Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perang Kota Kunjang 4


__ADS_3

"Kirana..!!!


Bukan waktu nya untuk menyerah pada keadaan. Ayo bangkit!!! Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono masih membutuhkan bantuan kita!!.


Teriakan keras Luh Jingga seketika membangkitkan kembali semangat juang Dyah Kirana yang sempat putus asa. Putri Resi Ranukumbolo itu segera menotok beberapa jalan darah nya.


Hoooeeeeggggh!!


Dyah Kirana kembali muntah darah segar. Namun kali ini dadanya yang sesak menjadi lebih lega. Wajahnya yang sempat memucat kembali cerah. Perlahan dia bangkit dari tempat duduknya sembari menggenggam erat gagang Pedang Bulan Sunyi pemberian ayahanda nya.


Melihat Dyah Kirana bangkit, Luh Jingga tersenyum lebar.


Di sisi lain, Resi Sempati yang sempat tersurut mundur langkahnya segera memutar tongkat kayu nagasari berukir kepala naga di tangan kanannya lalu melesat cepat kearah Dyah Kirana.


'Gadis berbaju putih itu sudah terluka dalam cukup parah. Dia akan lebih dulu aku habisi", batin Resi Sempati. Secepat kilat, dia mengayunkan tongkat kayu nagasari di tangan kanannya ke depan.


Whhhuuuggghhhh!!


"Botak tua keparat!!!


Mau menyerang saudari ku yang sedang luka dalam?! Kau pikir aku hanya pajangan saja ha?!", teriak Luh Jingga sambil melesat cepat, menghadang laju pergerakan Resi Sempati seraya kembali membabatkan pedang nya ke arah tongkat kayu nagasari di tangan Resi Sempati.


Thhraaaangggggggg !!


Tongkat kayu nagasari berukir kepala naga mental setelah beradu dengan pedang milik Luh Jingga. Resi Sempati memanfaatkan itu dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan mengayunkan tongkat kayu nya kearah kaki kanan lawan nya.


Whhhuuuggghhhh!!


Luh Jingga segera angkat kaki kanan nya memutar tubuhnya sambil membuat gerakan tubuh melengkung ke belakang sambil membabatkan pedang ke arah kepala Resi Sempati.


Kakek tua berkepala botak ini bergegas memegang tongkat kayu nagasari berukir kepala naga itu dengan kedua tangannya dan mengangkat tinggi ke atas kepala untuk menahan sabetan pedang Luh Jingga sambil membuka lebar kedua kakinya agar tubuhnya merendah.


Thhhrrriiiiinnnnngggg!!


Luh Jingga segera merubah gerakan tubuhnya dan kembali membabatkan pedang nya ke arah leher lawan. Resi Sempati langsung menggunakan tongkat kayu nagasari nya untuk tumpuan agar tubuhnya melesat mundur. Serangan cepat Luh Jingga hanya menyambar udara kosong dan Resi Sempati lolos dari maut.


"Gadis baju jingga ini sungguh merepotkan. Aku tidak boleh berlama-lama bertarung dengan nya. Kalau tidak, aku pasti mampus di ujung pedangnya'


Resi Sempati langsung memukulkan tongkatnya ke tanah dengan keras.


Bhhuuuuummmmmmhh !!!


Muncul suara ledakan keras berbarengan dengan tanah retak yang menjalar cepat kearah Luh Jingga. Melihat bahaya yang mengancamnya, Luh Jingga segera melenting tinggi ke udara menghindari retakan tanah yang tercipta di bawah kakinya. Sembari bersalto dia bergerak menjauhi Resi Sempati.


Pertapa tua bertubuh sedikit gemuk dengan kepala botaknya itu menggereng keras. Dari mulut ukiran naga yang ada semacam bola kecil berwarna merah di ujung tongkat kayu nagasari muncul seberkas sinar merah. Tanpa menunggu lama lagi, Resi Sempati langsung mengayunkan tongkatnya ke arah Luh Jingga.


Shhhiiiuuuuuuuutttttttth!!


Seberkas sinar merah itu segera menerabas cepat kearah Luh Jingga. Melihat itu, Luh Jingga segera berjumpalitan mundur beberapa kali.


Blllaaaaaarrr !!!


Sebuah bangunan di belakang Luh Jingga langsung meledak dan terbakar usai sinar merah menyala itu menghantam nya.


