Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Syarat dari Dyah Kirana


__ADS_3

Munculnya Maharesi Padmanaba dari dalam goa tempat pertapaan nya mengagetkan dua cantrik Pertapaan Gunung Mahameru. Orang tua itu sudah melakukan pertapaan di dalam goa itu hampir 5 tahun lamanya dan semua orang di Pertapaan Gunung Mahameru sudah yakin bahwa sang pertapa tua itu akan segera menemui ajalnya. Namun kini dia muncul kembali dan ini merupakan sebuah berita besar.


"Sembah bakti kami, Eyang Guru", ujar dua cantrik Pertapaan Gunung Mahameru itu bersamaan.


Hemmmmmmm


"Sudah berapa lama aku bertapa di goa ini?", tanya Maharesi Padmanaba seraya mengangkat tangan kanannya sebagai tanda penerimaan penghormatan dua cantrik itu. Dia memang tidak mengetahui jumlah hari pertapaannya.


"Sudah hampir 5 tahun, Eyang Guru. Kami berdua yang di tugaskan oleh pimpinan pertapaan untuk mengisi minyak jarak di dalam goa selama ini ", ujar salah seorang cantrik dengan penuh hormat.


"Iyo iyo Iyo..


Kalian sudah setia dengan perintah Ranukumbolo untuk menyalakan pelita di goa ini. Aku punya hadiah untuk kalian berdua sebagai penghargaan atas kesetiaan kalian. Terimalah..", Maharesi Padmanaba merogoh balik bajunya dan mengeluarkan dua buah batu permata berwarna merah darah dan mengulurkannya kepada dua cantrik Pertapaan Gunung Mahameru itu.


"Apa ini Eyang Guru? Kami sama sekali tidak mengharap imbalan atas tugas yang diberikan kepada kami", ujar seorang diantara mereka berdua dengan sedikit ketakutan menerima pemberian Maharesi Padmanaba.


"Itu adalah merah delima. Sebuah batu permata yang bisa menjauhkan kalian dari gangguan makhluk tak kasat mata yang ada di sekitar kita. Simpanlah baik-baik, jangan sampai hilang", pesan Maharesi Padmanaba pada kedua orang itu.


"Kalau itu yang Eyang Guru inginkan, kami berterimakasih atas hadiahnya ", kedua cantrik Pertapaan Gunung Mahameru itu segera menyimpan sebutir merah delima itu ke dalam balik bajunya.


"Sekarang antar aku menemui Ranukumbolo. Sudah waktunya untuk berpamitan dengan nya", ucap Maharesi Padmanaba sembari berjalan menuruni tangga masuk goa menuju ke arah Pertapaan Gunung Mahameru. Kedua cantrik itu terlihat bingung dengan kata kata berpamitan yang baru saja diucapkan oleh Maharesi Padmanaba, namun keduanya tidak berani untuk bertanya dan memilih untuk diam saja sembari mengikuti langkah sang Guru Besar Pertapaan Gunung Mahameru.


Setelah menuruni puluhan anak tangga mereka berbelok ke arah kanan dimana Pertapaan Gunung Mahameru berdiri megah di lereng barat gunung tertinggi di Pulau Jawa ini.


Di sebuah pendopo yang beratap daun alang-alang kering dan ijuk aren, seorang lelaki paruh baya yang memakai pakaian serba putih terkejut bukan main melihat tiga orang yang berjalan mendekati pendopo kediaman utama Pertapaan Gunung Mahameru itu. Tanpa mempedulikan para cantrik yang sedang menerima wejangan dari nya, si lelaki paruh baya berjanggut dengan uban yang mulai tumbuh di sela sela rambut hitam nya itu segera bergegas menyambut kedatangan Maharesi Padmanaba. Dia adalah Resi Ranukumbolo, pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru.


"Kanjeng Romo Maharesi, sembah bakti putra mu yang kurang berbakti ini", Resi Ranukumbolo segera membungkuk hormat kepada Maharesi Padmanaba.


"Hehehehe kau masih saja tidak berubah meskipun sudah 5 tahun berlalu. Ada yang ingin ku sampaikan pada mu, Ranukumbolo", ujar Maharesi Padmanaba yang segera dipotong dengan omongan Resi Ranukumbolo.


