
Begitu suara berat itu selesai menebar ancaman, tiba-tiba sekumpulan angin berputar cepat membentuk pusaran angin yang menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di sekitar tempat itu. Perlahan dedaunan kering ini seolah membentuk suatu tubuh yang selanjutnya memunculkan sosok seorang lelaki tua bertubuh kekar berjanggut putih panjang dengan pakaian serba putih seperti seorang pertapa namun mengenakan ikat rambut yang indah diatas kepalanya.
Kemunculan pria tua ini tentu saja membuat Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya terperangah sesaat sebelum mereka menyadari bahwa sosok kakek tua renta itu pasti ada hubungannya dengan Hutan Larangan yang mereka lewati.
Bersamaan dengan munculnya sosok lelaki tua itu, angin kencang yang menderu membawa debu dan dedaunan kering langsung berhenti seketika.
Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari kudanya diikuti oleh Song Zhao Meng, Dyah Kirana dan Ki Jatmika. Mereka berempat pun segera berjalan mendekati sosok lelaki tua berjanggut putih panjang itu.
"Maaf Resi..
Aku ingin tahu sebabnya kenapa kau menghentikan perjalanan kami? Apa ada sesuatu yang salah yang sudah kami lakukan?", tanya Panji Tejo Laksono sambil sedikit membungkukkan badannya pada sosok berpakaian serba putih layaknya seorang pertapa itu sebagai tanda penghormatan kepada nya.
Belum sempat Panji Tejo Laksono melontarkan pertanyaan susulan, tiba-tiba saja kakek tua itu segera melesat cepat kearah nya sambil mengayunkan tongkat kayu hitam dengan kedua tangan ke arah kepala sang pangeran muda.
Whhhuuuuuuuutttttth!
Panji Tejo Laksono pun langsung berkelit lincah menghindari gebukan tongkat kayu hitam itu. Namun si kakek tua renta itu segera merubah gerakan tubuhnya dengan cepat. menggunakan ujung tongkatnya sebagai tumpuan, dia segera layangkan tendangan keras kearah dada Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera angkat tangan kiri nya untuk melindungi dadanya dari tendangan keras si kakek tua renta itu.
Whhuuuuuuuggggh
Dhhaaaassshhh!!! dhasshhh!!
Kerasnya tendangan kaki si kakek tua itu langsung membuat Panji Tejo Laksono tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Ini membuktikan bahwa kakek tua itu memiliki kemampuan beladiri yang tidak bisa di anggap enteng.
Song Zhao Meng, Dyah Kirana dan Ki Jatmika hendak menerjang maju ke arah kakek tua renta itu namun teriakan keras dan hadangan tangan kiri dari Panji Tejo Laksono langsung menghentikan langkah mereka.
"Jangan maju..
Dia bukan lawan kalian semua. Mundur!!"
Meski dengan sedikit perasaan tidak enak, ketiganya segera mundur beberapa tombak ke belakang. Sementara itu Panji Tejo Laksono langsung mempersiapkan diri untuk bertarung melawan kakek tua itu.
Melihat lawannya sudah mempersiapkan diri, si kakek tua itu kembali menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Kali ini ujung tongkatnya yang berbentuk kepala burung Garuda di lambari cahaya putih kebiruan yang memancarkan hawa panas menyengat, langsung di hantamkan kearah dada Panji Tejo Laksono.
Secepat kilat, cahaya kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono hingga saat ujung tongkat kayu hitam berukir kepala burung Garuda itu menghantam, tubuh Panji Tejo Laksono telah berwarna kuning keemasan.
Bhhhuuuuuuggggh...
Thhraaaangggggggg!!!
Ujung tongkat kayu hitam itu segera mental saat menyentuh kulit sang pangeran muda dari Kadiri. Bukannya marah karena serangannya mudah untuk dihadapi, kakek tua itu justru tersenyum lebar ketika melihat itu semua.
Sedangkan Panji Tejo Laksono sendiri langsung terdorong mundur 4 langkah ke belakang walaupun tubuhnya tidak cedera sama sekali.
Hemmmmmmm..
'Kakek tua ini hebat. Tenaga nya 4 tingkat lebih tinggi di atas ku. Kalau saja aku terlambat menggunakan Ajian Tameng Waja, pasti aku akan tewas terkena hantaman ujung tongkatnya. Aku harus berhati-hati saat menghadapi nya', batin Panji Tejo Laksono.
