Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Rajah Smaradahana


__ADS_3

Dari arah pintu gerbang pertapaan, rombongan pertapa muda yang di tugaskan untuk membeli bahan kebutuhan pokok pertapaan datang. Beberapa pedati yang mengangkut barang belanjaan mereka di Kota Pakuwon Bandar pun ada di belakangnya. Setelah itu rombongan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya mengekor layaknya para pengawal rombongan para brahmana muda ini.


Begitu sampai di dekat kediaman utama Pertapaan Gunung Penanggungan, Nitisara yang menjadi pimpinan para brahmana muda ini segera bergegas mendekati Maharesi Yogiswara yang berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Mohon ampun Guru..


Beberapa orang saudara seperguruan kita telah terbunuh oleh para perampok yang ingin merampas barang belanjaan kami. Kalau tidak ada pendekar muda itu, pasti kami semua sudah terbunuh oleh kekejaman mereka.


Namun sayangnya, sang penolong kami justru terluka dalam akibat serangan licik dari para perampok itu", lapor Nitisara sembari membungkuk hormat kepada Maharesi Yogiswara.


"Aku tahu itu, Nitisara..


Sekarang kau atur barang belanjaan mu ke gudang belakang. Ajak Ranjana dan Manyura untuk membantu mu. Urusan para penolong mu, biar aku sendiri yang menemui mereka", ucap Maharesi Yogiswara sambil tersenyum simpul.


"Aku mengerti Guru", begitu selesai bicara demikian, Nitisara segera membungkuk hormat dan berlalu dari hadapan Maharesi Yogiswara. Sedangkan lelaki sepuh berjenggot panjang dengan beberapa uban nampak tumbuh di antaranya itu segera bergegas mendekati Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang baru saja turun dari kuda mereka masing-masing.


"Selamat datang di Pertapaan Gunung Penanggungan, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono...", ucap Maharesi Yogiswara dengan santun.


Kaget Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika mendengar ucapan itu. Mereka merasa takjub mendengar ucapan Maharesi Yogiswara yang langsung menyebut nama Panji Tejo Laksono berikut gelar kebesarannya.


"Terimakasih atas penyambutan nya, Maharesi..


Uhukkk uhukkk...


Apakah benar aku sedang berhadapan dengan Maharesi Yogiswara, sang dwija suci yang selalu bicara dengan para Dewa di Kahyangan Suralaya?", balas Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada kakek tua itu.


"Ah itu hanya dilebih-lebihkan saja, Gusti Pangeran.


Saya Yogiswara hanya manusia biasa seperti kebanyakan orang pada umumnya. Mohon maaf jika saya lancang. Saya hanya ingin membantu Gusti Pangeran saja", setelah berkata demikian Maharesi Yogiswara bergerak cepat ke sekeliling tubuh Panji Tejo Laksono.


Kecepatan gerak tinggi sang pertapa tua membuatnya terlihat menjadi beberapa orang sekaligus. Masing-masing bayangan Maharesi Yogiswara dengan cepat menotok beberapa jalan darah di tubuh sang pangeran muda. Terakhir dia menghantam bahu kiri Panji Tejo Laksono yang memiliki bekas separuh telapak tangan menghitam akibat serangan bokongan Setan Kuning Betina.


Dhhaaaassshhh...


Huuuuooogggghhh!!!


Panji Tejo Laksono langsung muntah darah segar bercampur darah kehitaman. Bibir Panji Tejo Laksono yang semula memucat karena racun serangan perempuan iblis itu kini kembali merona merah karena racunnya sudah di keluarkan. Bekas hitam di pundak kiri nya juga telah menghilang bersamaan dengan hantaman Maharesi Yogiswara yang memaksa racun yang bersarang itu keluar melalui mulut sang pangeran muda.


"Ajian Tapak Racun memang ilmu kanuragan yang keji. Terlambat sedikit saja, nyawa bisa melayang. Untung saja Gusti Pangeran memiliki tenaga dalam yang tinggi hingga racun itu tidak sampai merambat ke jantung", ucap Maharesi Yogiswara yang sudah berdiri di tempatnya sambil menghela nafas panjang.


"Terimakasih atas bantuannya, Maharesi Yogiswara..


