
Sekitar seratus orang bertopeng menyeramkan itu langsung bergerak maju ke arah rombongan duta besar Panjalu begitu Kerbau Besi memberikan perintah. Para pengawal yang ada segera mencabut senjata mereka masing-masing dan pertarungan sengit pun pecah di antara mereka.
Gumbreg buru buru mengambil pentung sakti nya dan berlari cepat kearah para pengepung. Bagai banteng terluka, Gumbreg mengamuk sembari mengayunkan pentung sakti nya ke arah lawan. Tumenggung Ludaka pun secepat mungkin mencabut pedang pendek nya setelah melemparkan 2 pisau belati nya ke arah kelompok orang bertopeng. Dua di antara mereka langsung terjungkal setelah pisau belati Tumenggung Ludaka menembus tubuhnya.
Di sisi lain, Tumenggung Rajegwesi dengan cepat melepaskan 3 anak panahnya kearah lawan yang memburu kearahnya.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shriingg !!
Chrepphh chrepphh !
Aaauuuuggggghhhhh !!
Tiga orang berpakaian hitam langsung tersungkur setelah 3 anak panah Tumenggung Rajegwesi menembus tubuh mereka.
Di sisi lain nya, Panji Tejo Laksono yang mendengar keributan langsung bergegas keluar dari dalam kereta kuda diikuti oleh Luh Jingga dan Huang Lung. Pangeran dari Kadiri itu melihat ratusan orang bertopeng mengepung tempat mereka.
"Perampok Gunung Lima Singa..
Berani beraninya mereka mengganggu perjalanan ku. Pendekar Thee, sebaiknya kita ikut membantu. Para bajingan ini mengandalkan jumlah orang untuk menindas lawan. Ayo kita maju!"
Huang Lung langsung melompat tinggi ke udara dan menyabetkan pedang nya yang tipis ke arah para anggota perampok setelah berkata demikian pada Panji Tejo Laksono. Hawa tenaga qi setipis bilah pedang melesat cepat kearah lawan.
Chrraaasssshhh chrraaasssshhh !!
Raung kesakitan bercampur dengan terpotong nya bagian tubuh manusia terdengar saat hawa pedang Huang Lung membabat ke arah para anggota Perampok Gunung Lima Singa. Dua orang langsung tewas dengan leher putus. Sedangkan 2 lainnya menjerit keras karena menahan sakit akibat bagian tubuh nya terpotong oleh hawa pedang Huang Lung. Darah langsung menggenang di bawah mayat mayat anggota Perampok Gunung Lima Singa yang tewas.
Mayat mayat manusia yang tewas bersimbah darah semakin banyak di sekitar tempat itu, baik dari para perampok maupun dari pengawal Panji Tejo Laksono.
Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga saling berpandangan sejenak sebelum mereka ikut melompat maju ke tengah pertarungan.
Luh Jingga langsung membabatkan pedang nya ke arah lawan yang menghadang. Satu sabetan pedang nya yang cepat, langsung menebas leher seorang anggota perampok.
Shrraaaakkkkhhhh !
Putus kepala sang perampok terkena tebasan pedang Luh Jingga. Darah segar muncrat keluar dari batang leher nya bersamaan dengan robohnya tubuh tanpa kepala itu ke tanah. Dua orang kawannya langsung mengepung Luh Jingga dengan membabatkan senjata mereka masing-masing ke arah tubuh gadis cantik berbaju kuning kemerahan ini.
Whuuthhh whuuthhh !!
Dengan lincah Luh Jingga langsung menangkis sabetan pedang salah satu lawan sembari menghindari satu senjata yang mengarah ke perut. Tangan kiri gadis cantik itu langsung menghantamkan tapak tangan kiri nya yang di liputi oleh sinar hijau tipis ke arah lawannya yang menyerang perut. Selarik angin dingin berdesir kencang menghantam dada lawan yang di incar.
Whuuussshh !
Auuuggghhhhh !
Pria bertopeng itu langsung terpental jauh ke belakang dan menghantam salah seorang kawannya akibat hantaman Ajian Tapak Dewa Bayu milik Luh Jingga. Tubuhnya penuh dengan lobang sebesar jempol tangan yang langsung mengeluarkan darah segar.
Huang Lung yang melihat kejadian itu bergidik ngeri. Dia tak menyangka bahwa gadis cantik yang terlihat lemah lembut ini juga memiliki kemampuan beladiri yang mengerikan. Segera dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu yang mana terlihat para pengikut Panji Tejo memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.
'Bahkan paman gendut yang di depan juga bisa membantai para perampok ini dengan mudah. Sebenarnya sehebat apa sih orang orang ini?'
Huang Lung terus bergerak lincah menyabetkan pedang nya ke arah puluhan perampok yang mengepungnya sambil terus berpikir mengenai kawan kawan Panji Tejo Laksono.