Kembali kakek tua itu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Kali ini, dia menggunakan tangan kanan nya setelah tongkat kayu hitam itu dipindahkan ke tangan kiri. Secepat kilat dia segera menghantamkan kepalan tangannya yang berselimut asap putih tipis ke arah Panji Tejo Laksono. Pada awalnya Panji Tejo Laksono tidak melihat sesuatu yang aneh dengan serangan kakek tua itu yang lebih mirip dengan pukulan biasa. Namun saat kepalan tangan kanan kakek tua renta itu hendak menyentuh kulit sang pangeran muda yang dilapisi oleh cahaya kuning keemasan, tiba-tiba saja kepalan tangannya membesar hingga puluhan kali lipat.
"Ajian Mundri Sasongko Jati..
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!!!"
Panji Tejo Laksono yang melihat perubahan ini terkejut bukan main dan dengan cepat menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada.
__ADS_1
Dhhiiieeeeesssshhh..
Shhrrrrraaaaaaaaaaaaaaaakkkkkh!!
Panji Tejo Laksono langsung terpental jauh ke belakang. Tubuhnya terus tersurut mundur hingga sepuluh tombak jauhnya dari tempat awal dia berdiri.
Hoooeeeeggggh!!
Sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung muntah darah segar. Meskipun dia sempat bertahan, namun nyatanya dia yang kalah tingkat tenaga dalam harus mengakui keunggulan dari lelaki tua berjanggut putih panjang itu. Mata sang pangeran muda ini berkilat kesal menahan rasa amarah. Segera dia mengusap sisa darah segar yang ada di sudut bibirnya.
"Baiklah Kakek tua...
Kau ingin bertarung serius melawan ku? Aku juga tidak mau kalah begitu saja...!!!", setelah berkata seperti itu, mata Panji Tejo Laksono terpejam rapat sesaat sebelum terbuka dan tangan kanannya merogoh sesuatu di udara terbuka. Tiba-tiba saja, ada retakan yang muncul di udara dan Panji Tejo Laksono merogoh sesuatu di dalam sana.
Ya, sang pangeran muda dari Kadiri itu ingin bertarung melawan kakek tua itu dengan menggunakan Pedang Naga Api nya. Saat Panji Tejo Laksono hendak mencabut Pedang Naga Api dari sarungnya, terdengar suara tawa dari mulut kakek tua itu.
"Hehehehe...
Tidak salah lagi. Kau memang cucu ku meski kita tidak segaris keturunan. Tapi kau memiliki darah Eyang Lokapala", ujar kakek tua sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda sedikit mengernyitkan keningnya mendengar ucapan dari kakek tua berjanggut putih panjang itu.
"Kalau kau memang kakek ku, lantas kenapa kau menyerang ku tadi, Resi?".
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Panji Tejo Laksono, kakek tua itu mengusap cuping hidung nya sebelum berbicara.
"Aku hanya ingin semua keturunan Lokapala selamat saat melewati pusat Hutan Larangan ini saja. Ah akhirnya aku bisa melihat keturunan ku kembali rukun seperti ini", ujar si lelaki tua berjanggut putih panjang itu sembari tersenyum lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana yang berdiri beriringan.
"Cucu? Apa maksud mu Resi? Aku sama sekali tidak memahaminya ", Panji Tejo Laksono menatap lekat wajah lelaki tua itu segera. Berjuta pertanyaan melintas di dalam kepalanya.
"Hehehehe...
Semua orang langsung menoleh ke arah Dyah Kirana. Permaisuri Ketiga Panji Tejo Laksono itu pun sontak kebingungan dengan ucapan Resi Gentayu.
"Maaf Resi, jika berpatokan pada cerita Romo Resi Ranukumbolo, Dyah Kirana adalah putri dari Maharaja Mapanji Alanjung Ahyes, cucu dari Maharaja Mapanji Garasakan. Kalau buyutnya berarti Maharaja Prabu Airlangga. Setahu ku, Maharaja Prabu Airlangga telah moksa puluhan tahun silam.
