Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Wejangan


__ADS_3

Karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg segera mengejar langkah kaki sang kawan karibnya yang mulai memasuki wilayah ruang pribadi Adipati Aghnibrata.


"Tunggu sebentar Lu..


Jangan buat aku penasaran dengan apa yang baru saja kau omongkan", Demung Gumbreg segera menarik tangan kiri Tumenggung Ludaka. Mendapat tindakan seperti itu, Tumenggung Ludaka segera menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah kawan nya itu yang terlihat begitu penasaran.


"Memang kau tidak tahu akan adanya bahaya besar yang mengancam Panjalu, Mbreg?", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Gumbreg. Mendengar pertanyaan itu, Demung Gumbreg hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia tidak tahu sama sekali.


"Raja Jenggala sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai perang lagi dengan Panjalu. Dari perbatasan wilayah, mata mata kita telah melaporkan berulang kali tentang persiapan besar-besaran yang di lakukan oleh Maharaja Samarotsaha.


Inilah sebabnya mengapa aku berkata demikian kepada mu, Mbreg. Panjalu sedang dalam bahaya besar", imbuh Tumenggung Ludaka yang segera membuat Demung Gumbreg terkejut bukan main.


"Apa mereka masih belum kapok juga setelah dulu pernah kita kalahkan?", tanya Demung Gumbreg kemudian.


"Seharusnya mereka memang sudah kapok, tapi pergantian kepemimpinan dari Maharaja Mapanji Alanjung ke Maharaja Samarotsaha membuat pemikiran raja baru itu ingin melanjutkan cita-cita mendiang Mapanji Garasakan untuk menyatukan kembali Kahuripan.


Sedangkan Gusti Prabu Jayengrana masih terikat janji suci selama 50 tahun dengan Dewi Kilisuci untuk tidak mencaplok wilayah Jenggala apapun yang terjadi. Jadi meskipun kita bisa mengalahkan mereka, maka itu hanya akan membuat mereka mundur dari perbatasan wilayah kita saja tanpa bisa kita duduki wilayahnya", jawab Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah langit timur yang biru.


"Ini sangat tidak adil untuk kita, Lu.. Kenapa Gusti Prabu Jayengrana mau menerima perjanjian berat sebelah seperti itu?", kembali Demung Gumbreg bertanya.


"Entahlah aku juga tidak tahu, Mbreg..


Tapi dari yang ku dengar dari Paman Mahamantri Jayakerti, ini agar semua pihak keturunan Prabu Airlangga mendapatkan hak tanah lungguh yang adil selama Dewi Kilisuci selaku pemilik hak yang sah atas tahta Kerajaan Kahuripan masih hidup. Yang jelas saat ini, kita harus bersiap untuk menghadapi gempuran pasukan Jenggala jika mereka menyerang ke dalam wilayah Jenggala", penjelasan panjang lebar dari Tumenggung Ludaka membuat perwira prajurit Panjalu bertubuh tambun itu manggut-manggut saja.


"Sudahlah, itu kita kesampingkan dulu saja Lu..


Yang di depan mata saja yang kita pikirkan. Kedatangan Gusti Prabu Jayengrana ini untuk mengikuti pernikahan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Jadi tidak perlu mikir yang berat-berat, besok kita makan besar hehehehe", Demung Gumbreg terkekeh kecil sembari mendahului langkah Tumenggung Ludaka memasuki ruang pribadi Adipati Aghnibrata. Melihat ulah kawan karibnya itu, Tumenggung Ludaka hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.


Siang hari itu, keluarga besar Istana Kadipaten Kalingga mengadakan pertemuan dengan ayahanda Panji Tejo Laksono, Sang Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana untuk menyiapkan acara pernikahan esok hari. Dengan senyuman tipis, Prabu Jayengrana menyerahkan sepenuhnya proses pernikahan itu kepada pihak Istana Kadipaten Kalingga. Ini semakin membuat Adipati Aghnibrata bernafas lega karena tidak perlu lagi khawatir dengan pengaturan pernikahan yang pas untuk Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna.


Malam hari itu, Prabu Jayengrana kembali muncul di balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga dengan membawa Ratu Anggarawati saat semua calon istri Panji Tejo Laksono yang sengaja di panggil untuk bertemu dengan sang calon mertua beserta para punggawa Istana Kadiri sedang asyik berbincang tentang persiapan mereka esok hari. Ini semakin membuat semua orang terkejut melihat kemampuan beladiri dan ilmu kesaktian dari Sang Maharaja Panjalu.


Kedatangan Ratu Dewi Anggarawati langsung di sambut dengan gembira oleh Panji Tejo Laksono. Putra sulung Prabu Jayengrana itu segera berlutut dihadapan sang ibunda.


