
Pagi itu, Panji Tejo Laksono bersama rombongan nya bertolak meninggalkan rumah Ki Jagabaya Kusumo untuk menuju ke arah Pakuwon Tumapel. Setelah membereskan semua barang dagangan mereka, rombongan itu segera berpamitan pada sang empunya rumah.
Ki Jagabaya Kusumo yang merasa senang dengan kehadiran mereka, berpesan agar jika lewat Wanua Pucung, mereka dipersilahkan untuk menginap lagi. Gayatri selaku pimpinan rombongan berjanji akan melakukan nya jika mereka lewat tempat itu lagi.
Perlahan rombongan itu bergerak meninggalkan tempat itu. Rara Lestari sang istri ketiga Ki Jagabaya Kusumo menatap kereta kuda yang di tumpangi Gayatri, Luh Jingga dan Dyah Kirana dengan tatapan sinis.
Melewati jalan berbatu yang menjadi jalan utama menuju ke arah Wanua Siganggeng yang berada di timur wilayah Wanua Pucung, Panji Tejo Laksono terus menatap ke sekeliling nya. Terlihat rumah rumah beratap daun ilalang kering dengan daun keris berserakan begitu saja nampak menjadi pemandangan yang mengusik pikiran nya. Hanya beberapa rumah saja yang terlihat terawat. Di jalan besar itu juga hanya beberapa gelintir orang yang terlihat berlalu lalang.
"Sepertinya penduduk di daerah ini sangat sedikit ya Paman?", ucap Panji Tejo Laksono yang berkuda di samping Tumenggung Ludaka.
"Sebenarnya tidak begitu, Gusti Pangeran. Kebanyakan penduduk Wanua Pucung menghabiskan waktunya untuk berladang, di sawah atau berburu binatang di hutan.
Hamba dengar dari omongan beberapa orang kemarin kalau pajak bumi yang dikenakan oleh pemerintah Pakuwon Tumapel cukup mencekik leher. Ketika hamba tanyakan pada mereka, semuanya itu untuk membiayai kebutuhan para prajurit baru yang di persiapkan oleh Kadipaten Kanjuruhan atas perintah Sinuwun Prabu Samarotsaha", ujar Tumenggung Ludaka sambil menepuk punggung kuda tunggangan nya.
"Hemmmmmmm..
Rupanya ini yang di curigai oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Ambisi Prabu Samarotsaha untuk menaklukkan Panjalu di lakukan dengan cara menyengsarakan rakyat nya. Benar-benar keterlaluan", gumam Panji Tejo Laksono.
"Inilah mengapa sebabnya jika perang hanya disebut menyengsarakan rakyat kecil, Gusti..
Rakyat hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan. Mereka di peras habis-habisan tenaga dan harta benda nya hanya untuk memenuhi ambisi angkara murka dari raja mereka yang ingin menguasai Bumi Jawadwipa ini", sambung Tumenggung Ludaka yang terus menjalankan kuda nya perlahan di belakang kereta kuda.
"Aku sebenarnya tidak menyukai peperangan, Paman Ludaka..
Tapi aku juga tidak akan pernah mundur sejengkal pun jika ada yang berani mengganggu ketentraman rakyat Panjalu. Bagi ku, rakyat wajib mendapat pengayoman dan perlindungan karena mereka adalah bagian utama dari kerajaan kita. Panjalu akan makmur jika rakyatnya hidup dalam keadaan berkecukupan", ujar Panji Tejo Laksono sembari terus memperhatikan keadaan di kanan kiri jalan raya itu.
Tumenggung Ludaka tersenyum penuh arti mendengar ucapan dari putra sulung Prabu Jayengrana ini. 'Dukungan ku untuk mu menjadi raja Panjalu selanjutnya ternyata tidak salah, Gusti Pangeran ', batin Tumenggung Ludaka.
