
Belum sempat Panji Tejo Laksono menjawabnya, Dyah Kirana yang kesal dengan sikap kasar penjaga gerbang Kotaraja Kahuripan ini langsung menatap tajam ke arah wajah prajurit Jenggala yang berusia sekitar 3 dasawarsa ini.
"Apa begini cara orang Kotaraja Kahuripan memperlakukan tamu kehormatan? Sungguh tidak tahu tata krama..", sindir Dyah Kirana.
"Tamu kehormatan apanya?
Chuuuihhhhhh..
Kalian semua hanya pendekar pengelana saja mengaku sebagai tamu kehormatan? Tamu kehormatan nenek mu ha?", sahut prajurit lain yang memegang tombak.
Kesal dengan sikap tak sopan para penjaga gerbang Kotaraja Kahuripan, Ki Jatmika yang mulai akrab dengan Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya hendak menerjang maju namun tangan kekar Panji Tejo Laksono langsung mencekal pergelangan tangan kiri Sang Pendekar Tapak Berdarah. Ki Jatmika segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan melihat sang pangeran muda ini menggelengkan kepalanya sebagai tanda agar Ki Jatmika mengurungkan niatnya.
Dyah Kirana yang di tugaskan untuk membawa lencana perak bergambar burung garuda sebagai tanda resmi utusan Kerajaan Panjalu langsung merogoh kantong baju nya dan mengacungkan lencana perak itu ke depan para prajurit penjaga gerbang Kotaraja Kahuripan.
"Buka mata kalian lebar-lebar dan lihat apa yang ada di tangan ku ini?!", seru Dyah Kirana segera.
Kedelapan sosok prajurit penjaga gerbang Kotaraja Kahuripan ini langsung terkejut bukan main melihat benda yang ada di tangan Dyah Kirana. Mereka semua tahu apa arti benda itu.
"Ma-maafkan kami Du-duta besar..
Silahkan ikuti kami untuk masuk ke Istana Kotaraja Kahuripan", sambil terbata-bata, si pimpinan regu prajurit penjaga gerbang Kotaraja Kahuripan ini langsung mempersilahkan kepada Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya untuk masuk ke dalam Kotaraja Kahuripan.
Dua orang prajurit penjaga gerbang kota segera mengawal Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya memasuki wilayah Kotaraja Kahuripan. Mereka langsung menuju ke tengah Kotaraja dimana Istana Maharaja Jenggala berdiri.
Di depan pintu gerbang Istana Kotaraja Kahuripan, si pimpinan regu prajurit penjaga gerbang kota berbisik pada salah satu penjaga gerbang istana. Sang prajurit terhenyak sebentar, kemudian dia mengangguk mengerti. Segera dia melangkah masuk ke dalam istana, meninggalkan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya di depan pintu gerbang istana.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan janggut pendek bercampur uban nampak gagah duduk di atas singgasana Kerajaan Jenggala. Sang Raja mengenakan pakaian beludru merah dengan hiasan benang emas di setiap tepi bajunya. Sebuah mahkota yang terbuat dari emas dengan beberapa permata menghiasi, bertengger manis di atas kepala. Beberapa kalung dari mutiara dan emas juga nampak bergelantung di lehernya.
Dia adalah Prabu Samarotsaha, Raja ketiga Kerajaan Jenggala. Dia diangkat menjadi raja setelah meninggalnya Prabu Mapanji Alanjung Ahyes yang mendadak di usia muda. Sempat beredar desas-desus kabar yang kurang mengenakkan tentang kematian raja muda itu. Ada yang mengatakan bahwa Mapanji Alanjung Ahyes di bunuh dengan cara halus menggunakan ilmu teluh, ada juga yang mengatakan bahwa putra Mapanji Garasakan ini di habisi nyawa nya dengan cara di racun.
Karena putra mahkota masih bayi dan tahta Kerajaan Jenggala tidak boleh dibiarkan kosong, maka sesuai kesepakatan yang dibuat oleh para kerabat dekat Istana Kotaraja Kahuripan, Rakryan Samarotsaha yang merupakan paman sekaligus menjadi mertua dari Mapanji Alanjung Ahyes di nobatkan menjadi Raja Jenggala selanjutnya.
