Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perayaan


__ADS_3

"Saat ini, bukankah kita masih kerepotan menentukan pilihan siapa yang akan menjadi utusan dari Panjalu untuk berangkat ke Tanah Tiongkok?


Kenapa tidak kita usulkan saja Panji Tejo Laksono sebagai duta besar Panjalu untuk mendapatkan pengakuan dari Dinasti Song? Bukankah itu sama dengan menjauhkan Panji Tejo Laksono dari tahta Kerajaan Panjalu untuk waktu yang lama, Mpu Gandasena?", senyum licik terukir di wajah tua Mpu Kepung.


"Benar juga omongan mu, Mpu Kepung.


Dengan begitu setidaknya selama satu warsa Panji Tejo Laksono akan berada jauh sekali dari jangkauan Yuwaraja. Kita tinggal mempersiapkan Mapanji Jayawarsa sebaik mungkin untuk layak menjadi putra mahkota", jawab Mpu Gandasena sembari tersenyum gembira.


"Nah akhirnya kau paham juga, Mpu Gandasena..


Kita tidak tahu nasib buruk apa yang mungkin terjadi dan menimpa Panji Tejo Laksono selama perjalanan itu karena laut adalah tempat yang berbahaya. Dengan begitu kita tidak perlu repot-repot mencari pembunuh bayaran untuk melenyapkan nya", jawab Mpu Kepung sembari kembali duduk di bersila di samping Mpu Gandasena.


"Tapi kita juga tidak boleh terlalu mencolok perhatian untuk masalah ini, Mpu Kepung..


Satu dua hari ke depan, biarkan Panji Tejo Laksono menikmati buah manis dari kemenangan nya di Sungai Lawor. Besok saat pisowanan rutin di balai paseban agung, kita baru mengusulkannya ", ujar Mpu Gandasena segera.


Mpu Kepung mengangguk mengerti. Kedua pejabat tinggi Istana Kotaraja Kadiri itu lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


Memang, permasalahan siapa calon Yuwaraja Panjalu selanjutnya selalu menjadi perdebatan diantara warga masyarakat Kotaraja Kadiri dan para penduduk Kerajaan Panjalu pada umumnya. Sebagian menganggap bahwa Mapanji Jayawarsa lebih pas menjadi Yuwaraja Panjalu selanjutnya karena dia adalah cucu kandung Prabu Samarawijaya, sang raja pertama Kerajaan Panjalu. Sebagian lagi menganggap bahwa hal itu hanya pikiran kolot yang tidak mampu melihat masa depan Kerajaan Panjalu jika memilih Mapanji Jayawarsa sebagai penerus. Golongan ini lebih cenderung menginginkan Panji Tejo Laksono di lantik menjadi Yuwaraja Panjalu selanjutnya mengingat dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana. Meski Prabu Jayengrana hanya seorang menantu Prabu Samarawijaya, namun dia memiliki garis keturunan Darmawangsa Teguh, ayah mertua Prabu Airlangga. Dia bisa berkuasa tanpa ada ganjalan berarti, namun untuk masalah Yuwaraja Panjalu pendapat masyarakat seakan terbelah menjadi dua bagian.


Namun keberhasilan Panji Tejo Laksono menghalau upaya penyerbuan Tanah Blambangan terhadap Kadiri tentunya akan menjadi nilai tambah yang lebih untuk sang pangeran muda ini. Sebagian orang yang meragukannya pun kini mulai terbuka mata nya terhadap kepantasan Panji Tejo Laksono menjadi Yuwaraja Panjalu.


Perjalanan pulang ke Kadiri menjadi saat paling membanggakan bagi Panji Tejo Laksono dan para prajurit Panjalu. Bagaimana tidak, sepanjang jalan raya menuju ke arah Kotaraja Kadiri, ribuan orang penduduk menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat. Mereka berbaris rapi di pinggir jalan sembari terus mengelu-elukan mereka.


