
Gumbreg yang nyaris terjungkal karena kekagetan nya langsung mendengus keras, "Bocah kurang ajar! Kau mau aku mati jantungan ya?.
"Maaf Paman, aku tidak sengaja mengagetkan kalian. Lagipula kalian berdua bicara pakai bisik bisik segala. Keras suara pun orang orang disini kan tidak paham bahasa kita, jadi tidak perlu khawatir.
Memang ada apa sih?", Luh Jingga penasaran.
"Rahasia negara, anak kecil di larang ikut campur.
Sudah sana temani Gusti Pangeran. Jangan ganggu kami berdua. Ini pembicaraan antara laki-laki ", usir Gumbreg sembari melengos.
Luh Jingga langsung cemberut menahan perasaan kesal dalam hati nya. Putri Resi Damarmoyo dari Padepokan Bukit Penampihan itu langsung ngeloyor pergi meninggalkan tempat pertemuan itu, dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Hari semakin sore. Langit barat telah memerah pertanda hari telah senja dan sebentar lagi malam akan segera tiba. Beberapa kelelawar terlihat terbang keluar dari goa sarang nya untuk mencari makan.
"Pendekar Huang,
Hari telah semakin sore. Aku mohon undur diri. Besok pagi kami berencana untuk pergi ke kediaman Gubernur Hangzhou untuk meminta surat jalan nya ke Kota Kekaisaran Song. Kalau kau tidak ada kesibukan, tolong bantu kami untuk bicara dengan Gubernur Hangzhou", ujar Panji Tejo Laksono sambil sedikit membungkuk pada Huang Lung.
"Tentu saja Pendekar Thee..
Kalau begitu aku permisi. Aku akan kemari lagi besok pagi. Sampai jumpa esok pagi ", Huang Lung membungkukkan badannya sembari memberikan penghormatan khas Tanah Tiongkok pada Panji Tejo Laksono sebelum meninggalkan tempat itu. Panji Tejo Laksono terus menatap ke arah perginya Huang Lung yang menurutnya sedikit misterius.
Suasana Kota Lin'an semakin gelap bersama dengan turun nya malam.
Selepas dari tempat Panji Tejo Laksono, Huang Lung terus berjalan meninggalkan Penginapan Musim Semi. Meski tanpa ada pengawalan sedikitpun, Huang Lung tetap terlihat tenang melintasi jalan walaupun hari semakin gelap.
Sepasang mata terus mengawasi gerak-gerik Huang Lung dari kejauhan.
Di tepi Kota Lin'an, ada sebuah paviliun megah yang berdiri di tepi Danau Barat. Paviliun berpagar tembok tinggi ini memang tempat yang misterius. Orang orang Kota Lin'an sama sekali tidak tahu siapa pemilik paviliun yang di beri nama Paviliun Willow Hijau ini. Pemandangan di Paviliun Willow Hijau nampak asri dengan rimbun pepohonan yang berbunga indah kala musim semi.
Huang Lung berbelok arah ke dalam tempat itu. Dua orang penjaga pintu paviliun membungkuk hormat kepada Huang Lung tanpa banyak bicara dan langsung membuka pintu Paviliun Willow Hijau. Huang Lung pun masuk kesana.
Dua orang yang mengikuti gerak gerik Huang Lung saling berpandangan sejenak melihat Huang Lung masuk ke dalam Paviliun Willow Hijau. Mereka segera bergegas kembali ke arah awal mereka bergerak. Di dekat sebuah pagoda yang terletak di sebelah selatan Danau Barat, dua orang itu menghentikan langkah mereka. Itu adalah pagoda lima lantai yang bernama pagoda Leifeng. Konon katanya, Pagoda Leifeng adalah tempat dimana legenda ular putih berasal.
Seorang lelaki bertubuh kekar memakai baju hitam dan kuning seperti kulit harimau berdiri tegak memandang Danau Barat di malam hari itu. Sorot matanya terlihat tajam seperti seekor harimau mengincar mangsa. Lelaki paruh baya yang berusia sekitar 5 dasawarsa itu nampak mengelus dagunya yang berjenggot lebat. Dia terlihat sangat tidak tenang karena sebentar sebentar menoleh ke arah sisi timur. Dia adalah Hauw Tian, salah satu Tetua Sekte Macan Besi, sebuah kelompok aliran putih yang sangat di segani di wilayah selatan Sungai Kuning. Tujuannya ke tempat ini karena tugas yang di bebankan oleh Ketua Sekte Macan Besi untuk mengawasi gerak-gerik Huang Lung. Hauw Tian sudah mengikuti langkah Huang Lung saat masuk ke Wilayah Kekaisaran Song setelah dari Xi Xia ( Xia Barat ) tempat dimana Gunung Kunlun berada.
