Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kembang Istana Kadipaten Kalingga


__ADS_3

"Ka-Kanjeng Romo, sejak kapan Kanjeng Romo ada di sini?", tergagap Ayu Ratna mendengar suara Adipati Aghnibrata yang muncul di taman sari Istana Kadipaten Kalingga.


"Sejak kamu bilang jika kau menolak dijodohkan dengan pangeran dari Kadiri. Kau ini sebenarnya bisa berfikir jernih tidak?


Kalau kau menikah dengan Panji Tejo Laksono, maka kau akan memiliki kehormatan serta mengangkat derajat Istana Kadipaten Kalingga. Asal kau tahu, Ayu Ratna, seluruh Adipati di wilayah Kerajaan Panjalu bahkan negara manca seperti Sunda dan Bedahulu mengirimkan pesan kepada Gusti Prabu Jayengrana agar bersedia menjodohkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dengan putri mereka. Tapi semuanya di tangguhkan karena Gusti Prabu Jayengrana berkawan karib dengan ku jadi mereka bersedia untuk menjodohkan mu dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Ini adalah kehormatan besar yang di terima oleh Kadipaten Kalingga.


Kalau kau menolak perjodohan ini, maka bukan hanya puluhan bahkan ratusan putri putri cantik dari daerah lain bersedia untuk menggantikan posisi mu sebagai calon ratu Panjalu berikutnya.


Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau harus menjadi istri Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", ujar Adipati Aghnibrata dengan tegas.


"Tapi Kanjeng Romo..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau berani macam-macam dan bertindak semau mu, kau akan dapat hukuman berat dari ku.


Ingat, Ayu Ratna. Kehormatan Kadipaten Kalingga ada di tangan mu. Sekali kehormatan itu hilang, maka keseluruhan nasib keluarga kita akan berakhir dengan menyedihkan. Camkan itu baik-baik", setelah berkata seperti itu, Adipati Aghnibrata segera meninggalkan taman sari Istana Kadipaten Kalingga dengan muka masam.


Lemas kaki Ayu Ratna mendengar keputusan ayahandanya. Kembang Istana Kalingga itu langsung terduduk di kursi kayu yang ada di taman sari. Perlahan air mata nya menetes dari sudut matanya yang indah.


"Yang sabar ya Gusti Putri..


Percayalah Gusti Adipati itu hanya ingin yang terbaik untuk Gusti Putri. Tidak ada orang tua yang ingin anak nya menderita jika sudah berumah tangga nanti", hibur Sukesi dengan penuh kelembutan. Dayang istana yang juga merupakan teman akrab satu-satunya Ayu Ratna itu tersenyum tipis.


"Terimakasih Sukesi.. Kau selalu setia menemani ku saat aku sedang tidak enak hati begini.


Tapi aku tidak akan tinggal diam saja dan pasrah dengan keadaan. Aku akan melakukan sesuatu untuk menggagalkan rencana perjodohan ini", ujar Ayu Ratna sembari menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Lah Gusti Putri mau apa? Jangan bertindak aneh aneh Gusti Putri", Sukesi mulai khawatir.


"Kau tenang saja, Sukesi..


Aku tidak akan kabur ataupun lari dari istana ini. Tapi Paman Pringgalaya akan membuat pangeran dari Kadiri itu tidak berani memasuki Istana Kadipaten Kalingga. Sekarang antarkan aku ke Padepokan Bukit Kalang, Sukesi", ajak Ayu Ratna sembari berdiri dari tempat duduknya. Dia segera melangkah menuju ke arah pintu samping istana Kadipaten Kalingga. Sukesi yang khawatir dengan keselamatan Ayu Ratna segera mengikuti langkah sang putri.


Dengan kereta kuda, Ayu Ratna dan Sukesi beserta 8 prajurit pengawal meninggalkan istana Kadipaten Kalingga menuju ke arah Padepokan Bukit Kalang yang ada di sebelah selatan Kota Kadipaten Kalingga.


Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, rombongan Ayu Ratna menghentikan kereta kuda nya di kaki sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. 4 orang pengawal Ayu Ratna berjaga di tempat mereka berhenti sementara Ayu Ratna, Sukesi dan keempat prajurit Kalingga naik ke atas bukit Kalang.