Kalau seandainya Resi Gentayu mengaku sebagai buyut Dyah Kirana, apakah itu artinya Resi adalah kerabat dari isteri Maharaja Mapanji Garasakan?", Panji Tejo Laksono menatap wajah tua Resi Gentayu yang terlihat teduh dan hangat.
Mendengar pertanyaan itu, Resi Gentayu tersenyum lebar.
"Apalah arti sebuah nama, Pangeran Panji Tejo Laksono..", ucap Resi Gentayu perlahan. Panji Tejo Laksono terkejut bukan main mendengar Resi Gentayu dengan gamblang menyebutkan nama aslinya. Dia yang tidak pernah merasa mengenal sang Resi tua itu maupun pernah menyebutkan nama aslinya di hadapan orang tua itu pun langsung sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang pendeta sakti mandraguna yang wruh sajroning winarah.
"Airlangga sudah mati saat dia memutuskan untuk menjadi seorang pertapa, Pangeran.. Saat kedua putranya memutuskan untuk berperang agar menguasai wilayah yang menjadi bagian saudara nya, dia sudah mati untuk kedua kalinya.
Yang ada hanya Rsi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Buwana.
Karena aku lebih suka dekat dengan rakyat jelata, mereka memberikan nama lain untuk ku yaitu Resi Gentayu, Pangeran Panji Tejo Laksono".
Seketika semua orang yang ada di tempat itu langsung terkejut bukan main. Mereka berempat sadar bahwa saat ini sosok yang berdiri di hadapannya adalah sosok raja besar yang punya nama besar di seluruh dunia, Maharaja Airlangga. Panji Tejo Laksono dan semua orang segera berlutut dan menyembah pada Resi Gentayu.
"Sembah bakti kami kepada Gusti Rsi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Buwana", ucap Panji Tejo Laksono sembari menunduk hormat kepada kakek tua berjanggut panjang itu.
"Hehehe...
Bangunlah cucu-cucu ku. Tidak perlu bersopan santun seperti itu. Kalian hanya boleh menyembah pada sang Maha Pencipta Semesta. Aku hanya wujud yang tidak berjasad, jadi tidak layak lagi untuk menerima penghormatan seperti ini", Resi Gentayu tersenyum lebar.
"Wujud yang tidak berjasad?
__ADS_1
Apa maksud mu Eyang Buyut? Aku sama sekali tidak mengerti..", tanya Panji Tejo Laksono setelah mereka berdiri dari tempat menyembah nya.
"Hehehehe..
Seperti yang kalian tahu bahwa Rsi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Buwana sudah moksa puluhan tahun silam. Ini hanya wujud kesadaran ku yang tersisa selama masih ada yang memberangkatkan langkah ku.
Dengarkan aku bicara, Pangeran Panji Tejo Laksono dan kau Dewi Chandrakirana..
Dari keturunan kalian kelak, aku akan menitis. Karena kalian berdua adalah titisan Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih, maka kalian lah yang akan menyaksikan kelahiran ku kembali. Saat nanti aku kembali dalam bentuk manusia, saat itu akan menyatukan kembali wilayah Kerajaan Panjalu dan Jenggala yang terpecah menjadi satu kesatuan yang utuh seperti saat aku memerintah", ucap Resi Gentayu sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana bergantian.
"Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami, Eyang Buyut..", ucap Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana bersamaan.
"Satu lagi..
Aku akan mewariskan satu ajian pamungkas yang aku miliki untuk mu Pangeran Panji Tejo Laksono. Semoga dengan menguasai Ajian Mundri Sasongko Jati ini, kelak kau mampu menjadi seorang raja yang adil dan bijaksana dalam memimpin rakyat Panjalu selanjutnya", imbuh Resi Gentayu segera.
"Saya akan patuh pada pesan Eyang Buyut", Panji Tejo Laksono menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada dan menunduk hormat kepada Resi Gentayu.
Tangan tua Resi Gentayu segera terulur ke arah kepala sang pangeran muda dari Kadiri. Tiba-tiba saja cahaya putih yang menyilaukan mata muncul di telapak tangan Resi Gentayu yang segera menyebar cepat ke seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
Hawa panas yang keluar dari telapak tangan Resi Gentayu langsung membuat Panji Tejo Laksono meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat seperti seluruh tubuh nya hendak hancur lebur. Keringat dingin mengucur deras dari seluruh pori-pori kulit sang pangeran muda hingga bajunya pun basah oleh keringat yang bercucuran.
