
Senopati Ganggengsegara segera menyilangkan kedua tangan nya yang membentuk cakar di depan dada. Cahaya merah kehitaman bergulung-gulung melingkari kedua lengan sang perwira tinggi prajurit Jenggala. Hawa panas yang diikuti oleh angin menderu kencang di sekitar tempat nya berdiri.
Ini adalah Ajian Cakar Iblis Neraka, salah satu ajian kanuragan tingkat tinggi yang di warisi dari gurunya, Begawan Sidiwasesa dari Pertapaan Gunung Kuning di pesisir selatan Kadipaten Pamotan. Ajian ini mampu membelah batu besar seukuran gajah hanya dengan satu sinar merah tipis dari satu ujung jemari pria bertubuh tinggi besar ini. Mengeluarkan seluruh jemari tangannya berarti dia sedang menghadapi lawan yang tangguh.
"Bocah!!
Kalau kau benar-benar sakti mandraguna, hadapi langsung ilmu kesaktian ku tanpa menghindar!", teriak Senopati Ganggengsegara lantang.
"Lakukan saja, wong Jenggala..
Aku akan mengaku kalah jika mundur sejengkal dari tempat ku berdiri!", balas Panji Tejo Laksono yang tubuhnya mulai terbungkus oleh sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata. Pangeran muda dari Kadiri ini mengerahkan separuh tenaga dalam nya pada ajian pertahanan tubuh tertinggi turunan dari sang ramanda Prabu Jayengrana.
Mendengar kesanggupan untuk tidak mundur, Senopati Ganggengsegara menyeringai lebar. Dia sudah membayangkan bagaimana lawannya tewas tercabik-cabik oleh Ajian Cakar Iblis Neraka miliknya.
'Dasar bodoh! Kau akan menyesali kebodohan mu bocah tengik!'
"Mampus kau bocah keparat!!!
Ajian Cakar Iblis Neraka....
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!
Sepuluh larik cahaya merah kehitaman setipis pisau melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono setelah Senopati Ganggengsegara mengayunkan kedua cakar tangan nya. Angin kencang berhawa panas menderu mengikuti sinar merah kehitaman ini.
Whhhuuuuummmmmmm..
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat sepuluh sinar merah kehitaman itu menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Asap hitam tebal dan debu beterbangan menutupi seluruh tempat Panji Tejo Laksono berdiri.
Senopati Ganggengsegara menyeringai lebar menatap ke arah tempat Panji Tejo Laksono berada sambil berkata, "Dasar bodoh! Kau masih terlalu cepat 100 tahun untuk melawan ku bocah!!".
Setelah itu, Senopati Ganggengsegara segera berbalik badan hendak mencari keberadaan Senopati Badraseta namun sebuah suara langsung membuat nya berhenti seketika.
"Kau mau kemana, wong Jenggala?!"
Mata lelaki bertubuh tinggi besar itu melebar karena dia hapal betul dengan pemilik suara berat nan penuh kewibawaan itu. Dia segera menoleh ke arah tempat Panji Tejo Laksono berdiri dan terperanjat melihat sang pangeran muda dari Kadiri ini masih segar bugar seolah tak terjadi apa-apa.
"Ba-bagaimana mungkin dia masih hidup setelah Ajian Cakar Iblis Neraka ku menghajarnya?", gumam Senopati Ganggengsegara di tengah keterkejutan nya.
Melihat senyum lebar terukir di wajah Panji Tejo Laksono, amarah Senopati Ganggengsegara memuncak kembali. Dia melihat senyuman itu seolah menghina kepandaian ilmu kanuragan yang dia miliki.
"Bocah keparat!!
Aku tidak tahu bagaimana caranya kau masih bisa hidup setelah terkena Ajian Cakar Iblis Neraka ku. Tapi ku pastikan kali ini kau akan mati mengenaskan!!!", maki Senopati Ganggengsegara sembari mengangkat tangan nya tinggi-tinggi ke atas kepala lalu dengan cepat menghantam bumi.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Tanah yang terkena hantaman tangan kanan Senopati Ganggengsegara retak. Dengan cepat menjalar ke arah Panji Tejo Laksono. Akibatnya sang pangeran muda dari Kadiri ini terperosok ke dalam tanah sebelum sempat melompat menghindar.
"Akan ku panggang wajah sombong mu itu, bajingan tengik!!
Ajian Neraka Geni..
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!"
