Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perang Kota Kunjang


__ADS_3

Panji Manggala Seta langsung menjejak tanah di samping orang-orang Wanua Karang Pulut yang terus berlari menembus hutan belantara. Mpu Tolu menghela nafas lega melihat kedatangan Panji Manggala Seta.


"Selanjutnya kita kemana, Nakmas Pangeran?", tanya Mpu Tolu sembari terus berlari cepat di depan para penduduk Wanua Karang Pulut yang mengikuti langkah sang lurah.


"Kita berhenti sebentar, Ki.. Aku rasa kita sudah cukup jauh dari jangkauan mereka", jawab Panji Manggala Seta segera. Mendengar jawaban itu, Ki Lurah Mpu Tolu segera memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk berhenti. Deras air hujan yang mengguyur wilayah itu membuat baju mereka basah kuyup. Sebagian besar dari mereka berteduh di bawah pohon rindang sedangkan Mpu Tolu, Mpu Wuye dan Panji Manggala Seta memilih untuk beristirahat di atas batu batu besar di bawah pohon krombang yang berdaun lebar.


"Jebakan api yang kita lakukan sudah tidak bisa di lanjutkan karena hujan deras ini, Ki Lurah.


Tapi gerak pasukan Jenggala sudah pasti terhambat karena kita sudah menghancurkan jembatan kayu itu. Itu akan menguras waktu mereka sebelum mencapai Kotaraja. Kita masih cukup punya waktu untuk menunggu bala bantuan dari Kotaraja Daha. Tapi sekarang kita harus ke Kota Kunjang", imbuh Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Kenapa ke Kunjang? Bukankah itu arah pasukan Jenggala?", Mpu Wuye sang sesepuh Wanua Karang Pulut heran dengan jawaban itu.


"Karena di Kunjang, Kangmas Tejo Laksono sudah menunggu kedatangan kita", ujar Panji Manggala Seta segera.


"Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu lagi Nakmas Pangeran..


Di sana Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi pasukan Jenggala. Aku tidak mau ketinggalan untuk membantu", sahut Mpu Tolu sembari berdiri dari tempat duduknya. Mpu Wuye dan seluruh penduduk Wanua Karang Pulut pun segera bangkit dari tempat istirahat nya. Tanpa mempedulikan derasnya air hujan yang turun, mereka semua dengan langkah kaki tegak bergerak menuju ke arah Kota kecil Kunjang yang terletak di sebelah barat.


Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di Kota Kunjang. Melihat keadaan kota yang tiba tiba berubah, Panji Manggala Seta segera mengerti apa yang terjadi di tempat ini. Apalagi saat melihat Demung Gumbreg yang sedang membantu beberapa orang yang sedang mempersiapkan jebakan yang akan di gunakan untuk memecah belah barisan para prajurit Jenggala.


Segera Panji Manggala Seta mendekati sang perwira tinggi prajurit Panjalu yang bertubuh tambun itu.


"Paman Demung Gumbreg..


Apa yang sedang paman lakukan di tempat ini?", mendengar ada orang memanggilnya dari belakang, Demung Gumbreg segera menoleh.


"Oh eh Jagad Dewa Batara.. Gus-gusti Pangeran Panji Manggala Seta huuffffftttt mengagetkan hamba saja..


Lain kali mbok jangan suka mengagetkan saya seperti itu? Kalau saya sampai jantungan bagaimana coba?", omel Demung Gumbreg yang kaget setengah mati melihat kedatangan Panji Manggala Seta dan orang- orang Wanua Karang Pulut itu seraya mengelus dada nya. Baju hijau tua Demung Gumbreg basah kuyup oleh air hujan yang mengguyur Kota Kunjang.


"Hehehehe, maaf ya Paman...


Eh pertanyaan ku belum di jawab ya sama paman. Hayo apa yang Paman sedang lakukan?", kembali Panji Manggala Seta bertanya.


"Ini tugas dari Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Sudah jangan ganggu hamba, nanti hamba yang kena marah kalau tidak selesai selesai.


Sekarang sebaiknya Gusti Pangeran Panji Manggala Seta temui Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Tuh, orangnya sedang ada di dekat rumah besar itu", ujar Gumbreg segera.


Mendengar arahan dari sang perwira bertubuh tambun itu, Panji Manggala Seta mengangguk mengerti. Bersama dengan Ki Lurah Mpu Tolu dan para penduduk Wanua Karang Pulut, Panji Manggala Seta segera bergegas menuju ke arah yang ditunjuk oleh Demung Gumbreg.


Panji Tejo Laksono menerima kedatangan sang adik dengan senang hati. Apalagi dia datang bersama para penduduk Wanua Karang Pulut yang siap sedia untuk membantu mengusir para prajurit Jenggala. Bantuan sekecil apapun akan meringankan beban para prajurit Panjalu.