Selepas melewati tapal batas Wanua Pucung, rombongan kecil itu memasuki jalan raya yang membelah kawasan hutan kecil yang memisahkan antara wilayah Wanua Pucung dan Wanua Siganggeng. Burung burung berkicau riang seolah menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Baru beberapa tombak memasuki kawasan hutan kecil ini, telinga Panji Tejo Laksono yang peka langsung mendengar suara sebuah pertarungan di depan. Putra Ratu Anggarawati itu segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Paman Ludaka, sepertinya di depan sedang terjadi pertarungan. Aku akan memeriksa nya. Tolong jaga mereka sebentar sebelum aku kembali", Tumenggung Ludaka segera mengangguk mengerti. Menggunakan Ajian Sepi Angin, Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan hinggap di dahan pohon besar. Sebentar kemudian dia melesat cepat bagaikan terbang di pucuk pucuk pepohonan hutan kecil itu dan segera menghilang dari pandangan mata Tumenggung Ludaka.
Dengan gerakan tubuh selincah burung layang-layang, Panji Tejo Laksono bergerak di antara pucuk pepohonan yang tumbuh di hutan kecil ini. Tak butuh waktu lama, dia melihat seorang lelaki sedang di keroyok oleh 4 orang pria bertubuh gempal. Panji Tejo Laksono segera meluncur turun dan bersembunyi di balik pepohonan hutan untuk mengamati situasi.
Saat melihat pria yang di keroyok itu akan di bunuh, Panji Tejo Laksono langsung meraih dua butir batu kerikil sebesar telur merpati yang ada di bawah kakinya. Menggunakan sedikit tenaga dalam nya, dia melemparkan batu kerikil sebesar telur merpati ini tepat sesaat sebelum bilah pedang pria bertubuh gempal itu menebas leher si pria yang di keroyok.
Adu mulut antara Panji Tejo Laksono dan keempat orang bertubuh gempal itu segera terjadi.
"Keparat..!!!
Apa kau sudah bosan hidup ya?!!", hardik salah satu dari keempat pria bertubuh gempal itu dengan lantang. Ya, mereka adalah Danarjati dan kawan-kawan nya dari Padepokan Ular Siluman.
"Bosan hidup? Tidak juga. Aku masih suka makan nasi dan ayam panggang. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian menindas orang lain seenak jidat kalian di depan mata ku", ucap Panji Tejo Laksono tak kalah sengit.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak cakap.. Hajar saja dia!", teriak Danarjati yang membuat ketiga orang kawannya langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera lemparkan batu kerikil sebesar telur merpati di tangan nya kearah salah satu dari mereka.
Whhhuuuggghhhh..
Plllaaaakkkkk...
Aaauuuuggggghhhhh!!
Salah seorang kawan Danarjati langsung terjungkal setelah batu kerikil sebesar telur merpati itu menghajar rahangnya. Dia pingsan saat itu juga. Sementara dua orang kawannya segera membabatkan pedang mereka ke arah Panji Tejo Laksono.
Pertarungan satu lawan dua itu pun segera terjadi.
Seorang kawan Danarjati yang berjenggot membabatkan pedang nya ke arah kaki Panji Tejo Laksono. Dengan tenang, Panji Tejo Laksono angkat sebelah kakinya hingga sabetan pedang itu hanya menyambar angin. Satu kawan Danarjati lainnya dengan cepat mengayunkan pedangnya kearah leher sang pangeran. Panji Tejo Laksono langsung merunduk sembari memutar tubuhnya. Secepat kilat, sang penguasa Kadipaten Seloageng ini menghantam pinggang lawan yang baru saja menyerangnya.
Dhiiieeeessshh..
Oouuugghhhhhh!!
Si kawan Danarjati langsung melengguh keras saat rusuknya di hajar. Sepertinya rusuk kiri nya langsung patah setelah di hantam tapak tangan kanan sang pangeran. Dia langsung terhuyung huyung mundur sambil meringis menahan rasa sakit. Satu orang kawannya kembali menyerang Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat bertubi-tubi kearah kaki.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh..
Panji Tejo Laksono terus mundur menghindari sabetan pedang yang menggunakan ilmu silat Padepokan Ular Siluman. Gerakan gesit yang mirip dengan gerakan ular mengejar mangsa ini terlihat sangat menakutkan. Begitu menemukan pijakan kaki, Panji Tejo Laksono menghentakkan kakinya keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara dan bersalto dua kali lalu mendarat di belakang punggung lawan.
