Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Siapa Dia?


__ADS_3

Rasa rindu yang menggebu pada tanah kelahirannya jelas terpancar dari wajah tampan Panji Tejo Laksono yang berdiri di haluan kapal jung besar. Hampir 6 purnama sudah dia meninggalkan Tanah Jawadwipa untuk menjadi duta besar Panjalu untuk persahabatan dengan Kekaisaran Song. Itu waktu yang cukup lama untuk nya menapaki negeri asing yang sama sekali berbeda adat, budaya serta kebiasaan dengan yang ia lakukan selama ini.


Luh Jingga mendekati Panji Tejo Laksono dari sebelah kiri sang pangeran muda dari Kadiri ini. Tanpa malu-malu, putri dari Resi Damarmoyo itu memeluk pinggang Panji Tejo Laksono. Memang tinggi tubuh Luh Jingga hanya di sepundak sang pangeran muda. Diantara para wanita Panji Tejo Laksono, dia adalah yang kedua setelah Gayatri yang hanya sedada sang pangeran. Ayu Ratna adalah yang paling jonggrang ( jangkung ) karena tingginya setelinga Panji Tejo Laksono. Song Zhao Meng pun sedikit lebih tinggi diatas Luh Jingga.


"Akhirnya kita sampai juga pulang ke Tanah Jawadwipa ya Gusti Pangeran. Aku sudah rindu makan ikan bakar bersama dengan Gusti Pangeran di warung makan di dekat istana Kadipaten Kalingga sana", ujar Luh Jingga sembari tersenyum penuh arti.


"Hehehehe iya Luh..


Hampir 6 purnama kita meninggalkan tempat ini. Entah ada perubahan apa yang terjadi, tapi aku berharap bahwa Panjalu masih baik-baik saja ", balas Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah dermaga Pelabuhan Halong yang terlihat semakin dekat.


Song Zhao Meng pun tak mau kalah. Segera putri Kaisar Huizong itu memeluk pinggang Panji Tejo Laksono dari arah kanan sembari mengerucutkan bibirnya yang merah merona.


"Kau kenapa Meng Er?


Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu?", Panji Tejo Laksono mengalihkan perhatian nya pada Song Zhao Meng. Luh Jingga ikut menoleh ke arah perempuan cantik asal Tanah Tiongkok itu segera.


"Kakak Thee senang karena sampai di Tanah Jawadwipa, sedangkan aku harus berpisah dari Tanah Tiongkok untuk seterusnya. Aku tidak punya siapa siapa disini. Hanya Kakak Thee yang aku punya disini, jadi aku hanya berharap agar Kakak Thee memperlakukan aku baik di masa depan ", sahut Song Zhao Meng seraya menoleh ke arah lain. Ada bulir bening yang mengembang di mata indah perempuan cantik itu. Tangan kanan Panji Tejo Laksono segera menyentuh pipi Song Zhao Meng hingga perempuan cantik itu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan lembut Panji Tejo Laksono mengusap air mata yang menetes dari sudut mata Song Zhao Meng.


"Kau ini bicara apa, Meng Er??


Aku seorang ksatria sejati, pantang bagi ku menarik kata kata yang pernah ku janjikan kepada Kaisar Huizong saat aku menyatakan ingin bersama mu. Kau harus percaya dengan ku, Meng Er.


Percayalah, aku akan bersikap adil kepada mu, Luh Jingga, Gayatri maupun pada Ayu Ratna", ucapan Panji Tejo Laksono langsung membuat Song Zhao Meng segera tersenyum tipis dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Panji Tejo Laksono. Dengan diapit oleh dua orang perempuan cantik itu, Panji Tejo Laksono kembali menatap ke arah dermaga Pelabuhan Halong yang sebentar lagi menjadi pelabuhan kapal jung besar yang telah membawanya kembali ke Tanah Jawadwipa.


Pelabuhan Halong merupakan salah satu pelabuhan besar di masa itu, menjadi tempat berlabuhnya kapal kapal besar dari mancanegara. Banyak sekali pedagang dari negeri seberang lautan seperti Champa, Kambujadesa, Tiongkok, Gujarat dan India yang berdagang ke Nusantara kala itu, selalu memilih singgah di Pelabuhan Halong sebelum kembali ke negerinya. Selain itu, pedagang negeri negeri Nusantara seperti Sriwijaya di pulau Andalas, Bedahulu di pulau Bali, Tanjungpura di pulau Borneo, Luwu di Pulau Sulawesi seringkali datang ke Panjalu untuk membeli barang dagangan seperti beras, emas, barang kerajinan kulit, aneka senjata, alat pertanian dan beberapa hasil bumi lainnya. Ini menjadikan pelabuhan Halong sebagai pasar perdagangan barang besar di samping sebagai bagian dari Kota Kalingga yang menjadi pusat pemerintahan Kadipaten tertua di wilayah barat Panjalu ini.


