Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Mimpi Dewi Anggarawati


__ADS_3

****


Sementara para prajurit Panjalu di Utara sedang di pusingkan dengan cedera parah yang di alami oleh Senopati Agung Narapraja, ribuan orang prajurit Jenggala bergerak diam-diam dari arah tengah. Mereka menempuh jalur sulit menyusuri Kali Kanta yang terletak di antara pegunungan Kawi-Kelud yang tertutup hutan lebat di daerah Hantang.


Daerah yang tertutup hutan lebat dan penuh dengan binatang buas ini sangat berbahaya bagi siapapun yang melewatinya. Binatang buas seperti harimau, ular besar, monyet liar dan babi hutan begitu banyak menghuni wilayah ini. Di tambah lagi, tempat ini terkenal angker karena di huni oleh para makhluk halus yang bergentayangan dimana-mana.


Dengan kata lain, tempat ini bukan tempat yang tepat untuk di lalui oleh manusia. Sampai ada yang mengatakan bahwa jalma mara jalma mati ( manusia yang datang pasti akan mati) jika memasuki hutan Hantang.


Namun puluhan ribu prajurit Jenggala yang menjadi ujung trisula ketiga ini sama sekali tidak takut melewati tempat itu yang merupakan arah jalan rahasia yang mereka gunakan untuk menusuk langsung jantung pertahanan Kerajaan Panjalu yaitu Kotaraja Dahanapura atau Kadiri. Sedikitnya ada sekitar 70 ribu orang prajurit Jenggala yang siap bertaruh nyawa menantang Istana Katang-katang.


Apalagi bersama mereka, dua orang Resi yang kondang sebagai penakluk para makhluk halus menyertai perjalanan mereka. Mereka adalah Begawan Mpu Supa dan adiknya Resi Sempati.


Begawan Mpu Supa bertubuh sedikit kurus dengan janggut pendek dan rambut beruban yang di gelung atas kepala layaknya seorang pertapa. Mata lelaki tua itu terlihat tajam seperti tatapan mata seekor burung elang. Kalung nya yang terbuat dari biji genitri yang berwarna coklat kehitaman begitu mencolok karena dia memakai pakaian serba putih. Kemanapun ia pergi, di tangan kirinya selalu membawa gantungan pedupaan yang selalu mengeluarkan asap berbau harum.


Sedangkan adiknya Resi Sempati memiliki tubuh yang sedikit lebih pendek dan gemuk dengan kepala botak atas dan menyisakan rambut tipis beruban di atas telinga. Perutnya yang buncit selalu terlihat karena pakaiannya yang terbuka pada dada hingga ke pusar. Senantiasa dia memakai pakaian berwarna jingga seperti seorang brahmana dan membawa tongkat kayu nagasari yang berukir kepala naga.


Kedua orang ini sangat kondang di wilayah Jenggala khusus nya di sekitar Kotaraja Kahuripan. Mereka terkenal sebagai penakluk dedemit setelah berhasil menolong putri Prabu Samarotsaha yang kesurupan.


Sejak awal keberangkatan prajurit Jenggala yang berangkat diam diam dari Dinoyo itu, mereka berdua lah yang bertanggung jawab sebagai penolak bala pasukan Jenggala. Berulang kali mereka menyelematkan para prajurit Jenggala dari gangguan makhluk halus yang mengganggu sepanjang perjalanan dari barat Kadipaten Dinoyo hingga ke Hantang. Mereka sangat di hormati oleh pimpinan tertinggi prajurit Jenggala wilayah tengah, Senopati Mpu Balitung juga wakilnya Tumenggung Ranasuta.


Di barat daerah Hantang, menjelang sore hari, di dekat sebuah telaga besar yang berair jernih, setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari lamanya dari barat Kadipaten Dinoyo,pasukan Jenggala akhirnya mendirikan perkemahan besar mereka. Keberadaan mereka yang luput dari pengawasan para prajurit Pasukan Lowo Bengi, menjadikan mereka sama sekali tidak terancam oleh para prajurit Panjalu. Ini benar-benar berbahaya bagi keselamatan Kotaraja Kadiri.


