
Ki Soma dan Winata terus memacu kuda mereka ke arah benteng pertahanan Panjalu yang di bangun oleh para prajurit Panjalu di Wanua Sungging yang terletak di perbatasan wilayah Pakuwon Babat dan Pakuwon Banjar. Benteng pertahanan itu di bangun dekat sungai kecil yang mengalir ke Sungai Wulayu atau Bengawan Sore.
Untung saja, mereka hanya menghadapi gangguan dari 4 orang antek-antek Jenggala tadi hingga sampai di benteng pertahanan Panjalu ini dengan selamat. Keduanya bergegas menemui Tumenggung Landung yang di tugaskan oleh Senopati Agung Narapraja sebagai pimpinan sementara benteng pertahanan Panjalu ini selama sang pimpinan tertinggi prajurit Panjalu itu ada pertemuan dengan Adipati Mapanji Jayawarsa sang penguasa Kadipaten Bojonegoro.
Tumenggung Landung sedang mengawasi pelaksanaan penguatan benteng pertahanan Panjalu yang menggunakan kayu kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa yang di lancipi ujungnya saat kedua anggota Pasukan Lowo Bengi ini datang menemuinya. Melihat kedatangan mereka berdua, Tumenggung Landung langsung menebak bahwa telah terjadi sesuatu di wilayah perbatasan. Apalagi di baju Winata ada sisa darah yang mengering membuat pria paruh baya bertubuh kekar itu semakin yakin akan firasatnya.
"Sembah bakti kami, Gusti Tumenggung", ujar Ki Boma dan Winata bersamaan.
"Hmmmm..
Tak perlu basa-basi lagi. Cepat katakan berita apa yang kalian bawa kemari?", sahut Tumenggung Landung cepat.
"Pasukan Jenggala berjumlah sekitar 60 ribu orang prajurit sudah berkemah di timur Pakuwon Babat. Mereka di bantu pasukan yang mengendarai gajah. Tak kurang ada 15 gajah yang ikut serta dalam rombongan pasukan itu Gusti Tumenggung", lapor Ki Boma segera.
Wajah teduh Sang Tumenggung langsung menegang seperti sedang terkejut. Dia tahu bahwa pasukan Jenggala akan menyerbu lewat jalur utara namun tidak menduga kalau akan secepat ini. Tanpa menunggu lama, Tumenggung Landung segera menoleh ke arah Ki Juru Panengah.
"Ki Juru Panengah,
Aku tugaskan kau untuk secepatnya menemui Gusti Senopati Agung Narapraja di Bojonegoro. Katakan padanya, pasukan besar Jenggala sudah berkemah di timur Pakuwon Babat. Hari ini juga kau harus kembali ke benteng pertahanan ini bersama beliau.
Cepat berangkat!!", perintah Tumenggung Landung segera pada bawahannya itu.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung", usai menjawab perintah Tumenggung Landung, Ki Juru Panengah segera menghormat sebelum bergegas menuju ke arah geladakan kuda yang ada sisi barat benteng pertahanan. Bersama dengan 20 orang prajurit pilihan, Ki Juru Panengah segera melompat ke atas punggung kuda nya dan memacu kuda itu sekeras mungkin agar berlari kencang. Rombongan itu segera bergerak cepat menuju ke arah Kota Kadipaten Bojonegoro.
Setelah Ki Juru Panengah pergi melaksanakan tugas nya, Tumenggung Landung segera mengumpulkan seluruh perwira tamtama dan bintara di balai besar yang menjadi pusat pergerakan prajurit di benteng pertahanan ini. Dia segera mengatur pembagian tugas pada mereka sebagai persiapan untuk menghadapi perang yang akan terjadi di depan mata.
Sedangkan Ki Soma membawa Winata untuk segera mendapatkan pengobatan pada pondok tabib yang ada di salah satu bangunan yang tak jauh dari balai utama benteng pertahanan ini.
