Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Dewi Lembah Wilis 2


__ADS_3

Dengan gerakan tubuh yang lemah gemulai seperti seorang penari, Dewi Lembah Wilis menyambut serangan sang lelaki bertubuh gempal dengan muka codet itu.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Dua kali tebasan golok besar si lelaki muka codet yang mendapat julukan sebagai Burisrawa ini dapat dimentahkan dengan mudah oleh Dewi Lembah Wilis. Perempuan cantik berbaju hijau muda ini menarik ujung pedangnya, menekuk lutut kiri dan memutar tubuhnya dengan cepat. Bersamaan dengan itu, gerak tebasan pedang memutar langsung menerjang ke arah Burisrawa.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Burisrawa terperanjat melihat kecepatan Dewi Lembah Wilis yang berubah drastis. Ini adalah jurus ke sembilan dari Ilmu Pedang Tarian Badai Laut Selatan. Lelaki bertubuh gempal itu berupaya mundur sembari menangkis sabetan pedang cepat Dewi Lembah Wilis.


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Brreeeeettttthhh!!


Aaauuuuggggghhhhh..!!!


Burisrawa menjerit keras saat tebasan pedang Dewi Lembah Wilis tak sempat lagi di tangkis hingga menebas satu lengan kiri nya hingga putus. Darah segar langsung muncrat keluar dari luka potong di lengan kiri Burisrawa yang buntung.


Dengan cepat, Burisrawa menotok beberapa jalan darah nya hingga pendarahan nya terhenti. Mata sang pimpinan perampok kondang di kaki selatan Gunung Wilis ini menatap tajam ke arah perempuan cantik berbaju hijau muda itu.


"Dewi Lembah Wilis!!


Selamanya namamu akan ku ingat! Suatu saat nanti, aku akan balas dendam!!", teriak Burisrawa lantang. Lelaki bertubuh gempal itu segera melemparkan sebuah bola kecil berwarna hitam ke arah Dewi Lembah Wilis.


Whhhuuutthh!!


Melihat lawannya melemparkan sesuatu ke arah nya, Dewi Lembah Wilis segera tarik tapak tangan kiri nya dan dengan cepat menghantam ke arah bola hitam kecil yang di lemparkan oleh Burisrawa.


Blllaaaaaarrr!!


Ledakan kecil terdengar saat bola hitam kecil itu terkena hantaman tenaga dalam Dewi Lembah Wilis. Asap tebal hitam langsung menyebar ke seluruh tempat itu. Khawatir asap ini beracun, Dewi Lembah Wilis langsung melompat mundur agar tidak menghisap asap hitam ini.


Namun saat asap tebal hitam itu menghilang, Burisrawa dan para anak buahnya sudah tidak ada di tempat itu.


Hemmmmmmm....


"Dasar bajingan!!


Mereka kabur rupanya. Tapi setidaknya para pengganggu itu sudah pergi. Aku harus segera meneruskan perjalanan ku ke Daha. Waktu yang di janjikan sudah dekat, aku tidak boleh berlama-lama di tempat ini", gumam Dewi Lembah Wilis seraya memasukkan pedang ke sarungnya lalu menepuk-nepuk bajunya dari debu yang menempel.


Perempuan cantik berbaju hijau muda ini menghirup nafas panjang sebelum akhirnya melesat cepat kearah timur. Gerakannya tubuhnya begitu ringan hingga dia seperti layaknya seorang dewi yang terbang di atas jalanan.


Selepas keluar dari dalam hutan yang menjadi sarang kelompok perampok Burisrawa dan kawan-kawan nya, Dewi Lembah Wilis terus bergerak cepat menuju ke arah timur.


Hampir setengah hari perjalanan, Dewi Lembah Wilis sampai di tepi sebuah rawa yang cukup luas dengan pemandangan yang cukup indah. Banyak pencari ikan yang sedang berupaya untuk mencari penghidupan dengan memasang bubu ataupun menjala ikan di rawa yang terhubung dengan Kali Gondang ini.


