Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Tantangan dari Danapati


__ADS_3

Para murid Padepokan Teratai Segara yang ada di depan kereta kuda langsung menarik tali kekang kudanya. Melihat pimpinan pengawal berhenti, kusir kereta langsung menghentikan kereta kuda.


Danapati hampir saja terjatuh dari tempat duduknya karena penghentian mendadak itu. Putra pimpinan Padepokan Teratai Segara itu langsung kesal dan segera keluar dari dalam kereta kuda dengan muka masam.


"Hei kau, kenapa menghentikan kereta kuda seenak udel mu ha? Aku hampir terjatuh karena ulah mu", Danapati mendelik tajam ke arah kusir.


"Maafkan saya Denmas Danapati..


Yang depan berhenti mendadak jadi saya terpaksa harus menghentikan langkah kuda kita. Mohon Denmas Danapati memaklumi", jawab sang kusir kereta dengan takut-takut.


Mendengar jawaban itu, Danapati segera mengalihkan pandangannya pada anak murid Padepokan Teratai Segara yang ada di depan.


Benar saja omongan si kusir kereta, ada yang menghadang perjalanan mereka. Danapati segera melangkah menuju ke arah depan.


"Ada apa ini?", tanya Danapati pada anak murid Padepokan Teratai Segara yang bertugas di depan.


"Ada yang menghadang kita, Denmas.. Sepertinya mereka punya niat tidak baik", jawab si murid sambil menunjuk pada Pringgalaya yang berdiri di tengah jalan dengan puluhan anak didiknya.


"Kurang ajar!


Hei siapa kau orang buntung? Berani beraninya kau menghadang jalan kami ha? Apa kau tidak tahu siapa kami?", hardik Danapati seraya mendelik tajam ke arah Pringgalaya.


"Kau pikir kau siapa hingga mengira semua orang tahu siapa dirimu? Dasar tidak waras", Pringgalaya menjawab tak kalah ketusnya.


"Keparat!


Bila aku beritahu kau jangan sampai kau ngompol di celana mu itu, orang buntung. Aku Danapati, putra Resi Danarasa dari Padepokan Teratai Segara. Sudah tahu kau sekarang? Cepat berlutut dan menyingkir dari hadapan ku", teriak Danapati segera.


"Rupanya orang orang Kadipaten Mataram. Pantas saja seenaknya saja masuk wilayah orang.


Ini Kalingga bukan Mataram. Aturan disini berbeda dengan tempat asal mu jadi jaga sikap mu kalau kau ingin tetap selamat di Kalingga. Dasar katak dalam tempurung ", balas Pringgalaya dengan keras.


"Bedebah buntung!


Dari tadi aku terus bersabar menghadapi mu tapi mulut mu semakin lama semakin tajam saja. Kau harus aku beri pelajaran".


Setelah bicara demikian, Danapati segera menerjang maju ke arah Pringgalaya. Ipar Adipati Aghnibrata itu langsung meladeni permainan silat putra sulung Resi Danarasa itu dengan tenang.


Whuuthhh !


Plllaaakkkkk !


Serangan cepat penuh nafsu membunuh Danapati langsung di tangkis dengan satu tangan oleh Pringgalaya. Pimpinan Perguruan Golok Buntung itu memang bukan pendekar kacangan.


Sepuluh jurus berlalu namun Danapati masih juga belum bisa mendaratkan satu pukulan pun ke tubuh Pringgalaya.


Danapati menyapu kaki Pringgalaya namun pria bertubuh gempal itu segera melompat ke udara sembari mengayunkan kedua kakinya ke arah kepala lawan. Danapati dengan cepat menangkis sepakan beruntun lawannya.


Dashh ! dhasshhh !


Pringgalaya yang mendarat di tanah dengan cepat memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan keras kearah punggung Danapati.


Bhhuukh !


Ouuuuggghhhh !