Debu-debu jalanan beterbangan mengikuti langkah kaki kuda Ki Juru Panengah. Perwira menengah Panjalu bertubuh kekar dengan kumis tipis dan jambang lebat ini terus memacu kuda nya melintasi jalan raya yang menuju ke arah Kota Kadipaten Bojonegoro. Begitu sampai di gerbang kota menjelang senja hari, mereka segera berbelok ke kanan mengikuti jalur besar yang menuju ke arah Istana Kadipaten Bojonegoro.
Empat orang prajurit yang sedang berjaga langsung menyilangkan tombak mereka sebagai tanda bahwa Ki Juru Panengah di larang masuk ke dalam istana dengan membawa para prajurit pengawalnya.
"Maaf Gusti Juru...
Aturan baru dari Gusti Pangeran Adipati Mapanji Jayawarsa, siapapun orangnya dilarang membawa pengawalnya masuk ke dalam istana. Jika Gusti Juru ingin menghadap, cukup Gusti Juru saja yang berangkat", ujar si pimpinan regu prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Bojonegoro ini tegas.
Hemmmmmmm
Terdengar suara dengusan nafas gusar dari Ki Juru Panengah. Tak ingin berdebat tentang hal ini, Ki Juru Panengah memerintahkan kepada para prajurit pengawalnya untuk menunggu di luar tembok istana sedangkan dia segera melangkah masuk dengan di temani oleh seorang prajurit penjaga gerbang istana.
Kedatangan Ki Juru Panengah segera menghentikan pembicaraan antara Senopati Agung Narapraja, Mapanji Jayawarsa dan Patih Ganarbhaya. Ketiga orang itu langsung menoleh ke arah lantai Pendopo Agung Kadipaten Bojonegoro dimana Ki Juru Panengah menyembah pada mereka dan segera duduk bersila.
"Ada apa kau kemari, Perwira?", tanya Mapanji Jayawarsa segera.
__ADS_1
"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati.. Kedatangan hamba kemari adalah sebagai utusan dari Gusti Tumenggung Landung untuk bicara dengan Gusti Senopati Agung Narapraja", jawab Ki Juru Panengah sembari menghormat pada Mapanji Jayawarsa.
"Paman Senopati Agung,
Perwira ini datang mencari mu. Silahkan berbincang. Siapa tahu ada yang penting", ujar Mapanji Jayawarsa sembari tersenyum tipis ke arah Senopati Agung Narapraja sembari mengangkat tangan kanannya sebagai tanda mempersilahkan kepada pimpinan tertinggi prajurit Panjalu itu.
"Ada urusan apa Tumenggung Landung mengutus mu, Juru Panengah? Apa ada sesuatu yang sangat penting?", tanya Senopati Agung Narapraja segera.
"Mohon ampun Gusti Senopati Agung..
Baru saja dua orang anggota Pasukan Lowo Bengi melapor pada Gusti Tumenggung Landung bahwa malam ini para prajurit Jenggala sudah memasang kemah di timur wilayah Pakuwon Babat. Jumlah pasukan mereka tidak kurang dari 60 ribu orang prajurit yang di bantu oleh pasukan gajah, Gusti Senopati Agung", jawab Ki Juru Panengah sembari menghormat pada Senopati Agung Narapraja.
Kontan saja, perwira tertinggi prajurit Panjalu itu segera berdiri dari tempat duduknya begitu mendengar berita itu sedangkan Mapanji Jayawarsa nampak pucat pasi wajahnya. Berita ini benar benar mengejutkan semua orang.
"I-itu artinya pasukan Jenggala berniat untuk menggempur Bojonegoro lebih dulu sebelum bergerak ke Daha, Paman Senopati Agung", saking gugupnya Mapanji Jayawarsa sempat terbata saat berbicara.
"Benar, Gusti Pangeran Adipati...
Sepertinya itu adalah rencana besar mereka. Menggempur Bojonegoro lalu bergerak menuju ke Kadiri. Dengan jumlah besar prajurit Jenggala, ini membuktikan bahwa mereka berniat untuk menguasai Bojonegoro sebelum ke Daha", jawab Senopati Agung Narapraja sedikit menakut-nakuti Mapanji Jayawarsa. Sedari tadi ia kesal setengah mati karena Mapanji Jayawarsa selalu menghindar saat dimintai bantuan prajurit untuk membantu benteng pertahanan di Wanua Sungging.
