
"Denmas Panji,
Kita sebentar lagi memasuki wilayah Pakuwon Semanding. Apa tidak ingin istirahat sebentar? Kuda kuda kita terlihat lelah", ujar Luh Jingga sambil tersenyum tipis. Perempuan cantik itu berkuda di samping Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda itu melihat kudanya yang memang terlihat lelah. Matahari hampir di atas kepala terik menyengat kulit kepala. Sudah hampir setengah hari mereka meninggalkan Padepokan Pedang Awan dan terus berkuda tanpa henti.
"Baiklah..
Kita berhenti di sana saja", tunjuk Panji Tejo Laksono pada sebuah beberapa pohon besar yang di bawahnya terdapat batu batu besar. Kebetulan sebuah sungai kecil berair jernih terlihat mengalir di dekat tempat yang di tunjuk Panji Tejo Laksono.
Begitu sampai di tempat yang di inginkan, Panji Tejo Laksono langsung menarik tali kekang kudanya. Kuda tunggangan nya berhenti dan sang pangeran muda melompat turun dari kudanya. Pun semua orang mengikuti langkah sang pangeran.
Siwikarna dengan cekatan menuntun kuda sang pangeran ke sebuah semak perdu yang tumbuh di dekat tempat mereka berhenti. Jaluwesi pun segera membantu kawan karibnya itu dengan menuntun kuda Siwikarna. Mereka segera bergegas memandikan kuda mereka di sungai kecil untuk memberikan kesegaran bagi hewan pelari itu agar siap jika sewaktu-waktu mereka bergerak kembali.
Saat Siwikarna dan Jaluwesi bersama kedua prajurit pengawal pribadi sang pangeran sedang sibuk merawat kuda tunggangan Panji Tejo Laksono, kedua gadis cantik dan Tumenggung Ludaka serta Demung Gumbreg, Luh Jingga dengan cekatan menyiapkan air minum untuk sang pangeran.
Sedangkan kelompok murid Perguruan Naga Langit yang mengikuti langkah Panji Tejo Laksono pun berbuat hal yang sama.
Mereka pun segera membuka bekal perjalanan mereka sembari beristirahat di bawah pohon rindang.
Saat mereka tengah asyik menikmati bekal mereka, seorang lelaki bertubuh gempal yang memanggul sebilah golok besar bergagang kepala naga mendekati mereka.
Para prajurit pengawal juga orang orang Perguruan Naga Langit perlahan meraba gagang senjata mereka masing-masing. Karena terlihat si lelaki yang tak karuan dandanan nya ini jelas sedang mencari masalah.
"Hei kalian !
Siapa yang di antara kalian yang menjadi utusan dari Kadiri? Cepat katakan", si lelaki bertubuh gempal yang tak lain Dirgananda alias Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang itu menatap ke sekelilingnya.
"Ada urusan apa kau mencari utusan dari Kadiri?", Demung Gumbreg yang duduk paling dekat dengan Setan Gendeng itu angkat bicara.
"Kau tidak perlu tahu urusan ku, Gendut!
Aku mencari orang yang mengaku sebagai utusan dari Kadiri. Cepat katakan pada ku kalau tidak, akan ku bantai kalian semua!", ancam Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang.
Mendengar itu, semua orang segera mencabut senjata mereka masing-masing dan bergerak mengelilingi Dirgananda.
"Sekumpulan kroco mau melawan ku?
Pengen cepat mampus ya? Akan ku kabulkan keinginan kalian", Setan Gendeng memutar-mutar golok besar nya hingga menciptakan angin yang berhembus kencang. Para pengepung tak bisa mendekati Dirgananda alias Setan Gendeng karena kuatnya pengaruh hembusan angin menderu layaknya badai.
Dalam keadaan itu, Tumenggung Ludaka melesat cepat kearah Setan Gendeng sambil mencabut pedang pendek nya. Gerakan cepat tubuh nya mampu menghindari angin berseliweran lalu Tumenggung Ludaka membabatkan pedang nya ke arah punggung Dirgananda.
Sambaran pedang pendek Tumenggung Ludaka di sadari oleh Setan Gendeng. Dengan sigap ia menangkis sabetan pedang pendek itu dengan bilah golok besar nya.
Thrrraaannnnggggg !
Bunyi nyaring terdengar dari benturan dua senjata mereka. Tumenggung Ludaka langsung merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sebilah pisau belati. Saat serangan nya tertangkis oleh Setan Gendeng, Tumenggung Ludaka ayunkan pisau belati di tangan kirinya ke arah pinggang lawan.
Whhhhuuuuggghhh !