Perut Dewi Lembah Wilis yang mulai keroncongan karena tadi pagi hanya sarapan sedikit, di tambah lagi baru saja melakukan pertarungan dan perjalanan jauh membuat perempuan cantik itu segera hentikan langkah. Sebuah warung makan kecil yang terletak tak jauh dari tepi rawa ini langsung menjadi tujuan nya. Ada beberapa orang yang sedang menikmati makanan di tempat itu. Dewi Lembah Wilis melangkahkan kakinya kesana.


Seorang lelaki paruh baya terlihat sibuk menata nasi dan lauk diatas pincuk daun jati. Sepertinya dia adalah pemilik warung makan kecil itu. Dewi Lembah Wilis segera mendekatinya.


"Pak tua, tolong berikan aku makanan. Apa saja yang penting bisa mengenyangkan perut ku", ucap Dewi Lembah Wilis sembari tersenyum tipis.


"Sabar Nisanak..


Tunggu dulu sebentar. Biarkan aku menyelesaikan pesanan mereka ", ujar lelaki bertubuh sedikit kurus ini sembari dengan cekatan menusukkan lidi ke daun jati yang di gunakan untuk membungkus makanan itu.


Mendengar jawaban itu, Dewi Lembah Wilis mengangguk mengerti dan memilih untuk duduk di sebuah dipan kecil yang tak jauh dari tempat kakek tua itu bekerja.


Rampung menyelesaikan pesanan para pelanggan nya, si pemilik warung makan itu segera mengambil piring makan yang terbuat dari tanah liat. Setelah memberinya alas daun pisang, lelaki itu segera menaruh nasi dan dua ekor ikan lele yang sudah di masak dengan kuah santan kental juga beberapa lembar daun kemangi dan timun yang diiris tipis-tipis.


Baru saja si pemilik warung makan ini hendak mengantar makanan pada Dewi Lembah Wilis, beberapa orang lelaki bertubuh kekar mendekati nya dan dengan cepat merampas piring makan yang hendak di berikan pada Dewi Lembah Wilis.

__ADS_1


"Hei Kisanak, itu untuk Nisanak yang ada di sana..", ujar si pemilik warung makan itu segera.


"Aaah aku tidak peduli. Aku mau makan sekarang jadi kau tidak usah banyak bicara. Cepat buatkan lagi sama..!!", ujar lelaki yang merebut piring makan itu sembari mendorong tubuh si pemilik warung makan hingga dia terjengkang ke belakang.


Dengan cepat, Dewi Lembah Wilis menaikkan kaki kanan nya hingga lelaki tua itu tidak jadi jatuh ke tanah.


"Yang sopan kepada orang yang lebih tua, Kisanak! Kau sudah merebut makanan orang tapi masih bersikap kasar pada pemiliknya.


Dasar manusia tidak tahu diuntung!!", ucap Dewi Lembah Wilis yang kurang suka dengan sikap lelaki bertubuh kekar itu.


"Wah wah wah, rupanya ada bidadari yang lewat tempat ini rupanya.


Kau pasti bukan orang sini ya? Kalau kau orang sini, pasti kau tidak akan berani untuk bicara macam-macam dengan ku Prakoso, anak Lurah Mpu Wijil, penguasa daerah sini", ujar lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis itu segera.


"Aku tidak peduli kau anak Lurah atau Akuwu sekalipun! Apa ini cara anak pejabat negara bersikap pada rakyat jelata ha?", Dewi Lembah Wilis mendelik kereng pada Prakoso, seakan tidak takut sedikitpun pada pria itu.


"Kau...."


"Ndoro Prakoso, tolong jangan di perpanjang masalah ini. Hamba mohon jangan buat keributan di tempat usaha hamba ini Ndoro..


Nisanak, mohon tenanglah! Saya mohon agar Nini tidak meributkan hal kecil seperti ini. Untuk kali ini saya akan memberikan makanan kepada kalian cuma-cuma. Tapi saya mohon kalian berdua tidak ribut di tempat ini", ujar si pemilik warung makan itu yang mulai melihat gelagat panas dalam adu mulut antara Dewi Lembah Wilis dan Prakoso.


Seorang lelaki muda yang sedari tadi hanya diam saja sambil memperlihatkan situasi menyadari bahwa Dewi Lembah Wilis adalah seorang pendekar dari cara dia menahan tubuh si pemilik warung makan. Saat Prakoso yang masih ingin meneruskan pertengkaran dengan Dewi Lembah Wilis, si lelaki bertubuh kekar itu segera menarik lengan Prakoso dan berbisik di telinga anak Lurah Mpu Wijil itu.


