
Semua orang langsung melotot lebar ke arah Demung Gumbreg termasuk Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Sindupraja. Para istri Panji Tejo Laksono segera melengos tanpa memandang ke arah perwira prajurit Panjalu bertubuh tambun itu. Sedangkan Sang Penguasa Kadipaten Seloageng langsung menepuk jidatnya sambil tersenyum simpul dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Demung Gumbreg.
Sosok Demung Gumbreg yang kadang ceplas-ceplos tanpa berpikir panjang memang sering membuat kesal orang setengah mati. Tapi dia kadang juga memecah suasana beku dengan sikapnya yang seenaknya sendiri.
"Eh kog semua melotot ke arah ku ya? Apa aku salah ngomong?", gumam Demung Gumbreg sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Mulutmu benar-benar tidak tahu tempat, Mbreg..
Ini pisowanan agung, bukan tempat bermalam kita di tepi hutan. Kalau nanti Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono marah, tanggung sendiri akibatnya", bisik Tumenggung Ludaka yang langsung membuat Gumbreg pucat seketika. Dia segera sadar bahwa ia baru saja melakukan kesalahan.
"Mohon ampun Gusti Pangeran, saya salah omong. Mohon ampun beribu ampun", Demung Gumbreg segera menyembah pada Panji Tejo Laksono dan meminta maaf.
"Sudahlah Paman Gumbreg..
Kami semua menyadari bagaimana sifat mu. Lain kali jangan diulangi lagi ya", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran. Terimakasih atas kebesaran hati Gusti Pangeran", sahut Demung Gumbreg segera. Wajahnya nampak lega mendengar jawaban Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera berdiri dari tempat duduknya.
"Paman Jarasanda,
Untuk sementara waktu sambil mencari pemecahan masalah ini, aku minta agar Paman Jarasanda membangun benteng pertahanan di barat Kali Aksa untuk berjaga jaga.
Sepuluh ribu orang prajurit pilihan Seloageng akan ku terbantukan di benteng pertahanan itu. Sisanya, yang terdiri dari para prajurit yang sepuh dan yang terluka ringan selepas pralaya kemarin, ku tugaskan untuk menjaga istana. Aku rasa itu satu-satunya cara yang bisa kita gunakan saat ini. Jika nanti aku menemukan pemikiran yang lebih baik, maka perubahan akan ku lakukan", ujar Panji Tejo Laksono segera. Semua orang langsung manggut-manggut setuju dengan pengaturan yang di lakukan oleh sang Adipati baru Seloageng ini.
"Gusti Pangeran Adipati sungguh bijaksana. Besok pagi hamba akan segera berangkat ke barat Kali Aksa untuk secepatnya membangun benteng pertahanan untuk para prajurit Panjalu.
Untuk perbaikan istana Kadipaten Seloageng, biar nanti Paman Tumenggung Sindupraja saja yang mengaturnya", ujar Senopati Muda Jarasanda sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Terimakasih atas pengertian nya, Paman Jarasanda. Biar nanti Senopati Gardana yang akan memimpin para prajurit Seloageng di barat Kali Aksa.
Untuk pengamanan di seputar Kota dan Istana Kadipaten Seloageng, aku serahkan kepada Ki Juru Mpu Susena bersama Bekel Widagda saja", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis. Demung Gumbreg yang merasa dirinya tidak di sebut oleh Panji Tejo Laksono, langsung menghormat pada sang Adipati baru Seloageng.
"Mohon ampun sekali lagi jika hamba lancang, Gusti Pangeran Adipati..
Semuanya sudah mendapat bagian tugas. Kog saya sama Tumenggung Ludaka belum di sebut? Terus tugas kami apa selanjutnya?", Demung Gumbreg segera menghormat usai berbicara.
"Tumben kau semangat sekali untuk menerima tugas, Mbreg? Kesambet setan mana kau?", bisik Tumenggung Ludaka yang duduk di sebelahnya.
"Jangan cerewet kau Lu..
Daripada pulang ke Kadiri, lebih baik aku tetap disini. Tidak kena omel Dhek Jum tiap saat. Kalau aku membantu, setidaknya aku tidak perlu malu jika makan banyak tiap hari", balas Gumbreg lirih. Mendengar jawaban itu, Tumenggung Ludaka hanya mengelus dada nya sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf Gusti Pangeran Adipati, biar hamba yang menjawab pertanyaan Demung Gumbreg", Senopati Muda Jarasanda segera menghormat pada Panji Tejo Laksono. Isyarat tangan kanan Panji Tejo Laksono menjadi tanda bahwa sang pangeran muda ini mengijinkan Senopati Muda Jarasanda untuk bicara.