Bagi para gadis dan perempuan, ketika mereka melihat paras rupawan Panji Tejo Laksono, itu adalah saat mereka mendadak jatuh cinta. Beberapa bahkan pingsan karena histeris saat melihat sang putra sulung Prabu Jayengrana melambaikan tangannya ke arah mereka.


Begitu sampai di alun-alun Kotaraja Kadiri, Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara alias Prabu Jayengrana sendiri yang datang menyambut mereka. Di temani oleh ketiga permaisuri dan keempat selir raja, Prabu Jayengrana tersenyum bangga melihat Panji Tejo Laksono dan para prajurit Panjalu yang datang setelah memenangkan peperangan. Beberapa pejabat istana negara seperti Mapatih Warigalit, Mahamantri Jayakerti, Mahamantri Mpu Kepung, Dang Acarya Ring Kasaiwan Mpu Gandasena, Dang Acarya Ring Kasogatan Wiku Wikalpa, Sang Pamgat Jnanaloka juga para perwira tinggi yang khusus melindungi kota Kadiri seperti Tumenggung Sindupraja dan Senopati Tunggul Arga pun ikut menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang di Istana Katang-katang, Putraku..


Selamat atas keberhasilan mu mengusir para prajurit Blambangan", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil tersenyum simpul saat Panji Tejo Laksono dan seluruh punggawa prajurit Panjalu datang dan menyembah pada nya.


"Semua ini adalah berkat kerjasama antara para punggawa prajurit Panjalu dan juga pengorbanan mereka yang sudah gugur di medan tempur, Kanjeng Romo Prabu..


Tanpa bantuan mereka, Panji Tejo Laksono tidak mungkin bisa berbuat apa-apa", jawab Panji Tejo Laksono yang masih berjongkok menyembah pada Panji Watugunung.


Mendengar perkataan itu, semua orang tersenyum tipis terutama para punggawa prajurit Panjalu yang turut menghadap hari itu. Kecuali beberapa orang yang terlihat membuang muka.


"Aku tahu, Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono memang bisa diandalkan. Jadi kau tidak perlu merendah seperti itu, Nakmas Pangeran", ujar Ayu Galuh, Sang Ratu Panjalu Kedua.


"Leres atuh Barudak Kasep..


Kamu teh memang layak untuk mendapatkan pujian dari Akang Prabu Jayengrana. Ambu Naganingrum teh bangga dengan mu", timpal Dewi Naganingrum, Sang Ratu Panjalu Ketiga sembari tersenyum simpul.


"Untuk pujian dan penghargaan, saya pikir para punggawa prajurit Panjalu seperti Paman Narapraja, Paman Ludaka, Paman Landung, Paman Gumbreg, Paman Jarasanda dan Paman Rajegwesi lebih berhak untuk mendapatkan nya.


Jadi saya hanya beruntung karena merekalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi kita semua dalam peperangan kali ini", jawab Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada kedua permaisuri raja itu.


"Kau memang putra ku..

__ADS_1


Sikap mu ini benar benar membuat ku bangga pada mu. Sekarang berdirilah putra ku, begitu juga kalian para perwira prajurit Panjalu yang lain", titah Panji Watugunung.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", jawab para punggawa prajurit Panjalu sembari berdiri dari tempat berjongkok nya.


"Malam ini di Istana Katang-katang akan diadakan perayaan untuk bersyukur atas kemenangan mengusir orang-orang Blambangan.


Semua nya di persilahkan untuk hadir ", ujar Panji Watugunung dengan lantang.


Sorak sorai membahana terdengar dari mulut para prajurit Panjalu yang hadir di alun-alun Kotaraja Kadiri.


Usai pengumuman itu, Panji Tejo Laksono segera menuju ke arah Keputran Kadiri untuk berganti pakaian. Karena Luh Jingga sudah mendapat ijin sebagai pelayan Panji Tejo Laksono, maka dia diijinkan untuk tinggal di Keputran Kadiri.