Teriakan keras dari pria bertubuh tinggi besar itu berbarengan dengan putaran kedua telapak tangan sang perwira Jenggala asal Pamotan. Dari bawah tubuh Panji Tejo Laksono yang bersinar kuning keemasan, muncul api besar yang sangat besar yang sanggup melelehkan tulang dan besi. Api itu langsung mengurung tubuh Panji Tejo Laksono seolah ingin memanggangnya hidup-hidup.
"Gusti Pangeran...!!!", teriak Dyah Kirana segera. Perempuan cantik berbaju putih dari Gunung Mahameru yang kebetulan sedang bertarung tak jauh dari mereka hendak melesat ke arah tempat pertarungan Panji Tejo Laksono dan Senopati Ganggengsegara. Luh Jingga segera mencekal pergelangan tangan kiri perempuan cantik itu.
"Mau apa kau Kirana? Sudah biarkan saja. Percayalah pada kemampuan beladiri Kangmas Pangeran", ujar Luh Jingga sembari menendang tubuh prajurit Jenggala yang tertembus bilah pedang nya. Sang prajurit Jenggala roboh dengan darah segar mengucur dari luka di dadanya.
__ADS_1
"Tapi Kangmbok Jingga..."
"Tidak ada tapi-tapian. Pertarungan mereka tidak perlu kita ikut campur. Kita hanya akan membuat konsentrasi Kangmas Pangeran terpecah jika ada di sana", potong Luh Jingga segera. Meski masih sedikit merasa khawatir, Dyah Kirana mengangguk mengerti. Keduanya kembali mengamuk di antara para prajurit Jenggala yang mencoba untuk menyerang.
Panji Tejo Laksono yang terbungkus kobaran api dari Ajian Neraka Geni yang dilepaskan oleh Senopati Ganggengsegara, segera menggunakan retakan tanah di sampingnya sebagai tumpuan untuk melompat keluar dari dalam tanah.
Taaappppp..!!!
Jlleeeeeeegggggh!!
Sang pangeran muda dari Kadiri lolos dari jebakan api yang tercipta dari Ajian Neraka Geni. Tubuhnya yang berwarna kuning keemasan benar benar tidak mempan dengan panasnya api Ajian Neraka Geni. Senopati Ganggengsegara menggeram keras melihat lawannya mampu bertahan.
"Aku akui kau memang hebat, bocah!!
Tapi pertarungan kita masih belum selesai", ucap Senopati Ganggengsegara seraya mulai menekuk kepalanya ke kiri dan kanan seolah olah melemaskan otot-otot lehernya yang kaku.
"Mari kita lanjutkan kembali, Wong Panjalu. Aku yakin, api yang baru kau ciptakan bukanlah ilmu pamungkas yang kau miliki", ujar Panji Tejo Laksono seraya bersiap untuk bertarung.
Hehehehe..
"Aku suka dengan sikap mu yang terus terang. Jika aku mengenal mu sebelum perang ini, mungkin kita bisa menjadi kawan baik.
Tapi kali ini aku akan secepatnya menghabisi mu, bocah!! Kau harus mati!", ucap Senopati Ganggengsegara sambil menyeringai lebar. Perlahan mulut perwira tinggi prajurit Jenggala itu komat-kamit merapal mantra. Lalu sebuah pemandangan yang mengerikan terjadi.
Perlahan tubuh Senopati Ganggengsegara membesar dan dia seperti merangkak di atas tanah. Dari bokongnya muncul ekor seekor serigala bersamaan dengan perubahan wajah nya yang perlahan di penuhi bulu dan mulutnya memanjang di sertai dengan taring taring tajam.
Dalam beberapa saat kemudian, wujud Senopati Ganggengsegara telah berubah menjadi seekor serigala besar dengan mulut yang mengeluarkan air liur dan tangan kaki nya di tumbuhi kuku tajam. Ini adalah bentuk dari Ajian Serigala Perut Bumi yang tidak pernah dia gunakan selama ini.
"Hhaaaauuuuuuuuuuuuwwww...
Bocah tengik, kau yang memaksaku untuk menggunakan ilmu kanuragan ini. Siapapun yang melihat wujud ku seperti ini, maka dia harus mati heeeeeerrrrrrrrgghhhh..!!!", suara Senopati Ganggengsegara terdengar menakutkan.
Dalam sekejap mata, serigala besar perwujudan Senopati Ganggengsegara itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Kecepatannya meningkat sepuluh kali lipat dari sebelumnya hingga gerakannya sukar di lihat oleh mata biasa.