Budi baik ini akan selalu ku ingat sepanjang hidup ku", ujar Panji Tejo Laksono sembari membungkuk hormat kepada sang pertapa tua usai mengusap sisa darah di bibirnya.


"Ini adalah karma, Gusti Pangeran. Ada sebab pasti ada akibat. Kau sudah menolong murid-murid ku dan aku membantu mu mengeluarkan racun dari tubuh mu. Kita semua tidak ada hutang apapun sekarang", Maharesi Yogiswara tersenyum penuh arti.


"Mari silahkan masuk.. Aku sungguh tidak sopan, mengajak berbincang tanpa mengajak masuk ke dalam rumah", imbuh Maharesi Yogiswara.


Mereka semua segera melangkah menuju ke dalam kediaman utama Pertapaan Gunung Penanggungan. Beberapa murid yang berpapasan dengan mereka, segera menghormat pada sang dwija.


Setelah mereka semua duduk bersama di serambi kediaman Maharesi Yogiswara, beberapa orang cantrik dan Dewi Saraswati segera menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka. Maharesi Yogiswara memperkenalkan istrinya dan seorang lelaki muda diantara mereka sebagai putra nya.

__ADS_1


Begitu senja mulai menghilang di langit barat, Dewi Saraswati segera mengantar Song Zhao Meng dan Dyah Kirana ke tempat peristirahatan yang sudah di siapkan untuk mereka. Sedangkan Ki Jatmika diantar oleh seorang murid Pertapaan Gunung Penanggungan ke balai tamu. Ini adalah keinginan Maharesi Yogiswara yang ingin bicara empat mata dengan Panji Tejo Laksono.


"Aku tahu kedatangan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ke tempat ku ini bukan hanya sekedar ingin bertemu dengan ku saja.


Sekarang semuanya sudah pergi. Utarakan saja apa yang ingin Gusti Pangeran katakan", ucap Maharesi Yogiswara setelah hanya tinggal dia dan Panji Tejo Laksono berhadapan.


"Tak salah jika Eyang Buyut Dewi Anggrek Bulan menyuruh ku datang kemari. Maharesi Yogiswara memang dwija suci yang mengerti sebelum di beritahu.


Begini Maharesi, jujur saja aku penasaran dengan perkataan Eyang Buyut Dewi Anggrek Bulan tentang tahun mahapralaya di Panjalu. Itu yang pertama. Yang kedua aku ingin tahu siapa sosok titisan Dewi Kamaratih yang dikatakan oleh Eyang Buyut Dewi Anggrek Bulan sebagai pasangan sejati ku yang kelak akan menurunkan raja-raja Panjalu selanjutnya. Mohon pencerahannya, Maharesi", Panji Tejo Laksono menatap wajah teduh Sang Dwija Suci dengan penuh pengharapan.


Hemmmmmmm...


Terdengar helaan nafas panjang dari Maharesi Yogiswara. Pertapa tua itu mengelus jenggotnya yang panjang sebelum berbicara.


"Begini Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Untuk hal yang pertama, tahun mahapralaya di Panjalu dengan sengkala Dwi Agni Wuk Sujanma mengandung makna dua orang pandai yang membawa api. Itu artinya pralaya besar itu akan di dasari oleh dua orang cerdik pandai di antara para nayaka praja Panjalu sendiri. Pada tahun itu juga, Sanghyang Wisnu akan oncat dari Arcapada. Kau tentu tahu siapa titisan Dewa Wisnu saat ini bukan? Sehebat apapun ilmu kesaktian yang dimilikinya, dia tidak bisa mengelak dari takdir Dewata ", ucapan Maharesi Yogiswara itu seketika membuat Panji Tejo Laksono termenung sejenak.


"Saat kekacauan besar terjadi, kau yang akan menumpas semua perusuh itu dan mengembalikan kedamaian di Kerajaan Panjalu.


Jadi mulai sekarang sebaiknya kau mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi segala kemungkinan dengan meningkatkan kemampuan mu sendiri", imbuh Maharesi Yogiswara sembari tersenyum tipis.