"Prajurit Bojonegoro sejumlah 20 ribu orang prajurit malam ini juga akan berangkat ke benteng pertahanan di Wanua Sungging, Paman Senopati Agung..
Ganarbhaya, cepat kau atur para prajurit untuk segera berangkat ke Wanua Sungging malam ini juga", perintah Mapanji Jayawarsa kepada Patih Ganarbhaya segera.
'Huh, setelah ada masak baru mau membantu. Rasakan kau sekarang, pangeran bodoh', maki Senopati Agung Narapraja dalam hati.
Malam itu juga, Senopati Agung Narapraja segera meninggalkan Kota Kadipaten Bojonegoro untuk segera kembali ke benteng pertahanan Panjalu di Wanua Sungging. Di belakangnya, 20 ribu orang prajurit Bojonegoro mengikuti langkah nya. Bermodalkan obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang di ikat tali dari kulit bambu apus, rombongan itu mirip dengan barisan ular api yang bergerak cepat menuju ke arah timur.
*****
Sementara para prajurit Panjalu di Bojonegoro mengatur persiapan untuk menghadapi para prajurit Jenggala, di istana Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono yang baru sampai siang hari itu berniat untuk mengumpulkan para perwira tinggi prajurit Seloageng yang tersisa setelah penyerbuan Kelompok Bulan Sabit Darah tadi malam.
Ternyata begitu sampai di Istana Kadipaten Seloageng, Tumenggung Sindupraja dan Senopati Muda Jarasanda sudah lebih dulu datang sesuai dengan perintah dari Prabu Jayengrana. Gayatri yang melihat kedatangan ayahnya di istana, langsung berlari dan memeluk tubuh lelaki tua berjanggut putih itu.
"Kanjeng Romo Tumenggung.. Gayatri kangen sekali dengan Kanjeng Romo", ujar Gayatri sembari memeluk erat tubuh ayahnya.
"Anak ku Cah Ayu...
Sudah-sudah, jangan membuat semua orang tahu bahwa kau manja seperti ini. Malu sama Nakmas Pangeran Adipati loh", ujar Tumenggung Sindupraja segera.
"Biarkan saja mereka tahu, aku tidak keberatan dengan itu semua.
Oh iya, Kanjeng Romo kapan sampainya? Kog cepat sekali?", Gayatri melepaskan pelukannya pada Tumenggung Sindupraja dan menatap wajah tua lelaki bertubuh gempal itu.
__ADS_1
"Tadi malam, setelah Gusti Prabu Jayengrana memerintahkan kepada ku dan Senopati Muda Jarasanda untuk kemari, kami langsung berangkat karena mengkhawatirkan keadaan di sini. Tapi syukurlah semuanya tidak separah yang kami pikirkan.
Kau baik-baik saja bukan putri ku?", Tumenggung Sindupraja menatap ujung rambut hingga ujung kaki Gayatri. Selir pertama Panji Tejo Laksono itu segera memutar badannya di depan sang ayah.
"Aku baik-baik saja Kanjeng Romo.. Kangmas Pangeran menjaga ku dengan baik", ujar Gayatri meninggikan Panji Tejo Laksono di depan ayahnya.
"Puja Sang Penguasa Alam Semesta.. Aku tidak salah memberikan putri kesayangan ku pada Nakmas Pangeran", ucap Tumenggung Sindupraja sambil tersenyum penuh arti.
Panji Tejo Laksono pun segera mendekati sang mertua dan segera menghormat pada lelaki tua bertubuh gempal ini.
"Sembah bakti saya Kanjeng Romo Tumenggung", Panji Tejo Laksono ingin menghormat pada Tumenggung Sindupraja namun pria tua ini buru-buru mencegahnya.
"Tidak perlu Nakmas Pangeran.. Seorang pangeran tidak boleh merendahkan martabat nya di hadapan bawahannya", ujar Tumenggung Sindupraja segera.
