Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Sayembara Panjalu


__ADS_3

"He he he he he he....


Bagus sekali Kalitri. Kali ini aku memiliki istri dari kalangan manusia. Anak dari Prabu Jayengrana Maharaja Panjalu yang perkasa. Sebelum titisan Dewa Wisnu itu sampai kemari, aku sudah harus mengawini putrinya agar dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi", ujar lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal itu sembari menyeringai lebar.


"Yang Mulia Gusti Prabu Gendarmanik harus sabar. Kata pendeta kita, waktu terbaik untuk melangsungkan pernikahan dengan Dewi Sekar Kedaton adalah besok lusa. Dia sudah menghitung keseluruhan bahkan hingga ke keturunan dari Gusti Prabu nanti yang pasti akan menjadi manusia setengah siluman yang memiliki kesaktian luar biasa.


Jadi hamba mohon, Gusti Prabu Gendarmanik bersabar sehari lagi", ucap lelaki bertubuh kurus yang di panggil dengan nama Kalitri itu.


Hemmmmmmm...


"Kalau tidak menginginkan keturunan sempurna dari seorang manusia, sudah pasti aku akan menjamah tubuh putri Prabu Jayengrana ini segera.


Baiklah Kalitri...


Kali ini aku akan mendengar kata-kata mu. Kau periksa semua persiapan untuk pernikahan ku dengan Dewi Sekar Kedaton. Jangan sampai mengecewakan karena ini adalah hajat besar Kerajaan Siluman Randugrowong", ucap lelaki bertubuh gempal dengan mahkota indah berhias permata merah besar itu segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..", setelah menjawab omongan lelaki bertubuh gempal itu, Kalitri segera menghormat pada nya lalu menghilang dari depan lelaki bertubuh gempal itu.


Ya, lelaki bertubuh gempal itu adalah Prabu Gendarmanik, raja kerajaan siluman Randugrowong yang berada di lereng barat Gunung Kawi. Tadi malam, dengan bantuan dari Kalitri sang patih, Prabu Gendarmanik berhasil menembus pagar ghaib yang terpasang di Istana Katang-katang. Kebetulan saja saat itu, semua putri Prabu Jayengrana sedang bercengkrama di bawah bulan purnama terkecuali dengan Dewi Sekar Kedaton yang sedang uring-uringan karena sedang datang bulan. Putri Prabu Jayengrana dari Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh ini memilih untuk masuk ke dalam bilik kamar nya untuk menenangkan perasaan nya yang sedang porak poranda akibat adanya tamu bulanan nya.


Berbekal ilmu sirep yang di miliki Kalitri, Prabu Gendarmanik berhasil menculik Dewi Sekar Kedaton untuk di bawa ke Istana Kerajaan Siluman Randugrowong. Inilah pangkal keributan yang terjadi di dalam Istana Katang-katang hari ini hingga semua orang kelimpungan mencari tahu keberadaan sang putri yang raib seperti di telan bumi.


Di Istana Katang-katang, Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh terus memijit pelipisnya yang berdenyut sakit karena tak satupun prajurit maupun punggawa istana negara memberikan kabar gembira tentang keberadaan sosok putri kesayangannya itu.


Tumenggung Narasuta, pejabat negara yang bertugas sebagai penjaga Istana Katang-katang hanya bisa tertunduk lesu karena dia tidak bisa menemukan keberadaan sang putri. Dia merasa gagal menjalankan tugasnya sebagai penjaga istana.


Para punggawa istana negara yang lain seperti Mapatih Warigalit, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Tumenggung Landung, Senopati Agung Jarasanda yang di angkat menjadi senopati utama Kerajaan Panjalu usai kematian Senopati Agung Narapraja di medan perang, Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma, Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung, Mahamantri I Hino Mpu Suryadharma, Mahamantri I Halu Mpu Sena dan beberapa pejabat negara yang hadir di tempat itu sama sekali tidak bisa berkata apa-apa selain menerka-nerka kemana perginya Dewi Sekar Kedaton.


