Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Iblis Bukit Manoreh


__ADS_3

"Malam buta begini kalian datang? Apa tugas mu itu sangat mendesak?", tanya kepala regu prajurit penjaga gerbang kota Kadipaten Seloageng ini segera.


Haiiissshhhh...


"Kami ini hanya bawahan paling bawah. Bekerja pun harus patuh pada perintah pimpinan. Aku Wiromoyo, prajurit tua Kadipaten Anjuk Ladang. Terpaksa malam-malam begini datang ke Seloageng atas perintah ratu gusti ku untuk menyampaikan nawala pada Gusti Adipati Seloageng.


Sebenarnya aku harusnya berangkat dari Anjuk Ladang sama ayahnya Tanaya, keponakan ku ini. Tapi karena bapaknya sedang tidak enak badan, terpaksa aku mengajaknya sebagai teman seperjalanan", ucap lelaki paruh baya yang mengaku bernama Wiromoyo itu setengah mengeluh atas nasibnya sebagai orang suruhan.


"Baiklah kalau begitu..


Biar salah satu anak buah ku mengantar kalian ke Kepatihan Seloageng. Jalanan Kota Seloageng ini sedikit rumit, kalau bukan orang asli sini pasti tersesat. Oh iya Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono sedang ada urusan penting di Lodaya, dengar-dengar sih beliau akan menikahi seorang putri dari Penguasa Tanah Perdikan Lodaya. Daripada pulang tanpa hasil, sebaiknya kalian menemui Gusti Patih Sindupraja", saran si kepala regu prajurit penjaga gerbang kota ini.


"Waduh bagaimana ini? Perintah dari Gusti Adipati Sasrabahu, kami harus menyampaikan pesan ini langsung pada Gusti Adipati Seloageng loh..


Apa sebaiknya kami ke Lodaya saja?", Wiromoyo menggaruk kepalanya yang sudah sedikit botak. Rambutnya yang jarang berwarna putih penuh dengan uban. Selempang kain hitam dari bahan kain murahan menjadi pelindung tubuhnya dari dinginnya udara malam di perjalanan.


"Kalau itu mau kalian ya silahkan saja. Saran ku, lewati saja jalan ini lurus ke selatan. Di persimpangan jalan kalian belok kiri. Begitu masuk gapura Wanua Ranja, kalian bisa menyeberang Sungai Kapulungan lewat dermaga penyeberangan disitu. Selain murah, daerah itu juga aman dari kemungkinan ancaman begal", ucap sang kepala regu prajurit penjaga gerbang kota itu segera.


"Terimakasih atas petunjuk mu Gusti Prajurit..


Kami mohon pamit..", Wiromoyo membungkuk hormat kepada para prajurit penjaga gerbang kota Kadipaten Seloageng sebelum melompat ke atas pelana kuda tunggangan nya. Tanaya pun berbuat hal yang sama. Dua orang itu segera menggebrak kuda tunggangan mereka masing-masing ke arah selatan sesuai dengan petunjuk si kepala regu prajurit.


Pria bertubuh gempal dengan kumis tipis itu menggeleng melihat sikap para utusan dari Anjuk Ladang ini.


"Dasar orang orang nekat...", ucapnya sambil kembali ke tempat nya berjaga di pos jaga gerbang Kota Seloageng.


Malam yang dingin terus merangkak naik. Cahaya redup sang bulan yang tergelincir di arah barat masih menerangi seluruh jagat raya. Burung burung malam sesekali berbunyi dari balik ranting pohon. Suara dering jangkrik dan belalang bersahutan semakin menambah suasana sepi yang mencekam.


Pada awal awal musim kemarau ini, hawa dingin melanda seluruh wilayah Kerajaan Panjalu. Orang tua menyebutnya sebagai bediding yang artinya musim dingin yang teramat sangat. Ini biasanya di tandai dengan mekarnya bunga pohon randu yang menjadi bahan pelapis ranjang tidur para bangsawan dan orang orang kaya juga para saudagar. Bau harum semerbak wangi dari bunga ini bisa membuat ciut nyali orang yang penakut.


Itu juga berlaku pada Tanaya. Meskipun tubuhnya besar, tapi nyali keponakan Wiromoyo ini memang kecil. Malam ini begitu mereka sampai di dermaga Wanua Ranja, terpaksa mereka bermalam di depan sebuah warung makan yang sudah tutup karena penyeberangan ke Lodaya berakhir setelah matahari terbenam dan baru di buka esok pagi.


"Paman Moyo,


Kenapa sih kita harus capek-capek menyusul Adipati Seloageng ke Lodaya? Bukankah ada Patih yang menjalankan tugas sebagai warangka praja untuk menggantikan nya?", tanya Tanaya sembari melemparkan potongan kayu ke perapian yang mereka gunakan untuk menghangatkan badan.


"Ini tugas langsung dari Gusti Adipati Sasrabahu, Naya..