Kerasnya tendangan Pringgalaya nyaris membuat Danapati terjungkal. Namun pemuda itu segera membuat gerakan berguling ke tanah dan dengan cepat berdiri tegak sembari meringis menahan rasa sakit di punggungnya yang sedikit membuat nafas nya sesak.


Geram sudah Danapati. Dengan cepat kedua telapak tangan bersatu di depan dada hingga muncul sinar putih biru redup berhawa dingin dari kedua telapak tangan. Dia ingin mengalahkan Pringgalaya dengan Ajian Tapak Teratai Mengguncang Bumi yang merupakan ilmu kedigdayaan dari Padepokan Teratai Segara.


Melihat lawan bersiap dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi, Pringgalaya segera mencabut sebilah golok besar yang tinggal separuh bilah dari balik pinggang. Pada gagang golok buntung itu terdapat sebuah lobang yang di kaitkan dengan tali yang terikat dengan pangkal tangan kanan Pringgalaya.


Segera Pringgalaya menyalurkan tenaga dalam nya pada golok buntung itu hingga keluar pamor hijau redup.


Danapati segera menghantamkan kedua telapak tangan nya ke arah Pringgalaya sambil berteriak lantang.


"Sekarang waktunya kau untuk mampus, orang buntung!


Tapak Teratai Mengguncang Bumi ...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt !"


Teriakan keras itu berbarengan dengan dua larik sinar putih biru redup berhawa dingin yang bergulung gulung menyambar ke arah Pringgalaya.


Whhhhuuuuggghhh !

__ADS_1


Pringgalaya segera memutar golok besar buntungnya dengan bantuan tali merah yang terikat pada pangkal pergelangan tangannya. Golok buntung itu berputar cepat ke sekeliling tubuh Pringgalaya, membentuk perisai sinar hijau redup yang melindungi tubuh Pringgalaya. Tanpa rasa takut, Pringgalaya justru melompat maju ke arah sinar putih kebiruan yang meluncur cepat kearah nya.


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Tapak Teratai Mengguncang Bumi beradu dengan perisai sinar hijau redup dari golok buntung Pringgalaya. Dari kepulan asap putih yang tercipta, golok buntung Pringgalaya berputar cepat kearah leher Danapati.


Putra Resi Danarasa itu gelagapan juga dengan serangan tak terduga itu. Dengan cepat ia merendahkan tubuhnya untuk menghindari serangan golok buntung. Namun bukannya selamat, dari arah yang berbeda, Pringgalaya muncul dengan menghantamkan tapak tangan kanan nya.


Bhhhuuuuuuggggh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Pukulan keras yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi itu seketika membuat Danapati terlempar ke belakang sembari meraung keras. Saat itu juga muncul sesosok bayangan putih berkelebat cepat menyambar tubuh Danapati yang hampir menghantam sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jalan raya itu.


Resi Danarasa dengan cepat menurunkan tubuh Danapati. Pemuda itu muntah darah segar. Segera Resi Danarasa menotok beberapa titik nadi Danapati untuk membantunya.


Setelah itu Resi Danarasa menatap ke arah Pringgalaya yang berdiri tegak sembari menenteng golok buntung di tangan kanan.


"Pendekar Golok Buntung...


Nama mu memang sesuai dengan ketenaran yang kau miliki. Aku kemari bukan untuk mencari masalah dengan mu tapi untuk melamar putri Adipati Aghnibrata jadi tolong kau jangan menghalangi", ucap Resi Danarasa segera.


Belum sempat Pringgalaya menjawab, Songkali muridnya bergegas mendekati Pringgalaya. Songkali memang di tugaskan untuk menjadi penghubung antara Pringgalaya dan Ayu Ratna. Dia baru saja datang dari istana Kadipaten Kalingga dan mendapat kabar bahwa rombongan pangeran dari Kadiri telah ada di istana. Segera Songkali membisikkan sesuatu di telinga Pringgalaya yang membuat lelaki bertubuh gempal itu terkejut mendengar nya. Sejenak dia terdiam beberapa saat sebelum berbicara.