"Bagaimana Begawan Mpu Supa? Kau sudah membuat tabir pelindung gaib yang mampu menutupi seluruh pergerakan kita dari mata batin orang orang Panjalu, bukan?", tanya Senopati Mpu Balitung sambil menatap ke arah wajah tua Begawan Mpu Supa


"Gusti Senopati tenang saja.


Selama ada saya, orang orang Panjalu itu tidak akan pernah bisa menemukan keberadaan kita. Tabir pelindung gaib yang aku buat bukan hanya sekedar tabir gaib biasa. Seorang pandita sakti pun belajar tentu bisa merasakan kehadirannya", ujar Begawan Mpu Supa sambil tersenyum pongah seraya mengelus jenggotnya yang pendek.


"Kakang Begawan, jangan lupa kalau aku juga membantu mu menyiapkan semua keperluan yang kau gunakan untuk membuat tabir pelindung gaib ini.


Aku juga berjasa loh Kang", sahut Resi Sempati tak mau kalah.


"Ya ya ya.. Kalian berdua memang berjasa besar dalam perjalanan ini. Nanti setelah kita menghancurkan Istana Katang-katang dan membunuh Jayengrana, aku akan mintakan pangkat sebagai Penasehat atau Dharmadyaksa untuk kalian berdua", ujar Senopati Mpu Balitung sambil tersenyum tipis.


Kedua pertapa kakak beradik itu saling pandang sambil tersenyum penuh kemenangan. Keduanya segera menghormat pada Senopati Mpu Balitung.


"Terimakasih atas niat baik mu, Gusti Senopati", ujar keduanya bersamaan.


"Ranasuta,


Bagaimana pengamanan di sekitar tempat ini? Kau sudah menata nya bukan?", Senopati Mpu Balitung mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Ranasuta.


"Hamba sudah meminta bantuan kepada saudara Tumenggung Giriloka dari Pasuruhan dan Demung Keti dari Keling untuk membentuk regu penjaga yang akan berpatroli di sekitar tempat ini Gusti Senopati", Tumenggung Ranasuta segera menghormat pada Senopati Mpu Balitung.


"Bagus, perketat keamanan dan usahakan untuk tidak membuat keributan sekecil apapun yang bisa membuat pergerakan kita tercium oleh orang orang Daha", ujar Senopati Mpu Balitung segera.

__ADS_1


"Baik Gusti Senopati ", sahut Tumenggung Ranasuta seraya mundur dari tempat itu.


Begitu keluar dari dalam tenda besar itu, Tumenggung Ranasuta segera bergegas menuju ke arah para prajurit yang bertugas sebagai penghubung berita yang beredar di tiga titik ujung trisula serangan besar Kerajaan Jenggala.


8 prajurit Jenggala yang ada di tempat pos berita langsung memberi hormat pada Tumenggung Ranasuta ketika lelaki bertubuh kekar itu sampai di sana.


"Ada berita penting apa yang kalian dapatkan?", tanya Tumenggung Ranasuta segera.


"Mohon ampun Gusti Tumenggung.


Kami kehilangan hubungan dengan kawan kawan yang ada di wilayah selatan. Sejak kemarin tidak ada satupun merpati pos yang datang dari mereka. Kami khawatir terjadi sesuatu pada mereka", ujar salah seorang prajurit dengan penuh hormat pada Tumenggung Ranasuta.


Hemmmmmmm...


'Sepertinya sedang terjadi sesuatu di wilayah serangan selatan. Pasti ada yang tidak beres. Aku harus cepat mengabarkan berita ini pada pimpinan utama', batin Tumenggung Ranasuta.


"Upayakan untuk terus menjalin hubungan dengan pihak selatan. Gunakan segala cara untuk mendapatkan berita tentang mereka. Ini akan menjadi pertimbangan bagi Gusti Senopati Mpu Balitung untuk segera bergerak menuju ke arah Kotaraja Daha.


Apa kalian sudah mengerti?", Tumenggung Ranasuta menatap ke arah para bawahannya itu.


