
Ayu Ratna langsung tersenyum lebar ketika mendengar jawaban itu. Dalam hati dia bersorak gembira.
'Jagad Dewa Batara rupanya masih berpihak pada ku. Aku masih punya kesempatan untuk melahirkan penerus tahta Kerajaan Panjalu ', batin Ayu Ratna.
Memang, dalam hierarki masyarakat Jawa Kuno keturunan laki-laki lah yang menjadi pilihan utama untuk meneruskan trah keluarga. Dalam sistem patriarki yang mengutamakan laki-laki, keturunan perempuan selalu menjadi pilihan terakhir bila membutuhkan penerus tahta.
Di garis keturunan kerajaan Panjalu, selalu laki-laki yang menjadi pilihan utama untuk meneruskan tampuk kepemimpinan. Di masa lalu, hanya Nararya Dewi Sanggramawijaya saja yang pernah di calonkan menjadi Ratu setelah Prabu Airlangga berniat turun tahta. Ini juga karena Nararya Dewi Sanggramawijaya merupakan putri sulung dari permaisuri. Walaupun pada akhirnya dia memilih untuk tidak menerima penghormatan sebagai Yuwaraja Medang selanjutnya dan memilih untuk hidup sebagai pertapa, namun justru itulah yang menjadi awal mula perseteruan panjang antara Panjalu dan Jenggala usai Kerajaan Medang di bagi menjadi dua bagian. Jenggala yang di perintah oleh Mapanji Garasakan ingin menguasai Panjalu yang menjadi hak Pangeran Samarawijaya, hanya karena dia merasa lebih cakap dalam tata pemerintahan dibandingkan dengan saudara tirinya yang di anggap hanya anak rumahan.
Luh Jingga mengerutkan keningnya dalam-dalam begitu melihat senyum lebar di wajah Ayu Ratna. Meskipun dia telah beberapa tahun bersama dengan putri Adipati Kalingga itu, namun dia masih belum bisa memahami sifat perempuan cantik itu.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu, Nimas Ayu?", tanya Luh Jingga segera.
Ayu Ratna langsung tersadar dari lamunannya begitu mendengar pertanyaan Luh Jingga. Selama ini putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan ini terkenal pandai dalam membaca mimik wajah seseorang tanpa harus berbicara dengan orang itu.
"Ah eh tidak Kangmbok Luh Jingga..
Aku hanya senang dengan kelahiran bayi Kangmbok Gayatri. Dengan begini, Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono telah mempunyai keturunan. Ayo kita lihat bayi Kangmbok Gayatri..", ucap Ayu Ratna mencoba keras untuk menyembunyikan pancaran kebahagiaan dengan mengalihkan perhatian Luh Jingga.
Perempuan cantik itu segera bergegas melangkah masuk ke dalam bilik kamar tidur Gayatri. Mengesampingkan terkaan nya, Luh Jingga mengikuti langkah Ayu Ratna. Dyah Kirana mengekor di belakangnya.
Bilik kamar tidur Gayatri cukup luas dengan ukuran hampir 5 kali sepuluh depa. Di sudut ruangan itu, terdapat sebuah ranjang pembaringan yang cukup megah dengan hiasan ukiran kayu yang indah. Disana, Gayatri terlihat berbaring dengan wajah memucat namun senyuman lebar tersungging di bibirnya yang mungil.
Di sudut ruangan, seorang dukun beranak sedang memandikan bayi merah yang baru saja dilahirkan, di bantu oleh dua orang dayang istana. Satu orang tabib istana tampak sedang meracik jamu beranak untuk Gayatri sedangkan Song Zhao Meng yang sedari tadi menemani persalinan Gayatri sedang duduk di kursi dekat meja kecil di sudut ruangan yang lain.
"Selamat Kangmbok Gayatri..
Akhirnya kau melahirkan putri Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Kalau Kangmas Pangeran pulang ke Seloageng, pasti dia akan senang sekali", ucap Ayu Ratna sambil tersenyum penuh arti.
"Benar kata Kangmbok Ayu Ratna, Kangmbok Gayatri..
Dengan lahirnya putri mu, sudah ada penerus trah keluarga besar Kerajaan Panjalu ke depannya", imbuh Dyah Kirana dengan tulus.
"Terimakasih atas kunjungan kalian. Kelak kalian juga harus melakukan hal yang sama seperti ku agar keturunan Gusti Prabu Jayengrana tetap memimpin Kerajaan Panjalu.
Wulandari, aku sangat berterimakasih kepada mu karena bantuan mu lah aku tidak merasakan kesakitan yang berarti saat melahirkan putri ku", ucap Gayatri sembari menatap ke arah Putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok itu.