"Apa kau yakin ingin melamar putri Adipati Kalingga, Resi Danarasa?", tanya Pringgalaya segera.


"Benar, Pendekar Golok Buntung..


Aku jauh jauh datang kemari untuk melamar putri Adipati Aghnibrata bagi putra ku Danapati. Aku yakin Adipati Aghnibrata akan menerima lamaran dari ku", jawab Resi Danarasa dengan penuh keyakinan.


"Terlambat kau Resi Danarasa..


Calon suami Ayu Ratna dari Kadiri sudah datang di istana Kalingga. Meski dia tidak menyukainya tapi aku rasa keponakan ku itu tidak akan punya banyak pilihan selain menerimanya", ucap Pringgalaya sembari tersenyum tipis.


Kaget Resi Danarasa mendengar ucapan Pringgalaya itu. Begitu pula dengan Danapati yang baru saja berdiri setelah berhasil mengobati luka dalam nya.


.


"Romo, ini tidak boleh terjadi..


Ayu Ratna tidak mencintai orang itu. Romo harus melakukan sesuatu untuk ini. Kalau Ayu Ratna sampai menikah dengan orang lain maka aku memilih untuk mati saja Romo", rengek Danapati.


"Kalau begitu aku akan tetap berangkat ke istana Kalingga. Lagi pula itu hanya perjodohan dan putri Adipati Aghnibrata belum tentu setuju menikah dengan orang itu. Danapati putra ku selain tampan juga pintar ilmu kanuragan, pasti lebih layak untuk putri Adipati Aghnibrata.


Saudara Pringgalaya, mohon kau tidak menghalangi jalan kami lagi", Resi Danarasa menghormat pada Pringgalaya. Melihat Pendekar Golok Buntung itu mengangguk, Resi Danarasa segera melangkah ke arah kereta kuda nya bersama dengan Danapati.


Rombongan itu segera melanjutkan perjalanan mereka kembali ke arah istana Kadipaten Kalingga.


"Guru, kenapa kau biarkan saja mereka ke istana Kalingga?


Bukankah guru tahu kalau orang yang di jodohkan dengan Gusti Putri Ayu Ratna adalah pangeran dari Kadiri? Apa tidak jadi masalah?", tanya Sundang sang murid sembari menatap heran kearah Pringgalaya.


"Biarkan saja Resi Danarasa itu menghadapi para pengawal pangeran Kadiri itu. Dia yang begitu membanggakan putranya layak mendapat pelajaran bahwa tidak semua keinginan itu akan menjadi kenyataan.


Lagipula ini juga akan jadi ujian untuk pangeran Kadiri itu agar dia juga bisa mempertahankan harga diri nya.


Sudah jangan di pikir lagi. Sebaiknya kita segera pulang ke Padepokan Golok Buntung. Tugas kita sudah selesai. Urusan di istana Kalingga biar di urus oleh Kakang Adipati Aghnibrata", ucap Pringgalaya sembari tersenyum penuh arti. Dia segera melangkah meninggalkan tempat itu diiringi oleh para muridnya.


Menjelang sore, rombongan itu sampai di istana Kalingga.


Adipati Aghnibrata menerima kedatangan mereka di ruang pribadi Adipati. Kedatangan Resi Danarasa cukup mengejutkan Adipati Aghnibrata apalagi setelah mendengar penuturan Resi Danarasa mengenai keinginan nya melamar putri Adipati Aghnibrata sebagai istri untuk Danapati.


"Melamar kau bilang, Resi?!", tanya Adipati Aghnibrata dengan penuh keterkejutan nya.


"Benar Gusti Adipati..


Keinginan saya kemari adalah untuk meminang Dyah Ayu Ratna sebagai istri untuk putra saya, Danapati", jawab Resi Danarasa seraya menghormat pada Adipati Aghnibrata.