"Kami mengerti Gusti Tumenggung", ujar kompak 8 orang prajurit penghubung berita itu segera. Setelah mendengar jawaban itu, Tumenggung Ranasuta segera berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Satu kali tarikan nafas, sang perwira tinggi prajurit Jenggala dari Kadipaten Dinoyo itu melesat ke arah selatan.


Di dekat sebuah pohon besar yang ada pada tepi batas barak perkemahan besar prajurit Jenggala, dia berhenti melangkah. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat keberadaan nya, Tumenggung Ranasuta segera melesat cepat ke balik rimbun pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu. Dia dengan mudah menembus pagar gaib yang di pasang oleh Begawan Mpu Supa dan adiknya Resi Sempati karena mengetahui kelemahan nya.


"Ada perintah apa dari pimpinan keempat?", tanya salah satu bayangan merah yang ternyata adalah seorang yang mengenakan tudung pelindung kepala berwarna merah dan memakai topeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah.


"Salah satu dari kalian, laporkan pada pimpinan utama..


Pasukan selatan sepertinya sedang dalam masalah. Kirim orang untuk menyelidiki. Setelah itu, jika ada kabar terbaru, cepat laporkan kepada ku agar aku bisa memberitahu Senopati Mpu Supa kapan waktunya untuk menggempur pertahanan Panjalu di Daha", ujar Tumenggung Ranasuta tanpa berbalik badan.


Salah seorang diantara dua bayangan merah itu segera menghormat sebelum melesat cepat meninggalkan tempat itu. Mereka adalah para pengawal pribadi yang di sediakan oleh Malaikat Bertopeng Emas sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah untuk melindungi para pimpinan. Mereka telah mengikuti langkah para prajurit Jenggala mulai dari Kadipaten Dinoyo.


Setelah memberikan perintah, Tumenggung Ranasuta yang juga merupakan pimpinan keenam Kelompok Bulan Sabit Darah segera melesat cepat kearah barak perkemahan besar prajurit Jenggala.


Malam mulai turun menyelimuti seluruh jagat raya dengan tangannya yang dingin setelah senja yang indah menghilang di balik cakrawala langit barat. Ribuan kelelawar pun keluar dari dalam sarangnya untuk mencari makan diantara pucuk pepohonan hutan yang ada di timur perkemahan besar para prajurit Jenggala.


*****


Dewi Anggarawati langsung terbangun dari tidurnya. Wajah cantik alami Sang Ratu Pertama Kerajaan Panjalu itu memucat dan keringat dingin mengucur membasahi pipinya.


Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana yang tidur di sebelahnya pun ikut terbangun dari tidurnya begitu merasakan Dewi Anggarawati terbangun. Sambil tersenyum, dia menatap wajah cantik putri dari Seloageng ini.


"Ada apa dengan mu, Dinda Anggarawati? Sepertinya kau sedang ketakutan setengah mati begitu", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.


"Kangmas Prabu..

__ADS_1


Aku baru saja mengalami mimpi buruk. Aku takut sekali Kangmas", ujar Dewi Anggarawati segera. Perempuan paruh baya yang masih terlihat menawan meski sudah tidak muda lagi itu menatap wajah Prabu Jayengrana segera. Terlihat jelas, ada raut ketakutan yang mendalam di wajah sang ratu ini.


"Memang nya kau mimpi buruk apa Dinda Anggarawati? Coba kau ceritakan pada ku", tanya Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sembari mengelus kepala sang istri.


"Dalam mimpi itu aku melihat Kotaraja Daha di landa banjir bandang dari timur. Namun saat itu, aku melihat Tejo Laksono berdiri paling depan menghadang banjir bandang ini. Di belakangnya ada Panji Mandala Seta dan Mapanji Jayagiri yang turut membantu Tejo Laksono.


Apa ini artinya Kangmas Prabu?", Dewi Anggarawati menatap wajah Prabu Jayengrana dengan penuh pertanyaan. Naluri nya sebagai seorang ibu mengkhawatirkan keselamatan Panji Tejo Laksono yang masih belum jelas kabar beritanya.