"Apakah kemampuan beladiri yang saya miliki masih belum cukup untuk memenuhi suratan takdir Dewata ini, Maharesi?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Saat mahapralaya itu terjadi, akan ada beberapa pendekar pilih tanding yang akan menjadi batu sandungan bagi mu, Gusti Pangeran. Saat ini kau sudah cukup untuk melindungi diri mu sendiri, tapi bagaimana dengan para istri mu, para kerabat mu, anak keturunan mu dan para pengikut mu? Apakah kau akan membiarkan mereka mati-matian berjuang tanpa bantuan mu? Tentu saja tidak bukan?", mata sepuh Maharesi Yogiswara menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Lantas apa yang mesti saya lakukan untuk melindungi semua orang yang mendukung saya, Maharesi? Apa saya harus berguru lagi?", sejuta pertanyaan melintas di kepala sang pangeran muda.


Aku akan menurunkan satu ajian pamungkas yang mungkin akan sedikit membantu mu untuk menghadapi masalah kelak. Sekarang sudah waktunya.. Ikuti langkah ku Gusti Pangeran..", setelah berkata demikian Maharesi Yogiswara segera berkelebat cepat kearah puncak gunung Penanggungan. Panji Tejo Laksono segera mengejar pergerakan Maharesi Yogiswara.


Dua buah bayangan hitam bergerak laksana terbang di pucuk pepohonan yang rimbun di lereng Gunung Penanggungan. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, keduanya sudah sampai di puncak gunung. Hawa dingin berdesir perlahan terasa menusuk tulang namun itu tidak menyurutkan niat Panji Tejo Laksono untuk mendapatkan petunjuk.


Maharesi Yogiswara segera menyuruh Panji Tejo Laksono untuk duduk bersila di atas sebuah batu besar pipih yang ada di tempat itu. Cahaya bulan yang menembus awan tipis di atas puncak gunung Penanggungan menjadi pelita mereka berdua.


"Aku akan menurunkan Ajian Brajamusti yang akan membuat mu menguasai petir. Ajian ini ampuh untuk menghadapi rintangan yang mungkin kau hadapi, entah dari manusia ataupun makhluk halus.


Kosongkan pikiran mu, Gusti Pangeran. Biarkan panca indera mu terbuka lebar untuk menerima ajian ini", perintah Maharesi Yogiswara segera.


Panji Tejo Laksono pun dengan patuh mengikuti semua perintah Maharesi Yogiswara. Segera kedua telapak tangannya bersatu di depan dada dan mata nya pun terpejam rapat.


Mulut Maharesi Yogiswara segera komat kamit membaca mantra. Di telapak tangan kanan nya tercipta cahaya putih kebiruan laksana petir yang menyambar. Setelah Ajian Brajamusti selesai di rapal, Maharesi Yogiswara segera meletakkan telapak tangan nya di atas kepala Panji Tejo Laksono.


Zzzeeeerrrrrttthh..


Cahaya putih kebiruan itu segera menjalar ke seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Rasanya sungguh sangat menyakitkan seperti disambar ribuan petir. Keringat dingin langsung mengucur membasahi sekujur tubuh Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran muda dari Kadiri ini terus bertahan.


Begitu selesai, Maharesi Yogiswara menarik tangan kanannya dari atas kepala Panji Tejo Laksono. Pertapa tua itu segera menghela nafas panjang. Begitu pula dengan Panji Tejo Laksono yang akhirnya berhenti merasakan sakit luar biasa usai Ajian Brajamusti sempurna bersatu dengan tubuhnya. Sang pangeran muda segera membuka mata nya dan menarik nafas lega.


"Itu hanya secuil kemampuan yang bisa aku turunkan kepada mu, Gusti Pangeran. Kedepannya kau harus bijak dalam menggunakan ilmu ini", ujar Maharesi Yogiswara segera.


"Aku berterimakasih atas apa yang sudah kau berikan, Maharesi. Aku berjanji akan selalu mengingat apa yang menjadi petuah mu", balas Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada sang dwija suci.

__ADS_1


"Sekarang, coba kau hantam batu besar yang ada di sana itu. Agar kau tahu seberapa hebat ajian yang baru saja aku turunkan kepada mu, Gusti Pangeran", Maharesi Yogiswara menunjuk ke sebuah batu besar seukuran dua kali gajah yang ada tak jauh dari tempat mereka berada.


