
"Anggasuta...
Bagaimana dengan persiapan yang sudah kita lakukan?", tanya Tumenggung Gurunwangi melihat Demung Anggasuta yang sedang asyik melihat para prajurit menata beberapa gentong berisi minyak jarak di beberapa sudut benteng pertahanan Karangwuluh.
"Kurang sedikit lagi, Gusti Tumenggung..
Karena perubahan rencana yang Gusti Tumenggung Gurunwangi haturkan kepada Gusti Adipati Waramukti, mau tidak mau kita juga harus merubah pergerakan prajurit kita yang semula di pusatkan pada Benteng Pertahanan Karangwuluh ini", balas Demung Anggasuta sembari menatap ke arah beberapa orang prajurit yang nampak menggotong gentong besar ke salah satu sudut benteng.
Benteng pertahanan Karangwuluh merupakan benteng pertahanan cepat yang terbuat dari kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa dengan luas hampir 500 depa persegi. Benteng ini menutup jarak antara 2 bukit kecil yang menjadi sumber mata air yang menjadi penyangga kehidupan bagi penduduk di sekitar benteng.
Selama hampir 1 purnama ini, Karangwuluh di sulap menjadi pertahanan bagi Kadipaten Rajapura karena terletak di jalur menuju ke arah Kota Kadipaten Rajapura. Para punggawa istana Rajapura sudah mempersiapkan tempat ini untuk menahan pasukan Pemerintah Panjalu. Ratusan kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa di kumpulkan dari hutan di sekitar Karangwuluh. Atas perintah dari Adipati Waramukti melalui Tumenggung Gurunwangi, para prajurit bahu membahu membangun tempat ini menjadi benteng pertahanan yang kuat.
Namun perubahan rencana di lakukan Tumenggung Gurunwangi setelah munculnya dua orang utusan dari Kalingga. Dia sadar bahwa dua orang yang menjadi utusan Adipati Aghnibrata kemarin adalah orang orang berilmu tinggi. Tentu ada sebuah rahasia yang tersembunyi dari mereka berdua. Jadi untuk menjaga kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi, Tumenggung Gurunwangi merubah keseluruhan rencana awal pertahanan Kadipaten Rajapura termasuk dengan Benteng Pertahanan Karangwuluh.
'Dengan rencana ku ini, akan memberi kejutan besar bagi para prajurit Panjalu yang sombong itu. Mereka akan menerima pelajaran yang berharga ', batin Tumenggung Gurunwangi sembari menatap ke arah persiapan yang dilakukan oleh Demung Anggasuta dan Juru Kanoman, kedua orang kepercayaannya.
Sementara itu, Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Landung yang memimpin pasukan khusus Garuda Panjalu dan Lowo Bengi yang bertugas sebagai telik sandi yang bersiaga di perbatasan Utara sedikit kebingungan karena belum menerima kabar apapun dari para prajurit Panjalu yang seharusnya sudah sampai di wilayah Kadipaten Kalingga.
"Landung,
Apa belum ada kabar sama sekali dari pasukan yang dipimpin oleh Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa dan Senopati Agung Narapraja?
Bukankah mereka sudah tiba di Pajung dan memanggil kita?", Senopati Muda Jarasanda menatap ke arah Tumenggung Landung yang mendapat tugas sebagai pimpinan Pasukan Lowo Bengi selama Tumenggung Ludaka masih mengiringi perjalanan Panji Tejo Laksono ke Tanah Tiongkok.
"Mohon maaf, Kakang Senopati..
Seharusnya mereka memang sudah harus sampai di Pajung. Mungkin ada kendala selama perjalanan, saya juga kurang tahu. Orang yang saya tugaskan di sekitar sana juga belum memberi kabar", balas Tumenggung Landung segera.
Heeemmmmmmmmmmm...
"Ini aneh. Tidak biasanya Gusti Senopati Narapraja lamban seperti ini. Apakah terjadi sesuatu pada pasukan Panjalu?", kembali Senopati Muda Jarasanda bertanya kepada Tumenggung Landung. Perwira tinggi prajurit Panjalu yang bertubuh kekar itu hanya menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Sepertinya ada yang sedang terjadi di pasukan Panjalu, Kakang Senopati.
Ini hanya pikiran buruk ku saja, tapi sepertinya Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa lah yang menjadi penyebab semua ini", Tumenggung Landung mengelus kumisnya yang tebal.
"Jangan berburuk sangka, Landung..