Sang lawan kembali berbalik arah dan kembali memburu sang pangeran muda dari Kadiri itu dengan jurus yang sama. Panji Tejo Laksono menghadapi nya dengan jurus silat Padas Putih nya. Dalam dua jurus saja, kawan Danarjati itu terjungkal setelah menerima hantaman keras pada bahunya.
Dhhaaaassshhh..
Raungan kesakitan terdengar dari mulut kawan Danarjati. Melihat kawannya di jatuhkan oleh Panji Tejo Laksono, Danarjati segera menurunkan tubuh Sriati yang masih tak sadarkan diri ke tanah. Sembari memutar Pedang Ular Putih di tangan kanannya, putra Mpu Sawer sang pimpinan Padepokan Ular Siluman itu segera melompat ke arah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan pedangnya. Sinar putih redup berhawa dingin menerabas cepat kearah sang pangeran.
Shhrreeettthhh...
Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Danarjati sambil tersenyum tipis. Tubuhnya sudah di lambari cahaya kuning keemasan. Tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, dia menyongsong serangan Danarjati.
Blllaaaaaarrr !!
Ledakan keras terdengar saat hawa dingin Pedang Ular Putih menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Asap tipis mengepul dari tempat hawa dingin itu di tubuh sang penguasa Kadipaten Seloageng. Danarjati yang sempat merasa akan menang, langsung melotot lebar saat melihat bahwa sosok lelaki bercaping bambu di depannya itu sama sekali tidak terluka sedikitpun. Naratama yang masih duduk di tanah pun juga terkejut dengan kejadian yang terjadi di depan mata nya.
"Apa kau masih ingin meneruskan pertikaian ini?", suara berat dari lelaki bercaping bambu itu langsung menyadarkan Danarjati dari kekagetannya. Sembari mendengus keras, dia memegang erat gagang Pedang Ular Putih di tangan kanannya.
"Aku masih belum kalah, keparat! Jangan jumawa dulu. Ku akui bahwa tadi aku meremehkan mu, tapi kali ini aku akan bersungguh-sungguh!", ucap Danarjati sambil menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada Pedang Ular Putih. Cahaya putih yang semula hanya redup, kini semakin terang seiring dengan bertambahnya jumlah tenaga dalam yang disalurkan oleh Danarjati.
"Keangkuhan dalam diri hanya akan membawa petaka bagi siapapun yang ingin mencoba untuk memaksakan kehendak.
Kalau itu mau mu,aku tidak akan segan-segan lagi", usai berkata demikian Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Danarjati. Putra Mpu Sawer itu kaget melihat kecepatan tinggi sang pangeran. Buru-buru dia mengayunkan pedangnya ke arah Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
Shreeeeettttthhh !!
Hawa dingin berdesir kencang mengikuti sinar putih redup dari tebasan pedang Danarjati. Panji Tejo Laksono langsung menggeser pergerakan tubuhnya dan terus melaju kencang kearah lelaki bertubuh gempal itu.
Melihat serangan nya bisa di hindari dengan mudah, Danarjati kembali mengayunkan pedangnya bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!
Lima larik sinar putih redup berhawa dingin menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Belum sempat sinar itu menyentuh kulit Panji Tejo Laksono, sang pangeran muda dari Kadiri sudah lebih dulu menghilang dari pandangan mata semua orang. Di waktu sekejap mata berikutnya, Panji Tejo Laksono muncul di samping kanan Danarjati sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya.
Dhhaaaassshhh...
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Danarjati meraung keras saat hantaman tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi menghajar rusuknya. Putra Mpu Sawer dari Padepokan Ular Siluman itu terpelanting jauh ke samping kiri dan menyusruk tanah dengan keras. Baju dan wajah nya penuh rumput.
Huuuuooogggghhh!!
Terdengar suara orang muntah dan dari mulut Danarjati terlihat sisa-sisa darah segar keluar dari sela-sela sudut bibirnya. Pedang Ular Putih yang terlepas dari genggaman tangan Danarjati menancap di tanah tak jauh dari tempat dia duduk.
