Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pertapaan Gunung Penanggungan


__ADS_3

Dari atas pucuk pohon besar itu Panji Tejo Laksono melompat turun lalu mendarat dengan gerakan seringan kapas 3 tombak jauhnya di depan Setan Kuning Jantan. Lalu Song Zhao Meng, Ki Jatmika dan Dyah Kirana menyusul kemudian.


"Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba ikut campur dalam urusan ku?!", Setan Kuning Jantan membeliak lebar ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.


Saat itu juga, anak buah Sepasang Setan Kuning dan Setan Kuning Betina langsung melesat cepat ke samping pria bertubuh pendek itu segera. Mereka semua menggenggam erat gagang senjata mereka masing-masing karena tahu keempat orang yang baru saja datang itu pasti punya niat berbeda.


"Kami hanya pendekar yang sedang lewat. Melihat kalian semena-mena terhadap orang yang tidak berdosa, tentu saja kami tidak akan diam saja", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Bedebah!!


Rupanya kalian cari mati. Kalian semua! Bunuh mereka..!!", teriak Setan Kuning Jantan sembari melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan tongkat kayu nya.


Mendengar aba-aba dari pimpinan mereka, para anggota kelompok Sepasang Setan Kuning yang menjadi perampok di barat Pakuwon Bandar itu segera menerjang maju ke arah Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika yang juga sudah bersiap untuk menghadapi mereka. Mereka mengepung dari berbagai arah.


Pertarungan sengit di tepi hutan kecil ini pun segera di mulai.


Setan Kuning Jantan segera mengayunkan bonggol tongkat kayu nya ke arah kepala Panji Tejo Laksono.


Whhuuuuuuuggggh!!


Panji Tejo Laksono dengan lincah menghindari gebukan bonggol tongkat itu ke arah kanan. Si pimpinan perampok itu melihat serangan nya gagal dengan cepat kembali menyerang.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh..


Panji Tejo Laksono terus bergerak lincah menghindari setiap serangan cepat kearah nya. Melihat itu, Si Setan Kuning Jantan memutar tongkat kayu nya ke arah kepala lawan. Sang pangeran muda ini merunduk cepat. Namun serangan cepat Si Setan Kuning Jantan rupanya hanya pancingan saja. Setelah menarik ujung tongkatnya, Si Setan Kuning Jantan menancapkan tongkatnya ke tanah dan menggunakan nya sebagai tumpuan untuk melayangkan tendangan keras beruntun kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindari serangannya.


Panji Tejo Laksono pun segera menyilangkan kedua lengan tangannya untuk menahan serangan cepat kepala.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!!


Kerasnya tendangan keras kaki kanan dan kiri Si Setan Kuning Jantan ini memaksa Panji Tejo Laksono tersurut mundur beberapa langkah. Melihat itu, Si Setan Kuning Jantan menyeringai lebar.


Namun kejap waktu berikutnya, sang pimpinan perampok di barat Kota Pakuwon Bandar itu terkejut. Betapa tidak, Panji Tejo Laksono yang baru saja tersurut mundur segera merubah gerakan tubuhnya yang kini berubah menjadi jauh lebih cepat.


Tiba-tiba saja ia muncul di hadapan Si Setan Kuning Jantan sembari menghantamkan pukulan keras tangan kanannya.


Dhhaaaassshhh!!


Meskipun sempat kaget, Si Setan Kuning Jantan segera menggunakan tongkat kayu nya untuk menahan pukulan keras dari sang lawan. Sang pimpinan rampok itu harus terdorong mundur beberapa tombak ke belakang akibatnya kerasnya hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono.


Uhukkk uhukkk..


Si Setan Kuning Jantan batuk kecil yang ternyata mengeluarkan darah segar. Rupanya hantaman keras sang pangeran muda tadi sudah membuatnya luka dalam meski tidak serius.


Sembari mengusap darah segar yang meleleh di sudut bibirnya, Si Setan Kuning Jantan segera tancapkan tongkat kayu ke tanah. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Tak berapa lama kemudian, di antara kedua telapak tangannya yang membentuk rongga di depan perutnya tercipta sebuah bola cahaya merah menyala berhawa panas.


"Mampus kau bajingan..!!


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat ..!!"


Ilmu kanuragan tingkat tinggi, Ajian Segoro Geni milik Setan Kuning Jantan segera menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


Whhhuuummmm..


Blllaaammmmmmmm!!!


Panji Tejo Laksono berhasil menghindar dari serangan cepat Si Setan Kuning Jantan. Gerakan tubuhnya yang ringan seperti kapas karena Ajian Sepi Angin membuatnya tak kesulitan dalam bergerak kesana-kemari untuk berkelit. Setan Kuning Jantan yang geram karena serangannya mudah kembali menghantamkan bola bola cahaya merah menyala berhawa panas ke arah Panji Tejo Laksono bertubi-tubi.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr..


Blllaaammmmmmmm!!