Maka di aturlah persiapan sedemikian rupa agar semua bisa saling bahu membahu untuk menghadapi serbuan para prajurit Jenggala. Panji Manggala Seta di tugaskan untuk memimpin orang-orang Wanua Karang Pulut bersama bala bantuan dari Lodaya di sisi kiri sedangkan Senopati Muda Jarasanda memimpin pasukan Panjalu dari sisi kanan.


Sementara itu, penyergapan para prajurit Jenggala oleh orang orang Wanua Karang Pulut membuat Senopati Mpu Balitung marah besar. Di tambah lagi dengan robohnya jembatan kayu penghubung yang akan membuat perjalanan mereka menuju ke arah Kotaraja Daha tersendat.

__ADS_1


"Bangsat!!!


Orang orang Panjalu, kalian semua pasti akan aku bantai habis-habisan. Perbuatan mereka ini adalah penghinaan besar terhadap ku. Para penduduk desa keparat itu telah berani mencoreng arang ke wajah ku. Mereka semua harus mati!", teriak Senopati Mpu Balitung sambil menatap tajam ke arah mayat Ki Juru Sambu yang di gotong para prajurit Jenggala ke arah nya.


"Perbuatan para penduduk ini jelas-jelas bertujuan untuk menantang kita, Gusti Senopati.


Kita tidak boleh memberi ampun kepada mereka", sahut Tumenggung Ranasuta segera.


"Tentu saja! Kalian sudah mengibarkan bendera perang pada ku, hai orang-orang Panjalu.. Akan ku buat kalian menangis darah setelah ini..


Ranasuta,


Cepat perintahkan prajurit mu untuk membangun jembatan kayu sementara untuk kita lewat. Aku sudah tidak sabar ingin membumi hanguskan Kotaraja Daha", perintah Senopati Mpu Balitung segera.


"Hamba laksanakan Gusti Senopati", Tumenggung Ranasuta segera bergegas memerintahkan kepada para prajurit Jenggala untuk mulai menebang pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu.


Di tengah derasnya air hujan yang mengguyur tanpa henti, para prajurit Jenggala segera menebang puluhan pohon besar di dekat mereka. Banyaknya orang yang bekerja membuat pengerjaan jembatan kayu darurat itu berlangsung cepat.


Mereka dengan cepat menata batang kayu gelondongan besar itu sehingga menjadi jembatan darurat yang bisa mereka lewati. Satu persatu mulai bergerak melintasi jembatan kayu darurat. Kuda dan gerobak dan pedati pengangkut bahan makanan pun akhirnya lewat juga.


Saat kereta barang yang terakhir melewati jembatan kayu itu, Senopati Mpu Balitung segera berteriak keras.


"Saatnya kita menaklukkan Panjalu!"


Teriakan keras dari sang pimpinan tertinggi prajurit Jenggala itu langsung di sambut teriakan bersemangat dari para prajurit Jenggala. Mereka segera bergerak menuju ke arah Kota Kunjang yang merupakan wilayah terakhir Panjalu sebelum memasuki Kotaraja Daha.


"Berhenti!!


Ini adalah wilayah Kayuwarajan Kadiri. Tak seorangpun dari Jenggala yang di perkenankan masuk kemari", ujar salah seorang diantara mereka yang ternyata adalah Tumenggung Ludaka yang sedang menyamar. Dia memang di tugaskan untuk membuat keributan terlebih dahulu.


Seorang Bekel prajurit Jenggala yang bertubuh sedikit gemuk dengan kumis tipis seperti alis seorang perempuan cantik langsung menghardik keras.


"Minggir kau, orang kampung!


Kalau kau sayang nyawa mu, jangan halangi jalan kami. Cepat minggir kata ku", sang bekel mendelik kereng pada Tumenggung Ludaka.


"Ini tanah air kami. Kalian tidak di ijinkan lewat. Kalau memaksa, kami akan melawan", balas Tumenggung Ludaka sengit.


"Kurang ajar!


Rupanya kau bosan hidup ya? Prajurit Jenggala, paksa orang orang kampung ini untuk menyingkir", sang bekel prajurit langsung memberikan isyarat kepada para prajurit Jenggala untuk bergerak maju.


Ribuan orang prajurit Jenggala langsung bergerak menuju ke arah para penduduk palsu Kota Kunjang ini. Segera keributan besar terjadi. Adu kepandaian bela diri dan senjata tajam langsung terdengar.


Tumenggung Ludaka bersenjatakan pedang langsung menebas leher salah seorang prajurit Jenggala yang mencoba untuk menyerangnya.

