
Panji Tejo Laksono mendengus dingin mendengar ejekan Ki Galajapu.
'Setan tua ini rupanya bukan pendekar kacangan. Aku harus mencari celah kelemahan ilmu nya', batin Panji Tejo Laksono sambil menatap ke arah Ki Galajapu dalam wujud dedemit.
"Sekarang waktunya aku menyerang!"
Sambil berkata seperti itu, Ki Galajapu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan tangan kanannya. Setelah berubah wujud, kecepatan gerak dan tenaga Ki Galajapu meningkat secara drastis. Tiba tiba dia muncul di hadapan Panji Tejo Laksono dan menghantamkan tangan kanannya ke arah dada sang pangeran.
Blllaaaaaarrr !!
Tubuh Panji Tejo Laksono yang berwarna kuning keemasan terseret mundur beberapa langkah ke belakang. Meskipun dia tidak cidera namun kuatnya tenaga hantaman Ki Galajapu tidak bisa dianggap enteng. Untung saja Ajian Tameng Waja sempurna melindungi tubuh Panji Tejo Laksono sehingga tidak ada luka yang dia dapatkan.
Ki Galajapu kembali bergerak cepat. Kali ini tiba-tiba saja dia muncul di belakang Panji Tejo Laksono dan segera menghantam punggung sang pangeran muda.
Blllaaaaaarrr !
Ledakan keras terdengar. Panji Tejo Laksono nyaris terjungkal ke depan namun dengan cepat ia menguasai dirinya. Setelah itu menggunakan Ajian Sepi Angin, Panji Tejo Laksono melesat cepat bagai kilat mencoba untuk membuat jarak dengan Ki Galajapu alias Hantu Merah Lanang.
Pendekar golongan hitam dari Bukit Trenggulun itu langsung memburu Panji Tejo Laksono.
Adu kecepatan tinggi terjadi antara Panji Tejo Laksono dan Ki Galajapu.
Semua terkejut melihat pertarungan itu termasuk Bidadari Angin Selatan. Perempuan cantik berbaju putih itu benar benar tidak menyangka bahwa pendekar besar seperti Ki Galajapu mampu di imbangi oleh seorang pemuda tampan yang bahkan tidak punya nama di dunia persilatan.
"Siapa anak muda ini? Kenapa dia begitu hebat hingga memaksa Ki Galajapu mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya? Siapa guru nya?"
Berbagai pertanyaan melintas di dalam otak Bidadari Angin Selatan. Dia terus mencoba menerka-nerka tentang apa dan siapa sebenarnya lawan Ki Galajapu ini.
Sedangkan di depan gerbang istana Kadipaten Kalingga, para pengikut Panji Tejo Laksono yang hendak melompat maju untuk membantu Panji Tejo Laksono langsung di hadang Tumenggung Ludaka.
"Jangan coba-coba untuk berpikir membantu Gusti Pangeran Panji Tejo dengan kemampuan kalian.
Setan merah itu dedengkot pendekar golongan hitam", ujar Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Ki Galajapu.
"Tapi Paman Tumenggung, Gusti Pangeran..."
Omongan Gayatri langsung di potong oleh Tumenggung Ludaka dengan cepat.
"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono baik baik saja. Perhatikanlah...
Meski terlihat terdesak namun Gusti Pangeran sebenarnya tengah mencari cara untuk mengalahkan setan merah itu. Lihatlah meski berulang kali terkena hantaman setan tua itu, tapi dia baik baik saja bukan?", ucapan tegas Tumenggung Ludaka langsung membuat mata semua pengikut Panji Tejo Laksono menatap ke arah sang pangeran muda. Dan benar saja, sepertinya Panji Tejo Laksono tidak benar-benar kalah dalam adu kecepatan tinggi itu.
Nafas tua Ki Galajapu mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Usianya memang tak sebanding dengan tenaga muda Panji Tejo Laksono. Pria paruh baya itu mulai tersengal-sengal dalam bernafas.
Bidadari Angin Selatan yang juga melihat ini langsung merapal Ajian Tapak Angin Beku nya. Seketika udara dingin menusuk tulang tercipta di sekitar tangan kanannya berbarengan dengan cahaya biru redup yang bergulung gulung di tangan kanannya. Setelah Ajian itu selesai di rapalkan, Bidadari Angin Selatan langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah depan tempat yang hendak di lalui oleh Ki Galajapu.
Whhhhuuuuggghhh !
Selarik sinar biru redup berhawa dingin menusuk tulang langsung menghantam tanah, menciptakan lapisan es tipis yang licin. Panji Tejo Laksono yang melihat itu langsung melancarkan serangan cepat nya hingga Ki Galajapu bergerak menuju ke arah lempeng es.
