
"Paman Tumenggung Landung sudah menyebarkan separuh anggota Pasukan Lowo Bengi untuk menyusup ke dalam wilayah Kota Kadipaten Rajapura. Sisanya menyebar ke sekitar luar kota Kangmbok Gayatri.
Kita saja yang di beri kebebasan untuk bergerak sesuai kebutuhan", ujar Mapanji Jayagiri sembari menatap ke arah Gayatri yang memasukkan pisau belati peraknya ke balik baju.
"Itulah sebabnya kita harus kerap berkeliling Gusti Pangeran. Kita harus memutus hubungan antara para prajurit telik sandi perbatasan dengan orang orang Kota Rajapura.
Dengan begitu, para petinggi Rajapura tidak akan mendengar berita apapun dan itu akan mengurangi kewaspadaan mereka terhadap segala macam pergerakan para prajurit Panjalu. Ini adalah hal yang diharapkan oleh Paman Tumenggung Landung", Gayatri menatap ke arah langit yang penuh dengan awan mendung kelabu bercampur hitam. Semilir angin dingin yang mengandung uap air seakan menjadi pertanda bahwa sepertinya hujan akan segera turun di seputar tempat itu. Sementara itu, Mapanji Jayagiri menyeret mayat prajurit perbatasan itu ke semak belukar untuk menghilangkan jejak.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini, Gusti Pangeran. Sebentar lagi hari akan hujan", imbuh Gayatri segera. Mapanji Jayagiri mengangguk mengerti.
Dua orang pendekar muda itu segera melesat meninggalkan tempat itu. Sementara Resi Tandi yang senantiasa mengawasi pergerakan Mapanji Jayagiri dari kejauhan turut pula melesat cepat ke arah yang sama.
Keesokan harinya, pasukan Panji Tejo Laksono telah bersiap meninggalkan bantaran Kali Comal setelah matahari pagi terlihat sepenggal naik di langit. 200 prajurit yang terluka, rupanya masih ikut serta dalam pasukan itu karena mereka tidak mau di pulangkan. Dari 200 prajurit yang terluka, 150 luka ringan dan 40 lainnya luka sedang. Sedangkan 10 prajurit yang luka parah setelah pertempuran kemarin, gugur dan di makamkan menyusul di sebelah kawan mereka yang sudah lebih dulu gugur.
Pagi itu, Panji Tejo Laksono yang baru saja selesai membersihkan diri terlihat sedang berdandan di dalam tenda besar yang menjadi tempat istirahat nya. Di bantu oleh Luh Jingga dan Ayu Ratna, Panji Tejo Laksono memakai baju biru tua sebagai dasar baju perang yang dia gunakan. Sebuah gelang bahu dari emas terlihat di pasangkan oleh Ayu Ratna, sedangkan Luh Jingga nampak asyik mengikat tali pelindung lengan pada tangan kiri sang pangeran muda. Song Zhao Meng yang belum begitu paham dengan cara dandan ala bangsawan Tanah Jawadwipa hanya menyiapkan segala permintaan dari Luh Jingga dan Ayu Ratna yang terlihat cakap mendandani calon suami mereka.
Begitu persiapan keberangkatan telah rampung, Tumenggung Ludaka selaku wakil pimpinan pasukan Panji Tejo Laksono segera melapor pada sang pangeran muda dari Kadiri yang masih di dandani oleh ketiga wanita nya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Pasukan kita telah selesai bersiap, tinggal menunggu kedatangan Gusti Pangeran", lapor Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Tunggu sebentar lagi Paman, sampai aku menyelesaikan dandanan perang ku", balas Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", usai berkata demikian, Tumenggung Ludaka segera mundur dari dalam tenda besar tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono dan ketiga gadis cantik yang mengiringi perjalanan nya. Tak berapa lama kemudian, putra sulung Prabu Jayengrana itu keluar dari dalam tenda besar nya dan segera melompat ke atas kuda tunggangan nya.
