
Selepas berkata demikian, Endang Patibrata langsung melesat cepat menghadang laju pergerakan Begawan Rikmageni dengan sabetan pedang nya.
Shhrreeettthhh..
Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Panji Tejo Laksono yang tak sempat mencegah langkah Endang Patibrata, menghela nafas panjang dan menyaksikan pertarungan sengit itu dengan sedikit cemas. Maklum saja, sang penguasa Kadipaten Seloageng ini belum pernah menyaksikan langsung kemampuan beladiri dari cucu Warok Suropati itu.
Selepas adu senjata, baik Begawan Rikmageni maupun Endang Patibrata sama-sama melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Dari benturan keras baru saja, keduanya telah menjajaki tingginya tenaga dalam lawan. Begawan Rikmageni, si lelaki tua berambut merah itu segera menunjuk ke arah Endang Patibrata.
"Gadis bau kencur..!!
Minggir kau! Jangan ikut campur urusan ku dengan pangeran busuk itu!", hardik Begawan Rikmageni keras.
"Tua bangka bau tanah tak tahu diri!!
Berani-beraninya kau mengancam suami ku. Apa kau sudah bosan hidup dan ingin cepat mati ha?", balas Endang Patibrata sengit.
"Kurang ajar!!
Mulut mu harus di beri pelajaran agar sopan bicara dengan orang tua!!", Begawan Rikmageni menjejak tanah dengan keras lalu melesat ke arah Endang Patibrata.
Whhhuuutthh whhhuuutthh..
Thrrraaannnnggggg thhrraaanggg!!
Dhhaaaassshhh..!!!!!
Adu kepandaian ilmu beladiri bersenjata antara mereka berdua berlangsung sengit dan menegangkan. Masing-masing mengerahkan seluruh kemampuan beladiri yang mereka miliki untuk menjatuhkan lawan.
Sepuluh jurus berlangsung dengan cepat..
Begawan Rikmageni langsung melenting tinggi ke udara usai berhasil menghindari sabetan pedang Endang Patibrata yang mengincar kakinya. Tangan kirinya yang tidak memegang senjata, langsung menghantam ke arah Endang Patibrata.
Whhhuuuggghhhh!!
Cahaya merah kehitaman berhawa panas yang diikuti oleh angin kencang layaknya badai, seketika terlontar dari telapak tangan kiri Begawan Rikmageni.
Endang Patibrata dengan langkah lambat seperti orang sedang menari karena menggunakan Ilmu Pedang Tarian Badai Laut Selatan, bergerak mundur menghindari hantaman Ajian Chandradimuka yang di lepaskan oleh lelaki berambut merah itu.
Blllaaammmmmmmm!!!
Bersamaan dengan ledakan keras itu, Begawan Rikmageni memegang tombak dengan kedua tangannya dan menghujamkan nya ke arah Endang Patibrata yang berhasil menyelamatkan diri.
Gerakan kalem Endang Patibrata nyatanya mampu mengimbangi permainan silat Begawan Rikmageni. Saat tusukan tombak yang menancap hampir sedengkul dalamnya pada tanah bekas Endang Patibrata berdiri, perempuan cantik asal Wanua Pulung ini segera hantamkan telapak tangan kiri nya ke arah sang lelaki tua berambut merah.
Serangkum angin ribut menderu kencang layaknya badai di Laut Selatan mengikuti cahaya biru redup berhawa dingin menerjang maju ke arah Begawan Rikmageni. Kakek tua renta itu terkejut bukan main melihat hawa dingin yang mengancam nyawa nya. Segera dia mundur selangkah, lalu menyambut kedatangan serangan Ajian Tapak Badai Laut Selatan dari Endang Patibrata.
Blllaaammmmmmmm!!!
