Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Warung Kembang Sore


__ADS_3

Pergiwa alias Kenanga langsung bergegas menuju ke arah pintu gerbang puri kecil tempat tinggal nya. Wajah cantik perempuan itu sudah bersungut-sungut kesal dengan ulah Juminten yang menurutnya sangat menggangu ketentraman kediamannya. Dia sudah siap mendamprat habis-habisan wanita yang dia anggap tak memiliki tata krama karena ribut di tempat orang.


Dua orang prajurit yang sedang mengintip kawannya yang menghalangi niat Juminten untuk masuk ke dalam puri, langsung membungkuk hormat kepada Pergiwa. Melihat isyarat tangan Pergiwa mereka dengan patuh membuka pintu gerbang puri.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!


Terdengar derit suara pintu terbuka dan wajah cantik Pergiwa langsung muncul di balik daun pintu itu sambil berkacak pinggang. Juminten sedikit terperangah melihat itu namun perempuan yang sedang di landa api cemburu itu dengan cepat bergerak ke arah Pergiwa. Namun langkahnya segera di halangi oleh 2 orang prajurit yang berjaga di luar pintu gerbang.


"Hai perempuan sinting!!


Kenapa kau teriak-teriak di depan rumah orang ha? Kau sudah edan ya? Melihat pakaian mu, kau istri seorang bangsawan tapi kenapa kelakuan mu begitu rendah seperti orang dusun?!", ucap Pergiwa yang geram dengan ulah Juminten.


"Jaga mulutmu, heh pengganggu rumah tangga orang!


Siapa yang kau sebut dengan orang dusun heh? Apa mulut mu itu tidak pernah mendapat pelajaran tata krama dari orang tua hingga asal bunyi?!


Katakan pada ku, dimana kau sembunyikan suami ku? Aku ada urusan dengan dia!", balas Juminten sengit.


"Siapa yang mengganggu suami mu? Kenal saja juga tidak. Pulang saja sana dan cari suami mu di tempat lain.


Sembarangan saja kalau bicara", Pergiwa memang tidak tahu bahwa Juminten adalah istri sah Demung Gumbreg. Selama ini dia hanya tahu Gumbreg sudah beristri tapi tidak tahu siapa nama istri nya.


"Kau yang mengganggu rumah tangga ku, heh pelacur sialan!!


Cepat suruh suami ku keluar! Kalau tidak, aku sendiri yang akan masuk ke dalam..", Juminten yang terbakar amarah tanpa sengaja menyinggung perasaan Pergiwa yang sedari tadi menahan diri. Mendengar ucapan Juminten yang menurutnya sangat keterlaluan, Pergiwa langsung berlari ke arah Juminten dan langsung menjambak rambut perempuan itu.


Perkelahian antar perempuan ini langsung terjadi. Saling cakar, saling jambak, saling meludahi dan saling tendang pun menjadi pemandangan seru.


Keempat orang prajurit penjaga puri kecil itu malah melongo melihat perkelahian antar dua perempuan itu. Mau membela salah satu, mereka takut kena marah Demung Gumbreg yang menjadi bahan pertikaian mereka. Namun salah satu prajurit penjaga gerbang puri kecil itu segera tersadar dan buru-buru meninggalkan tempat itu.


Dandanan Juminten dan Pergiwa acak-acakan saat perkelahian mereka sudah berlangsung cukup lama. Beberapa perhiasan mereka telah morat-marit tak tentu arah. Beberapa bagian kemben dan jarit mereka robek dan sebagian tubuh mereka penuh dengan tanah dan rumput setelah terjatuh usai saling dorong tadi.


Di tengah keributan itu, Tumenggung Ludaka muncul bersama prajurit penjaga gerbang puri tadi. Rupanya dia segera menghubungi Tumenggung Ludaka karena khawatir keributan ini akan meluas.


Sang tumenggung segera memberikan isyarat kepada para prajurit penjaga gerbang puri kecil itu untuk memisah perkelahian Juminten dan Pergiwa. Dua orang prajurit segera menarik tubuh Juminten sedangkan dua lainnya segera mencekal lengan Pergiwa.


"Lepaskan aku!! Akan ku robek mulut perempuan sinting itu", teriak Pergiwa sembari meronta-ronta untuk melepaskan diri namun tenaganya sebagai seorang perempuan kalah jauh dibandingkan dengan dua orang prajurit yang mencekal nya.


