Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perguruan Tapak Suci


__ADS_3

"Hati hati kalau bicara Paman..


Mereka tokoh besar dunia persilatan. Pasti punya cara tersendiri untuk menemui kawan lama mereka. Jika tidak ingin terlibat masalah, sebaiknya paman sedikit menahan diri untuk tidak gampang mengomentari kebiasaan orang lain", ujar Panji Tejo Laksono yang berjalan di samping Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka sembari melangkah mengikuti Begawan Suradharma.


Tumenggung Ludaka segera menyikut lengan kiri Demung Gumbreg.


"Nah kau dengar sendiri kan omongan Gusti Pangeran?


Jangan asal buka mulut soal orang lain kalau tidak ingin celaka. Ingat kita dalam penyamaran agar sampai di Kalingga dengan aman", sambung Tumenggung Ludaka segera.


"Iya iya aku mengerti", balas Demung Gumbreg yang segera menyusul langkah orang di depannya.


Resi Linggajati menerima kedatangan kawan lama nya itu dengan baik. Mereka berbincang tentang banyak hal termasuk bagaimana menghadapi orang orang Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Racun Kembang yang berkeliaran di kaki Gunung Damalung untuk mengganggu pertemuan para pendekar golongan putih di Padepokan Pedang Awan.


Mereka akhirnya sepakat untuk bersama sama berangkat ke Gunung Damalung tanpa melibatkan banyak orang dari Perguruan Tapak Suci. Setelah itu, rombongan Panji Tejo Laksono dan Irawati serta Sujiwa di suruh beristirahat di tempat yang sudah di siapkan.


"Rencana mu akan mengajak berapa orang untuk berangkat ke Gunung Damalung, Linggajati?", tanya Begawan Suradharma yang berjalan di samping Resi Linggajati. Mereka berdua melihat-lihat para murid Perguruan Tapak Suci yang sedang berlatih sore itu.


"Rencananya aku hanya mengajak Woro Mundi dan Mpu Lumana saja untuk mengikuti ku ke Gunung Damalung, Suradharma.


Aku tidak ingin terlalu memancing perhatian para kroco kroco Perguruan Kelelawar Merah maupun Perguruan Racun Kembang yang di sebar oleh Gendar Pekik di sekitar kaki gunung itu", jawab Resi Linggajati sembari memandang ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang duduk bersama dengan Luh Jingga dan Gayatri di teras rumah tempat mereka bermalam.


"Ada apa Linggajati? Kenapa kau terus memandangi pemuda itu?", Begawan Suradharma menatap heran kearah kawan lamanya itu.


"Apa kau tidak curiga sedikitpun dengan jati diri pemuda itu, Suradharma?


Dia masih begitu muda tetapi dua orang itu nampak sangat patuh pada perintah nya padahal ilmu kedigdayaan mereka tidak bisa di anggap remeh", ucap Resi Linggajati sembari menunjuk ke arah Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg.


"Sepertinya dia adalah anak orang kaya di Seloageng, Linggajati.


Kau tahu selain kemampuan beladiri di dunia ini ada satu kekuatan yang mampu menguasai jagat raya jika kita memiliki nya. Kekuatan uang, Linggajati. Aku yakin dua orang pengawal pribadi nya itu patuh karena kekuatan uang nya", sergah Begawan Suradharma sambil tersenyum simpul.


"Aku rasa lebih dari sekedar uang saja, Suradharma.


Samar-samar aku merasakan sesuatu kekuatan besar yang tersembunyi di tubuh pemuda itu ", Resi Linggajati masih tetap bertahan dengan pendapat nya.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir terlalu jauh Linggajati, nanti rambut putih mu akan semakin banyak yang rontok.


Hari sudah senja, sebaiknya kita beristirahat untuk mempersiapkan diri besok. Aku permisi dulu ", usai berkata demikian, Begawan Suradharma segera melangkah menuju ke arah tempat bermalam yang di sediakan untuknya, meninggalkan Resi Linggajati yang masih berdiri menatap ke arah Panji Tejo Laksono dari kejauhan.


Langit barat memerah pertanda sebentar lagi hari akan menjadi malam. Ribuan kelelawar beterbangan keluar dari goa sarang nya. Sedangkan para burung siang telah kembali ke sarang, setelah lelah seharian bertarung menyambung nyawa. Jangkrik dan belalang mulai berbunyi saat malam mulai turun menyapa seisi bumi.