Gelombang kejut besar tercipta saat benturan dua ajian kanuragan tingkat tinggi ini tercipta. Begawan Rikmageni mencelat jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Namun lelaki tua berambut merah itu segera bangkit meski dengan pakaian penuh rumput dan tanah dermaga penyeberangan Wanua Ranja. Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Keadaan yang sama juga berlaku untuk Endang Patibrata. Meskipun dia jauh lebih siap saat menyerang, namun tenaga dalam nya yang setingkat lebih rendah dari Begawan Rikmageni membuat putri Lurah Wanua Pulung ini harus tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Namun perempuan cantik itu dengan cerdik memanfaatkan pedangnya dengan menancapkan nya ke tanah hingga tubuhnya tak sampai jatuh. Putri Lurah Singo Manggolo ini pun juga muntah darah segar.
Semua orang menatap pertarungan sengit itu dengan harap-harap cemas. Panji Tejo Laksono berulang kali menahan nafas nya karena cemas dengan keselamatan istri keenam nya itu. Namun dia juga tidak ingin merusak ritme pertarungan Endang Patibrata dengan ikut campur jadi terpaksa menahan diri.
Begawan Rikmageni langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah samping tubuhnya sambil menggeram keras.
"Gadis bau kencur!!
Kali ini aku tidak akan main-main lagi. Bersiaplah untuk mati. Ajian Rudra Kalawisesa ku akan mencabut nyawa mu!!!"
Cahaya merah kehitaman muncul di kedua tangan Begawan Rikmageni. Segera cahaya itu bergulung-gulung melingkari kedua lengan tangannya dan merubah tampilan tangan menjadi makhluk menyeramkan dengan kulit berwarna merah berkulit kasar seperti kulit buaya yang bergerigi. Dalam waktu singkat, seluruh tubuh Begawan Rikmageni berubah menjadi sesosok makhluk menyeramkan dengan taring besar dan tanduk yang melengkung panjang.
Melihat perubahan wujud lawannya yang menakutkan, Endang Patibrata menghela nafas panjang sebelum mulutnya komat-kamit merapal mantra. Cahaya hijau kebiruan pun segera muncul dari dada sang perempuan cantik asal Kadipaten Wengker itu. Panji Tejo Laksono terkesiap juga melihat itu semua.
"Ajian ini???!!!..
Rupanya Nimas Endang Patibrata menguasainya juga. Aku tidak perlu lagi khawatir dengan keselamatan nya", senyum lebar terukir di wajah Panji Tejo Laksono.
Usai perubahan wujud nya telah sempurna, Begawan Rikmageni langsung melesat cepat kearah Endang Patibrata sambil menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah dada Endang Patibrata. Kecepatan tinggi dan peningkatan kekuatan yang pesat membuat gerakan Begawan Rikmageni tak bisa diikuti oleh mata biasa. Sang putri Lurah Wanua Pulung ini sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Bhhhuuuuuuggggh!!
Begawan Rikmageni yang sangat percaya diri dengan kekuatan Ajian Rudra Kalawisesa yang meningkatkan kemampuan beladiri nya berpuluh kali lipat, terkejut bukan main melihat bahwa hantamannya yang menggunakan kekuatan penuh tak mampu menggeser posisi berdiri Endang Patibrata. Kekuatan nya seperti menghilang saat menyentuh kulit sang istri keenam Panji Tejo Laksono ini.
Belum hilang keterkejutannya, kedua tangan Endang Patibrata langsung mencekal lengan tangan Begawan Rikmageni. Lalu sebuah cahaya hijau kebiruan terlontar dari mulut Endang Patibrata yang langsung melingkari seluruh tubuh Begawan Rikmageni.
"Ah ini .... "
Perlahan tapi pasti, tenaga dalam dan daya hidup nya tersedot masuk ke dalam tubuh Endang Patibrata.
"A-ajian Waringin Sungsang?!!!!
Celaka!! Aku sungguh celaka!!!", teriak Begawan Rikmageni yang berusaha keras untuk melepaskan diri namun tenaganya seperti hilang di telan bumi.
Rasa sakit yang teramat sangat menggerogoti seluruh persendian dan otot tubuhnya. Semakin lama semakin menyiksa tubuh kakek tua renta itu.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!!
"Ampuni aku! Ampuni aku aaaarrrgggggghhhhh!!!!", teriak Begawan Rikmageni sembari terus berupaya untuk melepaskan diri.