__ADS_1


Chhrrrraaaaaassss!!


Kepala sang prajurit Jenggala itu langsung menggelinding ke tanah dan darah segar menyembur keluar dari batang leher nya. Dia tewas dengan kepala terpisah dari badan.


Tanpa ragu lagi, dia mengamuk dan membantai setiap prajurit Jenggala yang mencoba untuk menghadapinya. Sambil bergerak mundur ke dalam Kota Kunjang dengan gaya terdesak, para prajurit Panjalu pilihan itu terus membantai setiap lawan yang mereka temui.


Barisan belakang para prajurit Jenggala terus merangsek masuk ke dalam Kota Kunjang. Tumenggung Giriloka yang melihat Tumenggung Ludaka sebagai lawan paling berbahaya di antara orang-orang Panjalu yang ada, langsung memacu kuda nya menuju ke arah Tumenggung Ludaka.


Menggunakan punggung kuda tunggangan nya sebagai tumpuan, Tumenggung Giriloka segera melompat tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah Tumenggung Ludaka sambil mengayunkan pedangnya.


Thrrraaannnnggggg !


Tumenggung Ludaka yang melihat serangan itu, langsung menangkis sabetan pedang lawan dengan pedang pendek yang menjadi senjata andalan nya. Bunga api kecil tercipta dari beradunya dua senjata itu.


Usai menjejak tanah dengan keras, Tumenggung Giriloka segera melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka. Saling serang dan bertahan silih berganti dengan cepat. Namun semakin lama pertarungan sengit mereka semakin masuk ke dalam Kota Kunjang.


Tiba-tiba saja..


Shrrriinnnggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Ratusan anak panah berapi langsung melesat cepat kearah beberapa bangunan yang terbuat dari kayu dan beratap daun alang-alang kering. Meski masih sedikit basah oleh air hujan, namun api dengan cepat menjalar dan membakar beberapa rumah yang ada di dekat tapal batas Kota Kunjang.


8 orang prajurit Panjalu langsung mendorong gerobak yang terbakar api ke tengah jalan raya di tepi tapal batas Kota Kunjang. Panasnya api langsung membuat kuda-kuda tunggangan para prajurit Jenggala meringkik dan tidak mau maju karena takut panas. Asap tebal menutupi seluruh pandangan mata para prajurit Jenggala.


Tumenggung Ranasuta yang hendak masuk ke dalam Kota Kunjang langsung berteriak keras, "Ini jebakan! Cari jalan memutar!".


Ribuan orang prajurit Jenggala di bawah pimpinan nya langsung mengikuti langkah sang pimpinan. Mereka segera mengambil jalur kanan untuk masuk ke dalam Kota Kunjang.


Sebagian lagi prajurit Jenggala bergerak ke jalur kiri untuk berupaya masuk ke dalam Kota Kunjang. Di pimpin oleh Tumenggung Widura dari Kotaraja Kahuripan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk segera masuk ke dalam Kota Kunjang karena tahu bahwa pasukan Jenggala yang terjebak dalam kobaran api yang di siapkan oleh para prajurit Panjalu, sedang dalam bahaya besar.


Sementara itu, di dalam Kota Kunjang, tiba-tiba saja Tumenggung Ludaka melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Tumenggung Giriloka yang menatap tajam ke arah Tumenggung Ludaka, seketika tersadar bahwa dia dan para prajurit Jenggala pimpinan nya sudah sampai di tengah kota Kunjang. Melihat asap tebal yang membumbung tinggi ke angkasa, dia baru sadar bahwa ia sudah di jebak oleh Tumenggung Ludaka.


"Bangsat licik!!


Rupanya kau sengaja memancing aku dan pasukan ku untuk masuk kemari ha? Kurang ajar!", maki Tumenggung Giriloka dari Pasuruhan sambil mengacungkan pedangnya kearah sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu.


"Hehehehe.. Baru sadar kau rupanya..


Dasar bodoh, kau pikir aku tidak bisa mengalahkan mu dari tadi ha? Aku sengaja mengulur waktu agar kau dan pasukan mu masuk dalam jebakan yang kami buat", Tumenggung Ludaka tersenyum lebar.


"Huh, kau jangan sombong dulu.. Di belakang sana, masih ada puluhan ribu prajurit Jenggala yang akan meluluhlantakan seluruh tempat ini", ucap Tumenggung Giriloka segera.


Mendengar ucapan itu, Tumenggung Ludaka tersenyum lebar sambil memutar pedang pendek di tangan kanannya. Seraya merogoh balik bajunya, dia berkata,


"Kau belum melihat semuanya, hai Wong Jenggala.

__ADS_1


Ini baru permulaan"


__ADS_2