
Kota Jiangkang terletak di tepi Sungai Yangtze atau Sungai Panjang yang bermuara di Laut China Timur. Sejak awal peradaban manusia di daratan tengah, Sungai Yangtze menjadi tempat penting dalam sejarah Bangsa Tionghoa. Ratusan tahun lalu hingga sekarang, Sungai Yangtze menjadi jalur perdagangan antara wilayah di Daratan Tiongkok. Banyak kota kota besar yang terletak di tepi Sungai Yangtze seperti Kota Jiangkang, Kota Yang, Jiangling, Kui dan Xiangyang. Mereka membangun pelabuhan untuk kapal kapal bersandar karena jalur utama perdagangan di Daratan Tiongkok lebih cepat menggunakan perahu dari pada harus melewati daratan yang bergunung-gunung. Selain itu jalur sungai lebih aman untuk di lewati daripada lewat darat yang sangat berbahaya karena banyak nya kelompok perampok yang mengacau. Walaupun ada kalanya para perompak sungai muncul, tapi tidak seganas para perampok di daratan.
Rombongan Panji Tejo Laksono terus memasuki wilayah kota Jiangkang sembari menatap keramaian kota. Banyak pedagang yang menawarkan barang dagangan mereka. Bahkan juga ada yang terang-terangan menawarkan para gadis cantik untuk menemani tidur para pelancong yang singgah di Kota Jiangkang ini. Ada puluhan rumah bordil di sepanjang jalan yang di lalui oleh rombongan pangeran muda dari Kadiri itu. Sepertinya rumah bordil adalah hal lumrah disini. Satu satunya pemandangan lain yang mengganggu pemikiran hanyalah banyaknya pengemis berkeliaran meminta sedekah pada setiap orang yang baru masuk ke dalam Kota Jiangkang. Tak hanya satu dua pengemis tapi jumlah mereka mencapai ratusan orang dan terlihat menggerombol di beberapa sudut kota.
Anak buah Huang Lung menghentikan kuda mereka di depan sebuah penginapan yang cukup besar dan indah di samping sebuah rumah bordil yang bersebelahan dengan penginapan ini. Ada tulisan besar berhuruf Kanji kuno tertera di papan nama yang tergantung pada gapura masuk penginapan ini. Disana tertulis "Penginapan Bulan Purnama".
Seperti kebanyakan penginapan besar di wilayah Kekaisaran Song pada umumnya, Penginapan Bulan Purnama juga menyediakan makanan dan minuman di rumah makan yang terletak di bangunan depan, sedang bagian belakang yang berlantai dua menjadi penginapan yang cukup besar yang menyediakan kamar sekitar 50 kamar.
Setelah melakukan pembayaran untuk biaya menginap mereka, Panji Tejo Laksono diajak Huang Lung untuk menikmati segelas teh dan roti kering sembari bersantai di salah satu sudut ruangan rumah makan karena hari masih siang begitu mereka sampai di tempat itu.
"Pendekar Huang, ada satu hal yang mengganjal pikiran ku? Kenapa banyak sekali pengemis di kota ini? Kota Lin'an saja ada juga pengemis, tapi tidak sebanyak disini", tanya Panji Tejo Laksono yang penasaran.
"Mereka bukan pengemis biasa, Pendekar Thee..
Tapi mereka adalah anggota Partai Pengemis, yang mempunyai cabang nya di kota Jiangkang ini", jawab Huang Lung menerangkan. Secara gamblang dia menerangkan keadaan saat ini dunia persilatan Tanah Tiongkok pada Panji Tejo Laksono dimana Partai Pengemis adalah salah satu kelompok besar di dunia persilatan Tanah Tiongkok selain Gunung Wu Tang, Kuil Shaolin, Aliran Chun Yang, Gunung Kunlun dan Perguruan Er Mei. Mereka bisa dikatakan bahwa mereka sebagai salah satu kelompok paling berpengaruh di Kekaisaran Song saat ini. Selain mereka masih ada puluhan kelompok pesilat kelas menengah seperti Sekte Macan Besi, Sekte Pedang Tunggal, Desa Pedang dan banyak lagi lainnya. Mereka ini termasuk dalam aliran putih dan netral.
Sedangkan kelompok golongan hitam terbesar di dunia persilatan Tanah Tiongkok adalah Aliran Sesat Ming sebagai puncaknya, di susul oleh Sekte Sejuta Racun dan Bendera Tujuh Warna. Sekte sekte kecil lainnya cukup tersembunyi dari dunia persilatan dan hanya beberapa saja yang terlihat menonjol seperti Lembah Kabut dan Menara Bayangan.