"Brengsek, apa kalian cari mati ha?


Jangan pegangi aku. Biar ku hajar perempuan perusak rumah tangga orang ini. Biar dia kapok", Juminten berupaya untuk melepaskan dirinya tapi dia tidak berdaya di bawah cengkraman tangan para prajurit penjaga gerbang puri kecil.


"Sudah cukup!!!


Apa kalian tidak malu ribut begini ha? Kalau sampai terdengar oleh telinga Gusti Prabu Jayengrana, apa kalian sudah siap mendapatkan hukuman karena sudah membuat keributan?!!".


Bentakan keras Tumenggung Ludaka seketika menghentikan upaya Juminten dan Pergiwa untuk melepaskan diri. Kedua perempuan itu mulai tenang meski masih menyimpan amarah.

__ADS_1


"Pelacur nakal ini sudah menggoda Kakang Demung Gumbreg, Gusti Tumenggung Ludaka.


Bagaimana bisa aku menahan diri melihat rumah tangga ku di rusak orang?", nada suara Juminten masih terdengar tinggi meski tidak setinggi tadi.


"Hei perempuan Busuk!


Jaga mulutmu ya kalau masih ingin di gunakan untuk makan nasi. Sekali lagi kau bilang seperti itu, akan ku remas mulut beracun mu itu!", Pergiwa kembali marah karena tak tahan dengan omongan Juminten.


"Diam kalian!!


Kalau masih ingin meneruskan perkelahian kalian, sebaiknya aku jebloskan kalian ke penjara!!", ancam Tumenggung Ludaka yang segera membuat Juminten dan Pergiwa gemetar ketakutan. Rupanya nya kata penjara sanggup meredam emosi dua orang wanita Demung Gumbreg itu. Keduanya langsung diam seribu bahasa.


Setelah tidak ada lagi debat kusir antara mereka, Tumenggung Ludaka memberikan isyarat kepada para prajurit penjaga gerbang puri untuk mengawal Juminten dan Pergiwa masuk ke dalam puri.


Sesampainya di sana, Demung Gumbreg yang ketakutan setengah mati melihat keributan antara istri dan selirnya ini hanya duduk diam saja tanpa bersuara. Mereka bertiga pun segera duduk di kursi sekitar tempat duduk Demung Gumbreg.


"Aku tidak ingin memperbesar masalah ini jadi sebaiknya kalian semua dengar baik-baik omongan ku. Jangan ada yang menyela sebelum aku selesai bicara.


Dengar Jum,


Aku yang memerintahkan kepada suami mu untuk membawa Pergiwa ke Kotaraja Daha. Aku juga yang merelakan tanah ku ini di buat puri untuk tempat tinggal Pergiwa. Alasannya bukan karena aku membela Gumbreg untuk memiliki perempuan lain tapi Pergiwa ini punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Panjalu selanjutnya. Apakah itu, aku tidak bisa mengatakannya sekarang.


Jadi aku minta kau berbesar hati untuk merelakan suami mu memiliki selir. Diantara para pejabat tinggi negara, hanya aku dan Gumbreg saja yang tidak memiliki garwa ampeyan ( selir ). Aku pun menyetujui Pergiwa menjadi selir Gumbreg juga karena alasan tadi. Jadi aku minta agar kau ikhlas merelakan suami mu punya selir Pergiwa, demi Kerajaan Panjalu di masa depan", Tumenggung Ludaka menghela nafas panjang setelah selesai bicara seperti itu.


Mata Juminten langsung berkaca-kaca mendengar ucapan Tumenggung Ludaka. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang wanita dan tak ada satupun wanita yang mau dimadu. Kalau pun sampai suami menikah lagi karena ijin dari sang istri, itu juga pasti dengan setengah hati. Perlahan air mata jatuh membasahi pipi Juminten. Meski tidak ada suara tangis yang terdengar, tapi bisa dipastikan bahwa saat ini hati Juminten menjerit keras.


Suasana di dalam puri kecil itu hening. Hanya sesenggukan Juminten saja yang terdengar. Setelah cukup lama menitikkan air mata, Juminten menghela nafas berat sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.


