
****
Panji Tejo Laksono terus melangkah memeriksa persiapan rombongan nya yang hendak pulang ke Tanah Jawadwipa. Hampir satu purnama sudah dia tinggal di Istana Kekaisaran Song yang terletak di Kota Kaifeng. Selama bertempat tinggal di Istana Kekaisaran Song, Kaisar Huizong memperlakukannya dengan baik. Berbagai lukisan indah, guci keramik yang indah, aneka porselen juga beberapa senjata di berikan oleh Kaisar Huizong padanya. Juga beberapa buku tentang sastra China, pengobatan dan pengetahuan di berikan untuk nya. Meskipun Panji Tejo Laksono tidak bisa membaca tulisan aksara China, namun Rakryan Purusoma yang pintar mampu menerjemahkan setiap huruf Tiongkok itu dengan baik.
Selama di istana Kaifeng, hubungan antara Luh Jingga dan Song Zhao Meng juga berangsur membaik. Jika sebelumnya mereka tidak saling bertegur sapa karena kendala bahasa, kini mereka justru akrab setelah Song Zhao Meng yang cerdas mampu belajar bahasa Jawa Kuno dengan cepat. Kemanapun, dua orang wanita muda nan cantik itu selalu berdua.
Panji Tejo Laksono menghentikan langkahnya ketika melihat Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka sedang menaikkan sebuah peti kayu berwarna hitam keatas kereta kuda yang akan membawa barang bawaan mereka untuk pulang ke Kadiri.
"Paman Ludaka, Paman Gumbreg..
Kalian berdua sedang apa? Apa perlu aku bantu?".
Dua orang perwira tinggi prajurit Panjalu segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang berdiri di belakang mereka. Sambil menepuk-nepuk telapak tangannya yang terkena debu, Tumenggung Ludaka segera menjawab tawaran sang pangeran muda dari Kadiri itu dengan santun, " Ah tidak perlu repot-repot Gusti Pangeran. Sudah beres kog".
"Iya Gusti Pangeran Panji..
Cuma beberapa kain sutra halus untuk oleh oleh Dhek Jum di rumah. Perempuan pasti suka dengan hadiah", imbuh Demung Gumbreg segera.
Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti. Dia segera menepuk pundak Demung Gumbreg yang berdiri di hadapannya.
"Betul betul pria yang sayang istri. Aku salut dengan Paman Gumbreg ", puji Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Demung Gumbreg tersenyum lebar.
"Heleehhh...
Dia itu tidak sayang istri, Gusti Pangeran. Tapi lebih tepatnya takut istri. Coba saja dia tidak bawa oleh-oleh waktu pulang, pasti di suruh tidur di luar lagi oleh istrinya", sergah Tumenggung Ludaka sambil melengos ke arah lain.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Demung Gumbreg melotot ke arah Tumenggung Ludaka sedangkan Panji Tejo Laksono terkekeh kecil melihat tingkah Gumbreg yang terlihat kesal pada Tumenggung Ludaka.
"Tak apa apa takut istri, Paman Gumbreg. Nanti malah Bik Jum bisa mengekang Paman agar tidak macam macam kog.
Ingat besok pagi kita berangkat ke Lin'an. Sebaiknya kita segera beristirahat sebelum memulai perjalanan. Aku kembali ke tempat ku dulu", ujar Panji Tejo Laksono yang segera di sambut dengan sembah tanda hormat dari Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg. Begitu Panji Tejo Laksono menjauh dari tempat mereka, Demung Gumbreg segera menyikut rusuk kiri kawan karibnya itu.
"Eh kampret, kira kira dong kalau bongkar rahasia orang. Di depan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono pakai bongkar rahasia rumah tangga orang lagi. Kau ini kawan ku atau bukan sih?", omelan Demung Gumbreg segera meluncur ke telinga Tumenggung Ludaka.
" Loh kenyataan nya seperti itu bukan? Jadi tidak perlu lagi di tutupi.
Ingat kita harus jujur dengan atasan, tidak boleh bohong", jawab Tumenggung Ludaka asal. Mendengar jawaban itu, sontak saja Demung Gumbreg segera menunjuk ke arah Tumenggung Ludaka.
"Eh kampret, kau ini ya..."
"Tunggu aku Lu...."
Sore hari segera berlalu dengan cepat dan digantikan oleh malam hari yang gelap. Seluruh penduduk Kota Kaifeng yang bekerja pada siang hari telah pulang ke rumah masing-masing sementara beberapa tempat judi, rumah bordil dan kedai arak masih tetap buka karena kebanyakan orang datang ke tempat mereka setelah bekerja.