Beliau berpesan kepada ku agar memberikan surat ini langsung pada Adipati Seloageng. Mungkin isinya sangat rahasia jadi hanya boleh dibuka langsung oleh yang bersangkutan", jawab Wiromoyo yang mendekatkan tubuhnya ke perapian. Hawa dingin bediding kembang randu ini begitu menyiksa tubuhnya yang mulai renta.


"Apa ini ada kaitannya dengan Iblis Bukit Manoreh yang membuat kekacauan di perbatasan wilayah Anjuk Ladang dengan Lewa, Paman?", kembali Tanaya bertanya.


"Mana ku tahu. Isi suratnya aku sama sekali tidak tahu, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu, Naya..", Wiromoyo cuek saja.


"Bagaimana kalau kita buka saja Paman? Daripada penasaran dengan isi suratnya. Toh Adipati Seloageng juga tidak akan tahu kalau kita sudah membaca isinya", usul Tanaya kemudian.


Bukannya senang dengan pendapat Tanaya, Wiromoyo justru malah mendelik kereng pada keponakannya itu.


"Dasar sinting!!

__ADS_1


Aku menjadi utusan Gusti Adipati Anjuk Ladang bukan setahun dua tahun saja, Naya dan sekalipun aku tidak pernah mencoba untuk mengetahui setiap surat yang dikirim oleh beliau kepada orang yang di tuju. Ini adalah bentuk kesetiaan ku pada amanat yang di berikan kepada ku jadi aku pun rela jika harus kehilangan nyawa untuk mempertahankan nya.


Kau sungguh mengecewakan ku!!!", sungut Wiromoyo yang seketika membuat Tanaya langsung ciut nyali.


"Iya-iya Paman, maaf. Begitu saja kog marah. Ini kan sebatas usul saja...", balas Tanaya sedikit takut pada sikap sang paman.


"Huhhhhh..


Dasar tidak setia. Sekarang kau cepat tidur! Kalau sampai kau terlambat bangun, akan ku tinggal kau disini", hardik Wiromoyo yang segera menutup tubuhnya dengan selimut kain hitam itu dan memejamkan mata. Tanaya pun segera berbuat hal yang sama, takut jika sang paman sampai hati meninggalkan nya di tempat itu.


*****


"Sudah beres semuanya, Kangmas Pangeran. Baju kotor sudah ku cuci. Sarapan mu juga ku siapkan di atas meja. Halaman depan juga sudah ku sapu bersih.


Sekarang aku mau istirahat sebentar..", Rara Kinanti menekuk pinggang nya ke kiri dan kanan. Tubuhnya begitu letih setelah sejak pagi buta hingga matahari sepenggal naik di langit timur mulai melakukan pekerjaan yang tidak pernah dia kerjakan seumur hidupnya. Sudah 2 hari dia melakukan hal ini jadi dia sudah sedikit terbiasa dan sikap manja nya nyaris tak terlihat lagi.


Endang Patibrata menatap wajah cantik Rara Kinanti dengan penuh rasa kasihan sedangkan Panji Tejo Laksono justru mengerutkan keningnya pertanda sedang berpikir keras.


"Ada apa Kangmas Pangeran? Apa ada yang salah dengan pekerjaan ku?", Rara Kinanti yang penasaran karena Panji Tejo Laksono tidak segera menjawab laporan nya buru-buru bertanya.


"Sepertinya aku ingin minum air kelapa muda hijau. Kau carikan aku ya? Aku tunggu sekarang", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Huuuuffffffffff baiklah aku berangkat cari Kangmas Pangeran..", dengan langkah gontai Rara Kinanti menuju ke arah pintu keluar Keputran Lodaya. Endang Patibrata langsung mendatangi suaminya itu begitu Rara Kinanti menghilang di balik pintu.


"Apa Kangmas Pangeran tega terus memperlakukan Kinanti dengan sikap seperti itu? Apa Kangmas tidak kasihan?", tanya Endang Patibrata segera.


Keduanya segera sarapan pagi bersama. Begitu rampung, seorang prajurit penjaga gerbang Keputran Lodaya mendekat. Dia segera membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono sebelum berbicara.


"Mohon ampun bila mengganggu sarapan pagi Gusti Adipati..


Ada dua orang yang mengaku sebagai utusan dari Anjuk Ladang ingin bertemu dengan Gusti Pangeran. Apa mereka perlu menunggu sebentar lagi atau langsung hamba antar kemari?"


Hemmmmmmm...


'Utusan Anjuk Ladang? Kenapa tiba-tiba saja ada utusan dari tempat itu mencari ku? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Aku harus segera mengetahui nya'


"Antar mereka masuk...", perintah Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", sang prajurit menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, dia datang bersama dengan Ki Wiromoyo dan Tanaya. Bersamaan dengan itu, Rara Kinanti datang sambil menenteng dua kelapa muda.