Begitu sampai di Keputran Kadiri, Gayatri sudah menunggu kedatangan Panji Tejo Laksono.


"Selamat atas keberhasilan mu, Gusti Pangeran..


Tapi aku benar-benar kesal dengan sikap mu", ujar Gayatri sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kog kesal? Salah ku dimana?", Panji Tejo Laksono heran dengan sikap Gayatri yang tiba-tiba marah.


"Gusti Pangeran kenapa tidak mengajak ku di peperangan kali ini? Kenapa tega sekali sendirian di balai tamu kehormatan? Bukankah Gusti Pangeran sudah pernah berjanji untuk selalu mengajak ku dalam setiap perjalanan? Apa itu semua ka..."


Belum sempat Gayatri meluapkan rasa kesalnya karena di tinggal pergi Panji Tejo Laksono, sang pangeran muda itu segera menempelkan jari telunjuk nya di depan bibir nya sebagai pertanda bahwa dia ingin Gayatri menghentikan omelan nya.


"Nanti aku jelaskan semuanya. Sekarang aku mau mandi dan berganti baju karena nanti malam ada perayaan di Istana. Tunggu saja disini.


Luh Jingga,


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Luh Jingga segera. Gadis cantik dari bukit Penampihan itu segera mengekor di belakang Panji Tejo Laksono. Namun sebelum masuk ke dalam, dia sempat menoleh ke arah Gayatri dan menjulurkan lidahnya ke arah putri Kadipaten Seloageng itu.


Kesal sudah Gayatri dengan sikap Luh Jingga.


'Gadis busuk..


Kau kira sudah selangkah lebih dekat dengan Gusti Pangeran. Aku tidak akan mengalah sedikitpun pada mu', gerutu Gayatri dalam hati.


Senja mulai turun menutupi wilayah Kotaraja Kadiri, membawa suasana yang nyaman dengan cahaya kemerahan di langit barat. Para kelelawar mulai keluar dari sarangnya nya untuk mencari makan untuk mengisi perut nya.


Panji Tejo Laksono yang selesai berdandan layaknya seorang pangeran, keluar dari dalam kamar peristirahatan nya diikuti oleh Luh Jingga yang juga sudah berdandan cantik dengan baju kuning kemerahan yang selalu menjadi ciri khas nya.


"Gayatri,


Kau masih disini?", tanya Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti.


"Lantas kenapa? Gusti Pangeran mau mengusir ku?", balas Gayatri yang masih kesal dengan sikap Panji Tejo Laksono.


"Hehehehe, gadis bodoh..


Siapa juga yang mau mengusir mu Gayatri? Kau ini ada ada saja. Jangan jadikan marah mu sebagai senjata untuk menakuti orang lain.

__ADS_1


Oh iya, tadi aku berhutang penjelasan pada mu ya? Begini Gusti Putri Dyah Gayatri, aku sengaja tidak mengajak mu untuk ikut serta dalam peperangan ini karena aku tidak ingin membahayakan keselamatan diri mu. Lagipula jika ada apa-apa, pasti Paman Sindupraja dan Bibi Anggarasasi pasti menyalahkan ku. Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan kemampuan beladiri ku Gayatri", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul.


"Ah itu hanya alasan Gusti Pangeran saja. Pokoknya mulai sekarang kemana saja Gusti Pangeran pergi, aku ikut. Tak peduli mau ke medan tempur sekalipun, pokoknya aku harus ikut", Gayatri mengeluarkan sifat aslinya yang keras kepala.


"Haesshhh... Iya iya baiklah, lain kali kau akan ku ajak. Sekarang kita ke perayaan dulu, tidak perlu ribut ribut dengan hal seperti ini. Ayo kita berangkat", ajak Panji Tejo Laksono sembari melangkah ke arah luar puri kediaman nya.


Gayatri dan Luh Jingga mengekor langkah sang pangeran muda.