Malam itu langit terlihat cerah tak seperti biasanya. Bintang terlihat berkelap-kelip di angkasa seakan menari penuh kebahagiaan. Sementara sang bulan yang mendekati purnama nampak bersinar terang seperti mengawasi seluruh dunia dari tempatnya.


Di depan tempat bermalam, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg bersama para prajurit pengawal termasuk Siwikarna dan Jaluwesi nampak duduk bersama sambil menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan seraya menikmati indahnya cuaca malam hari itu. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal termasuk perjalanan mereka menuju ke Kadipaten Kalingga.


Panji Tejo Laksono terlihat berjalan mendekati mereka. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg langsung menggeser posisi duduk nya untuk memberi tempat bagi sang pangeran muda.


"Denmas Panji,


Apa kita tidak sebaiknya langsung menuju ke Kalingga saja? Kita tidak perlu repot-repot membuang waktu ke Padepokan Pedang Awan bukan?", tanya Demung Gumbreg begitu Panji Tejo Laksono duduk bersila diantara mereka. Sesuai dengan perintah Panji Tejo Laksono, semua orang di haruskan untuk memanggil Denmas bukan Gusti Pangeran agar mereka tidak ketahuan dalam penyamaran.


"Aku juga berpikir seperti itu Paman, tapi aku juga ingin tahu tentang dunia persilatan kita karena itu juga berpengaruh pada keamanan dan ketertiban umum Kerajaan Panjalu..


Keberadaan para pendekar tidak bisa di anggap sebagai warga negara biasa karena selain mereka memiliki pengaruh, kemampuan beladiri mereka juga bisa menjadi salah satu kekuatan bagi Kerajaan Panjalu jika mereka setia dengan pemerintah kerajaan", jawab Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang.


"Aku setuju dengan pendapat mu, Denmas..


Kita tidak bisa menganggap remeh para pesilat yang ada di wilayah Panjalu. Keberadaan mereka juga harus tetap dalam pengawasan pemerintah. Jangan sampai keberadaan mereka justru menjadi ancaman tersendiri bagi dalam negeri. Mereka adalah warga Kerajaan Panjalu. Sekuat apapun mereka tetap harus setia pada pemerintah", sahut Tumenggung Ludaka dengan sopan.


Saat mereka tengah asyik mengobrol, seorang lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa dengan rambut ikal dan mata lebar muncul dari arah kediaman utama. Di belakangnya beberapa orang mengikuti langkah sang lelaki itu.


"Permisi,


Apa kalian juga ikut dalam perjalanan menuju ke arah Gunung Damalung? Kalau benar, sebaiknya kalian urungkan saja. Aku tidak mau kehadiran kalian menjadi beban bagi ku dan Mahaguru Linggajati", ujar si lelaki berambut ikal itu sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Sepertinya kemampuan beladiri mereka hanya biasa biasa saja, Guru. Pasti akan merepotkan jika harus melindungi mereka jika bertemu dengan Perguruan Kelelawar Merah maupun Perguruan Racun Kembang", sambung seorang di belakangnya yang sepertinya adalah murid si lelaki berambut ikal.


"Lancang sekali mulut mu menghina majikan kami. Apa kau pengen aku hajar?", Demung Gumbreg geram bukan main. Perwira prajurit Panjalu bertubuh tambun itu segera berdiri dari tempat duduknya.


"Tahan Paman. Jangan mudah marah", Panji Tejo Laksono berdiri dari tempat duduknya menyusul Demung Gumbreg.


"Maaf Kisanak, kami yakin kami bisa melindungi diri kami sendiri tanpa perlu bantuan dari kalian.


Jadi tolong jangan memancing amarah kami dengan kata kata yang tidak pantas. Kami tahu bahwa kalian adalah anggota Perguruan Tapak Suci yang terhormat dan punya nama besar di dunia persilatan. Jadi sebaiknya kalian tetap menjaga nama baik kalian tanpa perlu merendahkan martabat orang lain", imbuh Panji Tejo Laksono segera.


"Sudah ku duga kau akan ketakutan setengah mati mendengar nama besar perguruan kami. Sekelompok orang yang tidak berguna. Dasar pengecut", ucap lelaki berambut ikal yang tidak lain adalah Mpu Lumana, murid ketiga Resi Linggajati.


"Siapa yang bilang kami pengecut?


Kalian hanya berani merendahkan orang di dalam markas Perguruan Tapak Suci. Benar benar seorang jago kandang", Tumenggung Ludaka yang mulai kesal dengan ulah para murid Perguruan Tapak Suci, ikut berdiri dari tempat duduknya.


"Tutup mulut mu!