Sedangkan Setan Kuning Betina yang baru saja ikut mengeroyok Ki Jatmika, melihat pasangan nya sudah mengeluarkan Ajian andalannya langsung tahu bahwa lawan suaminya itu bukan pendekar sembarangan.


Perempuan bertubuh tinggi besar itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindari hantaman Ajian Segoro Geni yang di lemparkan oleh Setan Kuning Jantan sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna kehitaman.


Whhhuuutthh!!


Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindar, berupaya untuk menghindari serangan bokongan dari Setan Kuning Betina. Meski bisa berkelit namun ujung bahu kiri Panji Tejo Laksono masih juga terserempet hantaman Ajian Tapak Racun milik Setan Kuning Betina.


Dhasshhh!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Panji Tejo Laksono melengguh tertahan sembari berguling ke depan dan segera bangkit. Bahunya sakit bukan main seperti baru di hantam balok kayu besar. Separuh bekas tapak tangan Setan Kuning Betina yang menghitam tercetak jelas di bahu kirinya.


Sambil mendengus keras, Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Sepasang Setan Kuning yang kini berdiri tak jauh dari tempat nya berada sambil menyeringai lebar.


"Kau boleh hebat, anak muda!


Tapi menghadapi kami Sepasang Setan Kuning belum tentu kau sanggup untuk mengalahkan kami", ucap Setan Kuning Betina sembari mencabut pedang di pinggangnya perlahan.


"Aku pun juga belum kalah, Perampok Busuk..!!


Majulah, biar ku lihat seberapa hebat ilmu kanuragan kalian!", ucap Panji Tejo Laksono setelah meludah kasar untuk mengeluarkan darah segar yang ada di dalam mulutnya.


"Kalau begitu, bersiaplah untuk menemui raja neraka!!", setelah berkata demikian, Sepasang Setan Kuning itu langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Setan Kuning Jantan mengayunkan tongkatnya ke arah kaki Panji Tejo Laksono sedangkan Setan Kuning Jantan membabatkan pedang nya ke arah leher sang pangeran.


Whhhuuutthh shhrreeettthhh!!


Panji Tejo Laksono dengan cepat melompati sejengkal di udara dan menghindari dua serangan gabungan dari Sepasang Setan Kuning dengan memutar tubuhnya di udara. Sembari berputar, kedua telapak tangan nya yang sudah di lambari Ajian Tapak Dewa Api dengan cepat menghantam ke arah dua orang laki perempuan itu. Telapak tangan kanan ke arah Setan Kuning Jantan dan telapak tangan kiri menuju ke arah Setan Kuning Betina.


Sepasang suami istri itu cukup kaget melihat kedatangan serangan Panji Tejo Laksono. Tanpa ragu mereka segera menyambut serangan sang pangeran muda dengan tapak tangan kiri mereka masing-masing.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!


Ledakan dahsyat beruntun terdengar saat mereka beradu ilmu kesaktian. Setan Kuning Jantan terpental jauh ke kanan sedangkan Setan Kuning Betina mencelat ke arah kiri dan menyusruk tanah dengan keras. Meskipun keduanya menggunakan ilmu kanuragan tingkat tinggi mereka masing-masing yakni Ajian Segoro Geni dan Ajian Tapak Racun, namun sesungguhnya tingkat tenaga dalam mereka masih ada di bawah Panji Tejo Laksono.


Akibat beradu ilmu kesaktian itu, tangan kiri Setan Kuning Betina hancur dan dia tewas dengan separuh tubuhnya gosong seperti terbakar api. Sedangkan nasib Setan Kuning Jantan masih sedikit lebih baik. Meski tubuhnya baik-baik saja, tapi dia langsung muntah darah segar usai tubuhnya terjatuh ke tanah. Dia menderita luka dalam yang cukup parah.


Panji Tejo Laksono juga muntah darah meski tidak separah lawannya. Sang pangeran muda yang sempat terkena hantaman Ajian Tapak Racun itu masih berdiri tegak meskipun ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Melihat kondisi istrinya yang tewas mengenaskan, Setan Kuning Jantan meraung murka. Dia segera bangkit dari tempat nya dan hendak melesat ke arah Panji Tejo Laksono namun...

__ADS_1


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Dua buah senjata rahasia yang datang berlainan arah melesat cepat kearah nya dan langsung menembus batang leher nya. Satu senjata berupa bilah es tajam memotong urat nadi leher sedangkan satu senjata berbentuk kepeng tembaga menembus tenggorokan Setan Kuning Jantan. Pria bertubuh pendek itu segera tersungkur ke tanah dan tewas seketika.


Dyah Kirana dan Song Zhao Meng tersenyum bersamaan melihat senjata mereka mengenai tubuh lawan dengan telak. Keduanya yang baru saja selesai menghabisi nyawa para anak buah Sepasang Setan Kuning, segera bergegas mendekati sang pangeran muda.