"Kau ini abdi dalem Istana Katang-katang, kenapa masih juga bertanya apa tugasmu Mbreg?
Tentu saja besok membantu aku ke barat Kali Aksa untuk membuat benteng pertahanan. Kau ini kepala prajurit perbekalan Panjalu. Kasihan anak buah mu Weleng dan Gubarja sudah pontang-panting mengatur para prajurit perbekalan semenjak kau tinggal pergi. Dan kau masih bilang tidak ada tugas? Makan bayaran buta kau..", imbuh Senopati Muda Jarasanda segera.
__ADS_1
"Elehh, begitu saja kog marah to Jar... Eh maaf Gusti Senopati Muda Jarasanda..
Yo wes, besok pagi aku ikut ke barat Kali Aksa sama Tumenggung Ludaka", jawab Gumbreg tanpa merasa bersalah sedikitpun. Senopati Muda Jarasanda hanya geleng-geleng kepala saja melihat ulah kawannya itu.
"Kalau begitu, besok Kangmas Pangeran membantu perbaikan istana ini ya?", tanya Ayu Ratna penuh harap.
"Tidak bisa, Dinda Ayu..
Besok pagi aku akan menemui Paman Pangeran Arya Tanggung dari Tanah Perdikan Lodaya. Kita harus menambah bala bantuan untuk para prajurit Panjalu nantinya. Maka besok aku akan pergi ke Tanah Perdikan Lodaya untuk meminta tolong kepada Paman Arya Tanggung. Aku yakin Paman Pangeran Arya Tanggung bersedia untuk membantu ku.
Setidaknya dengan begitu, maka jumlah pasukan yang dari Lodaya akan mampu mengimbangi para prajurit Jenggala", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Lantas Kangmas Pangeran berangkat dengan siapa? Saya, Kangmbok Gayatri, Kangmbok Luh Jingga, Nimas Wulandari atau dengan Nimas Kirana?", sambung Ayu Ratna segera.
"Tidak seorang pun aku ajak..
Kalian semua baru melewati peristiwa yang menguras tenaga. Jadi lebih baik kalian semua beristirahat di istana ini untuk memulihkan tenaga. Aku akan pergi menggunakan Ajian Halimun agar cepat sampai di Lodaya dan pulang secepatnya.
Saudara Naratama,
Apa kau yakin ingin tetap mengikuti ku?", Panji Tejo Laksono mengalihkan perhatian nya pada Naratama sang Pendekar Golok Angin.
"Hamba berhutang nyawa pada Gusti Pangeran Adipati. Sudah menjadi tekat hamba untuk membalas budi baik Gusti Pangeran Adipati dengan mengabdikan diri hamba pada Gusti Pangeran", ujar Naratama sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Hemmmmmmm..
Kalau itu sudah menjadi tekat mu, akan ku tempatkan kau sebagai salah satu perwira di keprajuritan Seloageng. Mpu Susena ku naikkan pangkat menjadi Tumenggung sedangkan kau menggantikan posisi nya sebagai Juru. Mulai hari ini kau adalah Juru Naratama, yang bekerja di bawah arahan Senopati Gardana", titah Panji Tejo Laksono.
"Sriati..
Sekarang apa yang kau inginkan?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Sriati. perempuan cantik berkulit sawo matang itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum berbicara.
"Hamba akan ikut Kakang Naratama, Gusti Pangeran Adipati", ujar Sriati sambil tersenyum malu-malu. Melihat itu, semua orang di Pendopo Agung langsung ikut tersenyum memahami bahwa kedua sejoli ini rupanya telah menjalin hubungan asmara.
Malam terus merangkak naik ke atas singgasana nya. Semburat cahaya bulan yang seharusnya muncul di langit timur sama sekali tidak terlihat. Bintang pun juga demikian. Awan hitam tebal lah yang menjadi penyebabnya. Ini menandakan bahwa musim hujan akan segera hadir di Tanah Jawadwipa. Selepas tengah malam, hujan deras di sertai hembusan angin kencang dan gemuruh petir mengguyur wilayah Kota Kadipaten Seloageng. Udara yang semula pengap pun berubah menjadi dingin bersama turunnya sang hujan deras.