"Ini semua adalah tanggung jawab mu, Tumenggung Narasuta. Kau lalai dalam tugas utama mu untuk menjaga istana negara dari hal seperti ini! ", ucap Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung sembari menunjuk ke arah Tumenggung Narasuta yang tertunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Jangan buru-buru menyalahkan orang lain, Kakang Mpu Kepung..


Menghilang nya Dewi Sekar Kedaton ini tidak wajar. Bagaimana mungkin seseorang bisa menghilang begitu saja tanpa ada jejak yang tertinggal sama sekali? Kau harus mempertimbangkan hal ini, jangan cuma bisa menyalahkan orang lain untuk kejadian di luar nalar begini", sahut Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma segera.


"Itu mustahil jika ada makhluk halus bisa masuk ke dalam Istana Katang-katang. Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Gandasena dan Dharmadyaksa ring Kasogatan Wiku Wikalpa sendiri yang memasang pagar ghaib pelindung istana ini, jadi tidak mungkin ada setan ataupun makhluk halus lainnya bisa seenaknya masuk kemari. Aku tidak asal bicara, Adhi Mpu Jayadharma. Aku bicara kenyataan yang terjadi sekarang ini.


Aku akan meminta kepada Gusti Prabu Jayengrana untuk mempertimbangkan hal tentang penggantian Tumenggung Narasuta sebagai penjaga istana negara", ucap Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung lantang. Ini adalah kesempatan bagus untuk nya menjatuhkan Tumenggung Narasuta yang merupakan usulan dari Mahamantri I Hino Mpu Suryadharma yang jelas berpihak pada Panji Tejo Laksono. Dengan di gantinya Tumenggung Narasuta sebagai penjaga istana negara dan dia akan menaruh orang kepercayaan nya di posisi itu, maka semakin mudah pula dia menjalankan rencananya.


"Jangan memperkeruh suasana, Kakang Mpu Kepung..


Kau yang paling tua dibandingkan kita semua yang ada disini. Cobalah bijak untuk menghadapi semua permasalahan. Jangan hanya melihat dari satu sisi tapi juga perhatikan sisi lainnya. Kita semua tahu bahwa Tumenggung Narasuta masih muda. Meskipun ilmu beladiri nya tinggi, tapi ilmu kebatinan nya belum seberapa. Kita yang sudah bau tanah ini harus memberikan kesempatan kepada yang muda jika ingin Panjalu tetap tegak sebagai penguasa di Tanah Jawadwipa ini. Jangan hanya karena kepentingan sesaat tapi malah menghancurkan masa depan Kerajaan ini Kakang", Mpu Suryadharma yang sudah tidak tahan dengan sikap dan perilaku Mpu Kepung yang mulai keterlaluan, mulai meradang dengan omongan lelaki tua itu.


"Adhi Suryadharma..


Apa maksud dari omongan mu baru saja? Apa kau pikir aku tidak memikirkan masa depan Kerajaan Panjalu ini?", Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung tersulut emosi nya ketika ia di tohok omongan Mpu Suryadharma.

__ADS_1


"Sudah cukup!!


Saat suasana sedang kacau begini, kalian malah ribut sendiri.. Bukannya mencari pemecahan masalah hilangnya putri ku, tapi malah adu mulut untuk perkara yang tidak jelas! Dimana kebijaksanaan kalian selaku mahamantri yang dipercaya untuk menjadi penopang kelangsungan pemerintahan Kerajaan Panjalu ini?", bentakan keras Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh langsung membuat adu mulut antara dua mahamantri itu terhenti seketika.


"Mohon ampun Gusti Ratu..


Tapi hamba tidak akan berbuat demikian bila Adhi Suryadharma tidak memulainya", Mpu Kepung masih berupaya untuk membela diri.


"Diam kau Paman Mpu Kepung!!


Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Carikan Kangmas Prabu Jayengrana pemecahan masalah ini segera, dengan bijak dan tidak ada keributan", potong Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh segera.


"Tidak perlu Dinda Galuh..!!"


Suara berat menggema di ruangan itu. Kabut putih tipis tercipta di antara para punggawa Istana Kotaraja Daha yang duduk bersila berhadapan itu dan Prabu Jayengrana muncul seolah datang dari alam gaib.


"Kangmas Prabu Jayengrana..


Apa Kangmas Prabu sudah mengetahui keberadaan putri kita sekarang?", Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh segera berdiri dari kursinya dan bergegas mendekati sang suami. Secercah harapan terpancar dari wajah perempuan yang kini menginjak usia 5 setengah lebih dasawarsa ini.


"Tahu pasti belum, tapi menurut Maharesi Haridharma hanya ada dua tempat yang mungkin menjadi tempat dimana Dewi Sekar Kedaton berada.


Istana Siluman Randugrowong atau Kerajaan Siluman Alas Roban!!"


Semua orang langsung tersentak mendengar jawaban Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana itu. Bagaimanapun juga, ucapan Maharesi Haridharma yang kondang sebagai kaca benggala hidup di Tanah Jawadwipa ini tentu bukanlah asal bicara saja.


"Benar Dinda Galuh..


Itu adalah satu-satunya alasan yang masuk akal untuk hilangnya Dewi Sekar Kedaton yang tiba-tiba ini", mendengar jawaban Sang Maharaja Panjalu itu, dengkul Ratu Ayu Galuh langsung lemas seketika. Permaisuri Pertama Kerajaan Panjalu itu pingsan saat itu juga.


Para dayang istana langsung bergegas membopong tubuh Ayu Galuh ke dalam Keputren Istana Katang-katang untuk mendapatkan pertolongan. Sementara itu Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana langsung kembali duduk di singgasana nya begitu urusan Ayu Galuh diatasi.


"Mohon ampun Gusti Prabu..


Lantas apa yang mesti kita lakukan untuk membawa pulang Gusti Putri Dewi Sekar Kedaton? Apa kita perlu mengutus seorang untuk menghadapi dua kerajaan siluman ini?", tanya Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma sembari menghormat pada Prabu Jayengrana sesaat setelah sang raja telah duduk di atas singgasana.


"Untuk kerajaan siluman Alas Roban, Maharesi Haridharma sudah bersedia untuk membantu kita menyambangi istana mereka.


Sedangkan untuk Kerajaan Siluman Randugrowong, aku sendiri yang akan berangkat kesana", jawab Prabu Jayengrana seraya mengelus kumisnya.


Semua orang terkejut mendengar jawaban sang raja. Mereka saling berpandangan seolah hendak bicara namun masih bingung harus bicara bagaimana. Saat kebuntuan ini terjadi, Mapatih Warigalit segera menyembah pada Panji Watugunung.


"Mohon maaf, Dhimas Prabu Jayengrana..


Sebuah istana negara tidak boleh dibiarkan kosong tanpa ada raja yang memerintah. Walaupun ada kami yang membantu menjalankan roda pemerintahan, namun kami tidak akan bisa mengambil keputusan jika terkait masalah genting.

__ADS_1


Seyogyanya, Dhimas Prabu Jayengrana tetap tinggal di dalam istana negara ini", ucap Mapatih Warigalit segera.


"Lantas bagaimana caranya agar putri ku Dewi Sekar Kedaton bisa pulang dari Kerajaan Siluman jika aku tidak bergerak kesana, Kakang Warigalit?", Prabu Jayengrana mengalihkan pandangannya pada sang kakak seperguruan nya itu dengan penuh tatapan mata keheranan.


"Buat saja sebuah sayembara untuk memulangkan Gusti Putri Dewi Sekar Kedaton ke Istana Katang-katang, Dhimas Prabu..


