Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pengorbanan Nyi Kenikir


__ADS_3

"Kekuasaan Rajapura terpusat pada tiga orang pembesar istana. Adipati Waramukti, Patih Krendawahana dan Senopati Gopala adalah tiga orang itu.


Adipati Waramukti mengendalikan seluruh istana Kadipaten beserta para pembesar istana Rajapura. Patih Krendawahana mengatur jalannya pemerintahan serta para akuwu dan Kraman atau Lurah wanua di seluruh Rajapura sedangkan Senopati Sagopa merupakan pimpinan tertinggi dalam keprajuritan Rajapura.


Diantara mereka bertiga, Patih Krendawahana memiliki kemampuan beladiri yang tertinggi meski dia patuh pada Adipati Waramukti.


Seluruh prajurit yang berada di dalam Kota Kadipaten Rajapura aku tidak tahu pasti tapi setidaknya ada sekitar 10 sampai 15 ribu orang prajurit yang berada di tempat ini. Selain itu, sejak adanya pergerakan mereka melawan pemerintah pusat di Kadiri, ada ratusan orang bahkan bisa sekitar 1000 orang pendekar dari berbagai aliran dan tempat, mendiami beberapa tempat penting seperti dekat alun-alun, dekat pintu gerbang istana dan beberapa tersebar di dekat pintu masuk Kota Kadipaten Rajapura.


Yang paling berbahaya dari mereka adalah Ki Junggul Mertalaya dari Padepokan Lembah Iblis dan Nyi Simbar Kencana pimpinan Padepokan Tawang Kencana. Satu lagi, Bogang Sarira si pendekar cebol pimpinan Perguruan Gunung Biru juga ada di tempat ini, Kisanak. Kalian harus berhati-hati jika berhadapan dengan mereka", Nyi Kenikir alias Nyi Nila Saroya menghela nafas panjang setelah selesai menceritakan tentang situasi di dalam Kota Rajapura.


Hemmmmmmm


Terdengar hembusan nafas dingin dari mulut Siwikarna. Ini membuat Jaluwesi menoleh ke arah kawan karibnya itu.


"Kau kenapa Wi?? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikiran mu?", tanya Jaluwesi segera.


"Tempo hari, aku melihat banyak orang berpakaian hitam dengan ikat kepala merah berhias ukiran tengkorak manusia mondar mandir di luar kota Rajapura ini. Baru tadi pagi aku bertanya pada Gusti Tumenggung Landung tentang ciri ciri mereka yang ternyata adalah anggota dari Padepokan Lembah Iblis. Tak di sangka rupanya mereka adalah bagian dari upaya pemberontakan Adipati Waramukti. Tahu begitu, pasti akan ku laporkan pada Gusti Tumenggung Landung agar mencegat mereka di luar kota agar tidak merepresentasikan di kemudian hari", jawab Siwikarna sembari mengusap dagunya.


"Aku juga sempat melihat barisan orang orang Perguruan Gunung Biru itu dua hari yang lalu. Awalnya aku heran kenapa mereka masuk ke dalam Kota Rajapura, eh ternyata orang orang itu adalah barisan pendukung pemberontak", ujar Jaluwesi perlahan.


"Karena itu, kalian mesti berhati-hati dalam bergerak di tempat ini, Kisanak..


Orang orang golongan hitam itu sangat kejam. Tadi siang, karena salah satu pedagang cenil menyenggol mereka di pasar ini, mereka menghajar perempuan tua itu sampai babak belur. Para prajurit pun seolah menutup mata untuk semua tindakan mereka. Ini semakin membuat banyak orang tidak betah lagi tinggal di Kota Rajapura ini", sahut Nyi Kenikir alias Nyi Nila Saroya.


"Itulah sebabnya mengapa aku tidak suka dengan sikap para pendekar golongan hitam yang seenaknya sendiri..


Oh iya Nyi, kalau menurut Nyi Kenikir sendiri, sisi terlemah Kota Rajapura ini ada dimana? Aku melihat seluruh kota di pagari tembok yang mengelilingi. Nyaris seperti benteng pertahanan", Siwikarna menatap wajah tua Nyi Kenikir yang nampak berkerut karena sedang berpikir keras begitu mendengar pertanyaan Siwikarna.


"Seluruh kota ini memang di tata sedemikian rupa oleh Adipati Warasambu dulu, untuk berjaga-jaga jika terjadi serangan dari luar. Aku pernah mengelilingi seluruh kota ini.