Menjelang pagi tiba, hujan deras itu berangsur-angsur mereda. Menyisakan rintik gerimis yang membuat suasana pagi itu terasa dingin. Suara keras kokok ayam jantan terdengar bersahutan seakan menyambut kedatangan sang Surya yang masih bersembunyi di balik tingginya Gunung Kawi di sebelah timur.
Panji Tejo Laksono menggeliat dari ranjang peraduannya. Putra sulung Prabu Jayengrana itu menoleh ke arah kiri lengannya dimana Song Zhao Meng masih terlelap tidur. Perlahan sang pangeran menggeser posisi tangan kiri nya yang menjadi bantal tidur Song Zhao Meng. Setelah itu, sang pangeran muda segera mengalungkan selimut berwarna hitam dengan hiasan benang emas di pinggir nya untuk menutupi tubuh.
Panji Tejo Laksono hendak beranjak dari tempat tidur nya namun terdengar suara Song Zhao Meng di belakangnya.
"Masih pagi Kakak Thee... Kau mau kemana?"
Panji Tejo Laksono segera menoleh ke belakang dan melihat Song Zhao Meng bangun tidur sambil mengucek matanya. Melihat itu Panji Tejo Laksono langsung tersenyum penuh arti.
"Aku harus secepatnya ke Lodaya, Meng Er.. Masalah besar sedang bergerak menuju kemari. Bantuan dari Paman Pangeran Arya Tanggung akan sangat berguna untuk memukul mundur pasukan Jenggala", balas Panji Tejo Laksono sembari mengusap pipi ranum putri Kaisar Huizong ini. Mendengar penjelasan dari suaminya, Song Zhao Meng tersenyum lebar. Keduanya segera bergegas keluar dari dalam kamar tidur untuk membersihkan diri di kolam pemandian yang ada di belakang kamar pribadi Sang Adipati.
Pagi itu, sebelum berangkat dari Seloageng, Panji Tejo Laksono menyempatkan diri untuk sarapan bersama semua istri dan Dyah Kirana. Aneka hidangan terbaik dari juru masak istana seperti lele panggang, ayam bakar, daging asap, nasi putih, urap-urap, sayur mayur dan pisang menjadi menu sarapan pagi mereka. Siddhu pun juga tersedia berikut twak (tuak) dari nira aren.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Panji Tejo Laksono berpamitan pada istri-istrinya dan Dyah Kirana untuk berangkat ke Tanah Perdikan Lodaya dengan Ajian Halimun nya. Mulut sang pangeran muda segera komat-kamit merapal mantra ilmu kanuragan tingkat tinggi ini. Kabut putih tipis segera menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan sekejap kemudian dia sudah tidak terlihat lagi bersama dengan angin semilir yang tiba-tiba berhembus perlahan.
Di Pendopo Agung Tanah Perdikan Lodaya, Sang Penguasa Lodaya Pangeran Arya Tanggung sedang duduk di atas singgasana nya. Di samping kiri nya, Dewi Anggraeni sang permaisuri yang berasal dari Kabupaten Gelang-gelang duduk di kursi yang sedikit lebih rendah. Di sebelah nya, putri Semata wayang sang penguasa Tanah Perdikan Lodaya, Dewi Rara Kinanti ikut serta di dalam pisowanan pagi hari itu.
Para nayaka praja Lodaya, seperti Patih Umbara, Senopati Jaya Laweyan, Tumenggung Pandu dan beberapa punggawa istana istana seperti Sang Pamgat Mpu Soka, Mantri Mpu Lumaksana dan Dharmadyaksa Mpu Sangguh telah duduk di tempat mereka masing-masing dengan tenang. Suasana pagi itu terasa hening karena semuanya menunggu titah Sang Penguasa Lodaya.
Baru saja semua nayaka praja melaporkan situasi terkini di sekitar Tanah Perdikan Lodaya. Terutama pada memanasnya hubungan antara Panjalu dan Jenggala. Pangeran Arya Tanggung nampak mengelus kumis tipis nya sebelum berbicara.
"Sebagai wilayah paling kecil di antara Panjalu dan Jenggala, Lodaya akan juga terkena dampaknya jika Panjalu dan Jenggala berperang. Sebagian besar roda perdagangan kita dengan mereka. Wilayah kita juga diapit oleh wilayah Kadipaten Seloageng, Kadipaten Singhapura dan Karang Anom yang merupakan wilayah Kerajaan Panjalu.