Di lereng bukit Kalang, berdiri sebuah perguruan silat yang cukup terkenal di dunia persilatan. Meski bukan perguruan silat yang memiliki murid ratusan orang, tapi rata rata murid perguruan silat itu memiliki kepandaian ilmu beladiri yang mumpuni.


Siang itu seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan tangan kiri buntung dan kumis tebal yang mulai memutih nampak sedang mengamati puluhan orang anak murid yang sedang berlatih gerakan silat. Meski sudah tidak muda lagi, namun lelaki paruh baya itu masih terlihat gagah dan kuat. Dia adalah Pringgalaya, pimpinan Padepokan Bukit Kalang yang terkenal dengan sebutan Pendekar Golok Buntung. Di dunia persilatan Tanah Jawadwipa dia cukup punya nama besar sebagai pendekar golongan putih. Meskipun cacat tapi kemampuan beladiri yang dimilikinya memang sudah tidak diragukan lagi.


"Perkuat kuda-kuda kalian, jangan gampang goyah meski menghadapi serangan mendadak", teriak Pringgalaya sembari terus mengawasi murid muridnya yang berlatih dengan penuh keseriusan.


Dari arah gerbang padepokan, Ayu Ratna, Sukesi dan keempat pengawal pribadi nya diikuti oleh dua orang penjaga gerbang berjalan mendekati Pringgalaya.


"Selamat siang Paman Pringgalaya, apa paman sudah lupa dengan ku?", tanya Ayu Ratna sembari tersenyum tipis pada pimpinan Padepokan Bukit Kalang.


Pringgalaya segera mengernyitkan keningnya sebentar seperti tengah mencoba mengingat sesuatu. Saat dia ingat, seutas senyum tersungging di bibirnya.


"Ah Ayu Ratna keponakan ku, kau sudah besar rupanya. Hampir saja aku tidak mengenali mu karena kau sudah berubah menjadi gadis cantik jelita.

__ADS_1


Janur gunung kau kemari, Ayu Ratna. Apa ada sesuatu hal yang penting?", Pringgalaya segera memandang ke arah Ayu Ratna. Memang Pringgalaya adalah adik dari ibu Ayu Ratna, Niken Sulastri. Mereka berdua adalah putra putri Maharesi Lokeswara dari Pedarmaan Dieng. Mereka bicara sambil berjalan ke arah kediaman utama Padepokan Bukit Kalang.


"Kedatangan ku kemari bukan hanya untuk mengunjungi mu, Paman Pringgalaya. Tapi aku ingin meminta bantuan kepada Paman", jawab Ayu Ratna dengan sopan.


"Bantuan? Bantuan apa yang kau minta dari paman mu ini, Ayu Ratna?


Kalau urusan duit, aku tidak punya. Minta saja pada ayahmu", ujar Pringgalaya sambil tersenyum tipis.


"Ah Paman ini, aku tidak minta bantuan keuangan dari paman.


Yang aku minta, Paman Pringgalaya menghadang rombongan orang-orang Kerajaan Panjalu yang akan datang ke Kalingga", balas Ayu Ratna sembari menjajarkan tubuhnya di samping Pringgalaya. Mereka kemudian duduk di serambi kediaman utama Padepokan Bukit Kalang sembari meneruskan pembicaraan.


"Menghadang orang orang Istana Kadiri? Apa kau sudah gila Ayu Ratna?


Bukankah itu sama saja dengan tindakan makar terhadap pemerintah? Aku tidak mau mati konyol dengan cap sebagai pemberontak", tolak Pringgalaya yang sedikit kaget mendengar ucapan Ayu Ratna.


"Bukan untuk membunuh mereka Paman, tapi untuk menantang seorang pangeran yang akan meminang ku sebagai istri.


Jujur saja aku tidak suka dengan perjodohan yang di lakukan oleh Kanjeng Romo Adipati. Jadi anggap saja Paman ingin menguji kemampuan beladiri si pangeran dari Kadiri yang bernama Panji Tejo Laksono itu sebagai syarat untuk bisa melamar ku. Jika dia bisa menang melawan Paman, maka dia bisa meneruskan niat untuk mempersunting ku. Tapi jika dia kalah, maka dia harus sukarela membatalkan rencana perjodohan ini. Aku sangat yakin bahwa Paman Pringgalaya pasti bisa mengalahkannya.