Panji Tejo Laksono mengangguk patuh dan memejamkan matanya sembari komat-kamit membaca mantra. Di telapak tangan kanannya tercipta cahaya putih kebiruan yang memancarkan petir kecil ke sekelilingnya. Hawa panas menyengat langsung menyebar di sekitar tempat nya berdiri.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!


Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah batu besar itu. Cahaya putih kebiruan seketika terlontar dari tangannya dan menerabas cepat kearah batu besar.


Whhhuuummmm...


Blllaaammmmmmmm!!


Batu besar seukuran dua kali ukuran tubuh gajah dewasa ini langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Melihat itu Panji Tejo Laksono langsung tersenyum lebar sedangkan Maharesi Yogiswara manggut-manggut senang.


"Saatnya kita kembali ke pertapaan, Gusti Pangeran"


Setelah berkata demikian, Maharesi Yogiswara langsung melesat turun ke arah Pertapaan Gunung Penanggungan. Panji Tejo Laksono pun segera menyusulnya.


Di kediaman utama Pertapaan Gunung Penanggungan, ramai orang berkumpul. Kedatangan Panji Tejo Laksono dan Maharesi Yogiswara membuat mereka segera mendekati sang pangeran dan sang pimpinan Pertapaan Gunung Penanggungan.


"Guru, apakah Gunung Penanggungan meletus? Kalau benar, kita harus segera mengungsi", ujar Manyura yang paling penakut di antara para murid.


Rupanya suara ledakan dahsyat saat Panji Tejo Laksono melepaskan Ajian Brajamusti nya terdengar hingga ke Pertapaan Gunung Penanggungan dan ini menimbulkan kepanikan para penghuni disana.


"Hemmmmmmm..


Tidak ada cerita Gunung Penanggungan meletus. Kalian semua tidak perlu khawatir berlebihan. Tadi aku baru saja menjajal kemampuan beladiri mu. Tak ku sangka kalau suaranya sampai kemari.


Sekarang bubarlah. Kembali ke tempat peristirahatan kalian masing-masing. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan", ucap Maharesi Yogiswara yang menenangkan perasaan semua orang. Mereka semua segera kembali ke tempat mereka hingga suasana kembali sunyi.


"Kau juga Gusti Pangeran..


Ini sudah larut malam. Sebaiknya kau juga segera beristirahat", perintah Maharesi Yogiswara segera.


"Tapi Maharesi, hal yang kedua belum Maharesi jawab..", sanggah Panji Tejo Laksono sambil menatap wajah sepuh Maharesi Yogiswara.


Pertapa sepuh itu langsung menepuk jidatnya.


"Jagad Dewa Batara...


Kenapa aku bisa sepikun ini sekarang? Hehehe... Ayo kita duduk dulu Gusti Pangeran. Mari silahkan", ucap Maharesi Yogiswara sembari tersenyum tipis. Keduanya kembali duduk bersila di serambi kediaman utama Pertapaan Gunung Penanggungan.


"Untuk ciri perempuan yang menjadi titisan Dewi Kamaratih, kau nanti akan melihat nya sendiri Gusti Pangeran.


Ada sebuah rajah Smaradahana yang muncul di dada kiri nya pada saat saat paro terang pada hari Hanggara Manis di bulan Wahana. Hanya kau yang merupakan titisan Dewa Kamajaya yang akan bisa melihatnya. Orang biasa tidak akan pernah bisa menemukan keberadaan rajah Smaradahana itu meskipun dia adalah pertapa ataupun brahmana linuwih sekalipun", ucap Maharesi Yogiswara yang membuat Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.


"Terimakasih atas petunjuknya, Maharesi. Saya akan mengingat semua petunjuk yang Maharesi Yogiswara berikan", ucap Panji Tejo Laksono seraya menghormat pada sang dwija.


Maharesi Yogiswara menatap ke arah luar. Mendung tebal masih berarak di langit. Angin dingin semilir berdesir menuruni lereng Gunung Penanggungan. Sepertinya sebentar lagi hujan akan segera turun. Dia segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Ini sudah larut malam, Gusti Pangeran. Sebentar lagi hujan akan segera turun. Sebaiknya simpan tenaga mu malam ini.

__ADS_1


Bukankah esok pagi kau harus berangkat ke Jenggala?"


__ADS_2