
Dua makhluk halus berwujud menyeramkan itu segera menghormat pada Ki Kalawisesa. Dengan cepat keduanya segera berubah menjadi sepasang bola api sebesar kepala manusia dan langsung melesat cepat kearah rumah kediaman Mpu Anggada sang Lurah Wanua Ranja tempat dimana Panji Tejo Laksono berada.
Ngguuuunggggggg....
Panji Tejo Laksono yang masih berbincang dengan para penduduk Wanua Ranja dan para pengikutnya, tiba-tiba saja di kejutkan dengan ucapan Gayatri yang kaget melihat tubuh suaminya yang bersinar kuning keemasan.
"Kangmas Pangeran, tubuh mu..."
Semua orang merasa takjub dengan perubahan ini dan segera mengambil jarak sedikit jauh dari Panji Tejo Laksono. Sang Adipati baru Seloageng ini yang kaget dengan kemunculan sinar kuning keemasan ini bergumam lirih. Dia segera berdiri dari tempat duduknya.
'Ada apa ini? Ini bukan Ajian Tameng Waja, tapi kenapa mendadak muncul sinar kuning keemasan seperti ini?"
Saat Panji Tejo Laksono masih kebingungan dengan hal yang sedang terjadi, tiba-tiba saja dua bola api sebesar kepala manusia melayang cepat kearah nya dan menghantam tubuh sang pangeran.
Blllaaaaaarrr !!! Blllaaaaaarrr !!
Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga semua orang terkejut melihat nya. Panji Tejo Laksono terseret mundur beberapa langkah usai terkena hantaman bola api sebesar kepala manusia itu. Dia tidak apa-apa. Ini karena ternyata sinar kuning keemasan itu melindungi tubuh nya dari hantaman bola api tadi. Sebuah bayangan keris pusaka tercipta di dada Panji Tejo Laksono. Semua orang segera mengambil jarak dari Panji Tejo Laksono. Sedangkan para prajurit Seloageng di bawah pimpinan Senopati Gardana segera merangsek masuk ke dalam pendopo kelurahan Wanua Ranja untuk melindungi pimpinan tertinggi mereka.
Sedangkan bola api sebesar kepala manusia setelah menghantam dada Panji Tejo Laksono, jatuh ke pendopo kelurahan Wanua Ranja dan berubah menjadi dua sosok makhluk hitam menyeramkan dengan mulut bertaring besar menganga dan mata merah yang menyala.
"Masih belum kapok juga rupanya...
Kalian semua jangan ada yang mendekat. Dua makhluk halus ini bukan lawan kalian. Mundurlah ", teriak Dyah Kirana segera. Perempuan cantik itu segera melompat ke samping kiri Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya. Gayatri dan Luh Jingga pun ikut mendekat ke arah Panji Tejo Laksono.
"Gusti Pangeran, ini adalah prewangan yang di kirim untuk mencelakai mu. Aku akan membantu Gusti Pangeran untuk mengatasinya", ucap Dyah Kirana sembari terus menatap tajam ke arah dua makhluk halus menyeramkan itu.
"Apa kau yakin bisa?", tanya Panji Tejo Laksono sembari melirik ke arah Dyah Kirana. Mendengar pertanyaan itu, Dyah Kirana tersenyum tipis.
"Jangan lupa Gusti Pangeran, aku adalah cucu Maharesi Padmanaba dan putri Romo Resi Ranukumbolo. Sejak kecil aku sudah di latih untuk menghadapi semua makhluk kasat mata seperti mereka.
Gusti Pangeran beruntung karena memiliki Keris Nagasasra di dalam tubuh mu. Jika tidak, Gusti Pangeran pasti sudah celaka saat menerima serangan mereka tadi", ucap Dyah Kirana sembari menunjuk dada Panji Tejo Laksono.
"Kangmbok Gayatri dan Kangmbok Luh Jingga sebaiknya tidak ikut campur dalam menghadapi dua setan alas ini. Meski ilmu kanuragan kalian berdua tinggi, itu tidak akan berguna jika menghadapi para makhluk halus seperti mereka", imbuh Dyah Kirana segera.
"Baik kalau begitu. Bantu Kangmas Pangeran sekuat tenaga mu, Kirana..
Kami akan berjaga-jaga di belakang", ujar Luh Jingga yang segera menarik tangan Gayatri untuk sedikit memberi ruang kepada Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana.
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh !!