Aku mohon Paman bersedia melakukannya. Hanya Paman satu-satunya harapan ku untuk membatalkan rencana perjodohan ku dengan pangeran dari Kadiri itu ", hiba Ayu Ratna dengan memelas.


Hemmmmmmm..


"Kau benar benar cerdas juga, Ayu Ratna. Tak ku sangka kau punya pemikiran seperti itu.


Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi kalau di belakang hari dia tidak terima dengan kekalahannya dari ku dan memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk menyerbu ke Kalingga, aku tidak akan ikut campur", ujar Pringgalaya segera.


"Kalau soal itu paman tidak perlu khawatir. Aku bisa membujuk Kanjeng Romo Adipati untuk bicara dengan Gusti Prabu Jayengrana karena mereka adalah teman dekat", mendengar jawaban Ayu Ratna, Pringgalaya manggut-manggut mengerti.


Setelah cukup lama berbincang, Ayu Ratna dan para pengawal nya mohon pamit pulang ke Kalingga. Sedangkan Pringgalaya menempatkan anak buah nya untuk menjadi mata-mata yang bertugas memberi tahu kedatangan orang-orang dari Kadiri yang hendak masuk ke dalam Kota Kadipaten Kalingga.


****


Panji Tejo Laksono menarik tali kekang kudanya begitu sampai di tepi Sungai Wulayu yang menjadi batas wilayah Kadipaten Bojonegoro dengan Kadipaten Lasem wilayah selatan. Sudah dua hari dia meninggalkan Kotaraja Kadiri bersama dengan Gayatri, Luh Jingga, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Siwikarna dan Jaluwesi serta 4 prajurit pilihan Tumenggung Ludaka.


Untuk memudahkan perjalanan, mereka memakai pakaian penyamaran hingga tidak satupun orang mengenali mereka sebagai para pembesar Istana Katang-katang.


"Paman Ludaka,


Setelah menyeberangi Sungai Wulayu ini, kita akan kemana?", tanya Panji Tejo Laksono sembari melompat turun dari kudanya. Tumenggung Ludaka pun mengikuti langkah sang pangeran muda begitu pula para pengikut nya yang lain.


"Selepas kita menyeberangi Sungai Wulayu ini, maka kita akan sampai di dermaga penyeberangan wilayah Jipang Gusti Pangeran. Nanti kita terus ikuti jalan itu ke barat, kalau tidak ada halangan pasti kita sampai di wilayah Pakuwon Randublatung sebelum senja", jawab Tumenggung Ludaka sambil menuntun kuda nya di samping Panji Tejo Laksono yang lebih dulu berjalan mendekati dermaga penyeberangan.


Satu persatu para pengikut Panji Tejo Laksono mulai naik ke atas kapal penyeberangan yang menyediakan jasa penyeberangan bagi para pengelana maupun para pedagang yang ingin ke wilayah Kadipaten Lasem selatan dan sebaliknya.


Perlahan perahu penyeberangan itu bergerak membelah Sungai Wulayu yang sedang tinggi airnya. Sungai lebar yang biasa digunakan untuk menjadi lalu lintas ini nampak berair keruh kecoklatan pertanda bahwa di daerah hulu curah hujan masih tinggi meski musim penghujan seperti nya akan segera berakhir.


Setelah perahu penyeberangan merapat ke dermaga penyeberangan Jipang, rombongan Panji Tejo Laksono segera bergegas turun dari kapal penyeberangan. Tumenggung Ludaka membayar biaya penyeberangan mereka.

__ADS_1


"Lu, kau tidak lapar?", ujar Demung Gumbreg setengah berbisik di telinga Tumenggung Ludaka yang menuntun kuda di sebelah kanan nya.


"Memang kau sendiri sudah lapar, Mbreg?", Tumenggung Ludaka balik bertanya.


"Kita kan belum makan siang Lu..


Perut ku keroncongan sejak dari kota Kadipaten Bojonegoro tadi", ujar Demung Gumbreg sedikit keras berbisik-bisik pada sahabat karibnya itu.


"Sudah kau tunggu saja.. Nanti kalau ketemu warung makan kita berhenti..


Kau ini perwira tua tapi kelakuan mu mirip bocah ingusan. Sabarlah sedikit", omel Tumenggung Ludaka.


"Urusan perut itu tidak kenal usia Lu..