"Sembah bakti ananda, Biyung Ratu", ucap Panji Tejo Laksono sembari menyembah pada Ratu Dewi Anggarawati.

__ADS_1


"Ah putra ku yang paling tampan...


Sini ibu peluk nak. Ibu kangen sekali sama kamu, Cah Bagus", tanpa menunggu Panji Tejo Laksono bangkit dari tempat berlutut nya, Ratu Anggarawati langsung memeluk tubuh Panji Tejo Laksono di hadapan semua orang.


Semua orang langsung tersenyum melihat kedekatan mereka berdua.


"Bagaimana kabar mu, Cah Bagus? Kelihatannya kau semakin kurus saja", tanya Dewi Anggarawati setelah melepaskan pelukannya pada Panji Tejo Laksono dan memperhatikan kondisi tubuh sang putra. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.


"Biyung Ratu ini selalu saja memperhatikan aku seperti seorang anak kecil. Putra mu ini sudah dewasa, Biyung.. Kalau sampai ketahuan orang Biyung memperhatikan ku seperti ini, mau di taruh mana muka putra mu ini?", protes Panji Tejo Laksono sedikit berbisik pada Ratu Anggarawati.


"Aku tidak peduli dengan omongan orang. Bagiku kau tetap putra kecil ku yang selalu aku sayang, Tejo Laksono.. Apa kau masih ingat, jika dulu kau selalu tidak bisa tidur sebelum di usap dahi mu oleh ibu?", Ratu Anggarawati tersenyum simpul.


"Itu dulu Biyung Ratu.. Sekarang putra mu ini sudah mau menikah, jadi tolong Biyung Ratu tidak bercerita tentang masa kecil ku lagi ya..


Nah sekarang, aku perkenalkan calon mantu Biyung Ratu.


Ayu Ratna, Dewi Wulandari.. Kemarilah kalian. Gayatri dan Luh Jingga juga", Panji Tejo Laksono mengalihkan perhatian nya pada keempat orang perempuan cantik yang sedari tadi hanya menonton obrolan antara dirinya dengan ibunya. Ratu Anggarawati pun turut memandang ke arah keempat orang gadis cantik yang berjalan menuju ke arah nya.


Begitu mereka berempat sampai, keempatnya segera menghormat pada Ratu Dewi Anggarawati bersamaan.


Mendengar kekompakan mereka, Ratu Anggarawati tersenyum tipis sembari berkata, " Bangunlah putri putri ku. Sembah bakti kalian aku terima".


"Terimakasih Kanjeng Ratu Anggarawati", setelah berkata seperti itu, Ayu Ratna, Song Zhao Meng, Gayatri dan Luh Jingga segera duduk bersimpuh di hadapan Ratu Dewi Anggarawati. Mata Dewi Anggarawati langsung tertuju pada sosok sosok Song Zhao Meng yang memang memiliki fisik berbeda diantara keempat orang calon istri Panji Tejo Laksono.


"Tejo Laksono, gadis ini..."


"Dia adalah Song Zhao Meng, Biyung Ratu. Putra Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok. Dia adalah ikatan kekerabatan yang di berikan kepada kita agar kedepannya Tiongkok dan Panjalu akan makmur bersama", Panji Tejo Laksono menjelaskan tentang Song Zhao Meng.


Mendengar jawaban itu, Ratu Anggarawati tersenyum penuh arti. Segera dia mengelus rambut Song Zhao Meng yang hitam legam dan panjang. Rambut perempuan cantik asal Tanah Tiongkok itu memang selembut kain sutra.


"Gadis cantik, apa kau sudah bisa berbicara dalam bahasa kami?", tanya Ratu Anggarawati segera.


"Meng Er sudah belajar bahasa Jawa Kuno sejak Kakak Thee berada di Tiongkok, Bunda Ratu..


Meng Er juga sudah punya nama Jawa dari Kakak Thee. Nama Jawa Meng Er adalah Dewi Wulandari", jawab Song Zhao Meng sembari tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, dengan begitu kalian semua akan memahami apa yang aku katakan pada kalian.


Sekarang, kalian berempat dengarkan aku baik-baik. Aku punya nasehat untuk kalian semua sebelum resmi menjadi menantu dari Ratu Anggarawati. Tejo Laksono, kau juga ikut mendengarkan", mendengar ucapan Ratu Anggarawati, Song Zhao Meng, Ayu Ratna, Luh Jingga dan Gayatri serta Panji Tejo Laksono segera memperhatikan istri pertama Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana itu. Mereka duduk bersila melingkar di sekitar tempat Ratu Pertama Panjalu itu duduk.