Kedua makhluk bermata merah menyala itu berteriak keras sebelum melesat ke arah Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana. Panji Tejo Laksono yang sudah mengambil Keris Nagasasra dari dalam tubuh nya, menggenggam erat gagang keris itu saat kedua makhluk halus itu menerjang ke arah nya.
Dyah Kirana merapal sebuah mantra dan menerjang maju ke salah satu makhluk halus yang menyerbu ke arah Panji Tejo Laksono. Makhluk halus ini sama sekali tidak menghindar saat tendangan keras kaki kanan Dyah Kirana menghajar perut lawan.
Dhiiieeeessshh..
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh !!
Makhluk menyeramkan itu meraung keras. Dia terkejut bukan main. Tubuhnya yang biasa kebal terhadap serangan manusia, tiba-tiba merasakan sakit luar biasa saat terkena tendangan dari Dyah Kirana. Rasanya seperti panas api yang berkobar setelah menyentuh kulit sang putri Resi Ranukumbolo itu. Dia terhuyung huyung mundur beberapa langkah ke belakang.
Belum hilang rasa keterkejutannya, Dyah Kirana kembali menerjang maju ke arah nya sembari melayangkan serangan cepat tapak tangan kanan nya ke arah dada. Tapak tangan kanan berwarna biru terang itu telak menghajar dada makhluk hitam menyeramkan itu.
Blllaaaaaarrr !!
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!
__ADS_1
Makhluk menyeramkan ini terpental jauh ke belakang hingga terlempar sampai di halaman. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, dia bangkit lagi meski dengan dada separuh hancur berlobang besar. Makhluk menyeramkan itu menyeringai lebar seolah menghina serangan Dyah Kirana karena tiba-tiba saja tubuh nya kembali utuh seperti semula setelah dia mengusapnya.
"Setan jahanam penghuni neraka!!
Kau jangan sombong dulu", Dyah Kirana segera melesat cepat kearah si makhluk menyeramkan itu. Mulut perempuan cantik berbaju putih ini nampak mengucapkan sebuah mantra yang membuat tubuhnya berselimut cahaya biru yang indah.
Dengan cepat ia menerjang maju ke arah makhluk menyeramkan itu dengan tendangan keras nya. Si makhluk kiriman Ki Kalawisesa itu membungkuk menghindari serangan Dyah Kirana hingga tendangan keras dari putri Resi Ranukumbolo itu hanya menyambar udara kosong.
Usai menjejak tanah, Dyah Kirana segera merubah gerakan tubuhnya dan dengan cepat melesat ke arah makhluk menyeramkan itu sembari melayangkan pukulan keras pada perut lawan. Kecepatan tinggi sang putri Resi Ranukumbolo membuat makhluk hitam menyeramkan itu yang tak bisa bergerak cepat, kesulitan menghindar dari serangan Dyah Kirana.
Dhhaaaassshhh..
Blllaaaaaarrr !!!
Makhluk menyeramkan itu terpelanting ke tanah. Dari mulutnya yang bertaring besar, keluar cairan berwarna kehijauan. Meski sudah terluka, namun dia masih berusaha untuk melawan Dyah Kirana dengan segenap kemampuan nya. Pertarungan sengit antara mereka terus berlangsung.
Di sisi lain, Panji Tejo Laksono yang memegang Keris Nagasasra langsung mengayunkan senjata pusaka itu begitu salah satu dari dua makhluk menyeramkan itu menerjang maju ke arah nya.
Brreeeeeettttth !!
Aura mengerikan dalam sinar kuning keemasan yang keluar dari dalam bilah Keris Nagasasra membuat makhluk hitam menyeramkan itu sadar bahwa ia sedang menghadapi sebuah pusaka yang mampu membasmi makhluk kasat mata. Buru-buru dia menjatuhkan diri untuk menghindari sabetan Keris Nagasasra. Dia lolos dari serangan cepat Panji Tejo Laksono.
Segera makhluk kiriman Ki Kalawisesa itu bangkit usai menghindari sabetan Keris Nagasasra. Dia segera mengayunkan jari tangan nya yang berkuku tajam dan panjang pada perut sang pangeran muda dari Kadiri.
Shhrreeettthhh!!
Meski berhasil menghindar sesaat sebelum terkena serangan, baju Panji Tejo Laksono robek saat cakar tangan makhluk menyeramkan itu nyaris melukainya. Panji Tejo Laksono segera berjumpalitan mundur beberapa kali. Setelah melihat baju kesayangan nya yang koyak, Panji Tejo Laksono mendengus keras lalu melesat cepat kearah makhluk hitam menyeramkan itu sembari kembali menyabetkan Keris Nagasasra di tangan kanannya.