Whhhuuuggghhhh!!
Panji Tejo Laksono terkejut bukan main melihat kecepatan gerak serigala besar itu. Dia langsung menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada untuk menahan hantaman itu.
Dhhaaaassshhh !!!
Tubuh Panji Tejo Laksono terseret mundur hampir 3 tombak jauhnya dari tempat nya berdiri. Belum sempat dia menjejak tanah dengan tegak, serigala besar perwujudan Senopati Ganggengsegara sudah muncul di belakangnya dan kembali menghantam tubuh sang pangeran. Panji Tejo Laksono kembali terpental ke samping kanan. Serigala besar itu terus memburunya. Memang setelah berubah menjadi serigala besar, tenaga dalam dan kecepatan Senopati Ganggengsegara meningkat berlipat-lipat ganda.
Ini terlihat seperti Panji Tejo Laksono sedang menjadi bulan-bulanan sang serigala besar perwujudan Senopati Ganggengsegara ini.
Meski para perwira tinggi prajurit Panjalu menatap kejadian itu dengan penuh kekhawatiran, namun mereka tidak berani untuk membantu. Semuanya menahan diri dan nafasnya. Hanya Luh Jingga saja yang terlihat masih tenang.
Hantaman bertubi-tubi terus di terima oleh Panji Tejo Laksono. Satu hantaman terakhir dari Senopati Ganggengsegara yang berwujud serigala rupanya mampu membuat Panji Tejo Laksono memuntahkan darah segar. Ini membuat sang pangeran muda mulai kesal. Sang pangeran muda ini pun langsung merubah gerakan tubuhnya dan menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi sekali ke udara.
Di udara, Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra dan sebentar kemudian tangan kanannya seperti membelah udara. Dengan cepat ia mengeluarkan Pedang Naga Api dari sana dan segera melepaskan pedang pusaka itu dari sarungnya. Cahaya merah menyala berhawa panas menyengat langsung menyebar ke seluruh tempat itu dari bilah Pedang Naga Api.
Serigala besar perwujudan Senopati Ganggengsegara yang melihat Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara, langsung membuat ancang-ancang dan melompat ke arah Panji Tejo Laksono sambil membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelan Panji Tejo Laksono bulat-bulat.
"Sudah cukup pertarungan ini. Selamat jalan, Wong Jenggala!!!"
Setelah berucap demikian, Panji Tejo Laksono meluncur turun ke arah serigala besar perwujudan Senopati Ganggengsegara yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar sambil mengayunkan Pedang Naga Api dengan kedua tangannya.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!!
Chhhrrraaaaaaasssssshhh...
Bhhuuuuummmmmmhh bhhuuuuummmmmmhh!!
__ADS_1
Pedang Naga Api langsung membelah serigala besar perwujudan Senopati Ganggengsegara itu mulai dari kepala hingga ujung ekornya. Serigala besar itu langsung tewas seketika dengan tubuh terpotong menjadi dua bagian dan jatuh ke tanah bantaran Kali Aksa.
Panji Tejo Laksono mendarat di tanah sembari memegang Pedang Naga Api di tangan kanannya. Sebentar saja dia melihat serigala besar yang terbelah menjadi dua bagian itu perlahan kembali ke wujud semula nya yaitu Senopati Ganggengsegara. Segera dia menyarungkan kembali Pedang Naga Api dan menyimpannya di balik ruang hampa.
Setelah menyeka sisa darah segar di sudut bibirnya, Panji Tejo Laksono langsung bersiul nyaring.
Shhuuuuuittttttttt....!!!
Prajurit peniup terompet tanduk kerbau yang mendengar suara siulan melengking tinggi itu langsung bergegas meniup terompet tanduk kerbau nya sekuat tenaga.
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh...
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh..!!!!
Dua kali tiupan terompet tanduk kerbau menjadi isyarat kepada para prajurit Tanah Perdikan Lodaya yang masih bertahan di selatan tempat pertempuran untuk bergerak. Tumenggung Pandu dan Ki Juru Mpu Krepa langsung memacu kuda tunggangan mereka maju ke medan laga dari arah selatan.
Kematian Senopati Ganggengsegara yang di gadang-gadang menjadi pilar utama kekuatan prajurit Jenggala seketika membuat mental bertarung para prajurit Jenggala terutama yang berasal dari Kadipaten Pamotan runtuh. Mereka mulai merasa putus asa dan gerakan perlawanan mereka pun menjadi kacau balau. Dan ini pun berimbas pada para prajurit Jenggala lainnya. Apalagi ditambah ketika mereka melihat ribuan orang prajurit Tanah Perdikan Lodaya menyerbu dari sisi selatan. Rasa putus asa yang menyelimuti hati setiap orang prajurit Jenggala semakin membesar.