Walhasil keseimbangan tubuh Ki Galajapu langsung goyah karena berdiri di tempat yang licin. Panji Tejo Laksono tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Secepat kilat dia menghantamkan tapak tangan kanannya yang berwarna merah menyala seperti api kearah dada Ki Galajapu.
Whuuthhh !
Hantu Merah Lanang dari Bukit Trenggulun itu segera menyilangkan kedua tangannya di dada untuk bertahan tapi terlambat beberapa saat lamanya.
Blllaaammmmmmmm !
Kuatnya Ajian Tapak Dewa Api yang di gabungkan dengan Ajian Dewa Naga Langit yang bisa menggunakan seluruh tenaga dalam tingkat tinggi milik Panji Tejo Laksono membuat Ki Galajapu terlempar jauh ke belakang sejauh hampir 3 tombak. Lelaki tua bertubuh kekar itu muntah darah segar bercampur kehitaman pertanda dia sudah mencapai batas. Dengan geram ia bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Bocah tengik!
Kau boleh juga. Tapi aku Ki Galajapu masih belum kalah dari mu!"
Setelah berteriak keras seperti itu, Ki Galajapu langsung menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Seberkas sinar merah kehijauan muncul dan sepasang kapak besar berwarna merah bergagang pendek muncul di tangan Ki Galajapu.
"Pendekar muda,
Berhati-hatilah. Dia memegang Kapak Setan Kembar!", teriak Bidadari Angin Selatan dengan cepat.
Teriakan keras itu membuat Ki Galajapu kesal dan langsung melemparkan kapak besar di tangan kirinya ke arah Bidadari Angin Selatan.
"Mulut mu terlalu banyak bicara, perempuan sundal!", maki Ki Galajapu.
Whhuuuuuuuggggh !
__ADS_1
Secepat kilat kapak besar itu melesat ke arah Bidadari Angin Selatan. Melihat serangan maut itu, Bidadari Angin Selatan dengan cepat mengerahkan seluruh tenaga dalam pada pedang perak di tangan kanannya dan menebaskan pedangnya kearah kapak besar bergagang pendek itu.
Jlllaaaaaaaaaarrrrr !!
Ledakan dahsyat terdengar. Bidadari Angin Selatan terdorong mundur sejauh satu tombak ke belakang. Perlahan cadar putih nya merembes warna merah yang menjadi pertanda bahwa dia menderita luka dalam setelah benturan tadi meski tidak terlalu parah.
Hebatnya kapak besar berwarna merah itu melayang kembali kepada Ki Galajapu. Hantu Merah Lanang dari Bukit Trenggulun itu dengan cekatan menangkap gagang senjata itu.
Di sisi lain, Panji Tejo Laksono perlahan mencabut Pedang Naga Api yang sedari tadi hanya tersarung rapi di punggungnya. Cahaya merah menyala terpancar keluar dari bilah Pedang Naga Api bersama hawa panas yang segera menyebar ke sekeliling depan pintu gerbang istana.
"Pedang Naga Api?
Rupanya kau benar benar pewaris senjata pusaka itu, pangeran busuk! Serahkan pusaka itu maka kau akan ku biarkan hidup", ucap Ki Galajapu sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
Phhuuuiiiiiihhhhh..!
"Mencoba menakuti ku, setan tua? Kalau kau memang hebat, coba saja ambil Pedang Naga Api dari tangan ku!", Panji Tejo Laksono mulai gerah dengan sikap jumawa Ki Galajapu.
"Dasar bedebah!
Kalau begitu akan ku belah tubuh mu dengan Kapak Setan Kembar ku lalu ku ambil pusaka itu dengan melangkahi mayat mu bangsat!", Ki Galajapu langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari membabatkan kapak besar di tangan kanannya.
Panji Tejo Laksono langsung menangkis tebasan kapak besar Ki Galajapu.
Thrrriiinnnggggg !
.
Satu kapak besar di tangan kiri Ki Galajapu langsung diayunkan ke leher Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda langsung merunduk sedikit menghindari tebasan kapak, membuat gerakan berputar lalu secepat kilat melayangkan tendangan keras kearah punggung Ki Galajapu.
Bhhhuuuuuuggggh !
Oouugghhhh !
Terdengar lengguh kesakitan dari mulut Ki Galajapu. Dedengkot pendekar golongan hitam itu terhuyung huyung ke depan nyaris terjungkal andai saja tidak memanfaatkan ujung kapak di tangan kanannya sebagai tumpuan.
Panji Tejo Laksono yang mundur beberapa langkah, langsung menjejak tanah dengan keras. Tubuhnya yang seringan kapas meluncur tinggi ke udara bagai seekor burung layang-layang. Panji Tejo Laksono langsung menggenggam gagang Pedang Naga Api dengan kedua tangan nya lalu meluncur turun ke arah Ki Galajapu sembari membabatkan Pedang Naga Api.