Ini adalah kedigdayaan tongkat kayu nagasari di tangan Resi Sempati yang bernama Tongkat Kepala Naga. Senjata andalan sang pertapa tua yang selalu menemani perjalanan nya melanglang buana hingga mendapat julukan sebagai Pendekar Tongkat Kepala Naga.


Shhhiiiuuuuuuuutttttttth...


Shhhiiiuuuuuuuutttttttth!!!


Bunyi desingan terdengar kembali saat Resi Sempati kembali mengayunkan tongkat nya kearah Luh Jingga. Namun putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu segera berjumpalitan kesana kemari untuk menghindari sinar merah menyala dari Tongkat Kepala Naga di tangan sang lawan.

__ADS_1


Sementara itu, Dyah Kirana yang masih menyaksikan pertarungan sengit antara Luh Jingga dan Resi Sempati memilih untuk sedikit menjauh untuk memulihkan tenaga dalam nya.


Tak jauh dari tempat pertarungan sengit itu, pasukan Panjalu sedang bertempur mati-matian melawan para prajurit Jenggala di bawah pimpinan Senopati Mpu Balitung. Meski kalah jumlah, namun semangat para prajurit Panjalu untuk mengusir para prajurit Jenggala, patut diacungi jempol. Beberapa kobaran api terlihat dari beberapa bangunan yang ada di Kota Kunjang. Darah terus tertumpah di segenap penjuru kota kecil ini.


Resi Sempati berdecak kesal karena serangan nya tak juga mampu menundukkan Luh Jingga yang bergerak lincah seperti burung layang-layang di angkasa. Sejak kecil, selir kedua Panji Tejo Laksono ini sudah terbiasa hidup di pegunungan hingga dia mampu bergerak lincah meski tanpa harus mengerahkan banyak tenaga dalam nya.


"Perempuan edan!!


Apa kau lahir dari rahim seekor monyet liar ha? Kalau berani, mari adu kesaktian dengan ku!!!", maki Resi Sempati yang putus asa karena serangan nya tak berdaya menghadapi kelincahan gerak Luh Jingga.


"Pertapa botak..!!!


Apa kau habis makan daging busuk ya? Mulutmu benar-benar bau sekali hingga asal bicara tentang diriku. Apa hanya ini kemampuan yang kau miliki? Mengecewakan sekali..!!", balas Luh Jingga sembari mendarat 4 tombak jauhnya dari tempat Resi Sempati berdiri.


"Dasar setan betina!!!


Akan ku hancurkan mulut beracun mu itu sekarang!!!", Resi Sempati langsung melesat cepat kearah Luh Jingga yang masih berdiri di tempatnya. Namun selir kedua Panji Tejo Laksono ini sudah menyiapkan Ajian Tapak Dewa Indra pada tangan kiri. Cahaya biru terang di sertai petir kecil yang menyambar-nyambar tercipta di tangan kiri sang putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu.


Saat Resi Sempati datang dengan serangan sinar merah menyala yang keluar dari mulut ukiran kepala naga di tongkatnya, Luh Jingga segera berkelit ke arah samping kanan sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher lawan.


Shhrreeettthhh!!


Resi Sempati segera merunduk cepat menghindari sabetan pedang Luh Jingga. Namu kakek tua berkepala botak ini terkejut bukan main saat melihat hantaman tangan kiri Luh Jingga yang kini di liputi oleh cahaya biru terang layaknya warna petir di angkasa.


Tak ada ruang untuk menghindar, Resi Sempati langsung menggunakan tongkat kayu nagasari nya untuk menghadang serangan perempuan cantik itu.


Blllaaammmmmmmm!!!


Krrraaaakkkkkk....


Ledakan dahsyat diikuti oleh suara kayu patah terdengar saat Ajian Tapak Dewa Indra beradu dengan Tongkat Kepala Naga di tangan Resi Sempati. Tubuh lelaki tua berkepala botak ini terpental hampir 4 tombak jauhnya ke arah belakang dan menyusruk tanah dengan keras.


Hoooeeeeggggh!!


"To.. Tongkat Kepala Naga kuu....?!!!"


