
Sementara Endang Patibrata mulai masuk ke dalam gerbang ghaib menuju ke Istana Kerajaan Siluman Randugrowong, Adipati Arya Natakusuma berjalan tertatih menuju ke tempat duduknya diikuti oleh Patih Tundungwaja. Bagaimanapun juga kepongahan mereka di awal masuk ke dalam sayembara ini telah mempermalukan mereka berdua. Hingga nyaris tak ada suara yang terdengar dari mulut Adipati Arya Natakusuma dan Patih Tundungwaja setelah duduk di tempat yang disediakan khusus untuk mereka. Keduanya diam saja sambil melihat ke arah Endang Patibrata yang duduk bersila dengan mata terpejam rapat di tengah balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang.
Begitu sampai di alam ghaib, Endang Patibrata langsung di hadang oleh beberapa makhluk menyeramkan di depan istana siluman Randugrowong.
Dengan sekuat tenaga, mereka menerjang maju ke arah Endang Patibrata dari segala penjuru.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!
Dua tendangan keras kearah perut cucu Warok Suropati ini. Endang Patibrata langsung menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada untuk pertahanan.
Dhhiiieeeeesssshhh!!
Tubuh sukma Endang Patibrata langsung terdorong mundur beberapa langkah ke belakang akibat dari tendangan keras dua siluman hitam ini. Belum genap sekejap mata, satu makhluk hitam menyeramkan ini melompat maju ke arah Sang Dewi Lembah Wilis ini sambil menghantamkan kepalan tangannya ke arah dada perempuan cantik itu segera.
Whhuuuuuuuggggh!!
Endang Patibrata mundur selangkah hingga tendangan keras itu hanya menyambar udara kosong sejengkal di depan perut perempuan cantik itu. Sedangkan dua lainnya bergerak cepat dari belakang dan mengayunkan tangan mereka ke arah kepala dan leher sang putri Lurah Wanua Pulung ini.
Whhuuusshhh whhhuuuggghhhh!!
Dengan lincah, Endang berkelit ke arah samping dan segera menghantamkan tapak tangan kanan nya kearah rusuk salah satu penyerang nya.
Dhhaaaassshhh!!
Si makhluk hitam menyeramkan itu segera terpelanting ke tanah dan langsung tewas seketika. Tubuhnya seketika berubah menjadi abu hitam.
'Rupanya kelemahan utama mereka adalah tenaga dalam ilmu kebatinan. Kalau begini, aku tidak perlu lagi membuang banyak waktu', batin Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis sembari melesat cepat kearah mereka.
Perlahan tangan kanannya mulai memancarkan cahaya biru redup yang di ikuti oleh angin dingin berdesir kencang layaknya badai yang menerjang saat Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis selesai merapal mantra Ajian Tapak Badai Laut Selatan. Melihat itu, bukannya ketakutan para dedemit Istana Siluman Randugrowong justru semakin menggila dan merangsek maju ke arah Endang Patibrata.
Dua siluman bertanduk itu langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah punggung Endang Patibrata. Dari ekor matanya, Endang Patibrata melihat pergerakan mereka. Segera dia merendahkan tubuhnya hingga serangan dua makhluk hitam menyeramkan itu hanya menyambar angin diatas kepalanya.
Dengan cepat, Endang Patibrata hantamkan kedua telapak tangan nya ke arah rusuk makhluk halus ini.
Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!
Dua makhluk tak kasat mata ini langsung terpental jauh dan menghantam lantai tempat pertarungan itu terjadi. Keduanya langsung tewas seketika dan berubah menjadi abu hitam yang segera tertiup angin hingga tubuhnya hilang tak berbekas sama sekali.
Sementara sukma Endang Patibrata mengamuk di istana siluman Randugrowong, di dunia nyata, puluhan orang yang ada di Balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang terkesima melihat tubuh kasar Endang Patibrata masih tegak tanpa terlihat kelelahan. Ini di luar bayangan semua orang yang sempat menduga bahwa Endang Patibrata tidak akan bertahan lama di Istana Siluman Randugrowong.