"Hiyyyyaaaaaaaatttttt....!!!"
Thhraaaangggggggg !
Thrraaaakkkkk !
Kapak Setan Kembar di tangan kanan Ki Galajapu hancur berkeping keping saat berbenturan dengan Pedang Naga Api sedangkan kapak besar di tangan kiri mencelat ke samping Dewi Gomati. Pedang Naga Api langsung menebas dada kiri Ki Galajapu hingga ke pinggang kanan nya.
Chhrrrraaaaaassss !
Aaaarrrgggggghhhhh !
Ki Galajapu meraung keras. Tubuhnya yang nyaris terbelah dua tersungkur ke tanah dengan darah segar menyembur keluar. Hantu Merah Lanang dari Bukit Trenggulun itu mengejang sesaat sebelum tewas bersimbah darah.
Panji Tejo Laksono yang kelelahan berdiri menatap ke arah mayat Ki Galajapu dengan menggunakan Pedang Naga Api sebagai penyangga. Pertarungan melawan Ki Galajapu benar benar melelahkan untuk nya.
Dewi Gomati langsung menjerit keras melihat kematian suaminya. Wanita paruh baya itu dengan cepat melesat ke arah Panji Tejo Laksono tanpa mempedulikan luka dalam yang di deritanya. Dia ingin balas dendam.
Dengan cepat ia melecutkan cambuknya ke arah Panji Tejo Laksono.
Bidadari Angin Selatan yang berada di belakang sang pangeran muda langsung melesat cepat dan menghadang laju serangan Dewi Gomati dengan menebaskan pedangnya ke arah belakang ujung cambuk yang terbuat dari besi tajam.
Ujung besi cambuk Dewi Gomati langsung melingkari bilah pedang perak Bidadari Angin Selatan.
Secepat kilat, Bidadari Angin Selatan menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna biru redup kearah Dewi Gomati.
Whhhuuutthh !
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Tapak Angin Beku menghantam tubuh Dewi Gomati. Tubuh perempuan paruh baya itu langsung kaku tak bergerak karena Ajian Tapak Angin Beku langsung membekukan apapun yang dikenai nya. Dewi Gomati tewas menyusul suaminya dalam keadaan berdiri tanpa sempat merintih kesakitan.
'Ilmu kanuragan yang mengerikan', gumam Panji Tejo Laksono.
Para pengikut Panji Tejo Laksono langsung menghambur ke arah junjungan mereka yang terduduk lemas kehabisan tenaga.
"Gusti Pangeran,
__ADS_1
Kau tidak apa-apa bukan? Apa ada yang cidera?", tanya Luh Jingga dengan penuh kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa Luh, kau tidak perlu mencemaskan ku.
Coba kau lihat keadaan wanita itu. Sepertinya tadi dia luka dalam serius", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah Bidadari Angin Selatan yang tertunduk sembari menahan dadanya yang terasa sesak. Sewaktu mengeluarkan Ajian Tapak Angin Beku tadi, dia yang sudah terluka dalam memaksakan diri untuk membalas budi baik Panji Tejo Laksono yang menyelamatkan nyawa nya tadi. Akibatnya luka dalam nya semakin parah.
Saat yang bersamaan, para prajurit penjaga Istana Kadipaten Kalingga datang mengepung tempat itu. Senopati Ranggabuana langsung berlari mendekati Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
"Mana para perusuh itu, Gusti Pangeran? Biar hamba hajar mereka", tanya Senopati Ranggabuana segera.
Demung Gumbreg yang berdiri di samping Panji Tejo Laksono langsung mendengus keras sambil menunjuk ke arah mayat Ki Galajapu dan Dewi Gomati.
"Kau telat , Senopati Ranggabuana!
Urus saja kedua mayat itu agar tidak menjadi sarang penyakit di Istana Kalingga. Dasar makan gaji buta, perusuh nya sudah mampus baru datang", omel Demung Gumbreg segera.
Senopati Ranggabuana menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa tidak nyaman karena mendengar omelan Demung Gumbreg. Bagaimanapun jabatan Demung di Istana Kotaraja Kadiri memang lebih di hargai daripada menjadi seorang tumenggung atau senopati di negeri bawahan seperti Kadipaten Kalingga ini.
Para prajurit penjaga istana Kadipaten Kalingga segera menyingkirkan kedua mayat Ki Galajapu dan Dewi Gomati. Mereka membawa nya ke arah hutan di selatan Kota Kadipaten Kalingga.