Satu-satunya bagian kota yang tidak bertembok tinggi hanyalah sungai yang menuju ke laut. Tapi sungai kecil itu dalam dan berbahaya karena ada buaya disana", jawab Nyi Kenikir sembari menggaruk dagunya.

__ADS_1


Saat mereka masih asyik berbincang tiba-tiba saja terdengar suara keras dari luar rumah.


"Perempuan tua!


Lekas keluar dari dalam rumah reyot mu dan bawa tamu asing itu kemari!"


Kaget Nyi Kenikir, Siwikarna dan Jaluwesi mendengar suara berat itu. Buru-buru Nyi Kenikir mengintip ke arah luar rumah nya. Dari keremangan cahaya lampu minyak jarak yang terpasang pada teras rumah, terlihat puluhan orang prajurit Rajapura dan dua orang berbadan gempal dengan ikat kepala merah berhias ukiran tengkorak manusia berdiri di halaman rumah Nyi Kenikir.


Melihat itu, Nyi Kenikir langsung sadar bahwa kedatangan Siwikarna dan Jaluwesi sudah di ketahui oleh orang orang Rajapura.


Memang benar demikian, saat Jaluwesi dan Siwikarna masuk ke dalam rumah, dua orang prajurit yang sedang berteduh di tepi pasar, melihat Nyi Kenikir membawa masuk dua orang kedalam rumah nya. Merasa curiga, dua orang prajurit itu segera bergegas melaporkan kejadian itu kepada pimpinan mereka. Di bantu oleh dua orang murid Padepokan Lembah Iblis, para prajurit Rajapura menyerbu kediaman Nyi Kenikir.


"Celaka, rupanya kedatangan kalian berdua sudah di ketahui oleh para prajurit Rajapura", bisik Nyi Kenikir dengan paniknya.


"Kira-kira berapa banyak jumlah prajurit yang kemari Nyi?", tanya Jaluwesi segera.


"Aku tidak begitu jelas melihat mereka tapi setidaknya ada sekitar 10 orang prajurit. Tambahan lagi, ada dua orang anggota Padepokan Lembah Iblis bersama mereka. Kedua orang itu adalah orang yang menghajar pedagang cenil di pasar tadi siang", jawab Nyi Kenikir sembari berupaya menenangkan pikiran nya yang semrawut setelah tahu dirinya tengah menjadi incaran para prajurit Rajapura.


"Kau jangan bodoh Kisanak. Kalau kau sampai kalah dari mereka dan junjungan kita tidak mendapat berita terkait kekuatan Kadipaten Rajapura, bukan hanya kepentingan pribadi tapi juga kedamaian Kerajaan Panjalu jadi taruhan", ujar perempuan paruh baya itu segera. Mendengar jawaban itu, Siwikarna dan Jaluwesi pun membenarkan omongan Nyi Kenikir dalam hati.


"Lantas bagaimana sekarang Nyi? Kita juga tidak mungkin menyerah tanpa perlawanan bukan?", Siwikarna menatap wajah Nyi Kenikir seakan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kini sedang berputar di dalam otaknya.


"Aku akan mengulur waktu dengan bertarung bersama mereka. Kalian berdua cepat kabur dari pintu belakang. Sampaikan salam hormat ku kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Bilang padanya, aku berterimakasih atas kemauannya mengingat bahwa ada seorang mata-mata lama Gusti Pangeran Yuwaraja Jayengrana masih berguna bagi Kerajaan Panjalu", ujar Nyi Kenikir sembari mencabut sebilah pedang pendek yang tersembunyi di balik baju.


"Tapi Nyi..", belum sempat Siwikarna menyelesaikan omongannya, Nyi Kenikir sudah memotong perkataan pria bertubuh gempal itu.


"Untuk kerajaan Panjalu dan Gusti Pangeran Yuwaraja Jayengrana apapun akan ku korbankan", Nyi Kenikir tersenyum simpul sesaat sebelum membuka pintu rumah kecil reyot milik nya. Perempuan paruh baya itu segera melesat cepat kearah para prajurit Rajapura yang kini berada di halaman. Suara dentingan senjata beradu segera terdengar dari halaman rumah Nyi Kenikir.