Kau berani menghina ku? Baik, akan ku uji sejauh mana kemampuan beladiri kalian. Kalau diantara kalian ada yang sanggup menghadapi 5 jurus ku, aku tidak akan keberatan kalian satu rombongan dengan kami ke Gunung Damalung. Tapi jika kalian kalah, silahkan berangkat sendiri kesana", ujar Mpu Lumana sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan penuh penghinaan.


"Siapa takut dengan kroco seperti mu? Biar ku gebuk kepala mu dengan pentung sakti ku agar mulut mu tidak asal bicara", Demung Gumbreg segera meraih gagang pentung sakti nya tapi Panji Tejo Laksono langsung mencekal lengan nya.


"Tahan dulu Paman Gumbreg,


Sepertinya dia ingin mengetahui kemampuan beladiri ku. Paman sebaiknya lihat saja biar aku yang mencoba kemampuan pendekar besar ini".


Baik Panji Tejo Laksono maupun Mpu Lumana segera mempersiapkan kuda-kuda ilmu silatnya di halaman Perguruan Tapak Suci, sedangkan para pengikut Panji Tejo Laksono maupun para murid Mpu Lumana berdiri menonton di pinggir halaman. Luh Jingga yang baru sembuh turut hadir bersama dengan Gayatri.


Setelah melakukan kembangan ilmu silatnya, Mpu Lumana segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Tangannya langsung melayangkan serangan tapak beruntun ke arah sang pangeran muda.


Whuuthhh! Whuuthhh!


Plakkkk! Plllaaakkkkk!!


Dengan sigap Panji Tejo Laksono menangkis serangan itu dengan ilmu silat Padas Putih nya. Melihat lawan dengan mudah menangkis, Mpu Lumana segera sedikit merendahkan tubuhnya lalu menyapu kaki lawan secepat mungkin.


Panji Tejo Laksono angkat sebelah kaki menghindar sapuan kaki Mpu Lumana lalu dengan cepat ia memajukan tubuhnya sembari memukul dada Mpu Lumana dengan keras.


Bhhuukh!


Oouugghhhh!


Mpu Lumana melengguh keras saat pukulan Panji Tejo Laksono menghantam dada. Dia terhuyung mundur beberapa langkah.


"Satu jurus, pendekar besar!", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum.


Geram dengan senyuman Panji Tejo Laksono, Mpu Lumana segera menerjang maju ke arah sang pangeran muda. Jual beli serangan kembali terjadi.


Kembali Mpu Lumana nyaris terjungkal ke depan, saat sikut Panji Tejo Laksono dengan telak menghajar punggung nya.


"Dua jurus..!"


Terdengar suara dari bibir Panji Tejo Laksono yang membuat Mpu Lumana semakin kesal. Para penonton yang hadir mulai kasak kusuk mengomentari pertarungan antara mereka.


"Tiga jurus..!


Ayolah pendekar besar, jangan buang waktu lagi. Lihat anak buah mu mulai terlihat kecewa", ucap Panji Tejo Laksono yang semakin membuat Mpu Lumana murka. Pria berambut ikal itu kembali melompat ke arah Panji Tejo Laksono dengan serangan yang mengincar nyawa lawannya.


Whuuthhh! Plllaaakkkkk!!


Dhiiieeeessshh..!!


Aaauuuuggggghhhhh!


Mpu Lumana kembali terjungkal setelah Panji Tejo Laksono menghantam pinggang nya setelah menghindari serangan sembari merendahkan tubuhnya. Pertarungan tangan kosong itu benar benar terlihat sengit. Namun Panji Tejo Laksono menunjukkan kelasnya yang berada di atas kemampuan silat tangan kosong Mpu Lumana.

__ADS_1


Para penonton yang hadir di tepi halaman Perguruan Tapak Suci semakin banyak. Para murid dari perguruan silat itu berjubel di tepi halaman sembari bersorak sorai mendukung Mpu Lumana.


"Guru Lumana, jangan terlalu baik hati. Cepat jatuhkan orang itu!", teriak seorang murid Perguruan Tapak Suci dengan lantang.


"Guru, kau membawa nama baik perguruan kita. Jangan kalah dengan pemuda bau kencur seperti dia", sambung seorang murid segera.


"Hajar saja dia guru jangan kasih ampun", sahut seorang murid lainnya memberikan dukungan pada Mpu Lumana.


Hiruk pikuk para penonton semakin membuat suasana semakin panas.


"Jurus yang keempat, Kisanak!