"Maaf jika itu keinginan mu, aku tidak bisa mengabulkan nya Resi.


Putri ku Ayu Ratna sudah aku jodohkan dengan Panji Tejo Laksono, putra tertua Prabu Jayengrana dari Kotaraja Kadiri. Rombongan mereka juga telah berdiam diri di balai tamu kehormatan. Jadi sekali lagi aku minta maaf karena aku tidak bisa mengabulkan permintaan perjodohan dari mu ini", ucap Adipati Aghnibrata segera.


"Saya tahu bahwa ada seseorang yang di jodohkan dengan Ayu Ratna, Gusti Adipati. Tapi karena sama sama perjodohan, belum tentu Gusti Putri akan memilih untuk menikah dengan pangeran dari Kadiri itu.


Saya hanya ingin Gusti Adipati Aghnibrata bersikap adil kepada sesama pelamar. Dan juga mohon Gusti Adipati mengingat jasa saya sewaktu kejadian di Pakuwon Banjar 20 tahun yang lalu. Anggap saja ini adalah balas budi Gusti Adipati kepada saya.

__ADS_1


Atau begini saja, kita adu ilmu beladiri saja antara putra saya Danapati dengan pangeran muda dari Kadiri itu. Yang menang berhak menikahi Gusti Putri Dyah Ayu Ratna. Saya rasa itu cukup adil", Resi Danarasa yang sangat percaya diri dengan kemampuan beladiri Danapati, tersenyum penuh arti.


"Kalau itu keinginan mu, akan ku sampaikan kepada rombongan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono.


Sekarang kalian silahkan beristirahat lebih dulu di Kepatihan. Balai tamu kehormatan Istana sedang penuh dengan rombongan dari Kadiri.


Reksonoto,


Kau ajak Resi Danarasa dan para pengikutnya untuk bermalam di Kepatihan. Perlakukan seperti tamu kehormatan. Apa kau mengerti?", Adipati Aghnibrata menoleh ke arah Patih Reksonoto yang duduk bersila di depan kanan nya.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Patih Reksonoto segera menghormat pada Adipati Aghnibrata lalu melangkah keluar dari ruang pribadi Adipati diikuti oleh Resi Danarasa dan para pengikutnya.


Selepas mereka pergi, Adipati Aghnibrata segera bergegas menuju ke arah balai tamu kehormatan dimana Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya sedang beristirahat.


Kebetulan saja, Panji Tejo Laksono yang baru selesai mandi dan berganti pakaian sedang duduk bersama para pengikutnya di serambi balai tamu kehormatan. Kedatangan Penguasa Kadipaten Kalingga itu segera membuat mereka berdiri dari tempat duduknya dan menghormat pada sang Adipati.


Setelah Adipati Aghnibrata duduk dan menyampaikan pesan Resi Danarasa, Demung Gumbreg langsung geram.


"Kurang ajar!


Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Berani beraninya mereka menantang orang-orang Istana Kotaraja Kadiri. Kita harus memberi orang orang Perguruan Teratai Segara itu pelajaran. Biar hamba saja yang menghajar orang sombong itu, Gusti Pangeran ", ucap Gumbreg dengan cepat.


"Sabar, tenang dulu Paman..


Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak. Lagipula Gusti Adipati sudah menjelaskan pada kita bahwa ada budi baik yang harus di balas. Tentu saja kita juga harus memberi kesempatan kepada mereka.


Gusti Adipati,


Tolong katakan pada mereka untuk bersiap siap. Besok pagi aku akan menghadapi tantangan dari Danapati untuk mempertahankan kehormatan Istana Kotaraja Kadiri. Tapi setelah ini selesai, aku harap tidak ada lagi masalah berikutnya", ujar Panji Tejo Laksono dengan penuh kebijaksanaan.