Begitu Wiromoyo dan Tanaya sudah duduk bersila di lantai serambi Keputran Lodaya, Panji Tejo Laksono yang juga sudah duduk di sana segera mengangkat tangan kanannya.


"Aku dengar dari penjaga, kalau kalian utusan dari Anjuk Ladang mencari ku.


Ada kepentingan apa hingga kalian sampai menyusul ku kemari?", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, Wiromoyo segera menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Hamba Wiromoyo dan ini Tanaya keponakan hamba.


Kami berdua adalah utusan dari Gusti Kanjeng Adipati Sasrabahu dari Anjuk Ladang. Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan nawala pada Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", setelah berkata seperti itu, Wiromoyo menghaturkan bungkusan kain berwarna merah yang berisi lembaran daun lontar dengan kedua tangannya. Endang Patibrata segera mengambilnya dan memberikannya pada Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Panji Tejo Laksono langsung membuka bungkus surat itu dan membaca kata-kata yang tertera di atas lembaran daun lontar ini. Wajah Panji Tejo Laksono berubah keruh usai membaca kata-kata Adipati Sasrabahu. Usai menghela nafas panjang, dia kemudian berbicara.


"Katakan pada ratu gusti mu bahwa masalah nya akan segera ku bereskan. Begitu selesai, aku sendiri yang akan datang ke Anjuk Ladang", titah Panji Tejo Laksono segera.


"Baik Gusti Pangeran Adipati. Segala titah dari Gusti akan kami sampaikan kepada junjungan kami. Kalau begitu, perkenankan kami untuk mohon diri", Wiromoyo segera menghormat diikuti oleh Tanaya. Keduanya segera bergegas meninggalkan tempat itu.


Rara Kinanti yang datang membawa 2 kelapa muda dari belakang, langsung meletakkan nampan yang berisi pesanan Panji Tejo Laksono itu di samping sang pangeran.


Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah nya dengan cepat.


"Kinanti, katakan pada Paman Pangeran Arya Tanggung bahwa aku meminta agar pernikahan kita di laksanakan esok hari. Aku tidak mau menunda lagi", ucap Panji Tejo Laksono yang seketika membuat wajah Rara Kinanti yang terlihat lelah langsung menjadi segar kembali.


"Be-benarkah ini Kangmas Pangeran?


Akhirnya tidak sia-sia pengorbanan ku untuk mendapatkan maaf dari mu. Aku permisi dulu Kangmas Pangeran", Rara Kinanti tersenyum lebar sembari setengah berlari meninggalkan Keputran Lodaya.


Endang Patibrata yang merasa heran dengan perubahan sikap Panji Tejo Laksono yang mendadak, tak sabar ingin segera tahu.


"Kangmas Pangeran, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba sikapmu berubah begini?", tanya Endang Patibrata segera. Panji Tejo Laksono tak langsung menjawab pertanyaan itu namun segera mengulurkan tangannya yang memegang nawala dari Anjuk Ladang. Endang Patibrata segera menerimanya dan membaca kata-kata yang ada di sana.


"Salam hormat Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono,


Semoga Hyang Agung selalu memberkati setiap langkah mu,


Aku punya kabar buruk bagi Kerajaan Panjalu,


Ribuan orang prajurit sedang disiapkan untuk menyerbu ke Daha,


Siapa yang terlibat di dalamnya, hanya aku yang tahu,


Upah untuk memberi tahukan siapa saja yang terlibat,


Adalah kepala Iblis Bukit Manoreh yang mengacau di perbatasan Anjuk Ladang dengan Lewa,


Semoga kau mengerti sekarang,


Adipati Sasrabahu dari Anjuk Ladang '.


"Jadi ini alasan mu mempercepat pernikahan dengan Rara Kinanti, Kangmas Pangeran?", tanya Endang Patibrata sembari memasukkan lembaran daun lontar itu ke dalam bungkus kain merah.


"Tepat sekali, Dinda Patibrata..


Iblis Bukit Manoreh adalah pendekar pilih tanding golongan hitam yang berasal dari wilayah utara Kadipaten Bhumi Sambara. Aku dengar dia ada hubungannya dengan Patih Tundungwaja yang terbunuh tempo hari di depan Istana Katang-katang. Walaupun dari golongan hitam, tapi dia jarang sekali turun gunung. Jika sampai dia melakukannya, pasti ada sesuatu yang mendasarinya.


Di samping itu, ada masalah besar yang sedang berkembang di Panjalu. Jadi mau tidak mau, aku harus mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh Adipati Sasrabahu. Selepas acara pernikahan esok, aku akan pergi ke Anjuk Ladang untuk membantu Adipati Sasrabahu demi mendapatkan rahasia itu", pungkas Panji Tejo Laksono dengan menghela nafas panjang.


Endang Patibrata pun segera memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Panji Tejo Laksono.


"Jadi Kangmas akan bertualang lagi?"

__ADS_1


__ADS_2