Hanya satu purnama setelah Maharaja Samarotsaha naik tahta, putra mahkota yang masih bayi di bunuh orang tak dikenal. Ini semakin menguatkan kedudukan Maharaja Samarotsaha di tahta Kerajaan Jenggala. Itu pun berlanjut dengan pergolakan politik di dalam istana yang menyebabkan pembunuhan terhadap permaisuri Mapanji Alanjung Ahyes dan beberapa selir.
Namun ada satu orang putri Mapanji Alanjung Ahyes yang selamat dari peristiwa itu. Sang putri menghilang tak tahu kemana rimba nya bersama sang dayang istana yang membawanya kabur hingga saat ini.
Setelah pergolakan politik ini mereda, Maharaja Samarotsaha menjadi penguasa mutlak Kerajaan Jenggala. Jika sebelumnya dia adalah seorang wali raja maka kini dia adalah seorang raja yang berkuasa penuh atas tahta Kerajaan Jenggala.
Siang itu, di Pendopo Agung Kerajaan Jenggala, Prabu Samarotsaha sedang memimpin pisowanan para punggawa istana dan para perwira tinggi prajurit Jenggala.
Di sampingnya ada Permaisuri Dewi Tapa. Empat selir sang raja juga duduk bersimpuh di samping kanan kiri singgasana. Beberapa putra dan putri raja juga nampak hadir. Salah satunya adalah Putri Uttejana.
Nampak Mapatih Mpu Rakeh Janur yang baru saja di angkat menjadi warangka praja Jenggala setelah mapatih sebelumnya di penggal kepala nya usai kekalahan prajurit Jenggala dalam penyerbuan ke Panjalu kemarin, nampak duduk di samping kanan depan raja. Bekas Mahamantri I Sirikan ini duduk bersila dengan tenang.
Beberapa punggawa seperti Dharmadyaksa, Sang Pamgat, Rakryan, Rangga dan Jaksa nampak duduk berderet rapi sesuai dengan kepangkatan mereka masing-masing. Di sisi lain, para perwira tinggi prajurit di mulai dari Senopati Bratajaya, Tumenggung Mahawira dan para perwira yang lain dengan pangkat Tumenggung, Demung, Juru dan Bekel ikut serta dalam pisowanan ini.
Mereka sedang membicarakan tentang keadaan seluruh kerajaan setelah upaya mereka menyerbu ke Panjalu saat seorang prajurit penjaga gerbang istana masuk ke dalam balai pisowanan agung ini. Sang prajurit segera menyembah pada Maharaja Samarotsaha lalu duduk bersila di lantai pendopo.
"Katakan pada ku, kenapa kau menghadap tanpa di panggil?", tanya Prabu Samarotsaha segera.
__ADS_1
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Ada empat orang yang mengaku sebagai duta besar dari Panjalu ingin bertemu dengan Gusti Prabu", sang prajurit menyembah sebelum berbicara.
Terhenyak semua orang yang ada di dalam Pendopo Agung Istana Kotaraja Kahuripan mendengar ucapan sang prajurit. Mereka semua saling berpandangan seolah bertanya pada orang di sampingnya namun tak berani bersuara.
Hemmmmmmm...
Dengusan nafas panjang terdengar dari mulut sang raja Jenggala seolah memecah keheningan yang ada.
"Persilakan mereka masuk.. Akan aku lihat apa yang ingin di bicarakan oleh orang-orang Panjalu ini", Maharaja Samarotsaha mengangkat tangan kanannya sebagai tanda ijin. Sang prajurit segera menyembah pada sang Maharaja Jenggala sebelum mundur.
Tak berapa lama kemudian, dia kembali bersama dengan Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika. Putri Uttejana terkejut bukan main melihat kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Setelah menghormat pada Maharaja Samarotsaha, Panji Tejo Laksono pun segera duduk di lantai pendopo pisowanan agung ini diikuti oleh para pengikutnya.
"Kau utusan dari Daha?", tanya Maharaja Samarotsaha seolah tak percaya melihat dandanan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang lebih mirip dengan seorang pengelana.