"Kakak Gayatri, kita semua adalah saudara. Sudah sepantasnya kita saling tolong menolong. Jadi tak perlu bersikap seperti itu", tukas Song Zhao Meng segera.
"Meng Er benar Kangmbok Gayatri..
Kita semua adalah saudara. Saling membantu saat yang lain sedang dalam kesulitan adalah tugas yang diberikan oleh Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono kepada kita. Jadi siapapun yang bisa membantu harus membantu saudara kita yang lain tanpa pamrih", timpal Luh Jingga sembari melirik sekilas ke arah Ayu Ratna.
"Iya iya, aku mengerti..
Sekarang kalian tenanglah. Waktu nya aku menyusui bayi ku", ucap Gayatri yang menenangkan hati semua orang di dalam bilik kamar tidur nya.
__ADS_1
Dukun beranak yang baru saja selesai memandikan putri Gayatri dan membedong bayi mungil itu, segera mendekatkan bayi merah itu ke ibunya. Dengan hati-hati, Gayatri mulai menyusui bayi nya. Bayi perempuan itu segera menyusu dengan kuat. Semua orang merasa senang melihat itu semua.
"Eh Kangmbok Gayatri, putri mu ini ingin kau beri nama siapa?", tanya Dyah Kirana memecah keheningan.
"Aku masih belum tahu Nimas Kirana..
Kalau sepekan ke depan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono belum juga pulang ke Seloageng, nanti aku carikan nama yang pas untuk dia", jawab Gayatri sambil tersenyum simpul.
Sementara itu, kabar gembira tentang kelahiran putri Panji Tejo Laksono menyebar cepat di kalangan masyarakat Kota Kadipaten Seloageng. Meskipun hanya dari mulut ke mulut, akan tetapi berita itu segera menjadi buah bibir masyarakat Kota Kadipaten Seloageng. Umumnya mereka bersyukur atas kelahiran sang putri pertama Panji Tejo Laksono meskipun banyak yang menyayangkan kenapa bukan anak lelaki yang di lahirkan.
*****
Panji Tejo Laksono menuntun kudanya turun dari atas perahu penyeberangan di barat wilayah Kabupaten Gelang-gelang. Endang Patibrata yang mengekor di belakangnya, telah membayar 4 kepeng perak untuk biaya menyeberang mereka. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang turun lebih dulu, segera membantu sang pangeran dan istrinya.
Tadi malam, mereka berempat menginap di rumah tinggal nelayan tua yang tinggal dekat dermaga penyeberangan. Setelah matahari terbit di ufuk timur, Panji Tejo Laksono langsung berpamitan pada lelaki tua bertubuh kurus itu sembari memberikan beberapa kepeng perak kepada nelayan tua itu untuk membeli kebutuhan hidupnya. Lelaki tua itu berulang kali mengucapkan terima kasih atas pemberian sang pangeran muda.
"Kita langsung pulang ke Seloageng atau mau mampir dulu ke Gelang-gelang, Gusti Pangeran?
Hamba dengar Gusti Bupati Sepuh Panji Gunungsari sedang sakit parah. Bahkan hamba dengar dari omongan orang orang kalau hidupnya tidak akan lama lagi", ucap Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Kalau begitu kita ke Kota Gelang-gelang saja, Paman Ludaka..
Urusan lain nanti saja kita selesaikan. Kanjeng Eyang Bupati Sepuh dulu yang kita kunjungi", jawab Panji Tejo Laksono segera.
Saat matahari mulai sepenggal naik ke langit timur, rombongan kecil Panji Tejo Laksono telah sampai di Kota Kabupaten Gelang-gelang. Tak ingin membuang waktu, mereka langsung bergegas menuju ke arah Istana Kabupaten Gelang-gelang.
Saat mereka hampir sampai, perhatian Panji Tejo Laksono langsung tertuju pada sebuah keributan yang terjadi di pasar besar Kota Gelang-gelang. Terlihat beberapa orang sedang berkelahi menyabung nyawa. Sang pangeran muda segera menghentikan kuda nya. Ia pun segera melompat turun dan berjalan mendekati kerumunan orang orang yang melihat keributan itu.
"Ada apa ini?", tanya Panji Tejo Laksono pada seorang lelaki muda yang ikut berkerumun tak jauh dari arena pertarungan.
"Itu anak murid Padepokan Padas Putih sedang di keroyok oleh anak buah Ki Warualas, penguasa pasar ini karena mereka tidak mau membayar pajak jalan", jawab si pemuda tanpa mengalihkan pandangannya pada pertarungan sengit antara 2 orang murid Padepokan Padas Putih yang sedang di keroyok oleh puluhan orang.
