Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Woro dan Wati


__ADS_3

****


Dua orang perempuan yang berpakaian lusuh layaknya orang desa berlari kencang melintasi semak perdu berduri tajam diantara pepohonan rimbun yang tumbuh di hutan timur Pakuwon Ngrowo. Jarik lompong kali berwarna hitam kusam yang mereka kenakan telah koyak tersangkut duri pun tak dihiraukan oleh mereka. Juga goresan luka yang banyak menghiasi kaki mereka seolah tak terasa. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu semua. Nyawa mereka sendiri.


"Ayo cepatlah Woro!


Kita harus secepatnya menjauh dari tempat ini!! Kalau tidak, mereka akan mengejar dan menangkap kita!", ujar seorang perempuan muda bertubuh sintal yang hanya mengenakan kemben berwarna coklat tua lusuh. Sebenarnya tadi ia membawa jarit gendongan tapi kain itu sudah jatuh entah kemana.


Gadis yang lebih muda di sampingnya berusaha keras untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena telah berlari cukup lama. Gadis muda yang dipanggil dengan nama Woro itu terus menggandeng tangan si gadis bertubuh sintal itu saking takutnya.


"Hosshhh hooosshhh.. I-iya Kangmbok Wati, ki-kita harus segera menjauh dari tempat terkutuk ini..", ujar Woro sambil berusaha mengimbangi gerakan tubuh Woro yang memang lebih ringan dari dia.


"Para bajingan itu harusnya sudah tidak bisa mengejar kita, Woro..


Kita bisa berhenti sebentar lagi di tepian hutan ini. Ayo Woro...", ucap perempuan cantik bertubuh sintal itu sembari terus menggelandang tangan kanan Woro. Keduanya bergegas menuju ke arah timur.


Begitu sampai di tepi hutan itu, Wati segera menghentikan langkahnya. Kebetulan saja tak jauh dari tempat nya berada, ada sebuah pohon beringin besar dengan daun rimbun dan akar yang menjuntai ke bawah. Wati mengajak Woro kesana untuk berteduh sekaligus beristirahat usai berlari hampir dua kali waktu menanak nasi.


Diatas sebuah batu besar, keduanya mendudukkan pantat mereka yang terasa pegal selepas berlari cukup lama.


"Puja Dewa Wisnu..


Akhirnya kita selamat Kangmbok Wati. Untung saja para prajurit Kadipaten Karang Anom itu tidak memiliki kemampuan beladiri yang tinggi sehingga kita bisa lolos dengan mudah", Woro menghembuskan nafas panjang. Meski badannya terasa penat setelah menguras tenaga nya, perempuan itu menarik nafas lega karena lolos dari maut.


"Kita tidak boleh lengah, Woro..


Jika para perwira yang memburu kita, sulit bagi kita untuk lolos dari mereka. Aku masih tidak bisa tenang jika kita belum menyeberangi Sungai Kapulungan", ucap Wati sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dia sangat waspada.


"Kau benar sekali Kangmbok..


Kita harus bisa menyeberang Sungai Kapulungan untuk melaporkan hasil pengamatan kita pada Gusti Tumenggung Landung agar segera ditindaklanjuti", balas Woro sambil mengusap sisa peluh yang membasahi pipinya.


"Apa sudah sedikit reda lelah mu, Woro? Kita tidak boleh berlama-lama berada di sini..", Wati berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah Kangmbok Wati..


Ayo kita segera lanjutkan kembali perjalanan kita", sahut Woro sambil mengikuti langkah sang saudara tuanya.


Ya, Woro dan Wati adalah anggota pasukan khusus Kotaraja Daha yang bertugas sebagai mata-mata di bawah pimpinan Tumenggung Landung dengan nama Pasukan Lowo Bengi. Beberapa tahun belakangan ini, Tumenggung Landung merekrut banyak perempuan muda untuk bergabung menjadi anggota pasukan khusus ini. Mereka umumnya disusupkan ke dalam istana wilayah yang di curigai akan melakukan pemberontakan atau di sekitar tempat yang menjadi markas persembunyian para perusuh.


Satu purnama ini, selepas adanya peristiwa penyerbuan terhadap Istana Katang-katang oleh Adipati Arya Natakusuma, Prabu Jayengrana memerintahkan kepada Tumenggung Landung untuk menyebarkan para anggota kelompok Pasukan Lowo Bengi di wilayah sekitar Kotaraja Daha untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang bisa mengancam keamanan. Juga ke beberapa Istana Kadipaten di sekitar Kotaraja Daha untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dalam istana daerah masing-masing. Dan ini rupanya terbukti benar.