"Hamba mohon maaf atas adanya permasalahan ini, Gusti Pangeran. Sekaligus juga berterimakasih atas kebaikan hati Gusti Pangeran yang bersedia untuk adu ilmu beladiri agar hutang nyawa hamba pada Resi Danarasa bisa terbayar.


Kalau begitu hamba mohon pamit", Adipati Aghnibrata segera menyembah pada Panji Tejo Laksono dan mundur dari tempat itu segera.


Senja dengan cepat berganti malam.


Panji Tejo Laksono sedang asyik menikmati secangkir wedang jahe buatan Luh Jingga di serambi balai tamu kehormatan. Tampak Gayatri dan Luh Jingga sedang bercengkrama dengan sang pangeran muda malam hari itu.


Dari arah depan, muncul Ayu Ratna dari arah gapura dengan langkah tergesa mendekati Panji Tejo Laksono. Dia yang baru mendengar tentang rencana pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Danapati benar benar khawatir.


"Gusti Pangeran,


Kenapa kau mudah sekali setuju dengan tantangan dari Danapati itu? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?", ada nada kekhawatiran di suara Ayu Ratna.


"Kau ini berani sekali meremehkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Jangankan Danapati, Senopati Ranggabuana saja tidak bisa melukai nya", sahut Gayatri dengan ketusnya.


"Aku tidak bicara dengan mu. Aku bicara dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, bukan kau", kesal Ayu Ratna mendengar ucapan Gayatri.


"Kauuu....."


"Gayatri, sudah..


Gusti Putri tidak perlu khawatir dengan keselamatan ku. Aku yakin bisa mengatasinya. Kau tenang saja", ucap Panji Tejo Laksono meredam emosi Gayatri dan Ayu Ratna.


"Tapi Gusti Pangeran..."


"Gusti Putri sebaiknya percaya dengan kemampuan beladiri Gusti Pangeran. Tinggi nya ilmu kanuragan Gusti Pangeran bukan isapan jempol belaka, jadi saya minta Gusti Putri tidak perlu khawatir berlebihan", Luh Jingga memotong omongan Ayu Ratna dengan sopan. Ini membuat Ayu Ratna menoleh ke arah Luh Jingga segera.


"Baiklah aku percaya padamu, Nisanak. Terimakasih kau sudah menenangkan hati ku.


Oh ya siapa namamu Nisanak? Kita belum berkenalan dari tadi", Ayu Ratna tersenyum simpul.


"Saya Luh Jingga, Gusti Putri. Putri Resi Damarmoyo dari Padepokan Bukit Penampihan. Saya pelayan Gusti Pangeran", jawab Luh Jingga dengan santun.


"Wah putri seorang pimpinan perguruan silat ya? Pasti ilmu kanuragan mu tinggi", puji Ayu Ratna sembari tersenyum. Dia merasa cepat akrab dengan Luh Jingga.


"Luh Jingga bukan hanya sekedar pelayan, tapi juga calon selir Gusti Pangeran. Bibi Ratu Anggarawati juga sudah merestui nya. Aku juga tentunya", sergah Gayatri dengan cepat.


"Aku tidak tanya kau..", ketus jawaban Ayu Ratna mendengar suara Gayatri. Sepertinya dia kurang suka dengan putri Tumenggung Sindupraja itu.


"Kauuu hihhhh....", Gayatri kesal dengan ulah Ayu Ratna.


"Luh Jingga, benarkah demikian? Kau ini benar-benar calon selir Gusti Pangeran? Ah tentu saja aku akan senang sekali memiliki saudara seperti mu", Ayu Ratna tersenyum penuh arti sembari memasang senyum manis nya.


"Tunggu Gusti Putri..

__ADS_1


Apa kau tidak keberatan jika kau harus berbagi hati dengan perempuan lain jika menikah dengan ku?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata itu tersenyum lebar sembari berkata,


"Tentu saja tidak!"


__ADS_2