"Bagaimanapun, Kanjeng Romo Tumenggung Sindupraja adalah mertua ku. Jadi derajat Kanjeng Romo Tumenggung sama seperti kedua orang tua ku", sahut Panji Tejo Laksono seraya tersenyum tipis.
"Aku berterima kasih kepada Nakmas Pangeran sudah menganggap ku sebagai orang tua sendiri. Juga sudah menjaga Gayatri dengan baik. Itu sudah cukup untuk ku, Nakmas Pangeran", Tumenggung Sindupraja terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Panji Tejo Laksono. Mata lelaki tua itu berkaca-kaca.
Selepas mereka berbincang sebentar, mereka segera melangkah ke dalam Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Panji Tejo Laksono langsung mengumpulkan seluruh nayaka praja Seloageng malam itu juga.
Selepas malam mulai turun, di singgasana Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono sudah duduk dengan gagahnya. Di samping kanan ada Ayu Ratna sedangkan di samping kiri ada Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari. Gayatri duduk sedikit lebih rendah di samping Ayu Ratna, sedangkan Luh Jingga dan Dyah Kirana duduk di dekat Song Zhao Meng.
Di hadapannya, sebelah kanan Senopati Muda Jarasanda sudah duduk dengan tenang. Di sampingnya ada Tumenggung Sindupraja bersama seorang Juru dari istana Katang-katang yang bernama Mpu Sanna. Di sisi kiri depan Panji Tejo Laksono, ada Senopati Gardana, Demung Mpu Jodipati, dan Ki Juru Mpu Susena.
"Seloageng baru saja dilanda pralaya yang hampir saja meruntuhkan pemerintah Kadipaten ini. Namun, Sang Hyang Batara Wisnu masih melindungi kita semua, dan kita berhasil mengusir para perusuh itu. Namun ini belum selesai.
Para prajurit Jenggala sedang menata kekuatan untuk menggempur Panjalu lewat taktik perang trisula. Sepanjang perjalanan kemarin, aku telah melihat langsung bahwa ada puluhan ribu orang prajurit sedang bersiap untuk berangkat ke Panjalu lewat Kadipaten Kanjuruhan. Kita sebagai wilayah paling timur di sisi selatan Panjalu mau tidak mau harus mempertahankan kedaulatan kita untuk mengusir mereka dari Bumi Panjalu", ucap Panji Tejo Laksono membuka pembicaraan malam hari itu.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati jika saya lancang.
Gusti Prabu Jayengrana sudah memerintahkan kepada hamba untuk memimpin 30 ribu orang prajurit Panjalu untuk menghadapi mereka. Semuanya sudah berkemah di timur wilayah Bedander, tepatnya di tepi Kali Aksa. Mohon maaf, karena waktunya mendesak, baru sekarang hamba bisa melaporkan hal ini pada Gusti Pangeran Adipati ", Senopati Muda Jarasanda menghormat pada Panji Tejo Laksono usai berbicara.
"Hemmmmmmm..
Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Paman Jarasanda. Yang aku pikirkan sekarang adalah jumlah prajurit mereka tidak kurang dari 50 ribu orang. Sedangkan prajurit Kadipaten Seloageng saat ini kurang dari 20 ribu orang, itupun sudah termasuk para penjaga istana ini. Kita juga tidak bisa membiarkan istana ini kosong tanpa penjagaan", Panji Tejo Laksono mengerutkan keningnya pertanda bahwa dia sedang berpikir keras.
Suasana langsung hening seketika. Semua orang terlihat seperti sedang mencari pemecahan untuk permasalahan ini.
Dari arah luar, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Naratama dan Sriati melangkah masuk ke dalam Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Keempatnya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono lalu duduk bersila di lantai pendopo.
Demung Gumbreg yang melihat semua orang diam tanpa suara, langsung menyembah pada Panji Tejo Laksono sebelum berbicara,
"Mohon ampun bila saya salah Gusti Pangeran Adipati. Semua orang di sini hanya diam saja dari tadi. Yang ingin hamba tanyakan,
__ADS_1
Apa semua orang disini lagi sakit gigi?"