Suasana di Istana Kotaraja Kadiri benar benar meriah. Puluhan hiasan penjor dan janur kuning di pasang di mana-mana. Di Bangsal Paseban Agung, Prabu Jayengrana duduk di atas singgasana Kerajaan Panjalu di apit ketiga orang permaisuri nya dan keempat selir raja. Keempat putri raja : Dewi Sekar Kedaton, Dewi Kencanawangi, Dewi Wulan Sumekar dan Dewi Sekar Tanjung ikut menghadiri perayaan itu. Selain


Pelbagai macam hidangan di suguhkan di meja kecil yang di tata sedemikian rupa hingga tengah bangsal menjadi panggung pertunjukan yang menampilkan para penari penghibur istana yang menjadi abdi setia istana Katang-katang.


Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung membuat para penari menghentikan gerakannya dan menepi untuk memberi jalan kepada sang pangeran.


Setelah Panji Tejo Laksono menyembah pada Prabu Jayengrana dan duduk di tempatnya, diikuti oleh Gayatri dan Luh Jingga, pertunjukan kesenian itu di lanjutkan kembali.


Tumenggung Sindupraja yang melihat kedatangan Panji Tejo Laksono diikuti oleh putrinya Gayatri tersenyum tipis.


'Tak sia-sia kau keras kepala Gayatri.. Aku tidak keberatan jika kau menikah dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang akan menjadi raja muda selanjutnya', batin Tumenggung Sindupraja dalam hati.


Perayaan malam itu berlangsung meriah hingga larut malam. Di luar Balai Paseban Agung, aneka makanan di hidangkan pada para prajurit Panjalu tanpa terkecuali. Semuanya bersukacita dalam suasana yang meriah.


Setelah cukup malam, perayaan itu berakhir. Di awali dengan mundurnya Panji Watugunung dari singgasana yang diikuti oleh para istri dan putra putrinya, Panji Tejo Laksono pun turut meninggalkan Balai Paseban Agung bersama Gayatri dan Luh Jingga.


Panji Tejo Laksono bergegas menuju ke puri kediaman nya di Keputran Kadiri. Begitu sampai di sana, Panji Tejo Laksono memandang heran pada Gayatri yang masih mengekor langkah sang pangeran muda.


"Gayatri,


Kenapa kau masih ikut kemari? Bukankah seharusnya kau kembali ke balai tamu kehormatan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Aku tidak mau pulang ke balai tamu lagi. Nanti Gusti Pangeran meninggalkan ku seenak udelnya", jawab Gayatri sembari tersenyum simpul.


"Tapi apa kata orang jika tahu kau menginap di tempat ku, Gayatri? Kita bisa jadi bahan omongan orang ", Panji Tejo Laksono menatap wajah cantik perempuan itu.


"Benar itu, Gusti Putri..


Sebaiknya Gusti Putri pulang ke balai tamu kehormatan. Tidak baik bagi seorang gadis menginap di tempat seorang lelaki yang bukan suaminya ", timpal Luh Jingga.


"Diam saja kau, Luh Jingga. Disini bukan tempat mu untuk ikut campur menasehati ku..


Gusti Pangeran,


Aku tidak peduli dengan omongan orang. Yang penting aku tidak mau jauh dari Gusti Pangeran", ucap Gayatri sembari tersenyum penuh arti.


"Duh Gusti Hyang Agung, kenapa perempuan ini sangat keras kepala? Bibi Anggarasasi mengidam apa sih waktu hamil kau??


Puri ku hanya punya dua kamar tidur. Lantas kau mau tidur dimana? Satu kamar tempat ku istirahat, sedangkan satu tempat untuk Luh Jingga", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Aku tidur dimana saja juga bisa. Tidur dengan Luh Jingga boleh, tidur di sini sambil menggelar tikar juga bisa. Pokoknya tidur di sini.

__ADS_1


Atau kalau Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono tidak keberatan, kita bisa berbagi kamar tidur", jawab Gayatri dengan santainya.


HAAAAAHHHHHHHH!!!!


__ADS_2