Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Berangkat ke Tanah Tiongkok


__ADS_3

"Aku sebentar lagi akan berangkat ke Negeri Tiongkok. Selama aku pergi, bisakah kau menjaga keamanan Ayu Ratna calon istri ku, Bidadari Angin Selatan?


Mungkin permintaan ku ini akan membebani mu tapi aku sungguh mengkhawatirkan keselamatan nya", ucap Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah langit biru di Utara.


"Bukan aku menolaknya, Gusti Pangeran. Tapi aku ini orang bebas, tidak betah berlama-lama tinggal di suatu tempat.


Perjalanan mu ke Tanah Tiongkok pasti butuh waktu berbulan-bulan lamanya, ini sama saja dengan mengekang kebebasan ku untuk mengembara menegakkan keadilan di atas bumi", balas Bidadari Angin Selatan sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Kalau begitu aku tidak akan memaksamu. Tapi aku minta kau mau mengajari Ayu Galuh beberapa jurus silat. Setidaknya dia bisa membela diri saat terjadi sesuatu yang mengancam nyawa nya.


Apa kau bersedia?", Panji Tejo Laksono menatap Bidadari Angin Selatan dengan penuh harap.


"Kalau cuma itu aku tidak keberatan, Gusti Pangeran..


Setidaknya itu hanya butuh waktu sedikit saja. Gusti Putri Ayu Ratna pasti bisa dengan cepat belajar ilmu kanuragan", balas Bidadari Angin Selatan sembari membungkukkan badannya. Mendengar kesediaan Bidadari Angin Selatan, Panji Tejo Laksono menghela nafas lega. Sedikit beban hatinya terasa berkurang mendengar jawaban perempuan cantik bercadar putih itu.


Mulai hari itu, Bidadari Angin Selatan resmi menjadi guru bagi Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata itu patuh pada perintah Panji Tejo Laksono karena dia juga tidak ingin menjadi beban tersendiri bagi sang calon suami. Terlebih lagi, bisa ilmu silat juga berguna untuk menghadapi segala marabahaya yang mungkin saja terjadi.


Saat menjelang tengah hari, serombongan prajurit Panjalu memasuki Kota Kadipaten Kalingga. Tak kurang 500 orang prajurit yang menjaga beberapa pedati berisi hadiah untuk Kekaisaran Dinasti Song, berkuda memasuki kota. Mereka di pimpin oleh Tumenggung Sindupraja, Tumenggung Rajegwesi, dan Rakryan Purusoma.


Para penduduk Kota Kadipaten Kalingga memilih untuk menepi saat para prajurit Panjalu itu melintas di jalan raya yang menuju ke arah Istana Kadipaten Kalingga. Umbul umbul berwarna putih, merah, biru langit dan kuning menjadi pertanda bahwa mereka adalah para prajurit Istana Kotaraja Kadiri.


Adipati Aghnibrata yang tengah memimpin pisowanan rutin di pendopo agung Kadipaten Kalingga langsung berdiri dari singgasana nya begitu para prajurit penjaga gerbang istana melaporkan kedatangan para prajurit Panjalu.


"Reksonoto,


Kau beritahu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono mengenai kedatangan para prajurit Kotaraja. Sementara kau Ranggabuana dan kau Tumenggung Sumantri, temani aku menyambut kedatangan mereka. Cepatlah!", titah Adipati Aghnibrata segera.


Ketiga pejabat tinggi Istana Kadipaten Kalingga itu dengan cepat menghormat pada Adipati Aghnibrata dan melaksanakan tugas sesuai dengan petunjuk dari sang penguasa Kadipaten Kalingga.


Para prajurit penjaga gerbang istana Kalingga yang di tugaskan untuk menjemput mereka, kembali dengan menjadi cucuk lampah atau penunjuk jalan bagi Tumenggung Sindupraja, Tumenggung Rajegwesi dan Rakryan Purusoma.


"Selamat datang di Kadipaten Kalingga, Tumenggung Sindupraja.. Mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan di hati mu", ujar Adipati Aghnibrata segera.


"Terimakasih atas sambutan mu, Gusti Adipati.


Aku datang kemari dengan membawa titah raja Panjalu untuk mu. Terimalah!", Tumenggung Sindupati segera mengulurkan kantong kain berwarna merah yang merupakan pembungkus nawala dari Prabu Jayengrana pada Adipati Aghnibrata. Senopati Ranggabuana segera menerbitkan surat itu dan memberikannya kepada Adipati Aghnibrata.


Segera Adipati Aghnibrata membuka pembungkus nawala itu dan membacanya.