Pasukan Panji Tejo Laksono pun bergerak meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat dengan menyusuri jalan di dekat pantai. Derap kaki kuda mereka begitu bergemuruh menjejak setiap jengkal tanah jalan raya Kadipaten Rajapura di sertai dengan cipratan air keruh yang menggenang. Pergerakan cepat mereka nyaris tanpa di ketahui oleh para punggawa istana Kadipaten Rajapura.
Sementara itu, di sisi selatan, pasukan besar Panjalu yang di pimpin oleh Senopati Agung Narapraja dan Mapanji Jayawarsa mulai mendekati benteng pertahanan Pakuwon Getas. Besarnya jumlah prajurit Panjalu yang ikut dalam pasukan ini memang membuat pergerakan mereka lambat. Hampir separuh dari prajurit Panjalu yang ikut dalam peperangan ini adalah prajurit pejalan kaki setelah 8 ribu orang prajurit berkuda mereka mati sia-sia di benteng pertahanan Karangwuluh.
Begitu mendekati jarak 100 depa dari benteng pertahanan Pakuwon Getas, Senopati Agung Narapraja langsung memberikan isyarat kepada sang prajurit peniup terompet tanduk kerbau untuk melaksanakan tugas. 100 depa adalah jarak terjauh dari anak panah bisa di tembakkan dengan sempurna.
Thhhhuuuuuuuuuttttttthh..!!
Satu isyarat dari terompet tanduk kerbau serta merta menghentikan langkah kaki para prajurit Panjalu. Setelah itu, bende perang di tabuh dua kali sebagai penanda wyuha atau gelar perang Garuda Nglayang dijalankan. Beberapa Senopati dan Tumenggung yang menjadi sayap wyuha garuda, langsung bergerak cepat membentuk pasukan sayap. Sementara itu di sisi tengah yaitu pada paruh wyuha garuda nglayang, Senopati Muda Jarasanda bertindak sebagai pimpinan.
Para prajurit Rajapura yang berada di dalam benteng pertahanan Pakuwon Getas, dengan cepat menutup rapat pintu gerbang benteng. Sedangkan di atas tembok benteng, Tumenggung Gurunwangi menatap sinis terhadap orang orang Panjalu yang yang kini siap menyerbu masuk ke dalam benteng pertahanan. Dia begitu meremehkan para prajurit Panjalu setelah berhasil menjebak mereka di benteng pertahanan Karangwuluh.
"Huhhhhh, rupanya kalian masih belum kapok juga hai wong wong Kadiri.. Kali ini, nasib prajurit kalian pun akan sama seperti sebelumnya di Karangwuluh.
Anggasuta,
__ADS_1
Lekas lepaskan anak panah untuk memancing mereka!!", Tumenggung Gurunwangi segera memberikan isyarat kepada Demung Anggasuta, sang pengikut setia. Mendengar perintah dari junjungan nya, Demung Anggasuta segera mengangkat tangan kanannya dan para prajurit pemanah langsung bersiap dengan menarik tali busur panah mereka.
"Tembbaaaaaakkkkkkkk...!!!!"
Teriakan keras Demung Anggasuta seketika membuat seluruh pasukan pemanah yang ada di atas benteng pertahanan Pakuwon Getas melepaskan anak panah mereka. Ribuan anak panah melesat cepat kearah pasukan Panjalu yang kini ada dalam pimpinan Senopati Agung Narapraja.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shhhrriinggg !!
Melihat lawan mereka sudah mulai menyerang, Tumenggung Muda Jarasanda segera mengangkat tangan kanannya ke atas dan para prajurit yang berada di barisan terdepan serta merta mengangkat tameng besi mereka sebagai perlindungan diri dari anak panah yang di lepaskan oleh para prajurit Rajapura.
Thhraaaangggggggg thrrraaannnnggggg !!
Para prajurit Panjalu yang terdepan berhasil selamat dari hujan anak panah yang di lepaskan oleh para pemanah Rajapura dengan perlindungan tameng yang mereka gunakan. Hanya beberapa orang yang terlambat untuk bergerak saja yang tewas tertembus anak panah. Melihat itu, Tumenggung Gurunwangi mendelik tajam ke arah mereka.