Panji Tejo Laksono manggut-manggut mendengar semua penjelasan dari Huang Lung. Saat mereka asyik berbincang, dari arah pintu penginapan muncul dua orang berpakaian biru berselempang warna hitam dengan membawa sebilah pedang memasuki rumah makan. Satu terlihat pendek, kelihatan lebih berumur karena jambang lebat nya juga kumis tebal yang melintang di wajahnya. Sedangkan satunya lebih muda, tapi lebih tinggi dan wajah nya terlihat bengis dengan bekas luka di pipi kanan.
Huang Lung langsung berbisik pada Panji Tejo Laksono, " Mereka orang orang Perguruan Pedang Tunggal, Pendekar Thee".
"Kata mu mereka orang aliran putih, tapi kenapa malah terlihat seperti penjahat ya Pendekar Huang?", Panji Tejo Laksono tak dapat menahan diri untuk bicara terus terang.
"Ssstttt... Jaga bicaramu, Pendekar Thee...
Mereka ini suka bikin onar. Lebih baik kita tidak mencari masalah dengan anggota mereka atau orang orang mereka akan memburu kita terus-menerus", Huang Lung merendahkan nada suara nya.
Dua orang itu celingukan kesana kemari. Karena tak menemukan yang di cari nya, si lelaki yang bertubuh pendek langsung berteriak keras.
"Pelayan ! Pelayan !...."
Seorang lelaki bertubuh pendek gemuk dengan pakaian khas seorang pelayan berlari ke arah dua orang itu dengan membungkukkan badan.
"Iya tuan, saya di sini. Ada yang bisa saya bantu tuan?", ucap si pelayan dengan sopan.
"Huh kau ini kenapa lambat sekali..
Sediakan kami daging babi dan seguci arak beras terbaik di tempat mu. Jangan pakai lama. Dan aku ingin duduk di sana", ujar si lelaki bertubuh pendek itu sembari menunjuk ke arah tempat Panji Tejo Laksono dan Huang Lung.
"Tapi tuan, tempat itu sudah ada yang menempati. Tuan saya carikan tempat lain saja ya", si pelayan itu terlihat ketakutan karena ini pasti mengganggu kenyamanan tamu yang sudah duduk lebih dulu.
__ADS_1
"Aku tidak mau!
Suruh saja mereka yang pindah. Aku Lin Wei si Pedang Emas dari Sekte Pedang Tunggal selalu mendapatkan keinginannya. Cepat usir orang itu atau akan ku hancurkan rumah makan ini", ujar lelaki bertubuh pendek itu sembari melotot ke arah pelayan rumah makan.
Mendengar perkataan si lelaki bertubuh pendek kekar bernama Lin Wei yang menyebut nama Sekte Pedang Tunggal, si pelayan rumah makan itu langsung ciut nyalinya. Dia tahu, mencari masalah dengan Sekte Pedang Tunggal pasti akan berbuntut panjang karena Kota Jiangkang masih daerah kekuasaan Sekte Pedang Tunggal. Segera dia berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan Huang Lung.
"Permisi Tuan,
Mohon maaf sebelumnya. Tuan silahkan berpindah tempat kesana saja. Makanan dan minuman yang sudah tuan makan tidak perlu tuan bayar", ujar si pelayan dengan wajah masam setengah ketakutan.
"Apa maksud mu mengusir kami ha? Apa kau pikir kami tidak bisa bayar?!"
Geram sudah Huang Lung menerima pengusiran dari pelayan itu. Sang pelayan rumah makan itu segera membungkuk hormat kepada Huang Lung, "Maafkan aku Tuan, bukan aku bermaksud kurang ajar. Dua orang dari Sekte Pedang Tunggal itu menginginkan tempat duduk ini".
Huang Lung dan Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah dua orang berbaju biru berselempang warna hitam itu segera.
"Tuan Pendekar dari Sekte Pedang Tunggal?", tanya Huang Lung cepat.
"Tentu saja,
Aku Lin Wei si Pedang Emas dan ini adik seperguruan ku, Gu Heng si Pedang Perak adalah murid dari Tetua Kedua Sekte Pedang Tunggal, Wei Xiao Bao si Pedang Bayangan.
Apa kau sudah pernah dengar nama guru kami ha?", Lin Wei dengan angkuh mengejek Huang Lung.
Tak di sangka ya, muridnya sungguh tak tahu malu mengganggu orang lain seenaknya sendiri", ucapan Huang Lung langsung membuat Gu Heng marah.
"Kau ....."
"Kau apa? Kalian ini yang sudah tidak tahu malu menggunakan nama Sekte Pedang Tunggal untuk menindas orang lain.