Selepas Ajian Mundri Sasongko Jati bersatu dengan tubuh Panji Tejo Laksono, Resi Gentayu segera melepaskan tangannya dari atas kepala Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda langsung menarik nafas dalam-dalam untuk menata kembali jalan nafas dan nadi nya.
"Eyang Buyut, tubuh mu...!!", Dyah Kirana menutupi mulutnya saat melihat perlahan tubuh bawah Resi Gentayu mulai menghilang.
"Aku sudah menunaikan kewajiban ku, wahai para keturunan ku..
Ingatlah baik-baik apa yang telah aku katakan. Satu lagi pesan ku, setelah pergi dari tempat ini jangan pernah menoleh ke belakang walau apapun yang terjadi..", begitu suara terakhir Resi Gentayu terdengar, saat itu juga seluruh wujud Resi Gentayu menghilang dari pandangan mata semua orang.
Panji Tejo Laksono pun menghela nafas berat sembari berkata, "Sekali lagi terimakasih banyak Eyang Buyut.
Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini. Ingat semua petuah bijak dari Eyang Buyut kalau kita ingin selamat melewati hutan ini. Ayo kita berangkat...!!".
Panji Tejo Laksono segera melompat ke atas punggung kuda tunggangan nya. Begitu juga dengan Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng. Mereka segera memacu kuda mereka melintasi jalan yang mulai berkabut ini.
Di belakang mereka muncul suara suara aneh yang sangat menggangu. Ada suara orang berteriak kesakitan, ada suara seram seperti hantu yang sedang memangsa manusia dan suara orang berteriak minta tolong.
"Jangan hiraukan!! Pacu kuda kita secepat mungkin!!", teriak Panji Tejo Laksono yang memimpin rombongan di depan. Song Zhao Meng dan Dyah Kirana pun patuh pada perintah Panji Tejo Laksono dan keduanya terus memacu kuda mereka melintasi jalan berkabut ini.
Dari arah depan, terlihat bahwa pinggiran hutan lebat angker itu sudah dekat.
Ki Jatmika yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya pun segera menoleh ke belakang. Tiba-tiba saja dari kegelapan yang ada di belakang tubuhnya muncul ratusan tangan penuh kuku tajam menyambar tubuh dan kudanya. Tangan-tangan mengerikan itu langsung menarik tubuh Ki Jatmika ke dalam kegelapan yang menakutkan ini.
"To-tolong aku Pangeran Panji Tejo Laksono...", teriak Ki Jatmika sembari meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan tangan hitam yang menariknya.
"Kangmas Pangeran, itu i-itu suara Ki Jatmika minta tolong Kangmas..", ucap Dyah Kirana yang terus menggebrak kuda nya di samping Panji Tejo Laksono.
"Biarkan saja! Jangan hiraukan, Dinda Kirana!! Sebentar lagi kita keluar dari dalam Hutan Larangan ini!!", ucap tegas Panji Tejo Laksono sembari terus memacu kuda tunggangan nya.
Saat kuda mereka melewati tepi hutan angker ini, Panji Tejo Laksono langsung menghentikan langkah kaki kuda nya dan menoleh ke arah belakang. Ki Jatmika telah menghilang. Panji Tejo Laksono langsung menghela nafas panjang.
"Dia sudah melanggar pantangan yang di berikan oleh Eyang Buyut Resi Gentayu rupanya..", ujar Panji Tejo Laksono yang membuat Dyah Kirana dan Song Zhao Meng bersyukur dalam hati telah patuh pada perintah Panji Tejo Laksono dan selamat melewati Hutan Larangan. Andai saja mereka ikut berupaya untuk menolong Ki Jatmika, mungkin mereka pun akan menjadi penghuni Hutan Larangan yang merupakan salah satu kerajaan siluman yang ada di wilayah Kerajaan Jenggala.
Dengan cepat, Panji Tejo Laksono meraih tali kekang kiri kuda tunggangan nya hingga kuda itu segera berputar ke arah kiri. Sebelum menggebrak kuda tunggangan nya, Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana sembari berkata,
"Mari kita lanjutkan perjalanan..!!"
__ADS_1