"Sebentar lagi, kalian akan menjadi satu ikatan keluarga yang utuh. Jika sebelumnya kalian semua bisa tenang dalam kesendirian tapi mulai besok hal itu sudah tidak ada lagi.


Tejo Laksono,


Kau sebagai suami harus bisa bersikap adil kepada semua istri istri mu. Perlakukan mereka sama, tanpa memandang dari mana mereka berasal. Romo mu, adalah contoh yang sempurna untuk hal ini karena dia memiliki 7 istri dan kesemuanya mendapat perlakuan yang sama", Ratu Anggarawati melirik ke arah Prabu Jayengrana yang senyum-senyum saja mendengar pujian dari istri tercinta nya.


"Sedangkan untuk kalian para wanita..


Kalian wajib saling menjaga dan melindungi satu sama lainnya. Kalian harus saling bekerjasama dalam merawat putra semata wayang ku. Jangan sampai dia sendiri melakukan hal apapun, karena Tejo Laksono selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Kalian juga harus rukun dalam berbagi apapun, tidak boleh ada kecemburuan yang berlebihan. Ingatlah, kalian ini berbagi suami jadi harus bijak dalam berpikir dan bertindak. Apa kalian sudah mengerti?", Dewi Anggarawati menatap ke arah keempat orang gadis cantik yang kini duduk di hadapannya.


"Kami mengerti, Gusti Ratu", jawab Ayu Ratna, Song Zhao Meng, Luh Jingga dan Gayatri bersamaan. Ratu Anggarawati tersenyum simpul mendengar nya.


Malam itu, Ratu Anggarawati memberikan banyak wejangan kepada para calon istri Panji Tejo Laksono. Dalam kesempatan itu, dia juga menegaskan bahwa Panji Tejo Laksono adalah calon terkuat di pemilihan Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Jadi dia meminta agar mereka semua dapat mendukung suami mereka kedepannya.


Keesokan harinya, suasana di dalam Istana Kadipaten Kalingga sudah sangat sibuk meski matahari pagi baru saja menyingsing di langit timur. Ratusan prajurit sudah berjaga di setiap sudut istana Kalingga. Sedangkan para dayang istana sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing.


Saat matahari mulai sepenggal naik ke atas langit, di sanggar pamujan yang menjadi tempat penyucian jiwa sebelum pernikahan, nampak seorang lelaki sepuh berjenggot panjang nampak sedang melantunkan puja bakti terhadap dewa. Dia adalah Maharesi Wimana, pemimpin Pertapaan Gunung Ungaran yang di datangkan khusus dari Kadipaten Kembang Kuning untuk menikahkan Panji Tejo Laksono dengan keempat orang calon istri nya.


Sementara itu di belakangnya, Panji Tejo Laksono dan keempat orang calon istri nya nampak sudah memakai pakaian pengantin yang berwarna putih dengan sumping perhiasan emas. Ayu Ratna dan Song Zhao Meng yang menjadi garwa patmi atau permaisuri duduk di samping kanan Panji Tejo Laksono sedangkan Gayatri dan Luh Jingga yang menjadi garwa ampean atau selir duduk di sisi kiri sang pangeran muda dari Kadiri.


Sedangkan para anggota sanak keluarga yang hadir, duduk di belakang mereka dengan rapi termasuk Prabu Jayengrana, Ratu Anggarawati, Adipati Aghnibrata dan para punggawa istana Kadiri serta Kalingga. Mereka semua nampak begitu khusyuk dalam mengikuti proses pernikahan itu.


Asap tebal dupa dan kemenyan serta harum setanggi membuat acara pernikahan Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya terasa begitu sakral.


Maharesi Wimana berdiri dari tempat duduknya setelah selesai mengucapkan mantra mantra pujian pada Dewa Wisnu. Lelaki sepuh berjenggot panjang itu dengan langkah kaki pelan namun pasti mendekati Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya yang mengambil sikap menyembah pada Hyang Agung. Seorang cantrik segera mengambil sebuah bokor emas yang berisi air suci sebagai tanda proses pernikahan di mulai lalu menyerahkannya kepada Maharesi Wimana. Dan proses pernikahan antara Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya itupun di mulai.


Dari belakang, Ratu Anggarawati nampak mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya yang indah. Melihat itu, Prabu Jayengrana tersenyum simpul saja.


"Tak terasa ya Kangmas Prabu..


Rasanya seperti baru kemarin Tejo Laksono menangis di dalam pelukan ku. Dan sekarang ini kita menyaksikan dia menikah. Waktu rasanya berlalu begitu cepat", ujar Ratu Anggarawati perlahan. Prabu Jayengrana tersenyum tipis sembari berkata,

__ADS_1


"Inilah garis perjalanan hidup, Dinda Anggarawati".


__ADS_2