Panjalu Jenggala akan musnah, Kahuripan akan kembali tegak berdiri selamanya", ucap serempak semua orang yang ada di tempat itu termasuk Badragenta, Pendeta Darah, Bidadari Bertopeng Perak dan beberapa orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang turut serta dalam pertemuan itu.
"Kalau Maharesi Padmanaba sudah tidak ada, kekuatan Pertapaan Gunung Mahameru tentu sangat jauh berkurang. Tak ada lagi yang perlu kita takutkan.
Sebaiknya kita serbu saja Pertapaan Gunung Mahameru itu. Kita tidak boleh membiarkan pendekar muda itu lolos begitu saja", ucap Bidadari Bertopeng Perak alias Putri Uttejana segera.
"Pendeta Darah, bagaimana menurut pendapat mu?", Malaikat Bertopeng Emas menoleh ke arah Mpu Mahasura sang Pendeta Darah yang kini merupakan orang yang memiliki kemampuan beladiri paling tinggi di antara mereka.
"Aku akan selalu patuh pada perintah pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah. Om Swasyastu...", ujar Mpu Mahasura sang Pendeta Darah sambil membungkuk hormat kepada Malaikat Bertopeng Emas.
Mendengar jawaban itu, Malaikat Bertopeng Emas tersenyum lebar dari balik topeng emas nya. Sambil mengepalkan tangannya erat-erat, dia berkata lantang.
"Kalau begitu inilah saatnya kita ratakan Pertapaan Gunung Mahameru,
__ADS_1
Dengan tanah!!".