"Om swastyastu,


Segala puja bagi para dewa penjaga semesta alam,


Adipati Aghnibrata, Sang Penguasa Kadipaten Kalingga,


Aku Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta memerintahkan,


Agar kira nya kau menyediakan sebuah perahu besar lagi perkasa,


Sebagai alat untuk putra ku Pangeran Panji Tejo Laksono menjadi duta,


Ke Tanah Tiongkok di Bumi Utara,


Ini adalah untuk pengakuan negara manca,


Tentang berwibawa dan tegaknya Kerajaan Panjalu di Nusantara,


Mengenai pernikahan putra putri kita,


Di laksanakan setelah Panji Tejo Laksono kembali dari Daratan Tiongkok,


Om swastyastu..."


Kata demi kata yang tertulis di atas daun lontar membuat Adipati Aghnibrata tersenyum lebar. Surat ini adalah pengakuan dari Prabu Jayengrana mengenai hubungan antara Ayu Ratna dan Panji Tejo Laksono. Meskipun harus tertunda karena tugas ini, namun pernikahan antara Ayu Ratna dengan Panji Tejo Laksono sudah bisa di pastikan.


"Saya menerima perintah dari Gusti Prabu Jayengrana. Semua yang tertulis di dalam nawala ini akan saya laksanakan", ujar Adipati Aghnibrata segera.

__ADS_1


"Sudah menjadi kewajiban mu untuk selalu patuh pada perintah dari Gusti Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta, Adipati Aghnibrata.


Ini semua adalah barang bawaan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ke Tanah Tiongkok. Tolong kau urus agar semuanya terangkut di kapal", ujar Tumenggung Sindupraja sembari menunjuk ke arah puluhan peti kayu jati yang di bawa para prajurit Panjalu.


"Kau tenang saja, Tumenggung Sindupraja. Semuanya akan ku persiapkan sebaik mungkin.


Ranggabuana,


Antar para perwira tinggi prajurit Panjalu ke balai tamu kehormatan. Sumantri, untuk para prajurit Panjalu yang mengawal Tumenggung Sindupraja atur tempat istirahat mereka di kesatrian Kalingga. Laksanakan perintah ku!", titah Adipati Aghnibrata segera.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Senopati Ranggabuana dan Tumenggung Sumantri segera menyembah pada Adipati Aghnibrata sebelum melaksanakan tugas.


Mulai hari itu, Adipati Aghnibrata memerintahkan kepada para abdi nya untuk memeriksa sebuah kapal layar besar yang akan di gunakan oleh Panji Tejo Laksono untuk berangkat ke Tanah Tiongkok. Acarya Ring Kasaiwan Kadipaten Kalingga, Mpu Sukra menghitung hari baik untuk berangkat yang jatuh pada hari Radite Hariyang Manis, Wuku Manahil dengan candra sengkala Nala Guna Luhuring Budi atau 3301 atau di baca tahun 1033 Saka ( 1100 Masehi ), akan menjadi tanggal keberangkatan Panji Tejo Laksono berangkat ke Tanah Tiongkok. Ini sama dengan 3 hari lagi sebelum Panji Tejo berangkat.


Semua persiapan di atur dengan cepat dan tepat. Mulai bahan makanan hingga para prajurit pengawal sampai para pelaut handal yang akan menjadi awak kapal layar besar itu. Patih Reksonoto sendiri mengawasi semuanya dengan sebaik mungkin agar tidak menjadi masalah kelak di kemudian hari.


Panji Tejo Laksono juga melakukan semua perintah dari Prabu Jayengrana, termasuk membawa Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg sebagai teman perjalanan nya. Di tambah Rakryan Purusoma dan Tumenggung Rajegwesi turut serta dalam tugas Panji Tejo Laksono sebagai duta besar Panjalu ke Tanah Tiongkok.


Di serambi balai tamu kehormatan, pada malam sebelum keberangkatan, ketiga gadis cantik Panji Tejo Laksono berkumpul bersama. Di tempat itu, sang pangeran muda mengutarakan niatnya untuk hanya mengajak Luh Jingga saja yang memang bertugas untuk menyiapkan semua keperluan sang pangeran muda.


Ayu Ratna harus belajar ilmu kanuragan dari Bidadari Angin Selatan, sementara Gayatri akan pulang ke Kadiri bersama Tumenggung Sindupraja.


Mata Gayatri langsung berkaca-kaca mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Dia ingin sekali ikut Panji Tejo Laksono ke Tanah Tiongkok karena tidak ingin berpisah dengan sang pangeran muda.


"Gusti Pangeran, kenapa tega sekali meninggalkan Gayatri disini? Apa Gusti Pangeran tidak sayang dengan Gayatri?"


Air mata Gayatri terus menetes dari sudut mata indah nya. Gadis cantik putri Tumenggung Sindupraja itu benar-benar bersedih hati. Ada perasaan tidak rela dengan kepergian Panji Tejo Laksono.