Kerbau Besi mendengus keras saat melihat anak buah nya berjatuhan. Pria gempal bersenjata palu besar ini langsung melompat maju ke arah salah seorang prajurit Panjalu yang kebetulan ada di dekat nya.
__ADS_1
Sekuat tenaga Kerbau Besi menghantamkan palu besar nya ke arah dada prajurit Panjalu itu. Anak buah Tumenggung Ludaka itu dengan cepat menyilangkan pedang nya ke depan dada.
Whhhhuuuuggghhh !
Dhiiieeeessshh !
Kuatnya tenaga Kerbau Besi membuat sang prajurit ini terpental ke belakang dan muntah darah. Tubuhnya menghantam tanah dengan keras dan dia langsung tewas saat itu juga. Rupanya kerasnya pukulan palu besar menghancurkan tulang dada sang prajurit.
Melihat kawannya terbunuh, beberapa prajurit Panjalu lain langsung mengepung Kerbau Besi. Mereka langsung menusukkan senjata mereka masing-masing ke tubuh Kerbau Besi.
Chrraaannnngggg !!
Rupanya di balik pakaiannya, Kerbau Besi memakai baju besi yang membuat nya tidak mempan senjata tajam. Kerbau Besi menyeringai lebar dan langsung mengayunkan palu besar nya yang di lambari tenaga qi.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh !!
Tiga orang prajurit Panjalu yang mengepung langsung meraung keras sembari terjungkal muntah darah. Dua orang langsung tewas dengan kepala hancur berlumuran darah sedangkan satu luka parah di kepala. 2 orang yang selamat melompat mundur beberapa langkah.
Panji Tejo Laksono yang melihat para prajurit Panjalu di bantai oleh Kerbau Besi langsung melesat cepat kearah punggung Kerbau Besi sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.
Dhhaaaassshhh !!!
Kerbau Besi terpental ke belakang dan berguling beberapa kali. Pria bertubuh gempal itu muntah darah segar karena terlihat darah segar merembes keluar dari sudut topeng nya. Kerbau Besi segera melepas topengnya dan melemparkannya ke tanah dengan penuh amarah.
"Jahanam, kau membokong ku!", ucap Kerbau Besi dengan logat bicara Tionghoa yang kental.
"Kau juga membunuh orang-orang ku. Aku tidak akan membiarkan mu seenaknya", jawab Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Kerbau Besi.
Kerbau Besi segera berlari cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan palu besar nya. Panji Tejo Laksono pun langsung berkelit menghindari gebukan palu besar ini hingga palu besar itu menghantam tanah.
Bhhhuuuuummmmhhh!
Sekuat tenaga Kerbau Besi terus memburu Panji Tejo Laksono dengan palu besar nya dengan cepat. Namun sang pangeran muda dari Kadiri ini dengan mudah menghindari setiap serangan dengan menggunakan Ajian Sepi Angin yang membuat gerakan tubuhnya selincah burung layang-layang dan seringan kapas.
Bhhuuuuummmmmmhh bhhuummhh !!
Ngos-ngosan nafas Kerbau Besi. Matanya nanar menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan geram. Baru kali ini dia menghadapi lawan setangguh ini.
'Sial ! Pemuda tengik berkulit putih ini lebih jago dari yang ku kira. Kalau begini terus bisa bisa aku kehabisan tenaga. Aku harus cepat mengalahkan nya. Kalau tidak, aku sendiri yang celaka "
Segera Kerbau Besi mengerahkan seluruh tenaga qi nya untuk satu serangan terakhir. Seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa dingin dengan aura hitam yang menakutkan. Sebuah bayangan manusia berkepala kerbau muncul dari aura hitam Kerbau Besi.
Tiba-tiba saja aura merah yang menakutkan dan berhawa panas muncul dari tubuh Panji Tejo Laksono. Seketika waktu seperti berhenti. Panji Tejo Laksono seperti tersadar dari pikirannya. Dari aura merah menyala itu muncul wujud seekor naga yang menakutkan.
"Pangeran Tejo Laksono,
Di tanah asing ini banyak sekali kekuatan yang menakutkan. Di tempat kemarin aku sudah mengajari mu cara menyembunyikan wujud ku sebagai Pedang Naga Api lewat semedi yang kau lakukan. Sekarang saatnya kau pergunakan itu.
Ingat untuk tetap berhati-hati", ujar Roh Naga Api sembari menggeliat.
"Aku mengerti Roh Naga Api", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Roh Naga Api yang kemudian bergerak memutari tubuh Panji Tejo Laksono. Lalu berubah menjadi cahaya merah yang masuk ke dalam dada Panji Tejo Laksono. Waktu pun kembali berjalan seperti biasanya.
Panji Tejo Laksono dengan cepat membuat sikap semedi di depan dada. Seberkas sinar merah menyala tercipta lalu Pedang Naga Api muncul dalam genggaman tangan sang pangeran muda.