"Kakang, kau terluka?", tanya Song Zhao Meng dan Dyah Kirana bersamaan begitu melihat ada darah segar di sudut bibir Panji Tejo Laksono. Dyah Kirana juga melihat bekas tapak tangan di bahu kiri Panji Tejo Laksono yang terlihat menghitam.


"Aku tidak apa-apa uhukkk uhukkk.. Tadi aku sedikit lengah hingga terkena hantaman perempuan iblis itu", ucap Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Tapi kau terkena pukulan beracun, Kakang..


Harus segera diobati", ucap Song Zhao Meng sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono dengan penuh kekhawatiran.


Para pertapa muda yang masih hidup segera mendekati mereka. Salah satu diantaranya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Terimakasih banyak atas pertolongannya, pendekar. Saya Nitisara dari Pertapaan Gunung Penanggungan.


Kalau tidak ada kalian, pasti nasib kami sudah tidak bisa tertolong lagi oleh ulah para perampok ini", ujar sang pendeta muda ini sambil membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


"Sudahlah, Brahmana uhukkk uhukkk..


Kita semua harus saling tolong menolong dalam kehidupan. Kebetulan saja kami yang lewat, jadi sudah kewajiban kami untuk membantu kalian uhukkk uhukkk..", Panji Tejo Laksono menjawabnya sambil batuk kecil.


"Sepertinya pendekar luka dalam setelah pertarungan tadi. Alangkah baiknya jika kalian ikut kami ke pertapaan untuk memulihkan diri. Guru ku Maharesi Yogiswara pasti akan sangat senang menerima kedatangan kalian", ujar pertapa muda yang mengaku sebagai Nitisara ini menawarkan bantuan.


"Sungguh kebetulan sekali. Aku juga ingin bertemu dengan Maharesi Yogiswara..


Uhukkk uhukkk, silahkan Saudara Nitisara pimpin jalan. Kami akan mengekor di belakang", ujar Panji Tejo Laksono segera.


Dan demikianlah, rombongan pendeta muda dari Pertapaan Gunung Penanggungan itu akhirnya selamat dari kepungan perampok pimpinan Sepasang Setan Kuning berkat bantuan dari Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. Setelah membenahi beberapa barang bawaan mereka, semua orang segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah Pertapaan Gunung Penanggungan yang ada di selatan dari tempat itu.


Pertapaan Gunung Penanggungan adalah salah satu pertapaan paling tersohor di Tanah Jawadwipa kala ini. Dahulu pernah menjadi tempat tinggal Mpu Barada sang pembagi Kerajaan Medang Kamulan menjadi Panjalu dan Jenggala hingga akhirnya beliau moksa bersama dengan Prabu Airlangga di Pertapaan Gunung Pucangan.


Setelah itu, kepemimpinan pertapaan ini di lanjutkan oleh putranya Mpu Baruna yang bergelar Maharesi Yogiswara. Meskipun tak sehebat ayahnya dalam menjadi pengayom negeri ini, namun konon kabarnya Maharesi Yogiswara memiliki kemampuan untuk wruh sajroning warah ( tahu sebelum kejadian ) hingga banyak yang mengatakan bahwa dia bisa berbicara dengan para dewa. Selain itu pada masa muda nya, Maharesi Yogiswara juga terkenal sebagai pertapa yang sakti mandraguna. Inilah sebabnya dia begitu di hormati oleh seluruh kalangan masyarakat dunia persilatan maupun para ksatria baik dari Panjalu maupun Jenggala.


Menjelang sore hari, seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal, janggut panjang yang telah di tumbuhi uban dan tatapan mata yang teduh sedang berdiri di serambi kediaman utama Pertapaan Gunung Mahameru. Pakaiannya yang serba putih menunjukkan ciri khas dari seorang pertapa.


Meski telah cukup lama sang pertapa ini menatap ke arah Utara namun dia masih juga tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Ini menarik perhatian seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah tidak muda lagi.


"Kakang Maharesi Yogiswara,


Aku perhatikan sejak tadi kau terus menatap ke langit Utara tanpa sedikitpun berpaling. Ada apa sebenarnya Kakang?", tanya perempuan cantik itu segera.


"Yayi Saraswati..


Aku sedang menunggu kedatangan tamu agung yang berkunjung ke tempat kita ini. Dia adalah Raja Kerajaan Panjalu selanjutnya, Yayi. Jadi sebagai bentuk penghargaan ku karena dia sudi mampir ke tempat kita ini, tentu saja aku harus menyambutnya sendiri", ujar Maharesi Yogiswara sembari tersenyum simpul.


"Ada Pangeran Panjalu yang hendak kemari? Kenapa tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu seperti para bangsawan lainnya Kakang?", kembali perempuan cantik yang bernama Dewi Saraswati yang merupakan istri Maharesi Yogiswara itu bertanya.


Maharesi Yogiswara tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Dia berbeda dari kebanyakan bangsawan pada umumnya, Yayi Saraswati. Sudahlah jangan banyak tanya. Siapkan tempat dan minuman untuk mereka.


Itu mereka sudah tiba..".


__ADS_2