Kalau memang pendekar jagoan, jangan menggunakan nama besar sekte. Gunakan saja kemampuan kungfu kalian untuk menunjukkan bahwa kalian pendekar hebat ", kata kata Huang Lung semakin membuat kuping panas. Semua orang yang ada di dalam rumah makan itu semakin tertarik untuk melihat hal yang akan terjadi selanjutnya.
Panji Tejo Laksono tersenyum tipis melihat kemampuan adu mulut Huang Lung yang menakjubkan.
'Mulut orang ini sungguh pintar sekali membuat masalah'
Luh Jingga, Gumbreg, Ludaka dan Rajegwesi yang baru selesai menaruh barang bawaan mereka di kamar tidur masing-masing, langsung bergegas turun dari lantai atas saat mendengar suara keributan di rumah makan itu. Mereka segera mendekati Panji Tejo Laksono.
Gu Heng langsung mencabut pedang nya dan hendak menerjang maju ke arah Huang Lung namun Lin Wei mencegahnya.
"Tahan adik Gu..
__ADS_1
Jangan sampai guru kehilangan muka karena kita bertindak gegabah", bisik Lin Wei segera. Rupanya dia cukup pintar membaca situasi yang ada. Jika mereka berdua maju, sudah barang tentu orang orang yang mengerumuni Huang Lung dan Panji Tejo Laksono akan bertindak. Dia tidak sebodoh itu.
"Tapi kakak, dia sudah menghina kita. Aku akan memberi nya pelajaran agar mulut nya punya sopan santun pada Sekte Pedang Tunggal", balas Gu Heng segera.
"Kau pikir aku juga tidak ingin menghajar mereka?
Sehebat apapun kemampuan kungfu kita jika berhadapan dengan banyak orang seperti mereka, kita tetap akan mati konyol sia-sia. Jangan terpancing dengan omongan pedas si muka putih itu. Kau tenanglah, biar aku yang bicara", bisik Lin Wei berupaya meredam emosi Gu Heng. Sembari mendengus keras, Gu Heng mengangguk mengerti.
Lin Wei segera menoleh ke arah Huang Lung dan Panji Tejo Laksono setelah melihat anggukan kepala Gu Heng, " Ku akui kau cukup punya nyali juga berani mencari masalah dengan Sekte Pedang Tunggal. Dengan mengandalkan jumlah orang untuk menekan kami kan?"
"Tuan Pedang Emas,
Salah satu dari kami saja sudah cukup untuk membuat mu mengerti tentang tinggi nya gunung dan dalam nya laut. Main keroyokan melawan mu, itu bukan cara kami untuk memberi mu pelajaran", balas Huang Lung sambil tersenyum mengejek.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Buktikan kalau kalian tidak main keroyok. Ayo kita bertarung!", ujar Gu Heng yang sudah bersiap untuk menyerang.
"Di sini tempat orang makan, Tuan Pedang Perak. Kalau kau jantan, tunggu lah di halaman rumah makan ini", sahut Huang Lung sembari tersenyum.
"Baik, aku tunggu siapapun di luar kalau kalian bukan pengecut!", Gu Heng langsung melompat keluar dari dalam rumah makan diikuti oleh Lin Wei kakak seperguruan nya.
Gumbreg yang tidak paham bahasa Tionghoa, langsung mendekati Panji Tejo Laksono, "Gusti Pangeran, apa maksudnya dengan semua ini?".
"Mereka menantang kita untuk mengadu ilmu kesaktian, Paman", jawab Panji Tejo Laksono singkat.
"Haahhh?
Kurang ajar sekali mereka. Ijinkan hamba yang maju Gusti Pangeran. Gatal tangan ku ingin mengepruk kepala mereka", ujar Gumbreg sambil memanggul pentung sakti nya.
"Paman yakin bisa mengalahkan mereka?", Panji Tejo Laksono sedikit sangsi.
"Gusti Pangeran tahu beres saja. Biar orang orang Tionghoa itu tahu rasanya pentung sakti dari Panjalu", Gumbreg menyeringai lebar.
Mereka segera bergegas keluar dari dalam rumah makan dimana Lin Wei dan Gu Heng sudah bersiap untuk bertarung. Gumbreg langsung maju sembari memutar pentung sakti di tangan kanan.
"Hai gendut jelek, minggir kau! Aku tidak ada urusan dengan mu", ujar Gu Heng dengan logat Tionghoa yang kental.
"Haesshhh embuh!!
Sang seng song gak jelas! Maju kau, biar tak kepruk kepala mu sampai pecah", Gumbreg memberikan isyarat tangan kepada Gu Heng untuk maju menyerang.
__ADS_1
Sembari memaki maki Gumbreg dalam bahasa Tionghoa yang tidak Gumbreg mengerti, Gu Heng menerjang maju ke arah Gumbreg.
"Gendut busuk, ku cincang tubuh mu!"