Keesokan paginya, Panji Tejo Laksono selesai berdandan di bantu oleh Luh Jingga saat Song Zhao Meng datang ke kamar tidur nya. Semalam mereka berdua telah berpamitan kepada Kaisar Huizong dan Maharani Mingjie untuk pulang ke Kadiri. Kaisar kedelapan Dinasti Song ini mengijinkan mereka berdua dan meminta Panji Tejo Laksono untuk terus menjaga Song Zhao Meng seterusnya. Panji Tejo Laksono berjanji akan selalu menjaga Song Zhao Meng.
"Kakak Thee,
Apa kau sudah siap?", tanya Song Zhao Meng sembari tersenyum simpul. Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum tipis sembari mengangguk.
"Lu Ching Gan,
__ADS_1
Bagaimana dengan persiapan mu? Kau sudah mengemasi barang-barang Kakak Thee bukan?", Song Zhao Meng mengalihkan pandangannya pada Luh Jingga yang berdiri di samping Panji Tejo Laksono. Meski bahasa Jawa Kuno nya masih kaku, tapi Luh Jingga sudah bisa memahami apa maksud ucapan nya.
" Sudah beres, Putri Meng Er..
Tinggal menunggu kedatangan mu saja sebelum kita mulai perjalanan", balas Luh Jingga segera.
Mendengar jawaban Luh Jingga, Song Zhao Meng tersenyum penuh arti dan mereka bertiga pun segera keluar dari dalam kamar tidur Panji Tejo Laksono. Ketiga nya berjalan menuju ke arah rombongan Panji Tejo Laksono yang sudah bersiap untuk berangkat. Kasim Tong Guan mengantar kepergian mereka sampai di pintu gerbang istana. Sesaat sebelum kereta kuda itu berangkat, Song Zhao Meng melihat ke arah Istana Kekaisaran Song untuk yang terakhir kalinya. Ada bulir air mata yang jatuh di atas pipi sang putri. Luh Jingga yang menemani di dalam kereta kuda segera menggenggam tangan Song Zhao Meng untuk menguatkan hati sang putri. Kini sang putri berangkat menuju ke Tanah Jawadwipa seorang diri tanpa Qiao Er dan para pengawalnya.
Rombongan Panji Tejo Laksono segera meninggalkan Kaifeng menuju ke arah tenggara tepatnya menuju kota Qi.
Mereka menyusuri jalan besar menuju Kota Qi yang berdampingan dengan rawa yang terkenal dengan sebutan Rawa Seribu Teratai. Meskipun namanya indah, namun sesungguhnya tempat itu sangat berbahaya. Konon katanya, ada siluman gentayangan di tempat itu setelah malam menjelang tiba.
Tepat pada tengah hari, perjalanan rombongan Panji Tejo Laksono sampai di tengah Rawa Seribu Teratai. Pemandangan alam nan indah dan menawan tersaji di depan mata. Ratusan bunga teratai bermekaran membuat semua mata tertuju pada sekitar tempat itu.
"Meng Er,
Bagaimana kalau kita berhenti di tempat ini untuk makan siang? Sepertinya kuda kuda kita butuh istirahat barang sejenak", tanya Panji Tejo Laksono dari luar kereta kuda.
"Aku hanya patuh pada aturan Kakak Thee. Cuma aku sarankan untuk tidak terlalu lama di tempat ini. Sekalipun aku percaya dengan kemampuan beladiri Kakak, tapi kita juga wajib berhati-hati karena tempat ini adalah wilayah kekuasaan Siluman Rawa Seribu Teratai", jawab Song Zhao Meng sembari tersenyum tipis dari balik tirai jendela kereta kuda.
"Aku mengerti Meng Er", ujar Panji Tejo Laksono sembari berbalik arah menuju ke para pengikutnya. Di tempat itu pula mereka segera membuka bekal perjalanan mereka karena mereka sudah letih setelah hampir setengah hari melakukan perjalanan. Atas perintah Tumenggung Ludaka, mereka membentuk pagar betis untuk melindungi rombongan mereka.
Saat mereka sedang lahap menyantap makanan mereka, seorang prajurit Panjalu yang melihat sesosok bayangan berwarna merah melesat cepat kearah mereka langsung berteriak lantang,
"Ada yang datang!!"
__ADS_1