Sementara itu, Siwikarna dan Jaluwesi langsung bergegas pergi meninggalkan rumah reyot milik Nyi Kenikir dari arah pintu belakang. Sayup-sayup suara teriakan keras dari Nyi Kenikir alias Nyi Nila menjemput ajal terdengar di telinga Jaluwesi dan Siwikarna yang menjadi pertanda bahwa perempuan paruh baya itu mengorbankan dirinya demi pelarian mereka. Pengorbanan Nyi Kenikir untuk menyelamatkan hal penting bagi pasukan Panjalu ini, benar-benar membakar semangat Jaluwesi dan Siwikarna untuk terus mengabdi pada Kerajaan Panjalu.


Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan kemampuan mereka menggunakan ilmu mata-mata, Jaluwesi dan Siwikarna berhasil keluar dari dalam Kota Rajapura. Hujan deras yang kini tinggal menyisakan gerimis yang tidak juga berhenti, menjadi saksi bisu perjuangan Siwikarna dan Jaluwesi. Begitu lewat tengah malam, Siwikarna dan Jaluwesi sampai di tempat pasukan Panji Tejo Laksono bermalam.

__ADS_1


Begitu sampai mereka langsung menuju ke arah sebuah pondok kayu yang letaknya bersebelahan dengan pondok kayu yang digunakan sebagai tempat istirahat bagi Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri, Wanyan Lan, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari, Ayu Ratna, Gayatri dan Luh Jingga. Pondok kayu yang sedikit lebih kecil dari tempat bermalam Panji Tejo Laksono itu menjadi tempat peristirahatan sementara bagi Tumenggung Landung, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Rakryan Purusoma, dan Tumenggung Rajegwesi. Kebetulan saja, keempat orang perwira tinggi Kerajaan Panjalu itu masih terjaga sembari berdiang menghangatkan badan kecuali Demung Gumbreg yang sudah tertidur pulas.


"Ampun Gusti Tumenggung..


Hamba kembali membawa berita terkait dengan kekuatan Rajapura sesuai dengan yang Gusti Tumenggung Landung perintahkan", ujar Siwikarna yang segera menghormat pada Tumenggung Landung diikuti oleh Jaluwesi.


"Lekas katakan apa saja yang kalian dapatkan dari Nyi Nila Saroya", Tumenggung Landung segera mengangkat tangan kanannya , mempersilahkan Jaluwesi dan Siwikarna untuk bercerita.


Dengan cermat dan teliti, Siwikarna dan Jaluwesi menceritakan semua hal yang mereka lakukan dan temui di dalam Kota Kadipaten Rajapura. Juga mengenai cerita Nyi Kenikir alias Nyi Nila Saroya tentang Kota Kadipaten Rajapura termasuk sisi terlemah nya. Tak lupa pula mereka menceritakan tentang situasi yang mereka sempat hadapi saat hendak pulang. Termasuk juga tentang pengorbanan Nyi Kenikir alias Nyi Nila Saroya dalam upaya mereka meloloskan diri dari kepungan para prajurit Rajapura.


Hemmmmmmm..


"Sungguh mulia tindakan yang dilakukan oleh Nyi Nila Saroya. Aku sendiri tidak menduga bahwa perempuan itu masih memiliki kesetiaan yang tinggi pada Kerajaan Panjalu, Kakang Ludaka", ujar Tumenggung Landung seraya menoleh ke arah Tumenggung Ludaka yang duduk di sebelah kanan nya.


"Gusti Prabu Jayengrana sendiri yang menugaskan Nyi Nila Saroya untuk menjadi mata-mata di Rajapura, Ndung..


Tentu saja pengorbanannya ini harus kita bayar dengan menahklukan Rajapura agar kematian nya tidak sia-sia", jawab Tumenggung Ludaka sambil mengepalkan tangannya erat-erat.


"Kau benar, Kakang Ludaka..


Begitu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sudah mengatur rencana sesuai dengan petunjuk dari Nyi Nila Saroya, aku sendiri yang akan menjadi ujung tombak pergerakan pasukan kita untuk menahklukan Rajapura", ujar Tumenggung Landung yang gemas mendengar cerita Siwikarna dan Jaluwesi, tanpa sengaja, kakinya menendang pada kayu kaki dipan tempat tidur Demung Gumbreg yang tertidur pulas.


Krrraaaakkkkkk..


Guubbbrrrraaaaakkkkkhhh...!!


Dipan kayu langsung ambruk bersama dengan Demung Gumbreg yang masih nyenyak. Perwira bertubuh tambun itu langsung bangkit dari bekas dipan kayu yang roboh sembari mengelus pinggangnya yang sakit menghantam kayu.


"Aduh kampret setan alas...


Siapa yang berani merusak mimpi ku?!!"

__ADS_1


__ADS_2