Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Lelaki Tua Berjari Buntung


__ADS_3

"Kau ini benar-benar bebal, Mbreg..


Gusti Pangeran, mohon maaf hamba terpaksa undur diri sebentar. Akan hamba urus si Gumbreg", Tumenggung Ludaka langsung menghormat pada Panji Tejo Laksono lalu bergegas keluar dari pendopo kediaman Lurah Wanua Weleri sembari menggelandang tangan Demung Gumbreg.


Panji Tejo Laksono hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah perwira bertubuh tambun itu.


Sesampainya di luar pendopo, Tumenggung Ludaka segera melepaskan lengan Demung Gumbreg dengan kasar.


"Kau ini bisa tidak untuk tidak mencari masalah dengan Gusti Pangeran, Mbreg?


Sudah kau bongkar penyamaran nya eh masih juga kau hancurkan cemilan nya. Benar benar keterlaluan", omelan Tumenggung Ludaka langsung meluncur pedas ke telinga Gumbreg.


"Lha aku kan tidak sengaja Lu...


Lagipula ini semua gara-gara Siwikarna dan Jaluwesi yang terus membicarakan tentang hukuman pancung kepala karena membocorkan rahasia penyamaran kita. Terang saja aku takut", ujar Gumbreg membela diri.


"Dasar penakut!


Di kasih tahu sama bawahan saja sudah ciut nyali mu. Kau ini perwira atau bukan sih? Kalau lain kali kau sampai berbuat ulah lagi, jangan harap aku akan membela mu. Biar Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang akan memenggal kepala mu sendiri", sambil mendengus keras, Tumenggung Ludaka kembali ke arah pendopo kediaman Lurah Wanua Weleri.


"Yah gitu saja marah..


Lu aku ini masih teman mu Lu. Jangan begitu Lu...", meski Demung Gumbreg terus merengek meminta Tumenggung Ludaka untuk berhenti, perwira tinggi prajurit Panjalu itu terus saja berjalan ke arah tempat dimana Panji Tejo Laksono, Nalayana dan Lurah Mpu Dirgo berbincang.


Setelah mengetahui jati diri sang tamu, sikap Mpu Dirgo langsung berubah. Dia segera memerintahkan kepada para abdi nya untuk menyiapkan kamar tidur yang cukup nyaman untuk Panji Tejo Laksono.


Pun dia memerintahkan kepada para pelayan di dapur rumah nya untuk menyiapkan makanan istimewa untuk sarapan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya esok pagi hingga nyaris sepanjang malam, suasana dapur kediaman Lurah Wanua Weleri itu sibuk dengan acara masak.


Setelah cukup lama berbincang, Panji Tejo Laksono pun undur diri untuk beristirahat. Dengan penuh sopan, Mpu Dirgo segera mengantar Panji Tejo Laksono menuju ke arah tempat tidurnya.


Malam semakin larut. Setelah cukup lama udara terasa gerah, selepas tengah malam hujan deras mengguyur wilayah Wanua Weleri dengan lebatnya.


Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka yang mendapat tempat tidur di dekat kamar tidur Panji Tejo Laksono terpaksa menggeser posisi tidur nya karena atap rumah Ki Lurah Wanua Weleri bocor. Hujan terus mengguyur hingga pagi menjelang tiba.


Pagi itu di tandai dengan kokok ayam jantan yang berbunyi dari kandang ayam di belakang rumah Ki Lurah Mpu Dirgo. Cuaca dingin begitu terasa karena hujan deras masih mengguyur kawasan timur Kadipaten Kalingga itu. Air mulai menggenang di beberapa cekungan tanah. Bahkan sungai kecil yang ada di belakang kediaman sang lurah pun meluap tak seperti biasanya.


Panji Tejo Laksono terbangun dari tidurnya saat hidung nya membaui aroma wedang jahe. Mata sang pangeran muda langsung tertuju pada sosok perempuan cantik berbaju kuning kemerahan yang meletakkan nampan berisi wedang jahe dan segendok air cuci muka hangat yang di beri daun sirih.


"Luh Jingga,


Kau sudah bangun?", Panji Tejo Laksono menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan beranjak turun dari atas pembaringan.


"Sudah Gusti Pangeran..