Meski aku masih belum bisa merelakan sepenuhnya suami ku menikah lagi, tapi aku percaya dengan omongan Gusti Tumenggung tentang peran perempuan itu di masa depan Kerajaan Panjalu", setelah berkata seperti itu, Juminten bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah keluar dari dalam puri kecil itu namun tangan Demung Gumbreg segera mencegah nya.


"Mau kemana to Dhek Jum? Mbok disini saja", ujar Demung Gumbreg segera.


Juminten melirik kearah Pergiwa yang diam tertunduk tanpa berkata apapun.


"Aku tidak ingin mengganggu kesenangan mu Kakang Demung. Aku sudah merelakan mu untuk menikah lagi.


Tapi kau harus ingat bahwa kau masih punya tanggung jawab terhadap anak-anak kita. Jangan lupa pulang menengok mereka", mata Juminten berkaca-kaca kembali. Tangan perempuan itu segera menepis jari jemari Gumbreg yang mencoba menahannya. Setelah itu, Juminten bergegas keluar dari dalam tempat itu. Sebelum kereta kuda yang di tumpangi nya pergi, Juminten menoleh sebentar ke arah Gumbreg yang mematung di depan pintu puri. Ada Pergiwa yang berdiri di samping nya. Entah apa yang ingin disampaikan oleh Juminten tapi Pergiwa mengangguk mengerti ke arah Juminten. Perlahan kereta kuda itu bergerak meninggalkan tempat itu.


Selepas masalah ini rampung, Tumenggung Ludaka segera memberi tahu Demung Gumbreg bahwa mereka di panggil ke Istana Katang-katang oleh Sang Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana. Mendengar itu, Gumbreg segera berganti pakaian kebesarannya dan bersiap siap untuk sowan ke istana. Pergiwa dengan telaten membantu perwira prajurit Panjalu bertubuh subur itu berpakaian.


Setelah beres, Demung Gumbreg segera keluar dari dalam puri kecil itu bersama Tumenggung Ludaka. Dua ekor kuda jantan pilihan yang menjadi tunggangan mereka telah di siapkan oleh pekatik yang di tugaskan untuk merawat kuda tunggangan sang perwira. Keduanya segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan perlahan meninggalkan puri kecil itu sementara Pergiwa kembali masuk ke dalam puri.


"Untung saja kau datang tepat waktu, Lu..


Kalau tidak habis aku di tangan Juminten. Kalau ngamuk dia menakutkan", ujar Demung Gumbreg yang perlahan menjalankan kuda di samping sang sahabat karib.


"Huhhhhh kau yang makan nangka nya, aku yang kena getahnya. Dasar hidung belang bau buaya..

__ADS_1


Kalau saja Pergiwa tidak berguna untuk rencana kita, mana mungkin aku Sudi membantu mu untuk urusan ini", omel Tumenggung Ludaka yang bersungut-sungut kesal. Rupanya dia memendam kekesalan saat harus menyelesaikan masalah yang dihadapi Gumbreg.


"Hehehehe, ini kan ide mu Lu..


Jadi kau harus ikut tanggung jawab. Pokoknya kalau sampai mereka ribut lagi, kau harus melerai mereka. Aku bingung harus bagaimana bersikap kalau mereka ribut.


Eh lantas bagaimana caranya aku membagi waktu antara mereka Lu?", kembali Demung Gumbreg menatap wajah Tumenggung Ludaka. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu mendengus keras sebelum bicara.


"Bukan urusan ku. Kau urus saja itu sendiri", jawab Tumenggung Ludaka acuh tak acuh.


"Eh kampret, kau tidak bisa lepas tangan begitu saja.


Kau harus membantu ku sampai tuntas Lu", Demung Gumbreg segera menjajarkan kudanya di samping Tumenggung Ludaka.


"Tidak mau. Itu bukan urusan ku. Kalau sampai mereka bertengkar lagi, akan ku minta mereka menghajar mu lebih dulu sebelum aku melerai nya", setelah berkata demikian, Tumenggung Ludaka segera memacu kuda nya menuju ke arah Istana Katang-katang.


"Eh kawan durjana.. Kampret kau ya? Kau sengaja ingin mencelakai ku ha?