__ADS_1
Segera Panji Tejo Laksono mencabut Pedang Naga Api. Udara di sekitar tempat itu langsung berubah menjadi panas saat Pedang Naga Api keluar dari sarungnya.
Huang Lung dan para pengikutnya pun terkejut merasakan hawa panas yang menakutkan ini. Mereka pun berusaha menjauhi tempat pertarungan Panji Tejo Laksono dan Kerbau Besi karena tidak tahan dengan hawa panas itu.
'Pedang apa itu? Kenapa begitu keluar terasa menakutkan sekali?', batin Huang Lung.
Kerbau Besi pun merasa ngeri juga melihat pusaka di tangan Panji Tejo Laksono. Tapi dia juga tidak ingin melepaskan kesempatan untuk beradu ilmu dengan sang pangeran muda. Segera Kerbau Besi berlari cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan palu besar nya.
Panji Tejo Laksono pun tak mau kalah. Secepat kilat dia merangsek maju sembari membabatkan Pedang Naga Api.
Dua hawa yang berlainan jenis langsung beradu dengan keras
Dhuuaaaaaaarrrrrr !
Ledakan dahsyat terdengar. Hawa panas Pedang Naga Api mampu membelah bayangan manusia berkepala kerbau yang di lepaskan oleh Kerbau Besi sekaligus menebas tubuh Kerbau Besi hingga terbelah menjadi dua bagian. Pimpinan Perampok Gunung Lima Singa ini roboh tersungkur ke tanah dengan badan terpisah.
Para pengikut Kerbau Besi yang tersisa langsung kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu begitu melihat Kerbau Besi tewas mengenaskan.
Melihat itu, para pengawal Panji Tejo Laksono langsung bersorak sorai penuh kegembiraan. Mereka telah berhasil memukul mundur kelompok perampok yang paling di takuti oleh para penduduk dan pedagang yang melewati jalur itu ke Ibukota Kekaisaran Dinasti Song.
Para perwira tinggi prajurit Panjalu seperti Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi segera mendekati Panji Tejo Laksono. Begitu juga dengan Luh Jingga dan Rakryan Purusoma. Panji Tejo Laksono segera menyarungkan kembali Pedang Naga Api ke sarungnya dan menyimpan di dalam tubuhnya.
Huang Lung pun segera mendekati sang pangeran muda dengan penuh kekaguman.
"Pendekar Thee..
Kau sungguh luar biasa. Aku salut dengan kemampuan kungfu mu. Tapi sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Takut nya ada yang akan menyerang lagi", ujar Huang Lung segera.
"Aku mengerti Pendekar Huang. Tapi ijinkan orang ku membuat makam untuk para anak buah ku yang gugur.
Mohon pengertian mu", ujar Panji Tejo Laksono segera. Huang Lung pun tersenyum tipis dan langsung menjawab omongan itu dengan singkat, " Aku mengerti ".
Setelah menguburkan 12 anak buah nya yang menjadi korban keganasan Perampok Gunung Lima Singa, rombongan Panji Tejo Laksono melanjutkan perjalanan ke arah Utara.
Setelah melewati jalan berbahaya di kaki Gunung Lima Singa, rombongan Panji Tejo Laksono tiba di sebuah perkampungan kecil di ujung utara Gunung Lima Singa. Desa ini bernama Sang Xi. Malam itu mereka bermalam di sana setelah Huang Lung mendapatkan ijin dari kepala Desa Sang Xi.
Keesokan harinya, rombongan itu meneruskan perjalanan mereka ke arah Kota Jiangkang yang terletak di tepi Sungai Yangtze.
Menjelang tengah hari, Rombongan Panji Tejo Laksono memasuki Kota Jiangkang. Ada pemeriksaan ketat di pintu gerbang kota. Hampir semua orang yang masuk di periksa dengan teliti oleh para prajurit penjaga gerbang kota.
Melihat itu, Huang Lung langsung turun dari kereta kuda yang dua tumpangi lalu berjalan ke arah para prajurit yang bertugas.
"Permisi Tuan,
Aku ada keperluan penting di kota kalian. Mohon bantuannya untuk di beri jalan lebih dulu", ujar Huang Lung dengan sopan. Seorang prajurit penjaga berwajah berewok nampak bengis menatap ke arah Huang Lung.
"Bukan kau saja yang butuh jalan, tapi mereka juga. Atas dasar apa kau minta jatah jalan lebih dulu ha?", hardik si prajurit itu segera.
"Atas dasar ini, Tuan", Huang Lung tersenyum tipis sembari menunjukkan sebuah lencana pada sang prajurit. Melihat itu, sang prajurit langsung pucat wajahnya. Segera dia membukakan jalan untuk rombongan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda mengerutkan keningnya melihat itu semua.
'Huang Lung...
Siapa kau sebenarnya?'
__ADS_1