Saya sengaja menyiapkan ini untuk Gusti Pangeran karena saya adalah pelayan Gusti Pangeran", jawab Luh Jingga sambil tersenyum simpul.


"Kau ini kenapa bicara seperti itu? Kau calon istri ku, bukan pelayan ku", ujar Panji Tejo Laksono sembari melangkah menuju ke meja kecil di samping pembaringannya.


"Sama saja, tugas seorang istri adalah melayani suaminya. Jadi mulai sekarang aku akan terus melayani semua kebutuhan Gusti Pangeran. Mohon Gusti Pangeran tidak menolak nya", Luh Jingga memeluk nampan yang di pegang nya. Gadis cantik itu sudah berdandan cantik sedari tadi pagi.


"Kalau cuma itu alasan mu, aku tidak ijinkan kau melayani ku. Coba katakan alasan mu yang sebenarnya, kalau tidak jangan harap kau bisa melayani ku setiap saat", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.


"A-aku ingin agar selalu bisa dekat dengan Gusti Pangeran. Karena a-aku cinta dengan Gusti Pangeran", memerah wajah Luh Jingga hingga seperti kepiting rebus saat mengucapkan kata kata itu.


Panji Tejo Laksono segera mendekati si putri Mpu Damarmoyo dari Bukit Penampihan sambil tersenyum simpul.


"Nah kalau begitu kan enak", ucap Panji Tejo Laksono sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Luh Jingga. Gadis cantik yang sedang tertunduk itu segera menyambut uluran tangan sang pujaan hatinya dengan senyum manis merekah di bibirnya. Perlahan Panji Tejo Laksono menarik tangan Luh Jingga dengan penuh kelembutan. Gadis cantik itu merapat ke arah tubuh Panji Tejo Laksono.


Saat tubuh mereka berdekatan, jantung Luh Jingga berdebar kencang. Apalagi saat Panji Tejo Laksono dengan lembut menyentuh dagunya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Luh Jingga. Suasana pagi hari yang dingin itu menjadi begitu panas dalam bilik kamar tidur sang pangeran muda.


Saat bibir mereka berdua hampir bersentuhan, tiba tiba..

__ADS_1


Ehemmmm ! Ehemmm !


Deheman keras dari mulut bibir Gayatri langsung membuyarkan suasana romantis yang sedang terjadi. Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga sama sama kaget dan langsung mengambil jarak antara mereka.


"Pagi pagi sudah mau berbuat mesum..


Dasar tidak tahu tempat", gerutu Gayatri sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga.


"Kau ini bisa tidak kalau masuk kamar tidur ku ketuk pintu dulu, Gayatri? Benar benar menjengkelkan", Panji Tejo Laksono menyemprot Gayatri untuk menutupi rasa jengah.


"Gusti Pangeran harusnya bisa mengendalikan diri. Ini di tempat orang jangan berbuat seenaknya.


Apa Gusti Pangeran tidak memikirkan perasaan ku?", kesal Gayatri dengan sikap Panji Tejo Laksono.


Ucapan Gayatri sontak menyadarkan Panji Tejo Laksono. Segera dia menggaruk kepalanya sebelum berbicara perlahan.


"Maafkan aku Gayatri.. Cuaca dingin ini benar-benar membuat ku kedinginan hingga otak ku tak bisa berfikir jernih. Sudah jangan marah lagi..


Kau sudah mengemas pakaian mu untuk persiapan berangkat ke Kalingga belum?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pembicaraan.


"Sudah Gusti Pangeran, tinggal menunggu perintah dari Gusti Pangeran saja", jawab Gayatri.


"Rajin sekali. Sekalian punya ku bantu bereskan ya? Aku mau kalian berdua yang melakukannya. Kalau selesai aku kasih hadiah ciuman untuk kalian berdua.


Sekarang aku mau mandi dulu", setelah berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono segera melangkah menuju keluar dari kamar tidur nya.


Wajah Gayatri langsung sumringah mendengar bujukan Panji Tejo Laksono. Putri Tumenggung Sindupraja itu dengan cepat membereskan barang-barang bawaan Panji Tejo Laksono di bantu oleh Luh Jingga.


Dalam hatinya Luh Jingga tersenyum penuh arti melihat kegirangan di wajah Gayatri.


'Gusti Pangeran memang pintar menaklukkan hati wanita'.