Perlahan wujud Begawan Rikmageni yang berubah menjadi makhluk menyeramkan, berangsur menghilang seperti sedia kala hingga tubuhnya kembali menjadi seorang kakek tua renta berambut merah. Darah segar mengalir keluar dari seluruh lobang di seluruh tubuh nya. Hidung, telinga, mata dan mulutnya semuanya mengeluarkan darah.
"Cukup Nimas Endang Patibrata!! Tak perlu lagi kau habisi nyawa kakek tua itu!!"
Teriakan keras dari Panji Tejo Laksono membuat Endang Patibrata mengerti. Dengan sekuat tenaga, dia menendang dada Begawan Rikmageni yang langsung membuat tubuh lelaki tua itu terpelanting jauh ke belakang. Tubuh nya menyusruk tanah tak jauh dari sebuah warung makan yang ada di tepi dermaga penyeberangan Wanua Ranja. Meskipun dalam keadaan yang mengenaskan, dia masih hidup.
Endang Patibrata menghela nafas panjang sembari menurunkan kedua tangan nya sejajar pinggang. Usai mengusap sisa darah yang menempel di dagunya, Endang Patibrata segera bergegas mendekati Panji Tejo Laksono.
"Aku sungguh tidak menduga bahwa kau juga menguasai Ajian Waringin Sungsang, Dinda Patibrata..
Eyang Guru Suropati tentu sangat menyayangi mu..", puji Panji Tejo Laksono sambil mengelus kepala sang istri keenam nya. Mendengar pujian dari sang suami, Endang Patibrata tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kangmas Pangeran terlalu memuji ku. Aku hanya sanggup menguasai ilmu ini sampai tahap kedelapan saja, masih lebih tinggi Kangmas Pangeran..", balas Endang Patibrata.
Belum sempat Panji Tejo Laksono menanggapi hal itu, Tumenggung Ludaka dan para petinggi pengawal Adipati Seloageng yang lain mendekati mereka. Termasuk juga Demung Gumbreg yang mengikat celana nya dengan seutas tali yang di dapat dari kereta kuda pengangkut barang.
"Semuanya baik-baik saja?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke para pengawalnya.
"Mohon ampun Gusti Gusti Pangeran Adipati..
Ada 21 orang prajurit yang terbunuh oleh lelaki tua berambut merah itu. 10 luka sedang dan 14 luka ringan tapi masih bisa melanjutkan perjalanan", lapor Senopati Gardana sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm..
"Pastikan bahwa yang meninggal di kubur dengan layak. Tinggalkan seorang bekel prajurit untuk mengurus pemakaman mereka. Jika rampung, dia di perbolehkan untuk menyusul ke Lodaya.
Sedangkan yang luka ringan dan sedang yang masih bisa melanjutkan perjalanan, tetap ikutkan di rombongan tapi pada kereta pengangkut barang. Jangan berikan tugas berat kepada mereka sampai sembuh sepenuhnya..", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati ", Senopati Gardana menghormat sebelum meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan tugas dari sang Adipati Seloageng. Di bantu oleh Juru Naratama, Senopati Gardana segera bergegas. Dia ingin cepat menyelesaikan tugas ini agar perjalanan Panji Tejo Laksono yang sempat tersendat karena ulah Begawan Rikmageni, bisa segera dilanjutkan.
Rampung persiapan untuk berangkat, rombongan Panji Tejo Laksono menyeberang ke Tanah Perdikan Lodaya. Riak air Sungai Kapulungan yang sedikit keruh, membuat kapal penyeberangan itu sedikit oleng namun itu tidak membuat bahaya berarti. Selepas kapal penyeberangan itu merapat ke dermaga seberang sungai, satu persatu mulai turun dari kapal penyeberangan.