Ratusan kapal kapal besar berbendera manca nampak berlabuh di Pelabuhan Halong. Berbagai macam orang asing juga terlihat ramai berlalu lalang di dermaga dengan segala kesibukan mereka masing-masing. Beberapa pekerja dan kuli angkut barang nampak bermandikan keringat, menjual tenaga untuk mendapatkan upah demi keluarga, nampak naik turun dari kapal kapal besar yang memang menjadi sarana perdagangan antar negara waktu itu.


Semilir angin laut yang dingin menerpa wajah tampan Panji Tejo Laksono saat perahu jung besar yang dia tumpangi mulai bersandar di Pelabuhan Halong.


Rakryan Purusoma segera mendekati Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang masih berdiri di haluan kapal jung setelah kapal jung telah bersandar sempurna di pelabuhan.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Kapal kita sudah merapat. Silahkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono jalan jalan sembari menunggu para prajurit membongkar barang bawaan kita", ujar Rakryan Purusoma segera. Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.


Wanyan Lan yang ada di belakang kapal, menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya yang bersiap untuk turun. Ada sesuatu yang tidak bisa di ucapkan oleh nya melihat itu semua.

__ADS_1


Rupanya kedatangan sang pangeran muda dari Kadiri itu sudah menjadi perhatian utama kepala pelabuhan Halong yang melihat perahu jung besar berbendera biru merah bergambar burung Garuda ini. Dia masih ingat betul dengan bendera biru merah itu saat mengantar kepergian Panji Tejo Laksono bersama Adipati Aghnibrata. Buru buru kepala pelabuhan Halong yang bernama Mpu Sukerta ini mendekati tangga kapal bersama 2 orang pengawal pribadi nya. Begitu Panji Tejo Laksono mulai menuruni tangga kapal jung di ikuti oleh Luh Jingga dan Song Zhao Meng, Mpu Sukerta segera menghormat pada sang pangeran muda.


"Selamat datang di Pelabuhan Halong, Gusti Pangeran. Hamba Mpu Sukerta kepala pelabuhan Halong menghaturkan sembah", ujar Mpu Sukerta sembari menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Terima kasih atas penyambutan mu, Mpu Sukerta..


Jangan menyembah ku seperti itu. Aku hanya manusia biasa, bukan dewa dari Kahyangan Suralaya yang patut kau agungkan. Bangunlah", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran..


Mari kita beristirahat sejenak di gubuk hamba sambil menunggu para pengangkut barang menurunkan barang bawaan Gusti Pangeran", Mpu Sukerta menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Silahkan Mpu Sukerta menjadi caraka", setelah Panji Tejo Laksono berkata demikian, Mpu Sukerta segera berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Panji Tejo Laksono bersama Luh Jingga dan Song Zhao Meng pun bergegas mengikuti langkah Mpu Sukerta menuju kediaman nya yang terletak tak jauh dari dermaga Pelabuhan Halong.


Mpu Sukerta membawa Panji Tejo Laksono dan kedua calon istri nya beristirahat di pendopo kediamannya. Dua orang pelayan Mpu Sukerta segera menyuguhkan kendi air minum dan beberapa makanan ringan seperti pisang rebus dan gethuk.


"Silahkan di nikmati, Gusti Pangeran.. Mohon maaf hanya seadanya saja", ujar Mpu Sukerta segera.


"Terimakasih banyak atas ini semua, Mpu Sukerta. Ini sudah cukup untuk mengobati kerinduan ku pada Tanah Jawadwipa..


Oh iya, ada kabar apa di wilayah Kadipaten Kalingga sekarang?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menerima cangkir yang baru saja diisi air minum dari kendi tanah liat oleh Luh Jingga.


"Serangan dari Kadipaten Rajapura? Apa maksud mu, Mpu Sukerta?".


"Mohon ampun Gusti Pangeran.. Saat ini Panjalu sedang berperang melawan pihak Kadipaten Rajapura. Mereka telah menyatakan diri sebagai penuntut hak atas tahta Kerajaan Panjalu yang sempat menjadi pertikaian antara Gusti Prabu Jayengrana dan Pangeran Suryanata dahulu", ujar Mpu Sukerta sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"APAAAAAAA...???!!!!!!"


Panji Tejo Laksono langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia benar benar tidak menyangka kalau selama kepemimpinannya ke Tanah Tiongkok akan terjadi hal besar seperti ini.