"Aku tahu itu pasti penting. Sebaiknya kita bicara di pendopo saja, Kanjeng Romo. Mari kita kesana", mendengar ucapan itu, Maharesi Padmanaba dan Resi Ranukumbolo segera berjalan beriringan menuju ke arah pendopo utama Pertapaan Gunung Mahameru.


Keluarnya Maharesi Padmanaba yang begitu tersohor sebagai manusia yang tidak bisa mati setelah bertapa selama 5 tahun, sontak membuat heboh seisi Pertapaan Gunung Mahameru. Seluruh penghuni pertapaan yang terletak di dataran tinggi itu segera menghentikan pekerjaan mereka dan berduyun-duyun mendatangi pendopo utama Pertapaan Gunung Mahameru. Termasuk cucu Maharesi Padmanaba yang bernama Dyah Kirana yang merupakan kembang Pertapaan Gunung Mahameru. Sang cucu segera bersujud di kaki Maharesi Padmanaba begitu melihat sang kakek setelah hampir 5 tahun lamanya.


"Sembah bakti cucu, Eyang Maharesi", ujar Dyah Kirana segera.

__ADS_1


"Kau Kirana? Wah ternyata kau sudah besar ya dan menjelma menjadi seorang gadis yang cantik jelita hehehehe..


Kau mirip sekali dengan nenek mu", sambut Maharesi Padmanaba seraya mengusap kepala Dyah Kirana segera.


"Terimakasih atas pujiannya, Eyang Maharesi. Kirana senang sekali melihat Eyang mau keluar dari dalam goa itu", ujar Dyah Kirana sambil tersenyum lebar. Mendengar ucapan itu, Maharesi Padmanaba menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Sebenarnya aku ingin berbicara tentang hal ini dengan Ranukumbolo saat aku baru keluar dari dalam pertapaan ku, tapi dia lebih dulu bicara.


Sekarang dengarkan semuanya, aku keluar dari goa tempat pertapaan ku setelah menerima wangsit dari Dewa Brahma. Aku akan pergi ke Panjalu untuk menemui orang yang akan mampu mengantar ku menuju ke alam keabadian. Karena itu aku menemui kalian semua untuk berpamitan", mendengar ucapan sang guru besar Pertapaan Gunung Mahameru, semua orang terkejut bukan main.


Rasa sedih langsung bergelayut di hati mereka semuanya.


Tangis Dyah Kirana langsung pecah begitu mendengar penuturan Maharesi Padmanaba. Gadis cantik berkulit kuning langsat itu segera menubruk kaki sang kakek sambil menangis tersedu-sedu.


"Eyang Maharesi, apa eyang tidak sayang pada ku hingga ingin meninggalkan ku selamanya? Huhuhuhuhu...", isak tangis Dyah Kirana. Maharesi Padmanaba tersenyum sembari mengelus kepala cucu perempuannya itu.


"Bukan aku tidak sayang pada mu, Kirana..


Tapi seseorang memiliki waktu yang terbatas di dunia ini. Adakalanya kita harus melepaskan segala sesuatu yang kita miliki karena semua yang kita miliki hanyalah sebuah titipan dari Hyang Agung, cucu ku. Asal kau tahu,raga ku sudah terlalu tua untuk menjadi wadah sebuah ilmu kanuragan yang selama ini di titipkan pada ku, Ngger..


"Baik, karena eyang bersikeras untuk meninggalkan aku maka aku juga punya syarat agar eyang bisa mencapai keabadian sejati.


Ajak aku menemui orang itu dan dia harus bersedia untuk menemani ku seumur hidupnya sebagai ganti Eyang Maharesi. Kalau sampai dia tidak bersedia, jangan harap aku merelakan kepergian Eyang Maharesi Padmanaba ", ucapan tegas Dyah Kirana seketika membuat Maharesi Padmanaba terhenyak. Namun Maharesi Padmanaba kemudian menghela nafas berat sebelum berbicara.


"Baiklah, aku akan meminta nya untuk menikahi mu, Kirana..


Kalau sampai dia menolak, maka akan ku gunakan jalan apapun untuk memaksanya", ujar Maharesi Padmanaba segera. Dyah Kirana kaget juga mendengar kesanggupan Maharesi Padmanaba. Awal mulanya dia hanya ingin menghentikan keinginan Maharesi Padmanaba untuk mati namun kini justru dia yang terjebak oleh omongan nya sendiri. Mau tidak mau, Dyah Kirana harus memenuhi kata kata yang sudah dia ucapkan.


Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada para penghuni Pertapaan Gunung Mahameru, Maharesi Padmanaba segera menggandeng tangan Dyah Kirana dan hanya dalam sekejap mata, pertapa tua itu telah menghilang dari pandangan mata semua orang bersama dengan sang kembang Pertapaan Gunung Mahameru.


Menggunakan Ajian Panglimunan, sebuah ilmu berpindah tempat tanpa bayangan yang serupa dengan Ajian Halimun, Maharesi Padmanaba sampai di tepi Sungai Lawor yang merupakan tapal batas wilayah antara Jenggala dan Panjalu. Dyah Kirana yang sempat kebingungan karena tempat baru ini langsung bertanya kepada sang kakek.


"Eyang Maharesi, ini dimana?"


Mendengar pertanyaan cucu kesayangannya itu, Maharesi Padmanaba tersenyum tipis sembari menjawabnya dengan perlahan, "Kita sudah sampai di perbatasan wilayah antara Jenggala dan Panjalu, Kirana.

__ADS_1


Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan itu. Yang penting sekarang sebaiknya kita mencari tahu tentang putra sulung Prabu Jayengrana itu. Ayo kita tanya orang itu", Maharesi Padmanaba menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang memanggul ikan dan berjalan ke arah mereka. Sepertinya dia adalah seorang nelayan di sungai Lawor itu.


"Permisi Kisanak. Apa Kisanak ini tahu tentang putra sulung Prabu Jayengrana?", tanya sang kakek tua ini dengan sopan. Mendengar pertanyaan itu, si nelayan meletakkan ikan di pundaknya dan menatap Maharesi Padmanaba dan Dyah Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah yakin bahwa mereka bukan penjahat dari pakaian mereka yang seperti pertapa, si nelayan itu segera tersenyum.


"Apa kalian bukan penduduk Panjalu hingga tidak tahu siapa putra sulung Prabu Jayengrana?", tanya si nelayan dengan ramah.


"Kami bukan orang Panjalu, Kisanak. Kami datang dari lereng Gunung Mahameru, baru saja turun gunung jadi tidak tahu apa apa", sahut Dyah Kirana segera.


"Pantas saja kalau begitu..


Putra sulung Prabu Jayengrana adalah Pangeran Panji Tejo Laksono. Kebetulan saja, aku dengar dari omongan para pedagang yang lewat bahwa dia diangkat menjadi Adipati baru Kadipaten Seloageng ini, Nisanak", jawab sang nelayan menceritakan semua yang dia tahu.


Mendengar jawaban itu, Maharesi Padmanaba tersenyum lebar. Sedikit banyak dia tahu Kota Kadipaten Seloageng karena pernah lewat tempat itu.


"Terimakasih atas pemberitahuan mu Kisanak. Semoga Hyang Widhi selalu memberikan rejeki yang berlimpah kepada mu. Kami mohon pamit", setelah berkata demikian, Maharesi Padmanaba segera meraih tangan kiri Dyah Kirana. Sekejap mata kemudian, mereka sudah menghilang dari pandangan mata sang nelayan.


Sedikit takut, Si nelayan segera mengucek matanya seolah tak percaya pada hal yang terjadi di depan matanya.


"Mereka hilang? Jangan-jangan..


Celaka, aku baru bertemu dengan Danyang Kali Lawor ini rupanya..", setengah ketakutan, si nelayan segera menyambar rentengan ikan dan berlari seperti kesurupan meninggalkan pinggir Sungai Lawor ke arah kediaman nya.


****


Haaattttchhhhhiiiii...


Haaattttchhhhhhiiiihhhhh....!!


Panji Tejo Laksono bersin dua kali saat duduk di bangku taman sari Kadipaten Seloageng. Keempat orang istrinya, Ayu Ratna, Gayatri, Song Zhao Meng dan Luh Jingga yang duduk menemaninya segera menoleh ke arah suami mereka.


"Kamu tidak enak badan, Kangmas Pangeran?", tanya Ayu Ratna sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Ketiga istrinya yang lain yakni Gayatri, Luh Jingga dan Song Zhao Meng ikut menunggu jawaban dari suami mereka.


Panji Tejo Laksono hanya tersenyum sambil menjawab pertanyaan itu dengan santainya,


"Aku baik baik saja, Dinda Ayu..

__ADS_1


Mungkin ada seseorang yang sedang membicarakan ku".


__ADS_2