Ratusan kepeng perak di berikan kepada para nahkoda kapal penyeberangan. Mereka yang sama sekali tidak pernah meminta bayaran atas jerih payahnya selama menyeberangkan rombongan itu, langsung menolak tapi Panji Tejo Laksono. Mereka berpendapat bahwa mereka hidup di bawah kekuasaan Panji Tejo Laksono yang adil dan bijaksana hingga mereka bisa hidup dengan aman dan tenteram dan jerih payah nya adalah usaha untuk berbakti kepada pemerintah.
Namun Panji Tejo Laksono memaksa mereka untuk menerima nya, karena berpendapat bahwa mereka harus menghidupi keluarganya. Jadi yang sudah bekerja untuk nya harus menerima upah. Akhirnya para nahkoda kapal penyeberangan itu mau menerima penjelasan Panji Tejo Laksono. Mereka berulangkali berterimakasih atas sikap Panji Tejo Laksono yang berbeda dengan para pejabat negara lainnya.
"Dia memang pangeran muda yang baik hati ya Kang Yo..
Sudah sepantasnya dia yang menjadi Raja Panjalu selanjutnya agar rakyat hidup tenteram dalam pengayoman sang raja", ujar seorang anak buah kapal penyeberangan yang berdiri di samping salah satu nahkoda kapal penyeberangan setelah rombongan Panji Tejo Laksono pergi.
"Kau benar, So..
Aku selalu berdoa kepada Hyang Agung agar kerajaan ini memiliki penerus yang mampu memimpin negeri ini seperti para pendahulunya. Semoga saja, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono lah yang kelak meneruskan pengayoman rakyat agar rakyat Panjalu bisa hidup dengan aman tenteram karta raharja seperti ketika di pimpin oleh Gusti Prabu Jayengrana saat ini", sambung si nahkoda kapal penyeberangan sembari terus menatap ke arah rombongan Panji Tejo Laksono yang mulai menghilang di balik tikungan bukit.
****
"Dengan begini, rencana kita untuk mendudukkan Mapanji Jayawarsa ke tahta Kerajaan Panjalu akan semakin mudah..
Kerja mu bagus Adhi Gandasena", ujar Mpu Kepung sembari tersenyum lebar. Dia menatap lembaran daun lontar yang berisi tentang laporan dari Mpu Gandasena yang berangkat menuju ke Kadipaten Karang Anom.
Dalam laporan itu, Mpu Gandasena melaporkan kepada Mpu Kepung selaku pimpinan pendukung Mapanji Jayawarsa bahwa Adipati Windupati bersedia untuk membantu usaha mereka. Persiapan untuk pelatihan prajurit yang akan di gunakan untuk memaksa Prabu Jayengrana menyerahkan tahta kerajaan Panjalu pada Mapanji Jayawarsa akan mulai di lakukan. Dan ini merupakan kabar yang menggembirakan bagi Mpu Kepung dan para pendukung Mapanji Jayawarsa yang lain.
Bekel Panewu yang ada di kediaman keluarga Mpu Kepung pun tak sabar untuk bertanya.
"Lantas bagaimana dengan usaha Mpu Sena untuk membujuk Adipati Anjuk Ladang untuk membantu kita, Gusti Mpu Kepung?"
Mendekati pertanyaan itu, Mpu Kepung terdiam sejenak tanpa bicara. Segera dia memasukkan lembaran daun lontar itu ke dalam wadah kain biru yang menjadi pembungkus nawala.
"Sampai saat ini, belum ada kabar baik yang ku terima dari Adhi Mpu Sena, Bekel Panewu. Aku rasa sebentar lagi, karena sudah dua hari yang lalu dia berangkat ke Anjuk Ladang. Aku yakin, Adipati Anjuk Ladang pasti tidak akan berani menolak bujukan Adhi Mpu Sena karena dia adalah keponakannya", ucap Mpu Kepung sembari memasukkan surat rahasia itu ke balik bajunya. Sambil menatap ke arah langit barat, dia mengepal erat.
"Dan satu hal yang harus kamu tahu, Bekel Panewu. Saat Mapanji Jayawarsa duduk di atas singgasana Kerajaan Panjalu,
Saat itu juga kita berkuasa di Panjalu!"
__ADS_1