Tinggal satu jurus lagi. Ini adalah kesempatan terakhir mu untuk mengusir rombongan ku", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum simpul.


"Bangsat!


Dari tadi aku menahan diri untuk tidak melukai mu tapi kau benar-benar meremehkan ku. Kali ini jangan salahkan aku berbuat kejam", ujar Mpu Lumana sambil bersiap untuk mengeluarkan Ajian Tapak Membelah Gunung, ajian andalan tingkat tinggi dari Perguruan Tapak Suci.


Kedua tangan nya langsung merentang lebar ke kiri dan kanan. Lalu dengan cepat kedua telapak tangan menangkup di depan dada. Sebuah asap putih merembes keluar dari telapak tangan yang menangkup. Lalu sinar putih langsung menggulung di kedua lengan Mpu Lumana.


Melihat lawan bersiap dengan ilmu kedigdayaan andalannya, Panji Tejo Laksono langsung memejamkan mata sekejap. Seketika itu juga tubuhnya di liputi oleh sinar kuning keemasan yang merupakan tanda bahwa Ajian Tameng Waja telah dirapalkan.


Usai Ajian Tapak Membelah Gunung di rapal, Mpu Lumana segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya.


"Mampus kau bajingan..


Hiyyyyaaaaaaaatttttt!!!!"


Tapak tangan kanan Mpu Lumana yang bersinar putih terang menghantam dada Panji Tejo Laksono yang di lambari sinar kuning keemasan.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat tangan Mpu Lumana menyentuh tubuh Panji Tejo Laksono. Namun mata Mpu Lumana segera melotot lebar saat melihat bahwa pemuda di hadapannya sama sekali tidak bergeming malah tersenyum lebar ketika menatap wajah nya.


Ajian Tapak Membelah Gunung yang kondang sebagai ajian kedigdayaan tinggi itu mampu menghancurkan batu sebesar gajah, namun tidak mampu menggeser posisi tubuh Panji Tejo Laksono.


Belum hilang rasa keterkejutan nya, tangan kanan Panji Tejo Laksono yang berwarna merah menyala seperti api langsung menghantam ke arah kepala Mpu Lumana. Murid ketiga Resi Linggajati dengan cepat menyilangkan kedua tangan nya untuk menahan serangan.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan dahsyat kembali terdengar. Mpu Lumana terpental jauh ke belakang. Darah segar muncrat keluar dari mulutnya. Di saat yang bersamaan, sebuah bayangan putih berkelebat cepat menangkap tubuh Mpu Lumana kemudian mendarat di tanah sejauh 2 tombak di depan Panji Tejo Laksono.


"Sudah cukup, pendekar muda!


Kau sudah menang dari murid ku ini", ujar si bayangan putih yang tak lain adalah Resi Linggajati sembari tersenyum tipis.


"Maafkan saya berbuat keonaran di Perguruan Tapak Suci, Resi Linggajati.


Sungguh saya tidak berniat untuk melakukan hal itu. Saya hanya membela diri", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.


"Aku mengerti apa yang terjadi, pendekar muda.


Aku tahu kau masih menahan sebagian besar tenaga dalam mu waktu melawan Lumana. Kalau kau mau mengeluarkan seluruh kemampuan mu, pasti Lumana tidak akan bernyawa lagi", Resi Linggajati membungkukkan badannya pada Panji Tejo Laksono.


Kaget semua orang mendengar ucapan Resi Linggajati tak terkecuali Begawan Suradharma, Irawati dan Sujiwa yang turut melihat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Mpu Lumana.


'Ternyata benar omongan Linggajati. Tadi nya ku kira dia hanya seorang anak muda yang kaya saja, namun ternyata dia lebih kuat dari kedua pengawal utamanya itu. Benar benar pintar menyembunyikan jati diri ', batin Begawan Suradharma.


Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi semua orang terutama Mpu Lumana yang mendapat pelajaran berharga.


Keesokan paginya...


Rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Perguruan Tapak Suci bersama rombongan Begawan Suradharma dan Resi Linggajati. Karena Mpu Lumana luka dalam akibat pertarungan dengan Panji Tejo Laksono maka Ki Galungan menggantikan posisinya sebagai pengawal Resi Linggajati. Rombongan itu bergerak ke barat meninggalkan Kota Pakuwon Karangnongko.


Begitu memasuki wilayah kaki Gunung Damalung, serombongan lelaki berbaju merah hitam menghadang mereka sembari memegang senjata yang terhunus. Seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis jarang dan mata besar langsung berteriak lantang.

__ADS_1


"Berhenti kalian!"


__ADS_2