Senopati Badraseta berusaha keras untuk mengendalikan situasi namun itu tidak ada gunanya. Pasukan gabungan antara Panjalu dan Lodaya terus mendesak para prajurit Jenggala yang jumlahnya terus merosot hingga hampir mendekati kemah para prajurit.
"Gus-gusti Senopati, se-sebaiknya kita mundur. Pasukan kita sudah tidak mungkin dapat bertahan lebih lama lagi", saran Ki Demung Sagotra yang bertarung di dekat Senopati Badraseta.
Pemimpin pasukan Jenggala wilayah selatan dari Kadipaten Kanjuruhan ini mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dia melihat para prajurit nya terus terdesak dari bantaran Kali Aksa yang menjadi medan laga. Sembari menghembuskan nafas penuh rasa kesal, dia segera menoleh ke arah Ki Demung Sagotra yang masih mengayunkan kerisnya ke arah prajurit Panjalu yang di hadapinya.
"Baiklah, kita mundur Sagotra!", teriak Senopati Badraseta segera. Lelaki bertubuh gempal itu segera menarik tali kekang kudanya dan bermaksud untuk menyelamatkan diri bersama pasukannya yang tersisa.
Namun, sebuah tombak dengan cepat melesat ke arah kuda yang di tunggangi oleh sang perwira.
Shhhrriinggg jllleeeeeppppphhh..
Hiiieeeeeewwwwkkkhh !!!!
Senopati Badraseta langsung terjungkal karena kuda tunggangan nya tiba tiba roboh ke tanah. Namun sang perwira tinggi segera merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan satu dengkul menyangga tubuhnya.
Belum sempat dia mencari tahu siapa orang yang sudah menyerang kudanya, dari arah samping kanan, Senopati Muda Jarasanda melesat cepat kearah sang pemimpin pasukan Jenggala sambil mengayunkan Keris Kyai Klotok nya.
Shhrreeettthhh !!!
Merasakan sambaran angin dingin berdesir kencang dari samping, Senopati Badraseta segera membabatkan pedang nya menangkis serangan yang datang.
Thhraaaangggggggg !!!
Percikan bunga api kecil tercipta dari beradunya dua senjata mereka. Senopati Muda Jarasanda yang tak mau berlama-lama dalam menghadapi situasi ini, langsung menghantamkan tangan kiri nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ke arah dada sang perwira tinggi prajurit Jenggala.
Senopati Badraseta segera memapak hantaman telapak tangan kiri Senopati Muda Jarasanda dengan tangan yang sama.
Blllaaammmmmmmm...
Aaaarrrgggggghhhhh !!!
Tubuh perwira tinggi prajurit Jenggala ini terlempar ke belakang setelah beradu tenaga dalam dengan Senopati Muda Jarasanda. Memang, kemampuan beladiri yang di miliki oleh Senopati Badraseta masih jauh di bawah sang adik ipar Mapatih Warigalit. Dia terpilih sebagai pimpinan pasukan Jenggala juga hanya karena sepupunya adalah selir Prabu Samarotsaha.
Demung Gumbreg yang melihat tubuh Senopati Badraseta melayang ke arah nya, dengan cepat memutar gagang pentung sakti andalannya. Lalu secepat kilat, dia mengayunkan pentung sakti milik nya kearah kepala sang pimpinan prajurit Jenggala itu sekuat tenaga.
Brruuaaaakkkkkkkh!!!
OOUUUGGHHHHHH!!!
Hanya itu saja yang terdengar dari mulut Senopati Badraseta saat pentung sakti milik Gumbreg mengepruk kepalanya. Tubuh Senopati Badraseta menghujam keras ke tanah. Dia tewas dengan kepala remuk.
Demung Gumbreg langsung mengusap cuping hidung nya sesaat setelah melihat orang nomor satu di keprajuritan Jenggala wilayah selatan ini tewas. Sambil meludah ke samping mayat Senopati Badraseta, dia menendang perut mayat Senopati Badraseta hingga tubuh perwira Jenggala itu melayang jauh menimpa kerumunan para prajurit Jenggala sembari berkata,
__ADS_1
"Belum waktunya kau sombong di Tanah Panjalu, Bedebah!! ".