Kalau lapar ya lapar. Tidak ada hubungannya dengan umur. Kau ini benar-benar tidak berperasaan", gerutu Demung Gumbreg.


Panji Tejo Laksono yang mendengar ucapan Demung Gumbreg tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama dia menuntun kuda nya kearah warung makan yang terletak di tepi dermaga penyeberangan Jipang.


Sebuah warung makan yang cukup besar dan ramai dikunjungi orang berdiri megah di tepi jalan raya yang ada di dekat dermaga penyeberangan. Seorang wanita cantik dengan dandanan sedikit terbuka nampak sedang sibuk melayani para pembeli yang berjubel di depan meja. Senyuman manis sedikit genit menggoda terukir di wajah perempuan cantik yang berusia sekitar 3 dasawarsa ini.


Dia adalah Nyi Kinanti, bekas seorang penari tledek yang alih pekerjaan menjadi seorang pemilik warung makan yang cukup besar itu. Pembawaannya yang ramah dan supel membuat para pengunjung warung makan nya betah berlama-lama di warung. Di tambah lagi dandanan nya yang sedikit memancing gairah para lelaki membuat nya menjadi kembang warung pinggir jalan itu. Di samping nya 5 orang gadis muda yang cantik juga turut membantu warung makan itu hingga warung makan nya begitu terkenal di sekitar tempat itu.


Namun di balik dandanan nya mengundang birahi dan senyumnya yang manis, dia adalah seorang anggota dari sebuah perguruan yang cukup disegani di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang yang telah berpindah tempat ke Lasem, Perguruan Racun Kembang. Konon kabarnya dia adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya yang seorang prajurit saat terbunuh oleh para perampok, hingga membuat nya memilih untuk belajar ilmu racun pada Dewi Kenanga, pimpinan Perguruan Racun Kembang selepas mangkatnya Dewi Kembang Wengi di Anjuk Ladang. Usai membalas dendam kematian suaminya, Nyi Kinanti memilih untuk meninggalkan Anjuk Ladang dan tinggal di tempat itu sembari membuka usaha kecil-kecilan yang kini menjadi warung makan yang besar.


Panji Tejo Laksono segera mengikat tali kekang kudanya pada geladakan kuda yang ada di samping halaman warung makan. Para pengikutnya pun mengikuti langkah sang pangeran.


Saat Panji Tejo Laksono masuk ke dalam warung makan, perhatian para gadis pelayan warung makan langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono yang membuka caping bambu nya. Begitu pula dengan Nyi Kinanti yang terpana melihat ketampanan Panji Tejo Laksono.


"Nini,


Aku pesan ikan bakar ya. Nasi putih dan secangkir wedang jahe", ucap Panji Tejo Laksono sembari memamerkan senyum mautnya.


"Ba-baik Denmas.. Si-silahkan menunggu di tempat yang sudah di sediakan", terbata-bata Nyi Kinanti menjawab omongan Panji Tejo Laksono. Dia jadi salah tingkah.


Satu persatu para pengikut Panji Tejo Laksono memesan makanan mereka dan duduk di sekitar Panji Tejo Laksono.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan jambang lebat yang tengah menikmati makanan di salah satu meja makan menggeram keras melihat kegugupan Nyi Kinanti. Sudah lama dia memendam perasaan suka pada Nyi Kinanti tapi perempuan cantik itu tak pernah menanggapi. Dia begitu cemburu melihat Nyi Kinanti menaruh perhatian pada Panji Tejo Laksono. Lelaki bernama Benggol itu langsung berdiri dari tempat duduknya sembari menggebrak meja dan menunjuk ke arah meja Panji Tejo Laksono.


Brraaakkkk!!!


"Hai keparat busuk!!


Berani sekali kau menggoda calon istri ku. Apa kau sudah bosan hidup ha?", teriak Benggol dengan penuh kemarahan.


Teriakan keras Benggol membuat suasana warung makan yang semula riuh rendah karena mereka saling berbincang langsung sepi tak ada suara. Semua mata langsung tertuju pada meja Panji Tejo Laksono.


Demung Gumbreg yang duduk paling dekat dengan Benggol, langsung menoleh ke arah Benggol sambil menatap tajam ke arah Benggol dan berkata keras.


"Siapa juga yang menggoda calon istri mu?

__ADS_1


Kenal calon istri mu saja tidak"


__ADS_2