Ucap lirih Resi Sempati yang terbengong-bengong melihat senjata andalannya itu kini sudah menjadi dua bagian tergeletak tak jauh dari tempat nya kini. Amarah sang resi sepuh berkepala botak ini langsung meninggi. Dia segera bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap tajam ke arah Luh Jingga yang juga terdorong mundur beberapa tombak ke belakang usai beradu ilmu kesaktian dengan Resi Sempati.


"Setan betina kurang ajar!!


Akan ku buat kematian mu begitu mengenaskan!!!!"


Resi Sempati langsung komat kamit membaca mantra. Tiba-tiba saja tubuhnya membesar dengan otot yang menonjol. Tubuhnya terus membesar hingga dua kali lipat dari ukuran tubuhnya semula. Matanya memerah seperti mata seorang iblis dari neraka dan dari dua dahinya muncul sepasang tanduk yang besar.


Ini adalah wujud dari ilmu terlarang Ajian Setan Bumi yang tidak pernah dia pergunakan kecuali dalam keadaan terdesak. Di sebut ilmu terlarang karena ajian ini akan mengambil nyawa pengguna nya setelah beberapa waktu di gunakan. Inilah mengapa sebabnya, meski sudah menguasai ilmu kesaktian ini sejak lama. Taruhan nyawa melayang yang harus dia berikan membuat Resi Sempati enggan untuk mengeluarkan ilmu kanuragan pamungkas ini.


Namun kali ini, rasa amarah yang begitu memuncak setelah melihat patahnya Tongkat Kepala Naga yang selama ini menjadi teman perjalanan setia nya dalam malang melintang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur membuat Resi Sempati gelap mata. Dia bertekad untuk menghabisi nyawa Luh Jingga meskipun harus mengorbankan nyawa nya sendiri.


Luh Jingga kaget melihat perubahan wujud Resi Sempati. Dyah Kirana yang masih berdiri di tepi arena pertarungan, langsung berteriak keras.


"Hati-hati dengan serangan makhluk terkutuk itu, Kangmbok Luh Jingga!! Jangan sampai beradu langsung!!!"


Teriakan keras dari Dyah Kirana itu segera membuat Luh Jingga mengangguk mengerti. Dia segera memusatkan tenaga dalam nya pada kaki karena ilmu meringankan tubuh nya akan menjadi kunci utama dalam melakoni pertarungan ini.


Resi Sempati yang sudah berubah menjadi seorang makhluk menyeramkan, langsung melesat cepat kearah Luh Jingga. Meski tubuhnya besar, namun kecepatan Resi Sempati meningkat menjadi dua kali lipat. Dengan kepalan tangannya yang sebesar kelapa, Resi Sempati segera menghantamkan nya pada Luh Jingga.


Whhhuuuggghhhh !!


Serangan ini hampir saja mengenai tubuh Luh Jingga. Untung saja, perempuan cantik berbaju kuning kemerahan itu melesat menghindar tepat waktu hingga hantaman kepalan tangan Resi Sempati hanya menghajar tanah.


Bhhuuuuummmmmmhh !!

__ADS_1


Tanah di tempat Luh Jingga berdiri meledak keras saat terkena hantaman tangan kanan Resi Sempati. Lobang sebesar kerbau tercipta di tempat itu.


Melihat lawannya lolos begitu saja, Resi Sempati menggeram keras sembari kembali melesat cepat kearah Luh Jingga. Resi Sempati terus memburu kemanapun Luh Jingga bergerak. Beberapa kali Luh Jingga mencoba untuk melukai tubuh besar Resi Sempati, namun kulit lelaki tua yang berwarna kehijauan itu sama sekali tidak tergores oleh pedang tajam Luh Jingga.


Bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh!!!


Ledakan beruntun terus terdengar dari hantaman tangan Resi Sempati yang seperti kesetanan memburu Luh Jingga yang terus menerus bergerak lincah kesana kemari untuk menghindar. Perempuan cantik itu terus mencari cara untuk mengalahkan Resi Sempati yang kini telah berubah menjadi seorang makhluk menyeramkan.


Di saat kebingungan itu, tiba-tiba Resi Sempati muncul di hadapan Luh Jingga dan segera menghantamkan tangan kanannya. Luh Jingga gelagapan juga dan dengan cepat mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Tapak Dewa Indra untuk bertahan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!


Luh Jingga segera terlempar ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Putri Resi Damarmoyo itu rupanya menderita luka dalam akibat benturan dengan Resi Sempati. Dia muntah darah segar seketika.