Lu, tunggu....", teriak Demung Gumbreg sembari ikut menggebrak kuda nya menyusul ke arah Tumenggung Ludaka. Kedua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu bergerak cepat menuju ke arah Istana Katang-katang.


****


"Kau sudah baikan Kirana?", tanya Panji Tejo Laksono begitu perempuan cantik putri Resi Ranukumbolo itu duduk di sampingnya saat sarapan pagi bersama dengan Ki Jatmika dan Mpu Purwa.


Wajah cantik Dyah Kirana yang sejak kemarin terlihat pucat, kini sudah terlihat lebih baik. Roman muka cucu Maharesi Padmanaba ini terlihat lebih merona di banding sehari sebelumnya. Meski bibir mungilnya masih terlihat pucat namun tidak mengurangi kecantikan alami yang dia miliki.


"Aku sudah lebih baik, Kakang Tejo..


Dada ku sudah tidak sesak seperti kemarin. Rasa linu pada persendian lengan ku juga sudah mereda. Sepertinya ini berkat ramuan yang di buat oleh Kangmbok Wulandari", Dyah Kirana melirik ke arah Song Zhao Meng yang masuk sembari membawa sebuah kuali kecil yang beruap panas. Rupanya sejak tadi pagi, Song Zhao Meng sudah merebus beberapa jenis dedaunan yang dia temukan di sekitar tempat itu. Meski gerimis kecil membasahi tempat itu namun tak menghentikan niat nya untuk meramu ramuan obat-obatan untuk menyembuhkan luka dalam nya dan Dyah Kirana.


"Ini hanya resep turunan dari leluhur keluarga ku, Kirana. Untung nya aku sempat mempelajari ilmu pengobatan jadi tidak terlalu panik jika mengalami luka dalam ringan", jawab Song Zhao Meng seraya meletakkan kuali kecil yang beruap panas itu ke atas meja kecil di hadapan mereka. Aroma wangi yang khas tercium oleh hidung semua orang.


Segera Song Zhao Meng membagikan cairan ramuan penguat daya tahan tubuh kepada Dyah Kirana, Panji Tejo Laksono dan Ki Jatmika. Sementara Mpu Purwa yang penasaran ingin mencobanya, turut meminta secangkir ramuan ini. Sembari menikmati sarapan pagi, mereka berlima juga meminum ramuan ini.


Saat matahari sepenggal naik di atas langit timur, perlahan gerimis kecil turun menghilang. Menyisakan tanah becek berlumpur dengan beberapa genangan air keruh kecoklatan. Di ranting pohon besar, suara riuh kicau burung terdengar bersahutan seakan menyambut pagi yang sempat tertunda karena gerimis tadi.


Usai memastikan bahwa Dyah Kirana dan Song Zhao Meng sudah lebih sehat daripada sebelumnya, Panji Tejo Laksono memutuskan untuk segera meneruskan perjalanan nya ke arah Pertapaan Gunung Mahameru yang ada di wilayah Kadipaten Dinoyo. Setelah berterimakasih atas kebaikan Mpu Purwa yang mengijinkan nya bersama para pengikutnya menginap, Panji Tejo Laksono pamit undur diri.


Keempat orang itu berjalan menuju ke arah sebuah wanua yang tak jauh dari tempat itu. Setelah membeli empat ekor kuda dari tempat Lurah Wanua itu, mereka berempat pun segera melanjutkan perjalanan.


Tepat pada tengah hari, mereka berempat pun sampai di Kota Kadipaten Pasuruhan. Sebuah kota besar seperti ibukota pemerintahan daerah pada umumnya dengan segala hiruk pikuk dan bahayanya.


Panji Tejo Laksono segera menghentikan langkah kaki kuda tunggangan nya di depan sebuah warung makan yang cukup ramai dikunjungi oleh para pembeli. Ki Jatmika, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana pun mengikuti langkah sang pangeran muda ini.


Mereka segera melompat turun dari atas kuda tunggangan mereka masing-masing dan langsung mengikat tali kekang kudanya di geladakan yang ada di samping halaman warung makan ini.


Di atas pintu depan warung makan itu, tertulis beberapa huruf Jawa Kuno yang berderet rapi dengan warna merah yang indah. Bagi orang yang bisa membaca, tulisan indah ini menarik hati karena dia berbunyi,

__ADS_1


"Warung Kembang Sore"


.


__ADS_2