"Bukan aku tidak sayang pada mu, Gayatri. Aku melakukannya karena aku terlalu sayang pada mu", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis. Putra sulung Prabu Jayengrana itu segera mengelus rambut Gayatri yang hitam legam. Gayatri menghentikan tangisannya dan langsung mendongak menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Gayatri tidak mengerti maksud Gusti Pangeran", ucap Gayatri sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya yang putih.


"Begini Gayatri, perjalanan ke Tanah Tiongkok itu bukan perjalanan yang mudah. Ada banyak bahaya dan rintangan yang setiap saat harus di hadapi.


Kau tahu, aku hanya bisa melindungi diri ku dan satu orang yang bersama ku saja jika ada bahaya.


Selama aku pergi, kau harus belajar ilmu kanuragan yang lebih tinggi lagi karena untuk menjadi istri ku, kau harus mampu melindungi diri mu sendiri tanpa harus bergantung pada ku.


Apa kau mengerti apa maksud dari keinginan ku, Gayatri?", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.


Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Gayatri langsung menubruk tubuh Panji Tejo Laksono.


"Aku berjanji Gusti Pangeran, aku akan belajar ilmu kanuragan tingkat tinggi agar pantas untuk menjadi istri seorang pangeran dari Kadiri. Gusti Pangeran harus berjanji untuk pulang dengan selamat ", ujar Gayatri sembari memeluk erat-erat tubuh sang putra tertua Prabu Jayengrana.


"Hei bukan kau saja yang mengharapkan Kangmas Tejo Laksono pulang dengan selamat. Aku juga menunggu kepulangan nya.


Dasar menyebalkan! Main peluk seenak jidat nya di depan ku", gerutu Ayu Ratna yang merasa kesal dengan ulah Gayatri.


Putri Tumenggung Sindupraja itu tidak mengindahkan perkataan Ayu Ratna tapi justru menjulurkan lidahnya ke arah putri Adipati Aghnibrata itu.


"Kauuu...."


Melihat sikap Gayatri yang mengejeknya, Ayu Ratna hampir saja melompat ke arah Gayatri andai Luh Jingga tidak mencegahnya.


"Sudahlah Gusti Putri, biarkan saja Gayatri seperti itu. Bersabarlah", ujar Luh Jingga menenangkan Ayu Ratna.


"Tapi dia..."


Belum selesai omongan Ayu Ratna, Luh Jingga meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.


"Ssstttt...


Gusti Putri bersabar saja. Toh nanti yang akan menjadi permaisuri Gusti Pangeran adalah Gusti Putri. Jadi sudah sepantasnya jika Gusti Putri bersikap layaknya seorang permaisuri calon raja", ujar Luh Jingga segera. Mendengar perkataan itu, Ayu Ratna langsung tersenyum lebar. Dia manggut-manggut senang mendengar Luh Jingga.


Malam semakin larut. Kicau burung malam terdengar dari gelapnya malam yang menutupi seluruh bumi.


Pagi menjelang tiba di wilayah Istana Kadipaten Kalingga. Pagi itu hiruk pikuk persiapan keberangkatan Panji Tejo Laksono terasa begitu berat. Puluhan prajurit lalu lalang mengangkut beberapa barang ke atas kapal layar besar di pelabuhan Halong.

__ADS_1


Saat matahari mulai sepenggal naik di langit timur, Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya mulai meninggalkan istana Kadipaten Kalingga menuju ke arah pelabuhan Halong. Seluruh punggawa istana beserta Adipati Aghnibrata dan Ayu Ratna turut mengantar kepergian sang pangeran muda. Juga Gayatri yang bersama dengan Tumenggung Sindupraja.


"Gusti Pangeran,


Hamba mohon jagalah dirimu selama perjalanan ini. Hamba doakan semoga perjalanan kalian selamat sampai tujuan dan pulang dengan selamat tanpa hambatan", ujar Adipati Aghnibrata sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Terimakasih atas doa mu, Gusti Adipati. Semoga Hyang Akarya Jagat selalu melindungi kita semua", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.


Ayu Ratna langsung memeluk tubuh Panji Tejo Laksono. Air mata putri Kadipaten Kalingga itu langsung tumpah dari sudut matanya yang indah.


"Kangmas Pangeran harus pulang dengan selamat. Aku menunggu kedatangan mu", ujar Ayu Ratna dengan berderai air mata. Panji Tejo Laksono langsung mengusap air mata itu dengan kedua tangannya.


"Aku berjanji Dinda", jawab Panji Tejo Laksono segera.