Melihat serangan berbahaya itu, Setan Gendeng melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Namun di saat yang bersamaan, Demung Gumbreg berlari cepat kearah Setan Gendeng sambil mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala Setan Gendeng.
Gerakan cepat ini membuat Setan Gendeng gelagapan juga. Segera dia memutar golok besar nya dan membabatkan senjata itu ke arah serangan Demung Gumbreg.
Whhhuuutthh !
Thrrraaannnnggggg !
Tumenggung Ludaka dengan cepat memanfaatkan kesempatan itu. Berbekal ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi nya, perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera membabatkan pedang pendek nya ke arah perut lelaki berpakaian mirip orang gila ini.
Shrraaaakkkkhhhh !
Aaaarrrgggggghhhhh !!
Meski sadar bahaya mengancam, Setan Gendeng yang terlambat beberapa saat untuk menghindar dari serangan Tumenggung Ludaka harus menjerit tertahan saat pedang pendek sang pimpinan pasukan Lowo Bengi ini merobek kulit perut nya. Meski tidak dalam, tapi cukup membuat darah segar merembes keluar dari luka robek yang di deritanya.
Sambil mendengus keras, Setan Gendeng mengusap darah yang keluar dari lukanya. Hebatnya, tiba tiba luka itu menutup seperti tidak terjadi apa-apa.
"Hahaha..
Kroco kroco seperti kalian harus segera diatasi kalau tidak, akan selalu menggangguku seperti nyamuk", ucap Dirgananda alias Setan Gendeng sambil mengerahkan tenaga dalam nya pada golok besar nya.
__ADS_1
Tiba-tiba golok besar itu mengeluarkan cahaya biru redup di ikuti angin dingin yang berseliweran di sekeliling nya.
Setan Gendeng menyeringai lebar.
"Sekarang waktunya kalian mampus!"
Dirgananda alias Setan Gendeng segera melompat ke depan sambil membabatkan golok besar nya. Selarik sinar biru redup setebal golok besar di tangan Dirgananda melesat cepat kearah Demung Gumbreg yang paling dekat dengan Setan Gendeng.
Whhhhuuuuggghhh !
Demung Gumbreg pun langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada pentung sakti nya dan menghadang serangan itu.
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan dahsyat terdengar saat sinar biru redup berhawa dingin menghantam pentung sakti Gumbreg. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu terlempar ke belakang. Darah segar muncrat dari mulutnya. Tumenggung Ludaka yang melihat kejadian itu, langsung bergegas melesat cepat kearah tubuh Demung Gumbreg yang terpental lalu membawa Demung Gumbreg yang terluka mendarat di tanah.
Melihat itu, Setan Gendeng tak memberi ampun. Segera dia mengayunkan kembali golok besar nya ke arah Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka yang baru saja turun ke tanah. Selarik sinar biru redup setebal golok kembali melesat cepat kearah kedua perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera.
Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya mengamati situasi, langsung melesat cepat kearah serangan. Tubuhnya telah bersinar kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja.
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan dahsyat terdengar. Debu dan asap putih tebal mengepul memenuhi sekeliling tempat itu. Setan Gendeng yang melihat kejadian itu langsung tersenyum penuh kemenangan sembari menatap ke tengah asap tebal. Saat asap tebal menghilang tertiup angin, mata Setan Gendeng melotot lebar seperti hendak melompat dari rongga mata nya. Dia sungguh terkejut bukan main.
Sedangkan Nalayana, sang pimpinan Perguruan Naga Langit yang sedari tadi terus menatap ke arah pertarungan juga turut tersentak.
'Ajian Tameng Waja. Konon hanya beberapa orang saja yang menguasai ilmu pertahanan terbaik ini. Yang tersohor menguasainya adalah Resi Mpu Narashima dan Prabu Jayengrana.
Apa hubungan utusan dari Kadiri ini dengan mereka?', batin Nalayana.
Hemmmmmmm...
Dirgananda alias Setan Gendeng mendengus keras. Rasa keterkejutan nya justru membuat pria berotak sinting ini merasa tertantang untuk mencoba menghancurkan ilmu kanuragan tingkat tinggi milik lawan.
"Jadi kau menguasai Ajian Tameng Waja, bocah tengik?
Kalau begitu biar ku lihat seberapa kuat kau menghadapi golok kepala naga ku!".
"Mampus kau!"
Thhraaaangggggggg !
Sekuat tenaga Setan Gendeng membabat bahu kanan Panji Tejo Laksono namun golok besar nya yang bahkan sudah di lambari tenaga dalam tingkat tinggi nya malah seperti membentur logam keras.
Merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi, Setan Gendeng kembali membabatkan golok besar nya berulang kali ke arah tubuh Panji Tejo Laksono.
Thhraaaangggggggg !
Thhraaaangggggggg !
Thrrriiinnnggggg !!
Tak satupun serangan nya yang bahkan mampu membuat lawannya terjungkal bisa menggores kulit Panji Tejo Laksono. Setelah tebasan golok besar terakhir, Panji Tejo Laksono dengan sigap mencekal bilah golok besar senjata Setan Gendeng.
"Sekarang waktunya giliran ku...!!"
Secepat kilat Panji Tejo Laksono langsung melayangkan tendangan keras kearah perut Setan Gendeng.
Bhhhuuuuuuggggh..!!
Aaauuuuggggghhhhh !
Setan Gendeng terpental jauh ke belakang dan jatuh tengkurap ke tanah. Golok besar nya mencelat dan menancap di tanah. Sedangkan dia sendiri muntah darah segar karena tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Dengan penuh amarah, Setan Gendeng segera berdiri dari tempat jatuhnya. Dengan kasar ia mengusap sisa darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Kedua telapak tangan nya menangkup di depan dada. Tiba-tiba sinar biru redup tercipta di kedua telapak tangan pendekar golongan hitam itu yang menandakan bahwa ia merapal Ajian Cakar Penghancur Tulang.
Melihat lawan mengeluarkan ilmu pamungkas nya, Panji Tejo Laksono menghirup nafas panjang untuk bersiap menahan serangan lawan. Perlahan mulutnya komat-kamit membaca mantra Ajian Waringin Sungsang.
Usai Ajian Cakar Penghancur Tulang nya telah sempurna, Setan Gendeng merubah gerakan tangan nya menjadi sepasang cakar lalu melompat ke atas Panji Tejo Laksono.
Shrraaaakkkkhhhh..!
__ADS_1
Sekuat tenaga Setan Gendeng berusaha keras untuk menancapkan kukunya ke dada sang pangeran muda namun ajian pamungkas nya ini seperti berhadapan dengan logam keras karena Panji Tejo Laksono masih menggunakan Ajian Tameng Waja.
Kedua tangan sang pangeran muda yang sejajar dengan tubuh dengan cepat mencekal kedua lengan Setan Gendeng. Panji Tejo Laksono membuka mulutnya lebar-lebar dan selarik sinar hijau kebiruan melompat ke tubuh Setan Gendeng dan menyelimuti nya.
Perlahan sinar hijau kebiruan itu menyedot daya hidup dan tenaga dalam Setan Gendeng. Rasa sakit langsung menyerang seluruh sendi-sendi tubuh bahkan hingga ke pembuluh darah di tubuh Setan Gendeng.
AAAARRRGGGGGGHHHHH...!!
Setan Gendeng menjerit keras saat rasa sakit yang dirasakan oleh nya seperti membunuhnya perlahan. Pendekar golongan hitam ini terus menjerit kesakitan dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan Ajian Waringin Sungsang yang membelenggunya.
Perlahan tubuh Dirgananda alias Setan Gendeng menghitam dan terus menghitam. Darah segar keluar dari mulut, hidung, telinga dan mata nya. Saat seluruh daya hidup dan tenaga dalam Setan Gendeng habis, tubuh nya sudah berwarna hitam keabu-abuan.
Panji Tejo Laksono langsung menghantam tubuh Setan Gendeng dengan keras.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat !
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr...!!
Tubuh Setan Gendeng meledak dan hancur lebur menjadi abu. Kemurkaan Panji Tejo Laksono yang melihat Demung Gumbreg terluka dalam membuatnya tak bisa mengampuni nyawa Setan Gendeng.
Nalayana atau juga dikenal sebagai Pendekar Naga Biru menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan tatapan mata tak percaya.
'Sungguh ilmu kedigdayaan yang mengerikan. Andai saja dia mau ikut perebutan gelar pimpinan kelompok aliran putih, Resi Guru Jnanabajra belum tentu bisa mengalahkan pemuda ini', gumam Nalayana.
Begitu Setan Gendeng terbunuh, Panji Tejo Laksono segera mendekati Demung Gumbreg yang tengah mendapat bantuan tenaga dalam dari Tumenggung Ludaka.
"Paman Gumbreg, bagaimana keadaan mu?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Hamba tidak apa-apa Denmas Panji..
Dada hamba hanya sedikit sesak saja. Ludaka sudah membantu saya untuk mengobati nya", jawab Demung Gumbreg sambil tersenyum tipis.