"Hormat kami Tetua!"
Dua orang berbaju hitam kuning itu segera menghormat pada Hauw Tian begitu mereka sampai di dekat lelaki tua itu.
Hemmmmmmm..
"Bagaimana hasil penguntitan kalian? Sudah ada hasil?", Hauw Tian menoleh ke arah dua orang anak buah nya dengan cepat.
"Lapor Tetua,
Huang Lung seharian ini ada di Penginapan Musim Semi dan sempat bertarung dengan Wang Xin Fei. Kami juga melihat Huo Tu si Racun Barat meninggalkan Penginapan Musim Semi dengan keadaan seperti terluka dalam", ucap salah satu anggota Sekte Macan Besi. Kaget Hauw Tian mendengar laporan yang disampaikan oleh anak buah nya.
"Haahhh??!!
__ADS_1
Huo Tu bisa luka dalam? Siapa yang bisa melukai Huo Tu seperti itu? Aku saja harus berusaha mati-matian untuk bisa bertahan hidup dalam pertarungan dengan Si Racun Barat itu".
"Mohon maaf kami kurang tahu, Tetua.
Yang jelas itu bukan Wang Xin Fei atau Huang Lung yang melukai Huo Tu. Karena Wang Xin Fei pun tak lama kemudian keluar dari Penginapan Musim Semi juga cidera. Sedangkan Huang Lung pun sedikit pucat saat pulang.
Yang kami tahu bahwa di Penginapan Musim Semi sekarang ada sekelompok orang berpakaian aneh yang sebagian besar nya berkulit sawo matang. Mata mereka lebar dan logat bahasa nya juga aneh. Mirip dengan orang orang yang tinggal di wilayah Selatan", sambung salah satu penguntit itu segera.
"Apa mungkin mereka yang melukai Huo Tu? Ini sangat aneh.
Lantas bagaimana dengan Huang Lung? Kemana saja dia malam ini?", Hauw Tian kini berbalik badan ke arah mereka berdua.
"Huang Lung masuk ke dalam Paviliun Willow Hijau. Sepertinya para penjaga gerbang paviliun itu sangat menghormatinya.
Tetua tolong turunkan perintah untuk kami", dua orang anggota Sekte Macan Besi itu membungkuk hormat kepada Hauw Tian.
Hemmmmmmm..
"Kalian berdua awasi Penginapan Musim Semi. Laporkan setiap pergerakan mencurigakan yang terlihat.
Akan ku utus orang lain untuk mengawasi Paviliun Willow Hijau", ujar Hauw Tian sembari mengibaskan tangannya.
"Kami mengerti Tetua".
Setelah cukup mereka berbicara, dua orang anggota Sekte Macan Besi itu segera bergegas pergi meninggalkan Hauw Tian yang masih berdiri di tempatnya.
Dari balik kegelapan malam, muncul dua orang bertopeng muka harimau berbaju hitam mendekati Hauw Tian.
Tanpa banyak bicara, dua orang bertopeng itu segera melesat cepat kearah yang di maksudkan. Hauw Tian menghela nafas berat sebelum pergi dari tempat itu. Tugas dari Ketua Sekte Macan Besi ini benar benar menguras tenaga dan otaknya.
Malam berlalu dengan cepat. Kegelapan malam di Kota Lin'an perlahan menghilang seiring dengan munculnya matahari pagi di ufuk timur. Cericit burung burung mulai bersahutan menyambut kedatangan sang raja siang yang sebentar lagi menerangi seluruh jagat raya.
Pagi itu Panji Tejo Laksono bangun lebih awal dari biasanya. Luh Jingga yang biasa membangunkan sang pangeran sampai kaget melihat sang pangeran sudah mandi dan berpakaian rapi dengan warna biru tua yang menjadi warna kegemarannya. Cuaca di Kota Lin'an memang cukup dingin, beda jauh dengan keadaan di Tanah Jawadwipa yang lebih panas. Ini pula yang menyebabkan Panji Tejo Laksono lebih suka menggunakan pakaian tertutup rapat untuk menahan hawa dingin udara.