"Aku tidak ingin membunuh mu, Kisanak. Kali ini aku ampuni kau. Tapi jika lain kali aku melihat mu menebar angkara lagi, saat itu aku tidak akan segan untuk membunuh mu.
Sekarang pergilah dari hadapan ku sebelum aku berubah pikiran", ucap Panji Tejo Laksono datar namun penuh dengan peringatan. Danarjati segera berusaha bangkit dari tempat duduknya dan dengan berjalan sempoyongan, dia meninggalkan tempat itu. Dua kawannya yang penuh lebam setelah di hajar oleh Panji Tejo Laksono segera memapah kawan mereka yang pingsan. Dengan tertatih-tatih, mereka menyusul ke arah perginya Danarjati.
Setelah keempat orang itu pergi, Panji Tejo Laksono mengalihkan perhatian nya pada Naratama yang masih terduduk di atas tanah. Luka tebasan pedang yang di deritanya terus mengalirkan darah. Panji Tejo Laksono langsung mendekati pemuda itu dan menotok jalan darah di rusuk Naratama hingga pendarahan yang di alami Pendekar Golok Angin itu berhenti.
"Terimakasih atas bantuan mu pendekar. Kalau tidak ada kau mungkin aku sudah tewas di tangan orang-orang Padepokan Ular Siluman itu. Aku Naratama, dunia persilatan mengenal ku sebagai Pendekar Golok Angin", ujar Naratama sembari mengangguk sebagai tanda penghormatan kepada sang pangeran muda dari Kadiri.
"Sudahlah, Kisanak. Sesama pengamal ilmu kanuragan, sudah seharusnya kita saling membantu.
Namaku...."
Belum sempat Panji Tejo Laksono menyelesaikan omongannya, dari arah belakang terdengar suara derap langkah kaki kuda. Bersamaan dengan itu muncul rombongan kereta kuda mendekati mereka.
"Kakang Tejo, kau baik baik saja?", suara Luh Jingga terdengar lembut dan sekejap kemudian perempuan cantik itu melompat turun dari atas kereta kuda lalu mendarat di samping Panji Tejo Laksono.
"Aku baik-baik saja, Jingga. Apa kau punya persediaan obat untuk luka sobat ini?", mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga mengangguk dan segera merogoh kantong baju nya. Sebuah tabung bambu sebesar jempol tangan orang dewasa dengan tutup yang terbuat dari batang kayu randu langsung di serahkan kepada Panji Tejo Laksono. Segera Panji Tejo Laksono membuka tutup botol dan menaburkan bubuk berwarna kuning itu ke luka Naratama. Lelaki muda bertubuh kekar itu meringis menahan rasa perih yang menjalar di tubuhnya saat bubuk berwarna kuning itu mengenai lukanya.
Gayatri dan Dyah Kirana segera turun dari kudanya. Begitu juga dengan Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka.
"Siapa gadis itu, Kisanak? Kekasih mu atau saudara mu?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah Sriati yang masih tergeletak pingsan.
"Dia bukan siapa-siapa ku, Saudara ku. Aku berusaha menolong nya saat orang Padepokan Ular Siluman itu berusaha untuk menculiknya. Sepertinya mayat lelaki tua yang ada di sebelah sana itu ada hubungannya dengan gadis itu", jawab Naratama segera.
Panji Tejo Laksono segera memerintahkan kepada Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka untuk menggali tanah sebagai kuburan bagi mayat orang tua Sriati sedangkan Gayatri dan Dyah Kirana berusaha menyadarkan perempuan itu. Begitu Sriati sadar, gadis itu langsung mundur karena ketakutan setengah mati.
__ADS_1
"Siapa kalian? Apa kalian kawan Danarjati?", tanya Sriati segera. Mendengar pertanyaan itu, Gayatri dan Dyah Kirana tersenyum tipis. Gayatri segera menjawab pertanyaan Sriati,
"Kami adalah kawan baru mu, Nisanak"