"Gadis ini adalah seorang pendekar, Prakoso. Dia seperti memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Kalau sampai kalah beradu ilmu beladiri disini, kau tidak akan punya muka lagi dengan para penduduk disini", ujar si lelaki muda yang bernama Setawarma ini.


Prakoso melirik ke arah Dewi Lembah Wilis sebentar lalu mengangguk mengerti.


"Baiklah Ki..


Karena aku menghormati mu, maka aku akan menahan diri untuk memberi pelajaran pada perempuan lancang ini.


Hai perempuan brengsek, kalau kau memang jagoan, aku tunggu kau di tapal batas timur Wanua Wanarawa ini", setelah berkata demikian, Prakoso pun segera berlalu meninggalkan tempat itu dengan menaiki kuda nya. Setawarma dan beberapa orang pengikut Prakoso pun segera mengikuti langkah anak lurah Wanua Wanarawa ini.


"Nisanak, sebaiknya kau tidak usah lewat tapal batas timur. Prakoso dan kawan-kawan nya itu suka kejam menindas orang. Sebaiknya Nisanak lewat jalan memutar saja", ujar si pemilik warung makan sembari mengulurkan piring makanan ke Dewi Lembah Wilis.


"Tidak apa-apa Ki..


Kalau ambil jalan memutar, aku bisa menunda waktu ku untuk sampai di Kotaraja Kadiri. Ada yang mau ku lakukan disana. Jadi kalau harus menghadapi tantangan Prakoso, rasanya aku masih sanggup. Aki tenang saja", ujar Dewi Lembah Wilis sembari mulai menyuapkan makanan ke mulutnya karena perutnya yang keroncongan sudah berteriak meminta jatah.


Mendengar jawaban itu, si pemilik warung makan itu hanya menggelengkan kepalanya melihat keras kepala nya perempuan cantik berbaju hijau muda ini.


Selesai makan, Dewi Lembah Wilis membayar makanan nya sebesar 1 kepeng perak lalu segera melesat cepat kearah timur.


Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja, dia sudah sampai di tapal batas wilayah Wanua Wanarawa. Di depan sana, Prakoso, Setawarma dan kawan-kawan nya telah menunggu kedatangan Dewi Lembah Wilis.


"Ckckckckckckck...


Kau cukup berani juga, perempuan cantik. Begini saja, aku tidak tega untuk melukai mu. Bagaimana kalau kau menemani aku bermalam beberapa hari? Akan ku anggap semua ucapan mu tadi tidak pernah ada", seringai licik terukir di wajah Prakoso.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Melihat wajah mu yang mirip babi hutan itu saja sudah membuat ku jijik. Daripada harus menjadi budak nafsu mu, lebih baik ku habisi saja kroco kecil seperti kalian!!", tanpa menunggu lama lagi, Dewi Lembah Wilis segera melesat cepat kearah Prakoso.


Melihat itu, Prakoso gelagapan juga karena tidak menduga bahwa lawannya adalah pendekar berilmu tinggi. Saat hantaman tangan kanan Dewi Lembah Wilis mengarah ke kepala nya, Prakoso langsung menyilangkan kedua tangan nya ke depan kepala.


Dhhaaaassshhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Prakoso langsung terpental ke belakang saking kuatnya tenaga dalam yang di salurkan pukulan Dewi Lembah Wilis. Tubuh anak Lurah Wanua Wanarawa ini menghantam tanah dengan keras. Sementara itu, Setawarma dan kedua kawannya langsung melayangkan pukulan keras ke arah Dewi Lembah Wilis.


Whuuthhh whuuthhh whuuthhh!!

__ADS_1


Dari sudut matanya, Dewi Lembah Wilis melihat kedatangan serangan mereka. Dengan menjejak tanah keras, tubuh perempuan cantik itu melenting tinggi ke udara hingga serangan Setawarma dan kawan-kawan nya hanya mengenai udara kosong.


Dewi Lembah Wilis dengan cepat turun sembari melayangkan tendangan keras kearah kepala salah satu dari kawan Prakoso.


Dhhaaaassshhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Kawan Prakoso ini seketika terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Beberapa gigi nya tanggal. Usai Dewi Lembah Wilis menjejak tanah, Setawarma dan seorang kawannya langsung melompat ke arah perempuan cantik itu dari belakang sambil menghantamkan tangan mereka.


Dewi Lembah Wilis dengan santainya menekuk lutut hingga pukulan dua lelaki bertubuh kekar itu hanya menyambar udara kosong sejengkal di atas kepala nya. Lalu dengan sepenuh tenaga, Dewi Lembah Wilis mengayunkan sikutnya ke arah rusuk dua orang kawan Prakoso ini.


Dhhiiieeeeesssshhh dhhieesshhh!!


Oouuugghhhhhh!!!


Dua orang itu langsung meraung keras sambil terhuyung huyung mundur. Dewi Lembah Wilis pun segera merubah gerakan tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah mereka berdua.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Setawarma dan satu kawannya langsung terjungkal ke tanah dengan wajah lebih dulu. Keduanya langsung pingsan seketika.


"Kroco kecil..


Kalian hanya membuang waktu ku saja", ucap Dewi Lembah Wilis sembari melihat lawannya yang bertumbangan di tanah. Dia segera melangkah ke salah satu kuda yang di ikat pada semak belukar. Dewi Lembah Wilis segera naik ke atas kuda.


"Aku pinjam kuda kalian.. Kalau masih tidak terima, cari saja aku di Kotaraja Kadiri", ucap Dewi Lembah Wilis sembari menggebrak kuda itu ke arah timur laut.


Angin semilir yang berhembus perlahan mengiringi langkah kaki kuda menembus jalan raya menuju ke arah Pakuwon Gending yang terletak di Utara Kota Kadipaten Karang Anom.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, menjelang sore hari, Dewi Lembah Wilis sampai di tepi Sungai Kapulungan. Karena matahari senja sudah mulai tenggelam di ufuk barat, tidak ada lagi perahu penyeberangan yang bekerja hingga terpaksa Dewi Lembah Wilis bermalam di sebuah rumah warga yang tinggal dekat dermaga penyeberangan.


Malam itu, langit bertabur bintang gemintang yang indah. Bulan separuh yang menggantung di langit malam seakan ingin menenangkan Dewi Lembah Wilis yang sedang duduk di beranda rumah orang yang di tumpangi nya.


"Kakang Tejo Laksono...


Aku sudah memenuhi syarat yang kau inginkan. Sudah hampir 3 warsa kita tidak bertemu, apakah kau masih mengingat ku Kakang??"


*****


Ngiiiiiiinnnngggg ngggiiiiinggggg...


Panji Tejo Laksono menepuk-nepuk pelipis kiri nya karena telinga terus berdenging beberapa kali.


"Kau kenapa Kakang? Aku lihat dari tadi kau terus menepuk-nepuk pelipis mu..", tanya Song Zhao Meng yang keheranan melihat sikap aneh suaminya itu.


"Ah tidak apa-apa, Wulan..


Hanya saja telinga kiri ku terus berdenging beberapa kali sejak tadi", balas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Jangan jangan ada yang sedang membicarakan mu, Kangmas.. Apa itu Kangmbok Gayatri, Kangmbok Luh Jingga atau Kangmbok Ayu Ratna?", goda Dyah Kirana yang tersenyum penuh arti.


"Bisa jadi mereka..


Atau mungkin juga Kanjeng Romo Prabu Jayengrana atau pun Kanjeng Biyung Ratu Anggarawati. Ah, aku ingin segera bertemu dengan mereka", balas Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Song Zhao Meng tersenyum. Jujur saja, dia mulai merindukan suasana di Seloageng maupun di Kotaraja Daha.


"Lantas, kapan kita akan pulang ke Kadiri, Kakang? Apakah harus menunggu selesainya perbaikan tempat ini?", tanya Song Zhao Meng segera.


"Aku sudah berbincang dengan Romo Resi Ranukumbolo dan beliau pun tidak keberatan jika kita ingin meninggalkan tempat ini", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.


"Besok pagi,


Kita pulang ke Kadiri.."

__ADS_1


__ADS_2