Satu persatu para awak kapal jung mulai menaiki kapal besar itu. Panji Tejo Laksono pun mulai menaiki tangga ke atas kapal jung diikuti oleh seluruh pengikutnya. Perlahan kapal besar itu bergerak meninggalkan Pelabuhan Halong dimana para pengantaran masih berdiri di dermaga pelabuhan.


Gayatri masih menatap ke arah kapal jung besar yang di tumpangi oleh Panji Tejo Laksono yang semakin lama semakin mengecil di cakrawala langit. Mata putri Tumenggung Sindupraja itu sembab karena terus berurai air mata sejak tadi.


"Sudahlah, putri ku..


Doakan saja semoga perjalanan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono selamat dan segera kembali ke Tanah Jawadwipa ini. Dia seorang ksatria sejati, yang tidak akan ingkar janji.


Ayo kita kembali ke istana Kadipaten Kalingga. Besok pagi kita pulang ke Kadiri", ucap Tumenggung Sindupraja sembari mengelus kepala Gayatri. Mereka perlahan meninggalkan dermaga pelabuhan Halong saat kapal layar besar yang di tumpangi oleh Panji Tejo Laksono menghilang dari pandangan.


Dengan 100 awak kapal dan 50 orang pengawal pribadi Panji Tejo Laksono termasuk Luh Jingga, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Demung Gumbreg, kapal besar itu bergerak cepat menuju ke arah barat laut.


Rakryan Purusoma yang menjadi nahkoda kapal itu, memamerkan kebolehan nya mengatur kapal besar itu melaju dengan kecepatan tinggi. Sebuah bendera berwarna merah dengan sulaman benang emas bergambar Candrakapala yang di pasang pada ujung tiang kapal, berkibar megah tertiup angin.


Cuaca yang cerah di padu dengan angin laut yang berhembus membuat perjalanan mereka terasa lebih cepat.


Menjelang malam hari, kapal jung besar itu terus bergerak menuju arah yang di tentukan. Pengetahuan kelautan Rakryan Purusoma benar benar handal. Dengan melihat ke arah bintang yang bersinar di langit, dia menentukan arah kapal jung besar yang di nahkodai nya.


Setelah tujuh hari berlayar melintasi lautan yang nyaris tanpa masalah berarti, kapal jung besar itu sampai di pulau Tumasik yang ada di ujung selatan semenanjung Malaya. Meski sempat beberapa kali bertemu dengan para pelaut dari Sriwijaya dan Kerajaan lain, namun mereka tetap bisa saling menghargai.


Di pelabuhan besar Pulau Tumasik, kapal jung besar itu segera merapat untuk mengisi simpanan air bersih mereka.


"Gusti Pangeran,


Jika ingin turun sekedar jalan-jalan hamba mohon untuk berhati hati. Banyak penjahat yang terlihat seperti orang baik di tempat ini", ucap Rakryan Purusoma memperingatkan Panji Tejo Laksono.


"Terimakasih atas peringatan nya Paman..


Aku hanya ingin melepaskan ketegangan otot mata setelah sepekan lebih hanya melihat air laut.


Luh Jingga,


Kau mau ikut jalan jalan sebentar dengan ku?", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Luh Jingga yang berdiri di belakangnya.


"Tentu saja Gusti Pangeran, hamba bosan di kapal terus", jawab Luh Jingga sembari mengangguk cepat.


"Gusti Pangeran,


Saya ikut ya? Saya juga bosan di dalam kapal ini", ujar Demung Gumbreg segera.


Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang. Niatnya hanya jalan jalan sebentar tapi para pengikutnya malah justru ingin ikut. Walhasil Panji Tejo Laksono jalan jalan di ikuti oleh sepuluh orang pengawal pribadi nya.


Sambil menunggu para awak kapal mengisi persediaan air minum untuk mereka, Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya berjalan di sekitar pelabuhan Tumasik.


Seorang lelaki bertubuh kekar dengan ikat kepala dari kain sutra hijau yang berhias sulaman benang emas, berpakaian bagus dengan kain bahan mahal khas Tanah Malaya nampak tertarik menatap kecantikan Luh Jingga yang terlihat begitu gembira bisa berduaan dengan Panji Tejo Laksono.


Diikuti oleh 10 orang pengawal nya, pria yang sepertinya adalah orang kaya atau bangsawan Tanah Malaya itu segera berjalan mendekati rombongan Panji Tejo Laksono.


"Permisi Tuan,


Nampaknya tuan ini bukan bumiputera Pulau Tumasik kah? Kalau boleh tau, tuan ini darimana?", tanya si lelaki bertubuh kekar itu segera. Panji Tejo Laksono segera menjawab pertanyaan itu dengan sopan.


"Benar, kami datang dari laut selatan di sebuah pulau yang bernama Jawadwipa.

__ADS_1


Ada perlu apa tuan dengan kami?"


__ADS_2