Aku rasa itu lebih bijak dan semua warga Panjalu tidak perlu khawatir dengan keselamatan raja mereka", jawab Mapatih Warigalit sembari menghormat pada sang raja.


"Hamba sependapat dengan usul dari Gusti Mapatih Warigalit, Gusti Prabu..


Lebih baik kita adakan sayembara untuk memulangkan Gusti Putri Dewi Sekar Kedaton. Jika itu tidak bisa memulangkan Gusti Putri, baru nanti kita pikirkan caranya yang lain lagi", timpal Mpu Suryadharma sang Mahamantri I Hino.


Hemmmmmmm...


Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana menghela nafas berat. Wajahnya nampak letih menghadapi masalah ini. Segera dia berdiri dari singgasananya lalu mengangkat tangan kanannya sejajar bahu.


"Umumkan titah ku...


Mulai hari ini aku mengadakan sayembara untuk membawa pulang putri ku Dewi Sekar Kedaton. Barangsiapa yang bisa membawa pulang Dewi Sekar Kedaton dalam keadaan sehat, jika laki-laki akan ku nikahkan dengan Dewi Sekar Kedaton. Tapi kalau perempuan, maka ia akan ku angkat sebagai saudara ku dan mendapatkan hadiah tanah lungguh untuk menjamin kehidupan nya", ucap Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.


Semua orang segera menghormat pada Prabu Jayengrana begitu titah sang raja Panjalu itu di ucapkan.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..!!"


Mulai hari itu, ratusan orang prajurit membawa selebaran yang di tulis pada sehelai kulit kambing dan mengikatnya di daerah keramaian seperti pasar dan perempatan jalan besar. Lainnya membacakan lontar yang berisi tentang sayembara itu di kerumunan orang yang ada di sekitar Kotaraja Daha.


Sedangkan beberapa ekor burung pembawa pesan di lepaskan untuk memberi tahukan kepada para penguasa daerah agar mengirimkan jago-jago ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan mereka untuk datang ke Istana Katang-katang demi memulangkan Dewi Sekar Kedaton.


Dari arah barat, rombongan pelamar dari Kadipaten Bhumi Sambara Mataram bergerak memasuki wilayah Kadipaten Anjuk Ladang yang berbatasan langsung dengan Kotaraja Daha. Tepatnya di wilayah Pakuwon Berbek, Patih Tundungwaja yang berkuda paling depan melihat sebuah kulit kambing yang terikat di dekat pos ronda di tikungan jalan. Merasa penasaran, Patih Tundungwaja segera melesat cepat kearah yang dimaksud setelah menggunakan kuda tunggangan nya sebagai tumpuan.


Hanya dalam waktu satu tarikan nafas saja, sang warangka praja Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini telah kembali ke samping kudanya. Mata lelaki tua itu segera membeliak lebar tatkala ia melihat tulisan yang tertera di gulungan kulit kambing di tangan nya.


"Gusti Adipati,


Rupanya Hyang Agung mempermudah jalan mu untuk menjadi menantu Prabu Jayengrana", ucap Patih Tundungwaja sembari berjalan mendekati kuda Adipati Arya Natakusuma.


"Apa maksud mu Paman Patih?", tanya Adipati Arya Natakusuma segera.


"Ini lihatlah..


Rupanya sekarang ini ada sayembara untuk membawa pulang Putri Dewi Sekar Kedaton yang di culik makhluk halus. Dengan kemampuan mu yang begitu hebat, ini bukan masalah besar bukan?", Patih Tundungwaja tersenyum penuh arti.


Adipati Arya Natakusuma tersenyum lebar membaca tulisan yang tertera di atas lembaran kulit kambing di tangannya. Sambil menggenggam erat lembaran wara-wara sayembara itu, Adipati Arya Natakusuma berkata dengan suara penuh keyakinan.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba...

__ADS_1


Aku pasti bisa menjadi menantu Prabu Jayengrana..".


__ADS_2