Usai sarapan pagi bersama, Panji Tejo Laksono bersama separuh para pengikutnya segera melangkah keluar ke arah kereta kuda yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Rakryan Purusoma. Tak lupa mereka membawa sebagian kecil hadiah cinderamata kepada Su Dong Po alias Su Shi, Gubernur Hangzhou yang juga merupakan seorang penyair yang terkenal.
Dari arah timur, Huang Lung muncul juga dengan senyuman khasnya, "Wah Pendekar Thee, Paman Pu..
Kalian pagi pagi sekali sudah bersiap. Untung saja aku datang lebih cepat, kalau tidak pasti kalian sudah berangkat".
"Kami ingin menyelesaikan tugas secepatnya, Pendekar Huang..
Lalu secepatnya pulang ke negeri kami untuk meneruskan hidup. Makanya kami ingin secepatnya menemui Gubernur Hangzhou untuk meminta surat jalan agar bisa berangkat ke Ibukota Kaifeng ", jawab Rakryan Purusoma sembari menghormat pada Huang Lung.
"Oh begitu..
Baiklah Paman Pu, Pendekar Thee ayo sekarang kita berangkat ke kediaman Gubernur Hangzhou untuk mendapatkan surat jalan nya", selesai berbicara demikian, Huang Lung dengan pakaian khas Tanah Tiongkok yang serba mewah langsung naik ke atas kereta kuda bersama dengan Panji Tejo Laksono, Rakryan Purusoma dan Luh Jingga. Para pengikut Panji Tejo Laksono yang lain segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan rombongan itu segera bergerak menuju ke arah Kediaman Gubernur Hangzhou.
4 penjaga gerbang Kediaman Gubernur Hangzhou langsung membungkuk hormat kepada rombongan itu setelah melihat Huang Lung ikut serta dalam rombongan ini. Sepertinya mereka telah mengenal Huang Lung dengan baik hingga dengan mudah meloloskan Huang Lung dari pemeriksaan rutin yang mereka biasa lakukan.
__ADS_1
Gubernur Hangzhou tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Huang Lung setelah mendapat pemberitahuan dari para petugas jaga di depan. Lelaki tua berjanggut panjang yang berumur sekitar 6 dasawarsa ini nampaknya sangat menghormati Huang Lung.
"Selamat datang di kediaman ku, Saudara Huang..
Mari mari silahkan masuk. Kau ini benar-benar suka memberikan kejutan besar untuk orang seperti ku", ujar Gubernur Su Shi alias Su Dong Po dengan ramah. Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya sedikit kaget melihat ramahnya Gubernur Hangzhou itu pada Huang Lung. Ada sebuah pertanyaan yang langsung mengganjal otak mereka tentang jati diri si Huang Lung ini.
Setelah cukup berbasa-basi sebentar, Huang Lung langsung menyampaikan niatnya untuk meminta surat jalan dari Gubernur Hangzhou sebagai syarat untuk masuk ke Ibukota Kekaisaran Song. Segera Gubernur Hangzhou meminta kepada bawahannya untuk menyiapkan apa yang di minta oleh Huang Lung. Sembari menunggu jadi nya surat jalan itu, Su Dong Po mengajak mereka untuk minum teh. Tentu saja tawaran itu di sambut dengan hangat oleh Huang Lung. Meski sedikit heran dengan sikap baik Gubernur Su Shi, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya tetap mengikuti ajakan Huang Lung karena mereka butuh surat jalan itu sesegera mungkin.
Setelah surat jalan itu jadi, Gubernur Hangzhou Su Dong Po segera membubuhkan stempel warna merah sebagai tanda pengesahan dari nya. Kemudian lelaki yang juga penyair hebat di masa Kekaisaran Song ini segera memberikan surat jalan itu kepada Panji Tejo Laksono atas saran Huang Lung. Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya segera mohon diri setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka harus bersiap-siap untuk berangkat ke Ibukota Kekaisaran Song. Huang Lung pun menyertai mereka. Gubernur Hangzhou menatap kepergian mereka.
"Yang Mulia Gubernur,
Kenapa kau begitu rendah hati pada Pendekar Huang? Kau adalah orang besar lagi terhormat, tidak pantas merendahkan diri seperti itu", ujar sang pejabat kediaman Gubernur Hangzhou sembari menghormat.
"Kau tidak tahu siapa Pendekar Huang Lung sebenarnya. Ini adalah rahasia besar, tak semua orang mengetahuinya.