"Benar, Gusti Prabu Samarotsaha.
Saya dan kawan-kawan dalam pakaian penyamaran karena tidak ingin menarik perhatian. Mohon maaf jika ini dianggap kurang sopan.
Sebagai bukti bahwa kami memang benar benar utusan dari Gusti Prabu Jayengrana adalah nawala ini", Panji Tejo Laksono mengeluarkan sepucuk surat dari daun lontar yang di bungkus kain biru. Lalu menghaturkan dengan kedua tangan.
Mapatih Mpu Rakeh Janur segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Panji Tejo Laksono. Segera dia mengambil surat di tangan sang pangeran lalu menghaturkan nya pada Prabu Samarotsaha.
Maharaja Jenggala itu segera membuka kain biru dan membentangkan rangkaian daun lontar di dalamnya.
Semoga Hyang Batara Agung selalu melindungi kita,
Wahai Penguasa Kerajaan Jenggala,
Sang Maharaja Samarotsaha,
Aku ingin kau memberikan keputusan,
Tentang para prajurit Jenggala yang menjadi tawanan,
Apakah kau ingin membebaskan mereka dengan tebusan,
Atau membiarkan ku mengantar mereka menuju ke alam keabadian?,
Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta '
Prabu Samarotsaha gemetar memegang surat itu. Rasa marahnya yang begitu besar membuat sang Maharaja Jenggala ini geram bukan main. Ingin rasanya ia membunuh utusan dari Daha yang ada di depan nya saking marahnya. Namun bertindak begitu pasti akan memicu penyerbuan terhadap Kerajaan Jenggala karena sesuai dengan perjanjian lama, seorang utusan tidak boleh di lukai. Sedangkan mereka baru saja kalah telak dari Panjalu. Dan jika sampai penyerbuan terhadap Kerajaan Jenggala terjadi, bisa di pastikan bahwa Jenggala akan tamat riwayatnya.
"Katakan pada Raja mu, aku Maharaja Diraja Prabu Samarotsaha..
Akan memberikan apa yang dia minta. Satu purnama lagi, akan tiba utusan dari Kahuripan yang akan membawa tebusan untuk para prajurit ku", titah Prabu Samarotsaha segera.
__ADS_1
"Terimakasih atas jawaban yang Gusti Prabu Samarotsaha berikan.
Kalau begitu, saya mohon undur diri", ujar Panji Tejo Laksono yang segera menghormat pada Raja Jenggala itu lalu beringsut mundur keluar dari dalam Pendopo Agung Istana Kotaraja Kahuripan.
Setelah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya pergi, Putri Uttejana segera menghormat pada Prabu Samarotsaha.
"Ananda mohon undur diri Kanjeng Romo Prabu.
Badan ananda kurang enak rasanya", ujar Putri Uttejana segera. Prabu Samarotsaha segera mengangkat tangan kanannya sebagai tanda persetujuan. Perempuan cantik itu segera mundur dan kembali ke Keputren Istana Kotaraja Kahuripan.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Apakah Gusti Prabu Samarotsaha akan membiarkan penghinaan ini begitu saja? Kalau Gusti Prabu ijinkan maka saya akan memberikan pelajaran kepada utusan sombong itu segera", ujar Senopati Bratajaya sambil menghormat pada raja Jenggala ini.
"Kau jangan bodoh, Senopati Bratajaya..
Jika kau melakukannya di istana ini, seluruh kerajaan di Nusantara akan mengutuk keras tindakan kita. Tapi di luar tembok Kotaraja Kahuripan, apapun bisa terjadi pada utusan dari Daha itu", Prabu Samarotsaha yang terkenal dengan kelicikannya, menyeringai lebar mendengar ucapan sang perwira.
"Hamba mengerti Gusti Prabu", setelah berkata demikian, Senopati Bratajaya segera menyembah pada sang raja lalu buru-buru keluar dari dalam ruang paseban itu.
Sesampainya di Ksatrian Kotaraja Kahuripan, Senopati Bratajaya langsung mengajak 500 orang prajurit pilihan nya untuk mencegat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya di luar gerbang sisi selatan Kotaraja Kahuripan karena itu adalah jalan yang biasa digunakan jika ingin ke arah Panjalu ataupun Lamajang.