Mendengar pertanyaan itu, Prabu Jayengrana segera ingat bahwa malam itu adalah malam Anggara Kasih, wuku Madangkungan dan naga tahun ada di selatan. Prabu Jayengrana dengan cepat menghitung jumlah hari dan weton pasaran nya, hingga perhitungannya jatuh pada hitungan mimpi Sasmitaningroh. Segera sang Maharaja Panjalu itu tersenyum penuh arti.


Perubahan ini sangat kentara sekali di wajahnya. Dewi Anggarawati langsung paham bahwa suaminya telah mengetahui sesuatu.


"Apakah mimpi ku ini pertanda baik Kangmas Prabu?", imbuh Dewi Anggarawati segera.


"Iya Dinda Anggarawati..


Sekarang sering-seringlah berdoa kepada Sang Hyang Batara Agung di sanggar pamujan agar putra mu selamat dan membawa kemenangan yang besar. Jangan sampai kita tidak mendoakannya..", lega hati Dewi Anggarawati mendengar jawaban suaminya.


Lepas malam hari itu juga, Dewi Anggarawati dan Prabu Jayengrana tidak kembali tidur. Mereka berdua segera berangkat ke sanggar pamujan yang ada di sisi timur istana. Para dayang istana sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pemujaan dadakan yang di lakukan oleh Maharaja dan Ratu Pertama Kerajaan Panjalu itu.


Di depan arca Batara Wisnu yang duduk di atas Garuda, Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati duduk bersila dengan kedua tangan menangkup di depan dada. Keduanya segera tenggelam dalam semedi hingga pagi menjelang tiba.


****


Pagi itu suasana mendung terasa begitu dingin. Sang matahari pagi tidak juga menampakkan diri di ufuk timur. Setelah kokok ayam jantan terdengar bersahutan, tiba-tiba gemuruh petir terdengar menggelegar. Tak berselang lama kemudian, hujan deras mengguyur kawasan benteng pertahanan Panjalu di timur Pakuwon Bedander.


Masih dalam suasana gembira karena baru saja memenangkan pertempuran melawan para prajurit Jenggala, para prajurit Panjalu terus berbenah diri untuk kembali ke Kotaraja Kadiri. Para prajurit yang terluka teratur mendapatkan perawatan dari para tabib prajurit yang bertugas sebagai penjaga kesehatan para prajurit. Sedangkan yang sehat, mengasah kembali senjata mereka masing-masing sebelum pulang ke Ksatrian Kadiri.


Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga serta Dyah Kirana duduk bersila bersama para punggawa prajurit Panjalu yang telah bertaruh nyawa di medan laga di balai utama benteng pertahanan ini. Mereka semua saling berbincang hangat tentang banyak hal saat dua orang prajurit penjaga merpati surat datang menghadap dengan membawa seekor merpati pos putih yang di kaki nya terikat sebuah kain putih.


"Mohon ampun Gusti Pangeran jika kami mengganggu.


Kami menangkap seekor burung merpati surat yang tidak biasa. Ini sepertinya tidak di kirim dari ibukota tapi oleh seseorang yang mengetahui tempat ini", ujar sang prajurit penjaga merpati surat itu dengan penuh hormat. Dia segera melepas kain berwarna putih yang terikat di kaki burung merpati surat dan menghaturkan nya dengan kedua tangan.


Tumenggung Ludaka segera mengambil surat itu dan menyerahkannya pada Panji Tejo Laksono.


Segera Panji Tejo Laksono menerima surat yang ditulis pada selembar kain putih itu. Mata Panji Tejo Laksono melebar ketika melihat isi tulisan yang tertera di dalam surat ini.


Luh Jingga yang penasaran melihat perubahan air muka sang suami buru-buru bertanya kepada nya, "Ada apa Kangmas Pangeran? Kenapa kau terlihat tidak suka dengan isi surat nya?"


Panji Tejo Laksono tak menjawab pertanyaan tersebut namun sang pangeran tertua di Kerajaan Panjalu itu segera mengulurkan surat yang ada di tangan nya pada Luh Jingga. Buru-buru Luh Jingga membuka lembaran kain putih itu. Diatasnya jelas tertulis,


"Bahaya besar bergerak ke Daha. Bantulah Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, Kangmas.


Panji Manggala Seta'

__ADS_1


__ADS_2