Aku tahu bahwa perangai putra kedua Gusti Prabu Jayengrana ini sedikit berbeda dari putra putranya yang lain. Aku pun kurang suka dengan tabiatnya yang suka menggampangkan segala sesuatu. Tapi walaupun begitu, dia adalah anak junjungan kita. Kita tetap harus menghormati nya", tukas Senopati Muda Jarasanda sambil menatap ke arah luar tempat yang menjadi markas sementara para prajurit Garuda Panjalu dan Lowo Bengi ini.
__ADS_1
Saat Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Landung sedang asyik berbincang, dari arah luar pemondokan kayu yang menjadi markas sementara para prajurit telik sandi ini, seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis tipis dan dandanan mirip dengan orang gila bergegas masuk ke dalam pondok kayu yang tersembunyi di balik rimbun pepohonan yang tumbuh subur di bantaran Kali Comal. Tumenggung Landung segera mengenali orang itu sebagai salah satu anggota Pasukan Lowo Bengi yang bertugas sebagai telik sandi di Pajung.
"Tambir, kau sudah datang kemari. Ada berita penting apa yang kau bawa dari Pajung?", tanya Tumenggung Landung segera. Lelaki yang berdandan layaknya orang gila itu segera menghormat pada Tumenggung Landung.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung..
Pasukan Panjalu telah sampai di Pajung. Tapi mereka hanya berdiam selama semalam. Kemarin mereka telah bergerak menuju ke arah Karangwuluh. Sepertinya mereka berniat untuk menyerbu Kota Kadipaten Rajapura setelah melewati Karangwuluh", lapor Tambir sembari menghormat pada Tumenggung Landung.
Kaget Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Landung mendengar laporan Tambir.
"Apa kau bilang? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa Gusti Senopati Narapraja sudah tidak memandang kita lagi?", Senopati Muda Jarasanda segera berdiri dari tempat duduknya. Ada rasa geram dalam setiap kata yang terucap dari bibirnya karena merasa hasil kerja keras nya beserta para prajurit Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi tidak di hargai.
"Sabar dulu, Kakang Senopati..
Mungkin ini bukan keputusan Gusti Senopati Narapraja. Hamba curiga ini adalah ulah Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa", kata Tumenggung Landung seraya menghormat pada Senopati Muda Jarasanda.
"Ucapan Gusti Tumenggung Landung ada benarnya, Gusti Senopati Jarasanda.
Hamba dengar pimpinan pasukan utama adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa ", imbuh Tambir segera.
"Bocah tengik kurang ajar!
"Kami mengerti Gusti Senopati ", ujar Tumenggung Landung dan Tambir bersamaan.
Keesokan harinya...
Rombongan besar pasukan Panjalu yang berjumlah 40 ribu prajurit bergerak mirip dengan air bah yang menakutkan siapa saja yang melihatnya. Para penduduk wanua sepanjang perjalanan mereka tidak berani keluar rumah untuk bekerja karena takut menjadi sasaran para prajurit Panjalu. Para Kraman atau Lurah wanua wanua di sepanjang jalan memerintahkan kepada para penduduk untuk tidak keluar rumah demi keselamatan nyawa mereka sendiri.
Begitu memasuki jarak 100 depa dari Benteng Pertahanan Karangwuluh, Mapanji Jayawarsa segera menoleh ke arah Senopati Agung Narapraja untuk menghentikan langkah para prajurit. Senopati Agung Narapraja langsung mengangkat tangan kanannya ke atas sebagai isyarat untuk prajurit peniup terompet.
Thhhhuuuuuuuuuttttttthh..!!!
Suara terompet tanduk kerbau terdengar nyaring. Para prajurit Panjalu serta merta menghentikan langkah kaki mereka. Dua pukulan bende menjadi isyarat kepada mereka untuk bersiap berperang.
Sementara itu, diatas Benteng Pertahanan Karangwuluh Tumenggung Gurunwangi menatap puluhan ribu orang prajurit Panjalu dengan tatapan mata penuh kebencian.
'Wong wong Panjalu,
Kali ini akan ku beri kalian pelajaran berharga', batin Tumenggung Gurunwangi sembari mendengus dingin. Dengan satu isyarat tangan Tumenggung Gurunwangi, para pasukan pemanah di atas benteng pertahanan Karangwuluh langsung melepaskan anak panah ke arah para prajurit Panjalu. Para prajurit Panjalu yang berada di barisan terdepan dengan cepat menaikkan tameng mereka untuk berlindung dari hujan anak panah dari para prajurit Rajapura.
__ADS_1
Shhhrriinggg shhhrriinggg !!
Chhreepppppph chhreepppppph chhreepppppph!!