****


Lelaki tua itu perlahan membuka mata nya usai seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal yang tak lain adalah Mpu Dirno selesai berbicara.


"Jadi orang yang membela saudara kembar mu itu adalah seorang lelaki muda yang menguasai Ajian Tameng Waja?", tanya lelaki sepuh itu sembari menatap ke arah Mpu Dirno yang duduk bersila di hadapan nya.


"Benar Guru..


Seingat saya guru pernah bercerita tentang lawan tangguh yang memiliki ilmu kanuragan pertahanan sempurna itu sebelum nya. Menilik dari usianya dia pasti murid dari lawan yang guru ceritakan", Mpu Dirno segera menghormat pada lelaki sepuh bertubuh kurus itu.


Hemmmmmmm..


"Itu sudah pasti..


Seandainya dia adalah murid si keparat Narashima, ini akan menjadi pengobat sakit hati ku atas kekalahan ku tempo dulu. Salah dia sendiri kenapa menjadi murid si keparat itu.


Dirno,


Kita tidak boleh membuang kesempatan ini begitu saja. Dendam ini harus ku balaskan. Jika tidak aku tidak akan bisa mati dengan tenang", ujar lelaki tua berbaju biru muda lusuh itu segera.


Dia segera berdiri dari tempat duduknya lalu menyambar sebilah keris pusaka yang di letakkan pada dinding goa yang menjadi tempat tinggal nya itu. Setelah itu lelaki tua berbaju biru muda lusuh itu segera melangkah keluar dari dalam goa diikuti oleh Mpu Dirno.


Cuaca masih belum begitu bersahabat dengan manusia. Gerimis yang cukup lebat masih mengguyur kawasan timur Kadipaten Kalingga. Sang Surya pun tak juga memunculkan wajah nya untuk menghangatkan seisi bumi hingga udara terasa dingin menusuk tulang.


Di tengah guyuran gerimis yang turun dari langit, dua bayangan bergerak lincah seperti terbang di atas pepohonan yang tumbuh subur di lereng perbukitan Jonggring. Meski cuaca tak bersahabat, dua orang yang di bakar api dendam itu sama sekali tidak peduli. Mereka berdua melesat cepat kearah Wanua Weleri.


Lelaki sepuh yang mereka guru Mpu Dirno itu adalah Mpu Walandit.


3 dasawarsa lebih yang lalu, saat Mpu Narashima hendak pulang ke Padepokan Padas Putih di lereng Gunung Penanggungan bersama Nini Ratri, Mpu Walandit pernah bertarung dengan Mpu Narashima. Kala itu, mereka bertaruh nyawa untuk memperebutkan Nini Ratri yang hendak di ambil oleh Mpu Walandit karena ingin Nini Ratri yang sekarang menjadi istri Mapatih Warigalit, untuk dia peristri.

__ADS_1


Terang saja Mpu Narashima tidak memberikan cucu nya untuk di berikan pada lelaki tua yang lebih pantas sebagai ayah. Walhasil mereka mengadu ilmu kesaktian di Candi Prambanan.


Meski sama sama memiliki kesaktian linuwih, namun pada akhirnya Mpu Walandit harus mengakui keunggulan seorang Mpu Narashima yang tidak mampu dia tembus pertahanan nya karena memiliki Ajian Tameng Waja. Bahkan Mpu Walandit harus kehilangan tiga jari tangan nya yang hancur setelah terpotong oleh sinar biru terang Ajian Guntur Saketi.


Mpu Walandit yang luka parah memilih kabur dan bertapa di Gunung Sumbing untuk memulihkan tubuhnya. Setelah hampir sepuluh tahun menempa diri dalam pengasingan, Mpu Walandit keluar dari tempat pertapaan nya dan bermaksud untuk membalas dendam. Dia melanglang buana ke Jenggala untuk menantang adu ilmu kesaktian sang lawan abadi nya. Namun Mpu Narashima yang sudah pulang ke Kadiri telah meninggal dunia hingga rasa dendam nya tak pernah sekalipun terselesaikan.


Begitu mendengar tentang orang yang menguasai Ajian Tameng Waja, semangat untuk menjajal kemampuan beladiri nya kembali muncul di jiwa Mpu Walandit. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Dua sosok lelaki berumur itu terus melesat cepat kearah Wanua Weleri seolah tak peduli dengan gerimis yang mulai membuat pakaian mereka basah kuyup.