"Sejak kapan ada pajak jalan di Kabupaten Gelang-gelang? Kok aku baru dengar..", kembali Panji Tejo Laksono bertanya.
"Sejak bupati sepuh sakit-sakitan, banyak pendekar yang membuat peraturan sendiri di berbagai wilayah Kabupaten Gelang-gelang ini.
Seperti yang dilakukan oleh Ki Warualas. Dia mengancam akan menghajar siapapun yang berani untuk mengabaikan peraturan yang dibuatnya. Pihak Istana Gelang-gelang pun tak segera menindak nya, karena Ki Warualas masih saudara jauh dari salah satu pejabat tinggi di lingkungan Istana. Huh, wilayah ini semakin lama semakin kacau saja", lanjut si pemuda itu segera.
Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Endang Patibrata yang menyusul Panji Tejo Laksono pun ikut mendengarkan ocehan lelaki muda itu.
Hemmmmmmm...
"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut begitu saja..", selepas berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah pertarungan antara murid Padepokan Padas Putih dan para preman pasar besar itu.
Satu tangan nya langsung menghantam perut salah satu anak buah Ki Warualas.
__ADS_1
Dhhaaaassshhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Si lelaki bertubuh gempal itu langsung mencelat mundur dan jatuh terduduk sembari memegangi perutnya yang sakit. Melihat kawannya dijatuhkan oleh Panji Tejo Laksono, dua orang lainnya segera melompat ke arah Panji Tejo Laksono sambil membabatkan golok mereka kearah kaki dan leher sang pangeran.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!
Dari ekor matanya, Panji Tejo Laksono yang melihat itu seketika menggunakan kaki kanan nya sebagai tumpuan sebelum memutar tubuhnya menghindari sabetan golok lawan. Begitu lolos dari sabetan golok, Panji Tejo Laksono langsung merendahkan tubuhnya dengan membuat gerakan cepat menyapu kaki kedua lawannya.
Dhheesshhh dhheesshhh!!
Dua orang bertubuh gempal itu segera terjatuh sambil mengerang kesakitan. Tulang kaki mereka seperti di hantam kayu besar.
Dua orang murid Padepokan Padas Putih yang menyaksikan gerakan cepat Panji Tejo Laksono langsung mengetahui bahwa sang pangeran menggunakan ilmu silat padepokan mereka. Keduanya langsung mendekat ke arah Panji Tejo Laksono hingga mereka bertiga kini dalam kepungan para anak buah Ki Warualas. Mereka saling memunggungi.
"Kisanak, apa kau juga dari Padepokan Padas Putih?", tanya salah satu dari dua lelaki muda bertubuh kekar itu segera.
"Tidak salah saudara ku..
Aku memang dari Padepokan Padas Putih", ucap Panji Tejo Laksono tanpa menoleh ke arah orang yang bertanya karena pandangan mata nya terus mewaspadai pergerakan orang-orang yang mengepungnya.
"Kalau begitu, kita harus bekerjasama untuk menjatuhkan para perusuh ini agar tidak ada lagi tindakan yang sewenang-wenang terhadap orang lagi", ucap lelaki muda yang lain segera.
"Itu memang prinsip Padepokan Padas Putih. Menegakkan keadilan dan membantu yang tertindas.
Tunggu apa lagi? Kita kalahkan mereka secepat mungkin", Panji Tejo Laksono melirik ke arah salah satu murid Padepokan Padas Putih sebagai isyarat sebelum ketiganya melesat cepat kearah para anak buah Ki Warualas yang mengepung mereka.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Pertarungan sengit antara mereka pun segera berlanjut. Jika tadi dua orang murid Padepokan Padas Putih itu sedikit kerepotan menghadapi kepungan para anak buah Ki Warualas, dengan munculnya sosok Panji Tejo Laksono pertarungan silat ini menjadi berimbang bahkan langsung berat sebelah.
Hanya dalam hitungan beberapa jurus saja, sebanyak 12 orang anak buah Ki Warualas telah terkapar tak berdaya. Ada yang pingsan, beberapa orang mengalami patah tulang dan luka memar sedangkan sebagian besar meringkuk kesakitan setelah di hajar habis-habisan oleh Panji Tejo Laksono.
Tiba-tiba dari arah selatan, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan kepalan tangannya.
Whhhuuuggghhhh!!
Dhhaaaassshhh!!
Sang pangeran muda dengan cepat menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada hingga pukulan keras dari bayangan itu segera tertahan.
Hemmmmmmm..
'Ini dia pimpinannya'
__ADS_1