"Bangsat !
Lepaskan lagi anak panah kalian! Bidik dengan benar. Cepat !!"
Kembali ribuan anak panah melesat cepat kearah pasukan Panjalu yang berlindung di balik tameng besi mereka. Serangan kedua inipun gagal karena tak juga berhasil merobohkan para prajurit Panjalu yang berada di barisan paling depan.
Di tengah barisan prajurit Panjalu yang menjadi badan wyuha garuda, Senopati Agung Narapraja dan Mapanji Jayagiri terus menatap ke arah para prajurit Panjalu yang di hujani anak panah prajurit pemanah Rajapura.
"Dasar tolol ..!!
"Rupanya kau sudah belajar dari pengalaman, Gusti Pangeran..
Untuk menghadapi para prajurit Rajapura yang di kendalikan oleh orang licik seperti Tumenggung Gurunwangi, kita tidak boleh menggunakan taktik perang yang sama. Karena itu, pengetahuan tentang gelar perang harus kita hapal dengan baik", ucap Senopati Agung Narapraja sembari tersenyum tipis dari atas kuda tunggangan nya. Mendengar ucapan itu, Mapanji Jayawarsa
yang merasa tersindir dengan perasaan bercampur aduk memilih untuk diam.
Dhhiieeeennnggggg..!!
Satu tabuhan bende perang seketika membuat pintu gerbang benteng pertahanan Pakuwon Getas di buka. Ribuan prajurit prajurit Rajapura yang berasal dari Pakuwon Getas yang berada di selatan Kota Kadipaten Rajapura langsung merangsek maju ke arah pasukan Panjalu di bawah pimpinan Senopati Muda Jarasanda. Di pimpin oleh Kartayuda, sang Akuwu Getas, pasukan Rajapura menggebrak kuda mereka masing-masing ke arah pasukan Panjalu yang masih belum bergerak dari tempatnya.
Situasi ini membuat Tumenggung Gurunwangi yang berada di atas benteng pertahanan terperanjat kaget.
"Apa yang sebenarnya kalian semua rencanakan?!!
Orang orang Panjalu, kenapa mereka masih belum bergerak juga? Apa mau kalian?", geram Tumenggung Gurunwangi yang sedari tadi terus mengawasi pola pergerakan prajurit Panjalu.
Begitu para prajurit Pakuwon Getas berhadapan dengan pasukan Panjalu di bawah pimpinan Senopati Muda Jarasanda, perang sengit segera terjadi. Denting senjata beradu di sertai ringkik kuda dan jeritan para prajurit yang terluka langsung terdengar dari pertempuran di bagian tengah.
__ADS_1
Di dua sisi sayap wyuha, tiba-tiba muncul ribuan orang prajurit pemanah berapi yang sudah merentangkan busur panah mereka sebagai persiapan untuk menembak.
Tumenggung Gurunwangi pun yang melihat itu, langsung tersadar bahwa pasukan Panjalu tidak berniat untuk masuk ke dalam benteng pertahanan Pakuwon Getas untuk menguasainya. Mereka ingin membumihanguskan tempat yang terbuat dari batang kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa ini.
"Celaka !!
Anggasuta, Juru Kanoman cepat perintahkan pasukan kita untuk meninggalkan tempat ini. Jangan sampai terlambat!! ", teriak Tumenggung Gurunwangi sembari melompat turun dari atas benteng pertahanan Pakuwon Getas. Segera dia naik ke atas kuda nya dan menggebrak hewan tunggangan nya ini menuju ke arah pintu belakang benteng pertahanan Pakuwon Getas. Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman langsung mengikuti langkah sang pimpinan beserta dua ribu orang prajurit pengawal mereka.
Shhhrriinggg shhhrriinggg !!
Ribuan anak panah berapi melesat cepat kearah benteng pertahanan Pakuwon Getas yang terbuat dari batang kayu gelondongan. Para prajurit sayap wyuha garuda nglayang terus menerus menembakkan anak panah berapi mereka tanpa henti. Kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa yang sudah di lumuri dengan minyak jarak itu langsung terbakar api. Dengan cepat api membakar benteng pertahanan Pakuwon Getas.