Melihat itu, Resi Sempati menyeringai lebar dan hendak bergerak menuju ke arah Luh Jingga. Namun tiba-tiba..


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!


Tubuh Resi Sempati perlahan mengecil dan terus mengecil hingga ke ukuran tubuhnya semula. Resi Sempati menjerit keras menahan rasa sakit yang luar biasa. Tubuh nya terus mengurus hingga menyisakan tulang dan kulit saja. Darah mengalir keluar dari mulut, mata, lobang hidung dan telinganya. Rupanya Ajian Setan Bumi telah mencapai batasnya.


Melihat itu, Luh Jingga segera melesat cepat usai berdiri dari tempat jatuhnya. Tangan kanannya langsung menebas leher Resi Sempati yang kurus kering.


Chhrrrraaaaaassss !!


Tak ada suara jeritan terdengar dari mulut Resi Sempati. Pertapa tua itu tewas dengan kepala terpisah dari badan nya. Luh Jingga segera mengusap sisa darah yang meleleh keluar dari sudut bibirnya sembari menatap tajam ke mayat Resi Sempati.


"Sampai disini saja petualangan mu, pertapa gila".


Setelah itu, Luh Jingga segera menoleh ke arah Dyah Kirana yang berjalan menuju ke arah nya.


"Kirana, bagaimana keadaan mu?", tanya Luh Jingga segera.


"Aku sudah lebih baik, Kangmbok. Kamu sendiri bagaimana, Kangmbok? Ku lihat tadi kau sempat beradu ajian dengan wujud mengerikan pertapa botak ini", Dyah Kirana balik bertanya.


"Si botak ini memang merepotkan, Kirana..


Aku luka dalam akibat benturan dengan nya tadi. Tapi aku masih sanggup untuk bertarung melawan para prajurit Jenggala.


Ayo kita bergabung dengan pasukan Panjalu. Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono pasti kerepotan menghadapi mereka", ujar Luh Jingga segera. Dyah Kirana mengangguk cepat dan kedua perempuan cantik itu segera melesat cepat kearah pertempuran sengit antara prajurit Jenggala dan prajurit Panjalu.


Hari itu menjadi hari terakhir bagi Begawan Mpu Supa dan Resi Sempati menghirup udara . Dua dedengkot dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur itu tewas di tangan Luh Jingga dan Dyah Kirana.


Sementara itu, Panji Tejo Laksono yang di keroyok oleh puluhan orang prajurit Jenggala dengan tenang menghadapi tantangan mereka.


Dengan Ajian Sepi Angin, pangeran muda dari Kadiri yang menjadi penguasa Kadipaten Seloageng ini mudah saja mengalahkan mereka. Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata, para prajurit Jenggala yang mencoba untuk membunuh sang pimpinan utama pasukan Panjalu itu meregang nyawa di tangan sang pangeran tertua di Kerajaan Panjalu itu dengan dada gosong seperti terbakar api.


Senopati Mpu Balitung yang baru saja membantai dua orang prajurit Panjalu yang dia hadapi, melihat bagaimana Panji Tejo Laksono menghabisi nyawa orang orang nya.


'Rupanya dia adalah pimpinan pasukan Panjalu. Mematikan semangat juang prajurit Panjalu harus di awali dengan membunuh orang itu. Aku tidak boleh membuang waktu lagi', batin Senopati Mpu Balitung.


Segera sang pimpinan utama pasukan Jenggala ini melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah punggung sang pangeran.


Whhhuuuuuusssshhh!!


Cahaya putih kehijauan berhawa dingin menusuk tulang segera menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Dari ekor matanya, Panji Tejo Laksono melihat serangan itu. Sinar kuning keemasan dengan cepat menutupi seluruh tubuh sang Adipati baru Seloageng ini.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar saat sinar putih kehijauan berhawa dingin itu menghantam punggung Panji Tejo Laksono yang di liputi oleh cahaya kuning keemasan Ajian Tameng Waja. Senopati Mpu Balitung tersenyum lebar ketika melihat itu semua. Tak seorangpun yang mampu menahan hantaman Ajian Penghancur Jagat miliknya.


"Modar kowe, Wong Panjalu!!"

__ADS_1


__ADS_2