"Kalau begitu, aku tidak boleh berdiam diri dan bersantai seperti ini. Mpu Sukerta, tolong kau panggil seluruh prajurit pengawal pribadi ku yang ada di kapal jung. Suruh mereka menyusul ku ke Istana Kadipaten Kalingga sekarang juga", perintah Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Mpu Sukerta seraya menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Setelah memberikan perintah kepada Mpu Sukerta, Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Halimun nya sembari memegang tangan Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Selarik kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh mereka bertiga dan sekejap mata kemudian Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga sudah menghilang dari pandangan mata Mpu Sukerta. Kepala pelabuhan Halong itu terperangah melihat itu semua.


"Sungguh seorang calon raja besar yang sakti mandraguna. Aku harus cepat menemui para pengawal Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono di dermaga.

__ADS_1


Wundu, Kunting..


Ayo kita ke pelabuhan sekarang!", Mpu Sukerta sembari memberikan perintah kepada dua orang pengawal pribadi nya, bergegas menuju ke arah dermaga Pelabuhan Halong.


Ayu Ratna sedang asyik menikmati udara pagi di taman sari Keputren Istana Kadipaten Kalingga, saat seorang dayang istana berlari menuju ke arah nya. Dayang bernama Sukesi itu hampir saja terjatuh karena jaritnya tersangkut lantai batu.


"Kenapa kau seperti di kejar setan begitu, Sukesi?", tanya Ayu Ratna sembari terheran-heran melihat ulah Sukesi yang aneh.


"Huuffff huhh huhhh.. I-itu Gusti Putri i-itu..", Sukesi ngos-ngosan mengatur nafasnya.


"Ita itu apa Kesi..???


Bicara yang jelas biar aku mengerti apa maksud omongan mu", bentak Ayu Ratna yang kesal karena omongan Sukesi.


"Itu itu Gusti Putri.. Calon suami Gusti Putri, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ada di pendopo agung", lapor Sukesi setelah tersengal-sengal mengatur nafas.


Mendengar itu, Ayu Ratna tanpa menunggu lama langsung berlari menuju ke arah Pendopo Agung Kadipaten Kalingga. Sukesi yang masih belum berdiri tegak, justru kesenggol tubuh Ayu Ratna hingga jatuh terjerembab ke arah bebungaan yang tumbuh subur di taman sari istana.


Begitu sampai di Pendopo Agung, Ayu Ratna yang melihat Panji Tejo Laksono langsung berlari menuju ke arah sang pangeran muda dan menubruknya tanpa mempedulikan lagi dengan tatapan mata beberapa orang yang ada di tempat itu.


"Kangmas Pangeran... aku rindu sekali dengan mu huhuhuhu..", air mata kebahagiaan langsung tumpah di mata Ayu Ratna. Betapa dia merindukan sosok lelaki tampan itu selama beberapa purnama ini. Wajah tampan sang putra sulung Prabu Jayengrana ini selalu membayangi di setiap minggunya.


Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti mendapat perlakuan seperti itu dari Ayu Ratna. Sang pangeran muda itu memeluk erat tubuh ramping Ayu Ratna. Setelah cukup lama mereka berpelukan, terdengar suara deheman keras dari belakang Ayu Ratna.


Eheeemmmm eheemm.. !!


Mendengar itu, Ayu Ratna segera menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah suara Adipati Aghnibrata. Melihat kehadiran ayahandanya, Ayu Ratna segera melepaskan pelukannya pada Panji Tejo Laksono dengan wajah merona merah menahan malu. Buru buru Ayu Ratna segera beringsut mendekati Luh Jingga yang berdiri di belakang sang pangeran muda.


"Maaf karena gangguan nya, Nakmas Pangeran..


Begitulah ceritanya. Adipati Waramukti memang menuntut hak atas tahta Kerajaan Panjalu karena menganggap keturunan Pangeran Suryanata lebih berhak", ujar Adipati Aghnibrata sembari tersenyum simpul.


"Ini tidak bisa di sebut menuntut hak, Kanjeng Adipati Aghnibrata. Tapi lebih pada upaya untuk makar terhadap pemerintahan yang sah.


Aku ingin meminta bantuan kepada Kanjeng Adipati Aghnibrata untuk meminjamkan para prajurit Kalingga sebagai pasukan ku yang akan menyusul rombongan Prajurit Panjalu yang sudah lebih dulu berangkat. Apa Kanjeng Adipati Aghnibrata bisa melakukan nya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Tentu.. tentu saja, Nakmas Pangeran. Kau adalah calon menantu ku, hak milik ku juga merupakan hak milik mu juga", ujar Adipati Aghnibrata sembari tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu Panji Tejo Laksono menarik nafas lega.

__ADS_1


Ayu Ratna dengan halus menyikut pinggang Luh Jingga yang berdiri di samping nya sembari menatap ke arah Song Zhao Meng yang nampak tenang di belakang Panji Tejo Laksono. Dengan suara lirih, dia bertanya kepada Luh Jingga,


"Siapa perempuan itu, Luh?"


__ADS_2