Terbakarnya benteng pertahanan Pakuwon Getas langsung membuat Akuwu Getas, Kartayuda, lengah beberapa saat. Ini dimanfaatkan oleh Senopati Muda Jarasanda yang segera melayangkan tendangan keras kearah perut sang akuwu berbadan gempal ini.
Dhiiieeeessshh ..
Aaauuuuggggghhhhh !!
Kartayuda menjerit tertahan dan terhuyung huyung mundur beberapa langkah. Senopati Muda Jarasanda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Secepat kilat, adik ipar Mapatih Warigalit itu melesat ke arah Akuwu Kartayuda sembari menghujamkan Keris Kyai Klotok yang selama ini menjadi senjata andalan nya.
Jllleeeeeppppphhh !!
Aaaarrrgggggghhhhh !!
Akuwu Kartayuda menjerit keras saat Keris Kyai Klotok milik Senopati Muda Jarasanda menusuk perutnya hingga tembus pinggang. Pria paruh baya bertubuh gempal itu langsung ambruk ke tanah saat Senopati Muda Jarasanda mencabut keris pusaka itu dari perutnya yang membuat ususnya terburai keluar. Sekejap kemudian, Akuwu Pakuwon Getas ini tewas dengan bersimbah darah.
Hanya dalam hitungan waktu, para prajurit Rajapura di tundukkan oleh pasukan Panjalu. Mereka seyogyanya hanya menjadi prajurit pemancing perhatian yang di siapkan oleh Tumenggung Gurunwangi yang ingin mengulangi lagi jebakan kebakaran seperti di benteng pertahanan Karangwuluh tempo hari.
Sorak sorai para prajurit Panjalu terdengar saat prajurit Rajapura pimpinan Akuwu Kartayuda yang terakhir roboh di tembus tombak salah seorang prajurit Panjalu. Kemenangan ini seakan menjadi penebus kekalahan memalukan mereka di benteng pertahanan Karangwuluh kemarin. Mereka kemudian mengalihkan pandangannya pada benteng pertahanan Pakuwon Getas yang terbakar api. Asap tebal membumbung tinggi ke udara seakan menjadi lambang kemenangan mereka.
Tumenggung Gurunwangi terus menggebrak kudanya meninggalkan kawasan Pakuwon Getas diikuti oleh Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman. Bersama dengan dua ribu orang prajurit pengawal mereka, Tumenggung Gurunwangi terus memacu kuda nya melintasi jalan menuju Kota Kadipaten Rajapura.
Namun, sesampainya di tepi hutan kecil sebelum masuk ke tapal batas Kota Rajapura, Tumenggung Gurunwangi menarik tali kekang kudanya hingga kuda berwarna coklat tua itu meringkik keras dan menghentikan langkahnya. Para prajurit pengikut nya pun segera melakukan hal yang sama.
Di tengah jalan yang membelah hutan kecil yang dinamakan Hutan Koncar ini, sekitar 500 orang yang sebagian besar memakai topeng separuh wajah dan memakai pakaian serba hitam menghadang mereka. Hanya tiga orang saja yang tidak memakai pakaian serupa dan tanpa penutup wajah. Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan pedang besar pendek, seorang pemuda tampan berusia belasan tahun dan satu orang perempuan cantik dengan rambut diikat kain sutra biru.
Tumenggung Gurunwangi langsung mengenali sosok pemuda tampan yang menyandang sebuah pedang butut di punggungnya. Dia adalah orang yang menghajar Demung Anggasuta tempo hari di tepi dermaga Kali Gung. Sembari mendengus keras, Tumenggung Gurunwangi pun berkata,
"Ada urusan apa kalian menghalangi jalan ku,
Pendekar Pedang Butut?!!"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Mapanji Jayagiri yang dimaksud oleh Tumenggung Gurunwangi tersenyum lebar sembari berkata tegas,
"Tentu saja untuk menantang kalian".