Di pendopo kediaman Lurah Wanua Weleri, puluhan orang berkumpul bersama menikmati makanan yang di sajikan oleh Ki Lurah Mpu Dirgo. Seperti halnya menyambut kedatangan tamu agung, pelbagai jenis hidangan di sajikan. Karena cuaca yang terus menerus hujan, Mpu Dirgo memerintahkan kepada para pelayan nya untuk memasak makanan simpanan mereka. Selain nasi putih dan nasi jagung, pelbagai lauk pauk seperti dendeng ikan kakap, dendeng ikan gabus, telur ayam, itik panggang, ayam bakar dan urap-urap turut di sajikan. Sayur nangka muda, trancam, bothok ikan mas juga sayur daun ketela pohon pun tersaji di sana. Pun aneka macam minuman seperti nira aren, wedang jahe bahkan twak, siddhu dan cinca pun turut menemani makan besar mereka pagi hari itu.


Para pelayan di bantu anak anak Mpu Dirgo dan jagabhaya wanua itu bahu membahu menyajikan makanan kepada tamu agung mereka.


Demung Gumbreg terlihat di sudut pendopo sambil menggasak separuh itik panggang dengan tumpukan urap-urap dan trancam.


"Masakan nya enak sekali ya Lu..


Ini sih tidak kalah dengan masakan Nyi Ranti di warung makan pojokan pasar besar Kotaraja Kadiri", ujar Demung Gumbreg sambil menggigit daging itik panggang di tangan nya.


Tumenggung Ludaka yang terlihat asyik mengunyah sayur nangka muda yang di tumpangi lauk dendeng ikan kakap pun langsung menjawab omongan sahabat karibnya.


"Kau benar Mbreg..


Rasa dendeng ikan kakap ini pun sangat enak seperti oleh oleh yang di bawa dari Hujung Galuh tempo hari", Tumenggung Ludaka terus asyik menikmati makanan nya.


Tak jauh dari tempat Tumenggung Ludaka makan, Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Luh Jingga pun juga menikmati dendeng ikan gabus,ayam bakar dan bothok ikan mas.


Semuanya tenggelam dalam kenikmatan makanan yang di suguhkan oleh Mpu Dirgo sang Lurah Wanua Weleri.


Namun saat makan pagi yang nikmat itu terusik dengan suara berat dari tengah halaman rumah Ki Lurah Mpu Dirgo.


"Aku mencari orang yang memiliki Ajian Tameng Waja. Keluarlah sekarang!"


Suara yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi i langsung membuat telinga berdenging sakit. Mata semua orang langsung tertuju pada dua sosok lelaki sepuh yang berdiri di tengah curahan gerimis pada halaman rumah.


Ki Lurah Mpu Dirgo langsung bergegas menuju ke depan.


"Kakang Dirno,


Mau apa lagi kau kemari? Apa belum cukup pelajaran yang kau terima?", Ki Lurah Mpu Dirgo menatap tajam ke arah Mpu Dirno yang berdiri di samping Mpu Walandit gurunya.


"Jadi dia saudara kembar mu, Dirno?


Hemmmmmmm..


Mulutnya pongah sekali. Pantas mendapat pelajaran", ujar Mpu Walandit sambil mengibaskan tangannya ke arah Mpu Dirgo.


Whhhhuuuuggghhh !


Serangkum angin dingin berdesir kencang kearah Mpu Dirgo. Lurah Wanua Weleri ini sama sekali tidak menduga akan mendapat serangan dadakan hanya bisa mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan serangan.


Dhhaaaassshhh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Mpu Dirgo langsung terpelanting ke belakang dan menghantam lantai pendopo kediaman nya. Sontak saja hal itu membuat semua orang berdiri dari tempat duduknya.


"Kalian kroco kroco jangan macam-macam jika tidak ingin mati cepat!


Mana orang yang punya Ajian Tameng Waja? Suruh dia keluar!", teriak Mpu Walandit dengan penuh ancaman. Dari belakang Panji Tejo Laksono berjalan menuju ke arah halaman.

__ADS_1


"Kau mencari ku, kakek tua?"


__ADS_2