Panji Tejo Laksono di papah oleh Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg masuk ke dalam balai tamu kehormatan Istana Kalingga sementara Bidadari Angin Selatan di bantu oleh Luh Jingga dan Gayatri. Senopati Ranggabuana segera memerintahkan kepada dua prajurit untuk memanggil tabib istana malam hari itu juga.
Ayu Ratna yang mendengar kabar dari Sukesi tentang pertarungan di luar gerbang istana, langsung bergegas menuju ke arah balai tamu kehormatan.
"Kangmas Pangeran, kau tidak apa-apa?", tanya Ayu Ratna sembari menatap ke seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Tidak ada luka luar yang nampak, hanya wajah tampan Panji Tejo Laksono sedikit pucat.
"Aku baik baik saja, Dinda.. Kau tidak perlu cemas", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
Mendengar jawaban itu, Ayu Ratna menarik nafas lega. Putri Adipati Aghnibrata itu segera memerintahkan kepada Sukesi untuk segera menemui juru masak istana agar menyiapkan minuman penambah tenaga bagi Panji Tejo Laksono.
Setelah mendapat perawatan dari tabib istana, keadaan Bidadari Angin Selatan berangsur membaik.
Demung Gumbreg terus menatap ke arah Bidadari Angin Selatan itu hampir tak berkedip. Tumenggung Ludaka sahabat karibnya yang melihat kelakuan Gumbreg langsung menyikut pinggang perwira prajurit bertubuh tambun itu.
"Kau lihat apa? Mau cari masalah lagi Mbreg?", tanya Tumenggung Ludaka sedikit berbisik.
"Oh eh, ah tidak Lu..
Perempuan itu kalau cadarnya di buka pasti akan terlihat seperti dewi dari kahyangan ya Lu. Tertutup begitu saja dia masih kelihatan cantik", jawab Demung Gumbreg sembari tersenyum.
"Dia pendekar pilih tanding. Kalau kau berani sampai melotot terus dengan dia, takutnya dia akan mencongkel biji mata mu itu.
Apa kau sudah siap kehilangan penglihatan mu, Mbreg?", Tumenggung Ludaka sedikit menakuti Gumbreg.
"Hiiii takuuuutttt....
Tapi di lihat dari tatapan mata nya sih sepertinya dia bukan gadis muda biasa ya Lu.. Seperti orang yang punya ilmu awet muda..", ujar Demung Gumbreg sambil menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Mulut mu harimau mu Mbreg..
Hati hati kalau ngomong umur dengan wanita. Itu hal tabu. Sebaiknya kau jangan bicara macam macam agar tidak jadi masalah.
Kalau kau terus sembrono begini, lebih baik kita tidak berkawan baik. Pendekar wanita bercadar putih itu bukan tandingan kita. Kalau sampai dia marah pada mu karena omongan mu, lebih baik kita jangan dekat-dekat supaya nyawa ku selamat", ujar Tumenggung Ludaka sambil melangkah menjauhi Gumbreg.
Melihat kawan karibnya menjauhi nya, Demung Gumbreg ciut nyalinya.
"Lu, tunggu..
Aku ikut dengan mu!", teriak Demung Gumbreg sembari berlari mengejar perwira prajurit Panjalu itu menuju ke tempat peristirahatan nya.
Malam semakin merangkak naik. Selepas tengah malam, hujan deras terus mengguyur wilayah Kota Kadipaten Kalingga. Cuaca terasa lebih dingin dari biasanya.
Menjelang pagi hujan deras mereda. Menyisakan genangan air dimana-mana. Suara kokok ayam jantan menjadi pertanda, bahwa sang Surya sebentar lagi menyapa. Riuh rendah kicau burung kepodang dan prenjak bersahutan, menjadi awal yang indah untuk hari itu.
Panji Tejo Laksono melangkah keluar dari kamar tidur nya diikuti oleh Luh Jingga. Setelah semalaman beristirahat, tubuhnya yang kelelahan kembali bugar seperti sedia kala.
Di serambi balai tamu kehormatan, Bidadari Angin Selatan sudah berdiri menyambut kedatangan nya.
"Sembah bakti saya Gusti Pangeran. Mohon maaf jika semalam hamba berani lancang karena tidak tahu siapa Gusti Pangeran sebenarnya", ujar Bidadari Angin Selatan dengan penuh hormat.
"Ah sudahlah, Nisanak.. Jangan terlalu banyak adat pada ku..
Oh iya, karena kau sudah tahu siapa aku sebenarnya, ada hal yang ingin aku minta darimu. Bisakah kau melakukannya?", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul. Bidadari Angin Selatan sedikit heran dengan kata-kata yang keluar dari mulut pangeran muda itu, maka segera perempuan cantik bercadar putih itu bertanya,
"Apakah itu Gusti Pangeran?"
__ADS_1