Dengan mudahnya, serangan para pemanah dari Rajapura di mentahkan oleh para prajurit Panjalu yang memang telah terlatih dalam berperang. Dari arah gerbang benteng pertahanan Karangwuluh, pintu gerbang benteng langsung terbuka lebar dan ribuan orang prajurit berkuda di bawah pimpinan Demung Sumitra langsung melesat cepat kearah para prajurit Panjalu.
Melihat ribuan orang prajurit Rajapura yang berkuda cepat kearah pasukannya itu, Mapanji Jayawarsa hanya tersenyum sinis.
"Para pemberontak keparat ! Saatnya kalian mampus!!
Para prajurit Panjalu, majuuuuu...!!"
Begitu perintah Mapanji Jayawarsa terucap, seorang penabuh bende langsung memukul bende nya dengan keras sebagai isyarat kepada mereka untuk maju. Ribuan orang prajurit Panjalu pun langsung bergegas menyambut kedatangan para prajurit Rajapura di bawah pimpinan Demung Sumitra.
Pertempuran sengit segera terjadi..
Suara denting pedang beradu berbarengan dengan teriakan kesakitan para prajurit yang terluka langsung terdengar dari depan Benteng Pertahanan Karangwuluh. Para prajurit Panjalu dengan gagah berani menggempur para prajurit Kadipaten Rajapura.
Jumlah yang tidak berimbang antara prajurit Rajapura dan Panjalu, membuat pertempuran ini berat sebelah. Dan hanya butuh waktu yang tidak terlalu lama bagi pasukan Panjalu mendesak para prajurit Rajapura. Dengan cepat, mereka berhasil memukul mundur pasukan Rajapura hingga mereka mundur ke arah Benteng pertahanan Karangwuluh. Para prajurit Panjalu terus merangsek maju tanpa kendali, mengejar mereka hingga ke dalam benteng pertahanan karena kemenangan pertama yang mereka incar sudah di depan mata.
Begitu memasuki dalam benteng, rupanya Tumenggung Gurunwangi dan para pengikut setia nya sudah tidak ada di dalam benteng. Rupanya mereka sudah lebih dulu meninggalkan benteng pertahanan ini.
Demung Sumitra yang memimpin pasukan marah besar karena merasa sudah di khianati oleh Tumenggung Gurunwangi dan para pengikutnya begitu mengetahui Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman tidak ada di dalam benteng pertahanan Karangwuluh. Dia merasa di tumbalkan oleh Tumenggung Gurunwangi untuk rencana nya.
"Bangsat kau , Gurunwangi !
Kalau sampai aku bisa selamat dari maut, maka kau akan ku cincang menjadi makanan anjing !!!", umpat Demung Sumitra sembari terus mengayunkan kerisnya untuk menangkis serangan yang dilancarkan oleh seorang perwira menengah yang kini sedang bertarung dengan nya.
Sementara itu, di sisi bukit yang mengapit Benteng pertahanan Karangwuluh, Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman nampak memandang pertarungan sengit antara para prajurit Rajapura di bawah pimpinan Demung Sumitra melawan para prajurit Panjalu. Begitu melihat sekitar 8 ribu prajurit Panjalu memasuki benteng pertahanan, Tumenggung Gurunwangi langsung memberikan isyarat kepada Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman untuk melaksanakan tugas mereka.
Sekitar 2 orang prajurit pemanah segera menyulutkan ujung anak panah mereka ke ara obor yang di pegang oleh rekan rekan mereka lalu segera menembakkan panah berapi itu ke arah Benteng pertahanan Karangwuluh.
Shrriiiiinnnnggggggg shhhrrriiiingggg !!
Chhreeeppphhh jlleeephh !
Hujan anak panah berapi langsung menghujani benteng pertahanan yang terbuat dari kayu. Rupanya para prajurit Demung Anggasuta melumuri seluruh kayu gelondongan yang di gunakan untuk benteng dengan minyak jarak hingga dengan cepat kayu kayu benteng pertahanan itu terbakar. Api dengan cepat menjalar ke seluruh tempat itu, apalagi gentong gentong minyak yang di tata sedemikian rupa hingga api pun dengan cepat berkobar membakar segala sesuatu di benteng pertahanan Karangwuluh.
Tumenggung Surajaya dari Kadipaten Kalingga yang di tugaskan untuk memimpin pasukan terdepan, langsung sadar bahwa mereka telah masuk dalam perangkat yang dibuat oleh Tumenggung Gurunwangi. Dengan cepat ia berteriak lantang,
__ADS_1
"Kita di jebak. Semua prajurit, mundur !!"