Shreeeeettttthhh!
Panji Tejo Laksono langsung menghentikan gerakannya. Sambil terus menggerakkan Keris Nagasasra di tangan kanannya, sang pangeran tertua Prabu Jayengrana itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pendopo kelurahan Wanua Ranja yang menjadi ajang pertarungan nya.
"Setan alas ! Tunjukkan wujud mu ! Jangan cuma berani sembunyi saja! ", hardik keras sang pangeran muda dari Kadiri tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
Tiba-tiba sepasang tangan berkuku panjang muncul di samping kedua kaki Panji Tejo Laksono dan hendak memegang kaki sang Adipati baru Seloageng. Luh Jingga yang sedari tadi terus mengawasi jalannya pertarungan, langsung berteriak keras.
"Awas Kangmas Pangeran! Dia ada di bawah kaki mu!".
Mendengar peringatan dari Luh Jingga, Panji Tejo Laksono segera melenting tinggi ke udara dan mendarat di rangka kayu pendopo kelurahan Wanua Ranja. Dia lolos dari jebakan sang makhluk hitam menyeramkan. Mata Panji Tejo Laksono terus menatap ke bawah, mengawasi perubahan sekecil apapun pada lantai pendopo kelurahan.
Meski hanya dengan sentir lampu minyak jarak yang terpasang pada empat tiang pendopo kelurahan Wanua Ranja, mata tajam Panji Tejo sembari melihat sebuah gundukan tanah bergerak di lantai pendopo. Melihat itu , Panji Tejo Laksono segera menghentakkan keris pusaka di tangan kanannya dan sebuah sinar kuning keemasan segera terlontar dari bilah Keris Nagasasra.
Shiiuuuuuuttttt...
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan keras terdengar saat sinar kuning keemasan dari Keris Nagasasra menghantam gundukan tanah bergerak di lantai pendopo kelurahan. Setelah ledakan keras itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke arah ledakan keras tadi.
Whuuthhh whuuthhh whuuthhh..
Chhrrrraaaaaassss chhraasshh!!
Terdengar suara seperti tubuh terpotong oleh senjata tajam dari kepulan asap yang menyelimuti tempat terjadinya ledakan keras. Berikut nya, potongan tubuh dari makhluk hitam menyeramkan itu berhamburan keluar dari dalam lobang sebesar kerbau yang tercipta di lantai pendopo kelurahan Wanua Ranja.
Saat asap tebal yang menutupi tempat Panji Tejo Laksono melompat turun, sang pangeran muda dari Kadiri sudah menenteng kepala makhluk menyeramkan itu dengan darah berwarna kehijauan yang keluar berceceran dari batang leher nya yang terpotong oleh Keris Nagasasra.
__ADS_1
Luh Jingga dan Gayatri menarik nafas lega karena melihat Panji Tejo Laksono berhasil mengalahkan makhluk halus kiriman Ki Kalawisesa itu. Begitu juga dengan Senopati Gardana, Lurah Wanua Ranja Mpu Anggada, para sesepuh dan pemuda Wanua Ranja yang ada di tempat itu.
Panji Tejo Laksono langsung menusukkan Keris Nagasasra di tangan nya ke kepala makhluk hitam menyeramkan itu sembari berkata, "Kembalilah kepada orang yang mengutus mu! "
Jllleeeeeppppphhh !!
Kepala makhluk halus itu segera lenyap dari pandangan mata semua orang bersamaan dengan potongan tubuh nya yang berceceran dimana-mana hingga seolah olah raga nya tidak pernah ada di tempat itu. Setelah mengirimkan kembali makhluk menyeramkan itu pada tuan nya, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah halaman pendopo kelurahan Wanua Ranja dimana Dyah Kirana sedang memuntir kepala makhluk hitam menyeramkan dengan memegang tanduknya.
Krrraaaakkkkkk !!
Putus sudah kepala makhluk hitam menyeramkan itu. Tubuhnya roboh ke tanah dan langsung hancur lebur menjadi abu hitam yang segera menghilang tertiup angin. Sembari merapal sebuah mantra, Dyah Kirana segera menghantam potongan kepala mahkluk hitam kearah datangnya dengan sekuat tenaga.
Dhhaaaassshhh !!!