Ini yang membuat aku bingung harus bagaimana", ujar Pangeran Arya Tanggung sembari memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Apa yang kau bingung kan, Paman Arya Tanggung?!"
Suara berat nan penuh kewibawaan ini langsung membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Dari arah depan, kabut putih tipis tiba tiba muncul dan dari sana seorang lelaki bertubuh tegap dengan wajah tampan melangkah keluar. Pangeran Arya Tanggung segera berdiri dari singgasana kebesaran nya begitu tahu siapa orang yang datang.
"Nakmas Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono...
Jagad Dewa Batara, rupanya kau yang datang ke tempat ini, keponakan ku", ucap Pangeran Arya Tanggung segera.
"Salam hormat ku, Paman Pangeran Arya Tanggung, Bibi Dewi Anggraeni...", ucap Panji Tejo Laksono seraya membungkuk hormat pada mereka berdua.
"Wah pantas saja dari tadi pagi burung prenjak terus menerus berkicau tanpa henti di Keputren. Rupanya ada tamu agung yang berkunjung kemari.
Selamat datang keponakan ku. Jangan salahkan bibi mu yang tidak menyambut kedatangan mu karena kau datang mendadak", sambut Dewi Anggraeni sembari tersenyum lebar.
"Ayo duduk di sini, Nakmas Pangeran", Pangeran Arya Tanggung segera mempersilahkan Panji Tejo Laksono untuk duduk di kursi samping kanannya. Kursi yang sedianya akan menjadi tempat bagi putra mahkota Tanah Perdikan Lodaya.
"Kau janur gunung (tumben) berkunjung kemari. Ada perlu apa, Nakmas Pangeran?", tanya Pangeran Arya Tanggung setelah Panji Tejo Laksono duduk di kursi yang di sediakan untuk nya.
"Begini Paman Arya Tanggung..
Seperti yang paman ketahui bahwa hubungan antara Panjalu dan Jenggala sedang tidak baik. Aku sendiri sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa puluhan ribu orang prajurit Jenggala sudah bersiap untuk menyerbu ke Panjalu lewat Seloageng.
Mereka memecah pasukan menjadi 3 bagian, maka aku di tugaskan oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk menahan mereka di wilayah ku. Namun situasi yang terjadi, aku hanya mendapat jatah prajurit paling sedikit diantara 3 pertahanan Panjalu. Karena itu aku ingin meminta bantuan kepada pihak Istana Lodaya agar bersedia meminjamkan prajurit kepada ku sebagai tandingan bagi para prajurit Jenggala", Panji Tejo Laksono langsung berterus terang tentang tujuan nya ke Lodaya.
Hemmmmmmm...
Pangeran Arya Tanggung menghela nafas panjang. Mata lelaki bertubuh kekar itu segera terpaku pada putri semata wayangnya Dewi Rara Kinanti yang sedari tadi hanya diam saja namun matanya terus tertuju pada Panji Tejo Laksono yang duduk di seberangnya. Pangeran Arya Tanggung langsung tahu bahwa putrinya ini menyukai anak dari Raja Panjalu itu.
'Kinanti rupanya suka dengan Panji Tejo Laksono. Hemmmmmmm, sepertinya aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menemukan jodoh bagi Kinanti', batin Pangeran Arya Tanggung.
Ehemmm eheemmmm..
"Aku tidak keberatan jika harus menyerahkan para prajurit Lodaya sebagai prajurit mu, Nakmas Pangeran. Tapi aku punya syarat agar aku juga merasa lega", Pangeran Arya Tanggung berdehem dua kali sebelum berbicara.
"Syarat? Syarat apa yang paman inginkan dari ku?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Adik sepupu mu ini sudah lama memendam perasaan pada mu. Waktu kemarin kau menyamar menjadi penonton di acara penari tledek, dia sudah bertemu dengan mu bukan?
__ADS_1
Karena itu syarat agar aku bisa melepaskan pasukan Lodaya untuk membantu mu adalah setelah perang ini usai, kau harus menikahi putri ku Dewi Rara Kinanti", ujar Pangeran Arya Tanggung sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.
HAAAAAAHHHHHHHH??!!!!!!