Lain kali kalau dia datang kemari lagi, kau harus baik baik padanya agar tidak jadi masalah di kemudian hari", Su Shi alias Su Dong Po segera berlalu meninggalkan si pejabat kediaman Gubernur Hangzhou yang masih kebingungan dengan sikap Penguasa Hangzhou.
Siang itu rombongan Panji Tejo Laksono mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk berangkat ke Ibukota Kaifeng. Ada dua kereta kuda yang menjadi kendaraan utama mereka. Dua kereta kuda lainnya di isi oleh kusir dan barang bawaan hadiah untuk Kaisar Song. Salah satu dari hadiah itu adalah sebuah patung Buddha setinggi satu depa dalam posisi bersemedi. Terkecuali perhiasan dan batu mulia, semua barang di tata rapi di atas kereta.
Sepasang mata terus mengawasi pergerakan para prajurit Panjalu yang di tugaskan untuk mengawal kereta kuda itu. Huang Lung yang terlihat diantara mereka adalah pokok pengintaian yang di lakukan oleh dua orang anggota Sekte Macan Besi.
Seharian penuh rombongan Panji Tejo Laksono mempersiapkan segala sesuatunya hingga senja menjelang tiba di Kota Pelabuhan Lin'an.
Keesokan harinya, rombongan Panji Tejo Laksono mulai bergerak meninggalkan Penginapan Musim Semi ke arah Ibukota Kaifeng. Huang Lung sendiri membawa beberapa teman untuk membantu Panji Tejo Laksono sebagai pengawal. Ini karena perjalanan mereka sangat berbahaya. Banyak sekali perampokan yang mungkin bisa terjadi di sepanjang perjalanan karena beberapa rute perjalanan mereka melintasi beberapa tempat berbahaya seperti Pegunungan Kematian dan Lembah Seribu Hantu. Inilah alasan utama mengapa Huang Lung membawa beberapa orang tenaga bantuan untuk mengawal kereta kuda mereka.
Rombongan Panji Tejo Laksono bergerak ke Utara. Setengah hari perjalanan mereka sampai di lembah sempit yang terletak di kaki Gunung Lima Singa. Jurang yang dalam dan tebing batu yang tinggi menjulang ke langit menjadi pemandangan mereka sepanjang perjalanan.
Saat memasuki kawasan hutan yang lebat dengan cahaya matahari sedikit bisa mencapai tanah, tiba-tiba saja muncul puluhan orang bertopeng menyeramkan berpakaian hitam-hitam yang menghadang perjalanan mereka. Rombongan Panji Tejo Laksono langsung berhenti mendadak. Gumbreg yang sedikit ngantuk di dekat Tumenggung Ludaka sampai jatuh terjungkal ke lantai kereta kuda karena kusir kereta mendadak menarik tali kekang kudanya.
"Aduh biyung,
Kusir gemblung main tarik tali kekang kuda sembarangan. Dasar kurang ajar, awas ya kau", maki Gumbreg sambil cepat cepat bangkit dari tempat jatuhnya dan membuka pintu kereta kuda. Tumenggung Ludaka segera mengikuti langkah Gumbreg, takut perwira bertubuh tambun itu main tangan pada kusir kereta kuda yang mereka tumpangi. Tapi alangkah terkejutnya mereka saat tahu bahwa ada puluhan orang berpakaian hitam-hitam mengepung tempat mereka.
"Siapa kalian? Kenapa berani menghadang perjalanan kami?", tanya kawan Huang Lung yang berada di barisan paling depan.
"Ini adalah kawasan Perampok Gunung Lima Singa. Siapapun yang melintas wajib memberikan pajak kepada kami. Kalau tidak....
TINGGALKAN NYAWA KALIAN DISINI!", ucap sosok tinggi besar yang sepertinya merupakan pimpinan kelompok rampok ini.
"Dasar bajingan!
Kalau kau tahu siapa kami, aku yakin jangankan untuk berbicara mengenai kami, bernafas pun sulit kalian lakukan ", jawab kawan Huang Lung sembari meraba gagang senjata di pinggangnya.
"Aku tidak peduli siapa kalian!
Yang aku mau hanya uang dan harta. Karena kalian seperti nya enggan memberikan, maka aku Kerbau Besi akan menghancurkan kalian semua nya.
Anak buah ku,
__ADS_1
Serang mereka!!"