"Ini ada obat untuk memulihkan luka dalam, Kisanak..
Makanlah segera", Nalayana yang ikut mendekati Gumbreg menyodorkan sebutir pil berwarna coklat kehitaman pada sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu. Demung Gumbreg segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Begitu melihat anggukan kepala halus dari sang putra tertua Prabu Jayengrana, Demung Gumbreg menerima obat itu dan segera meminumnya dengan air minum yang diambilkan oleh Siwikarna.
"Kita sebaiknya beristirahat saja di Kota Pakuwon Semanding, Denmas..
Gumbreg masih belum pulih benar. Kalau memaksakan diri untuk terus, saya khawatir dengan keselamatan nya", ujar Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Aku mengerti Paman Ludaka..
Saudara Nalayana, seandainya kalian ada kepentingan yang mendesak, boleh mendahului kami. Bagiku keselamatan paman ku lebih penting", Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Nalayana sang Pendekar Naga Biru.
"Ah tidak ada yang penting, Kisanak Utusan..
.
Mari kita cari penginapan di Kota Pakuwon Semanding. Kebetulan aku punya kenalan yang punya penginapan terbaik di kota itu", jawab Nalayana sembari tersenyum tipis.
Rombongan itu segera bergerak meninggalkan tempat itu.
Setelah bermalam di sebuah penginapan di Kota Pakuwon Semanding, keesokan paginya rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan kota ini menuju ke Kota Kadipaten Kembang Kuning. Menjelang tengah hari, mereka sampai di ibukota Kadipaten Kembang Kuning itu setelah melewati beberapa wanua.
Kota Kadipaten Kembang Kuning berkembang pesat di bawah kepemimpinan Adipati Dewangkara, bekas Senopati Kadipaten Lasem yang diangkat menjadi Adipati Kembang Kuning usai pemberontakan Mpu Pamadi dulu. Pelabuhan Tanjung Salaka menjadi pelabuhan besar yang sejajar dengan Pelabuhan Halong di Kadipaten Kalingga hingga membuat perekonomian Kadipaten menjadi makmur.
Selama masa pemerintahan Adipati Dewangkara, Kembang Kuning begitu setia pada Panjalu karena Adipati Dewangkara sangat berterimakasih kepada Prabu Jayengrana yang menaikkan derajat nya. Upeti dan pajak bumi mereka ke Kadiri tak pernah sekalipun telat, selalu tepat waktu. Kalau kadipaten lain seperti Anjuk Ladang dan Lewa sering terkendala membayar pajak bumi dan upeti kepada Istana Katang-katang karena bergantung pada pertanian sebagai penyangga kehidupan sehari-hari mereka, tidak dengan Kadipaten Kembang Kuning. Perdagangan dan pertanian menjadi urat nadi utama perekonomian mereka.
Adipati Dewangkara sendiri memiliki 4 orang anak, 3 laki laki dan seorang perempuan. Raden Sindupati adalah putra kedua sang Adipati setelah putra sulung yang di gadang-gadang menjadi Adipati Kembang Kuning selanjutnya, yaitu Raden Dewanata. Putra ketiga Adipati Dewangkara adalah Dyah Sitoresmi, sekar kedaton Istana Kembang Kuning yang cantik jelita. Sedangkan putra bungsu, Raden Wisnumarupa adalah seorang yang tidak suka dengan kebisingan duniawi, dia lebih suka belajar agama di Siwatantra Ungaran.
Siang itu, Adipati Dewangkara memanggil Raden Sindupati ke ruang pribadi Adipati untuk bicara soal hal penting.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah tampan nampak sedang menunduk di hadapan Adipati Dewangkara. Sang Penguasa Kadipaten Kembang Kuning itu sedang murka setelah mendengar laporan dari para mantri petugas keuangan istana Kadipaten Kembang Kuning mengenai ulah Raden Sindupati yang berulang kali mengambil ratusan kepeng perak dan emas hingga menyebabkan kas istana Kadipaten Kembang Kuning nyaris kosong.
"Sekarang jawab Sindupati,
Kau kemanakan uang yang kau ambil pada bendahara istana Kadipaten Kembang Kuning? Cepat jawab!", Adipati Dewangkara menatap tajam ke arah putra keduanya yang sedang duduk bersila di hadapan nya itu. Raden Sindupati terdiam seribu bahasa. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Adipati Dewangkara semakin murka. Segera dia berdiri dan menampar pipi Raden Sindupati.
Plllaaakkkkk !
"Cepat jawab, anak durhaka!"
__ADS_1