Woro dan Wati sang anggota Pasukan Lowo Bengi yang di tugaskan ke Kadipaten Karang Anom mendengar adanya kasak kusuk yang beredar di kalangan masyarakat Kadipaten Karang Anom tentang adanya latihan perang yang tersembunyi di balik hutan timur Pakuwon Ngrowo. Keduanya segera menyamar sebagai gadis desa pencari kayu bakar untuk mengelabuhi pandangan mata semua orang. Setelah beberapa kali memeriksa setiap tempat di beberapa hutan yang ada di wilayah timur Kadipaten Karang Anom, akhirnya setelah dengan perjuangan yang berat mereka berdua menemukan letak tempat latihan perang yang di siapkan oleh pihak Kadipaten Karang Anom untuk menyerbu ke Kotaraja Daha sesuai dengan keinginan Mpu Gandasena, bekas Dharmadyaksa ring Kasaiwan yang di turunkan pangkatnya setingkat setelah peristiwa penyerbuan Adipati Arya Natakusuma dari Kadipaten Bhumi Sambara Mataram.


Namun naas nya, Woro dan Wati malah di pergoki oleh para prajurit yang bertugas sebagai pengantar bahan makanan hingga mereka terpaksa harus kabur menyelamatkan diri usai di kepung oleh ratusan orang prajurit. Mereka berdua pun berhasil lolos dari kejaran para prajurit Kadipaten Karang Anom dan akhirnya sampai di tempat itu.


Belum genap 30 langkah mereka meninggalkan bawah pohon beringin rindang itu, tiba-tiba saja muncul beberapa orang yang mengenakan pakaian perwira dari arah berlawanan.


"Jadi rupanya disini kalian bersembunyi..", ucap salah satu dari beberapa orang perwira prajurit Karang Anom itu sambil tersenyum sinis terhadap Woro dan Wati.


"A-apa maksud nya Ndoro Prajurit? Hamba ti-tidak mengerti...", jawab Wati mencolok untuk mengelabuhi mereka.

__ADS_1


1 orang perwira prajurit berpangkat Juru dan 2 orang berpangkat Bekel dan dua orang kepala regu prajurit melotot lebar ke arah Woro dan Wati.


"Jangan berlagak seperti orang bodoh, hei para mata-mata!!


Aku tahu bahwa kalian berdua bukan gadis desa biasa. Jika kalian benar-benar hanya seorang gadis desa, kalian tidak akan sanggup berlari cepat hingga sampai di tempat ini dengan waktu singkat. Cepat katakan pada ku, siapa kalian dan katakan apa saja yang sudah kalian ketahui tentang tempat latihan kami ha?", hardik si perwira menengah berpangkat juru yang bernama Wibisana itu keras.


Woro dan Wati saling berpandangan sejenak seolah bicara meski tak ada suara yang keluar. Wati maju selangkah lebih dekat dengan mereka sedangkan Woro diam-diam meraba gagang cambuk yang melingkar di pinggang.


"Ndoro Prajurit salah paham..


Kami hanya gadis desa pencari kayu bakar yang tersesat hingga sampai di tempat itu. Mohon Ndoro Prajurit tidak mempermasalahkan hal itu dan biarkan kami pergi. Kami berjanji tidak akan pernah mengatakan kepada siapapun tentang hal yang kami lihat", ujar Wati merendah meskipun tidak terdengar sedikitpun nada suara ketakutan pada omongannya.


"Dasar mata-mata keras kepala!!


Bekel Pranata, Bekel Gayam.. Juga kalian para prajurit Kadipaten Karang Anom, ringkus dua orang perempuan mata-mata itu hidup atau mati!!", perintah Juru Wibisana segera.


"Sendiko dawuh Gusti Juru..!!", keempat orang itu segera bergegas mengepung Woro dan Wati.


"Bagaimana ini Kangmbok Wati?", tanya Woro segera.


"Kepalang tanggung. Lawan mereka sebisa kita..", jawab Wati sambil mencabut sepasang pisau belati kecil yang ada di balik kain lusuh di pinggangnya dengan cepat.


Dua orang prajurit Kadipaten Karang Anom lebih dulu menerjang maju ke arah Woro dan Wati sambil membabatkan pedang mereka masing-masing.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Woro segera menarik cambuknya dan menangkis sabetan pedang si prajurit dengan memegang kedua ujung cambuk yang terbuat dari kulit lembu ini. Sementara Wati melompat ke samping kanan hingga tebasan pedang lawannya hanya menyabet udara kosong.


Woro segera memutar tubuhnya dengan cepat sembari melayangkan tendangan keras kearah perut si prajurit Karang Anom.


Auuuggghhhhh!!!


Si prajurit ini langsung terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk. Woro dengan cepat melecutkan cambuknya yang panjangnya sekitar 3 depa ke leher lawan.


Whuuuggghh..


Begitu leher si prajurit Karang Anom ini telah terjerat cambuknya, Woro dengan sekuat tenaga menariknya ke arah nya. Wati yang baru saja menghindari sabetan pedang lawannya, langsung menusukkan pisau belati kecil milik nya ke arah perut lawan Woro.


Jllleeeeeppppphhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Si prajurit Karang Anom menjerit keras. Saat Wati mencabut belati kecil nya dari perutnya, si prajurit langsung terhuyung huyung jatuh ke tanah. Dia tewas dengan usus terburai keluar. Melihat itu, kawannya berusaha untuk membalas dendam dengan menyabetkan pedang nya ke arah leher Woro.


Brreeeeettttthhh!!


Woro segera menjejak tanah dengan keras menghindari sabetan pedang si prajurit Karang Anom. Ini membuat pertahanan tubuh si prajurit itu lengah dan Wati dengan cepat bergerak sedikit rendah sambil menusuk pinggang si prajurit dari arah samping.


Chhreepppppph!!


Auuuggghhhhh!!!

__ADS_1


Geram karena bawahannya terbunuh dengan mudah oleh mereka, Bekel Pranata langsung melayangkan tendangan keras kearah punggung Woro yang baru saja mendarat di tanah. Woro sama sekali tidak siap hingga tendangan keras kaki kanan Bekel Pranata telak menghajar punggungnya.


Dhhaaaassshhh..


Oouuugghhhhhh!!!


Woro langsung terjungkal ke depan. Wati yang mencoba untuk menolong langsung mendapat sambaran cepat pedang Bekel Gayam yang mengincarnya.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Thhhrrriiiiinnnnngggg!!


Wati langsung menangkis sabetan pedang besar Bekel Gayam dengan pisau belati kecil nya sambil melompat mundur. Pertarungan sengit satu lawan satu pun segera terjadi.


Cettaaaaaaarrrrr!!!


Whhhuuuggghhhh..


Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!


Wati dan Woro bertarung sekuat tenaga melawan Bekel Pranata dan Bekel Gayam. Sepertinya kemampuan beladiri kedua orang perwira rendah dari Kadipaten Karang Anom ini seimbang dengan Woro dan Wati. Puluhan jurus telah berlalu, Woro dan Wati sudah terkuras banyak tenaga nya pun juga lawan mereka Bekel Gayam dan Bekel Pranata.


Juru Wibisana diam-diam merapal mantra ajian yang dia miliki dan segera menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah redup ke arah Woro dan Wati.


Whhhuuuuuusssshhh!!


Woro langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan bokongan serangan dari Juru Wibisana. Wati pun segera membantu kawannya dengan menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Woro.


Blllaaaaaarrr!!!


Ledakan keras terdengar saat itu juga. Woro dan Wati terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Keduanya langsung muntah darah segar. Melihat itu, Bekel Pranata dan Bekel Gayam langsung menyeringai lebar sembari menghapus keringat yang membasahi dahinya.


"Terimakasih atas bantuannya Gusti Juru", ucap Bekel Pranata segera.


"Dasar tidak becus mengurus dua orang mata-mata, masih juga mencoba untuk mencari muka..


Cepat tangkap mereka, jangan buang-buang waktu!!", bentak Juru Wibisana keras. Bekel Pranata langsung tersenyum kecut mendengar bentakan keras atasannya itu. Bersama dengan Bekel Gayam, dia melangkah menuju ke arah Woro dan Wati yang terkapar tak berdaya di tanah.


Namun sebelum mereka menyentuh tubuh Woro dan Wati, dua larik cahaya merah menyala berhawa panas menyengat seperti kobaran api menerabas cepat kearah Bekel Pranata dan Bekel Gayam.


"Bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn..!!!!", maki Bekel Gayam yang tidak bisa lagi untuk menghindar. Begitu juga dengan Bekel Pranata yang langsung membuat pertahanan tubuh ala kadarnya saja.


Blllaaammmmmmmm !!!


Dua orang perwira rendah dari Keprajuritan Karang Anom itu langsung terpental jauh ke belakang. Tubuh keduanya menyusruk tanah dengan keras. Layaknya baru saja di bakar api, tubuh Bekel Pranata dan Bekel Gayam gosong separuh. Keduanya langsung tewas tanpa sempat bersuara.


Juru Wibisana langsung mendelik kereng pada arah serangan cepat itu. Dari arah sana seorang lelaki muda dengan wajah tampan meluncur turun ke depan nya sambil tersenyum tipis.


"Bajingan darimana ini? Kenapa ikut campur dalam urusan kami ha?", bentak Juru Wibisana keras.


Belum sempat si lelaki muda bertubuh tegap ini menjawab, seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar melesat cepat kearah Juru Wibisana sembari menjawab omongan Juru Wibisana juga melemparkan beberapa pisau belati kecil berwarna putih.

__ADS_1


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


"Kau belum pantas untuk bertanya pada junjungan ku!!!"


__ADS_2