Kepala makhluk hitam menyeramkan itu segera terlempar jauh ke arah datangnya yang membuat nya hilang di telan kegelapan malam. Panji Tejo Laksono tersenyum melihat kemampuan Dyah Kirana. Segera dia bergegas mendekati sang gadis cantik berbaju putih yang sedang merapikan pakaian nya setelah bertarung melawan setan kiriman Ki Kalawisesa.
"Kau baik-baik saja, Kirana?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Seperti yang kau lihat sendiri, Gusti Pangeran. Aku baik-baik saja..
Sebaiknya kita waspada terhadap adanya serangan susulan dari sang pengirim prewangan ini, Gusti Pangeran. Makhluk kiriman nya jauh lebih kuat dari yang pertama tadi. Jadi bisa dipastikan bahwa pelaku yang terlibat dalam permasalahan ini lebih dari satu orang", ucap Dyah Kirana segera.
"Aku mengerti, Kirana. Sebaiknya kita tidak bertindak sendiri dalam menghadapi ilmu hitam semacam ini.
Senopati Gardana, kemari kau!", Panji Tejo Laksono segera mengalihkan pandangannya pada Senopati Gardana yang berdiri di samping tiang pendopo kelurahan. Pria bertubuh gempal itu buru-buru mendekati junjungan nya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati.
Apakah ada tugas untuk hamba?", tanya Senopati Gardana seraya menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Kau bawa beberapa prajurit mu dan ajak salah satu sesepuh Wanua Ranja untuk menemani mu ke Pertapaan Ranja. Temui Maharesi Baratwaja dan mintalah kepada nya untuk datang ke tempat ini sekarang juga.
Berangkatlah sekarang juga", mendengar titah Sang Penguasa Kadipaten Seloageng, Senopati Gardana segera menghormat sebelum bergegas mempersiapkan diri untuk tugas yang diberikan oleh Panji Tejo Laksono. Di temani oleh 10 orang prajurit pilihan dan seorang sesepuh Wanua Ranja yang tahu jalan menuju ke arah pertapaan itu, Senopati Gardana segera menggebrak kuda tunggangan nya menuju ke arah timur.
Sementara itu, di kediaman Wigati, Ki Kalawisesa menggeram keras saat melihat dua kepala makhluk hitam kiriman nya terjatuh di hadapannya. Dia yang sangat yakin bahwa Panji Tejo Laksono akan terbunuh oleh para makhluk halus itu begitu murka. Segera dia menoleh ke arah Wigati yang ada di sampingnya.
"Wigati, temani aku ke rumah Lurah Wanua Ranja. Sepertinya aku harus membunuh Panji Tejo Laksono dengan tangan ku sendiri.
Ayo kita kesana sekarang!", ucap Ki Kalawisesa seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Mari aku antarkan Eyang Guru", sambut Wigati segera.
Keduanya segera bergegas keluar dari dalam rumah gubuk yang terletak di tepi hutan sebelah barat Wanua Ranja itu. Segera Ki Kalawisesa menjejak tanah di halaman rumah Wigati. Sebuah retakan tanah sebesar kerbau tempat berpijak Wigati dan Ki Kalawisesa tiba-tiba terangkat ke udara. Dengan mengendarai itu, mereka terbang menuju ke arah kediaman Mpu Anggada.
Kedatangan mereka berdua segera menjadi pusat perhatian para prajurit Seloageng. Semuanya segera menghunus senjata mereka masing-masing dan bersiap untuk merajam kedua orang yang mencurigakan itu.
Mulut Ki Kalawisesa segera terbuka lebar dan memuntahkan ratusan binatang berbisa seperti kalajengking, kelabang, laba-laba beracun, ular berbisa dan ratusan lebah yang segera menyerang ke arah para prajurit Seloageng yang menghadangnya. Jerit jerit keras para prajurit Seloageng yang mengepung Ki Kalawisesa langsung terdengar saat hewan hewan beracun itu menyerang mereka.
Dyah Kirana yang melihat kejadian itu, segera meraih sesuatu di balik bajunya lalu secepatnya melemparkan benda di tangannya itu kearah para prajurit Seloageng.
Whhuuuuuuuggggh..!!
Begitu benda berwujud seperti bubuk berwarna putih itu tersebar, tiba tiba saja ratusan hewan beracun yang di lepaskan oleh Ki Kalawisesa menghilang. Para prajurit Seloageng tertolong. Salah seorang diantara mereka langsung mengecap rasa bubuk berwarna putih itu sembari menoleh ke arah kawannya.
"Kog seperti garam?"
__ADS_1