Begitu sampai di tempat yang dituju, mereka segera membentuk persiapan untuk menjebak Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Sementara itu, Putri Uttejana yang berpura-pura sakit langsung berganti pakaian di Keputren Jenggala. Perempuan cantik itu kini memakai pakaian layaknya seorang pendekar. Bersama Keswari yang selalu mendampinginya, perempuan cantik yang berjuluk Bidadari Bertopeng Perak itu segera melesat cepat melompati tembok Istana Kotaraja Kahuripan setinggi 3 tombak dengan mudah. Sebentar saja, keduanya sudah lenyap dari pandangan.
Panji Tejo Laksono yang tidak menyadari bahwa ada bahaya besar yang sedang menunggunya di luar tembok Kotaraja Kahuripan, berkuda perlahan saja sambil menikmati ramainya pemandangan kota yang hiruk pikuk orang dan pedati pengangkut barang yang berlalu lalang.
"Kota ini lumayan besar ya Kakang?
Walaupun tak seramai Kotaraja Daha tapi jauh lebih besar di bandingkan dengan Seloageng", ujar Song Zhao Meng yang berkuda di samping Panji Tejo Laksono.
"Kota-kota besar di Tanah Jawadwipa ini biasanya merupakan pusat pemerintahan, Meng Er..
Selain itu beberapa kota besar lainnya merupakan pelabuhan besar bagi pintu masuk ke wilayah wilayah. Contohnya saja, Kalingga ataupun Hujung Galuh. Mereka tumbuh menjadi kota besar karena perdagangan antar nusa di Nusantara ini", balas Panji Tejo Laksono.
"Aku juga merasa begitu.. Kebanyakan kota kota besar di Tanah Tiongkok juga terletak di tepi sungai besar seperti Sungai Yangtze ataupun sungai-sungai besar lainnya. Jalur sungai memang menjadi urat nadi perdagangan di Tanah Tiongkok", sambung Song Zhao Meng sembari mengedarkan pandangannya ke ramainya orang lalu lalang di jalan raya Kotaraja Kahuripan.
Mereka terus bergerak menuju ke arah gerbang Kotaraja Kahuripan selatan.
Delapan orang prajurit penjaga gerbang Kotaraja Kahuripan menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan saat melewati mereka. Salah seorang diantara mereka bergegas melompat ke atas kudanya dan mengambil jalan memutar, mendahului pergerakan Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana. Rupanya dia adalah orang yang di tugaskan oleh Senopati Bratajaya untuk melaporkan kalau-kalau Panji Tejo Laksono melewati tempat itu.
Cukup jauh dari tapal batas Kotaraja Kahuripan, di ujung persawahan luas dengan beberapa pohon besar yang menjadi peneduh, sang prajurit langsung melompat turun dari atas kudanya dan segera berlari menemui Senopati Bratajaya yang sudah lama menunggu di tempat itu.
"Mereka bergerak kemari, Gusti Senopati", lapor sang prajurit setelah menghormat pada sang pimpinan utama Prajurit Jenggala ini.
"Bagus.. Kalian semua cepat bersembunyi dibalik pohon pohon besar itu. Cepat!!", perintah Senopati Bratajaya. Kelima ratus orang prajurit Jenggala itu segera bergerak cepat bersembunyi dibalik pohon dan rimbunnya tanaman yang ada di persawahan ini.
Sedangkan beberapa pasang mata terus mengamati situasi yang ada di sekitar tempat itu. Nampaknya mereka juga ingin menjajal kemampuan beladiri sang pangeran muda dari Kadiri itu setelah salah satu sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah yang paling di takuti, Nini Raga Setan, terbunuh oleh Panji Tejo Laksono. Ini sudah cukup alasan bagi Putri Uttejana sang Bidadari Bertopeng Perak, Keswari, Mpu Jiwan Sang Hantu Misterius dan muridnya untuk membalas dendam.
__ADS_1
Dari arah Utara, terlihat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan terlihat muncul di ujung jalan. Senopati Bratajaya menyeringai lebar menatap mereka.
"Saatnya memberi mereka pelajaran!!"