"Bagaimana mungkin gadis itu sanggup bertahan begitu lama di tempat terkutuk itu?", gumam Adipati Arya Natakusuma sembari meringis menahan rasa sakit yang menyerang dadanya. Luka dalam akibat pertarungan dengan Patih Kalitri membuat pernafasan nya sesak.
"Hamba tidak menduga kalau gadis muda itu begitu tangguh, Gusti Adipati..
Atau jangan-jangan dia...", Patih Tundungwaja tidak melanjutkan bisikan nya ke Adipati Arya Natakusuma.
"Jangan-jangan dia apa Paman Patih? Katakan saja terus terang..", Adipati Arya Natakusuma terlihat penasaran dengan omongan orang terdekatnya ini.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa, Gusti Adipati..
Nanti saja kita bahas lagi. Lihatlah gadis muda itu mulai berkeringat dingin", Patih Tundungwaja menunjuk ke arah badan kasar Endang Patibrata yang mulai basah oleh keringat.
Semua pandangan mata tertuju pada Endang Patibrata yang masih duduk bersila di tengah lantai Balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang.
Memang, setelah mengalahkan para siluman Randugrowong yang menghalangi jalan nya, sukma Endang Patibrata berhasil menembus ke dalam istana siluman itu dan berhasil menemukan Dewi Sekar Kedaton sedang terbaring di pembaringan kencana. Dan lagi lagi, Patih Kalitri yang menjadi penjaga terakhir di tempat itu, menjadi penghalang niat Endang Patibrata untuk membawa pulang Dewi Sekar Kedaton.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!
Endang Patibrata tersurut mundur beberapa langkah ke belakang begitu juga dengan Patih Kalitri usai keduanya beradu ilmu kesaktian. Patih kerajaan siluman Randugrowong itu mendengus geram karena baru kali ini bertemu lawan yang sepadan. Yang membuat nya semakin geram adalah sosok yang menjadi lawannya adalah seorang gadis muda yang baru melewati usia 2 dasawarsa.
"Perawan kemarin sore...
Aku akui dari semua orang yang mencoba untuk membawa calon istri junjungan ku, kau yang paling hebat. Tapi jangan jumawa dulu, hai pendekar muda. Aku masih belum kalah!!", teriak Patih Kalitri sembari menatap tajam ke arah Endang Patibrata.
"Aku tahu kau adalah manusia, Kisanak. Tapi manusia yang bersekutu dengan setan, tidak lagi di sebut dengan manusia. Tapi lebih tepat jika di sebut dengan setan berwujud manusia..
Dan setan berwujud manusia tidak layak untuk hidup bersama dengan manusia lainnya", ucap Endang Patibrata sembari tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang dianggap sebagai senyum hinaan oleh Patih Kalitri dan ini langsung membuat nya naik darah.
"Bangsat kecil!!
Kau tidak layak menceramahi ku tentang martabat manusia! Akan ku cincang tubuh mu sampai tulang mu pun akan ku hancurkan!!"
Selepas mengungkapkan kemurkaan nya, Patih Kalitri langsung mengibaskan tangannya ke arah Endang Patibrata. Ratusan hewan berbisa seperti lebah, kelabang, ular, kalajengking dan laba-laba langsung melesat ke arah Endang Patibrata. Ini bisa terjadi karena Patih Kalitri merupakan murid Nyi Polok, ratu teluh yang pernah membuat kekacauan besar di masa muda Prabu Jayengrana. Dia mewarisi ilmu pangiwa dari gurunya itu.
Chhrrrraaaaaassss chhraasshh!!!
Ratusan hewan berbisa yang di lepaskan oleh Patih Kalitri langsung tertebas oleh pedang Endang Patibrata. Sekali tebas mereka langsung musnah seketika. Ini membuat Patih Kalitri terkejut dengan apa yang terjadi di depan nya.
"Gadis busuk!!
Coba hadapi ilmu ku yang satu ini!!", Patih Kalitri langsung melemparkan keris yang baru dia cabut dari sarungnya. Tiba-tiba saja, keris ini berubah menjadi seekor ular raksasa yang langsung menyerang ke arah Endang Patibrata.
Putri Lurah Wanua Pulung ini mundur selangkah lalu menyambut serangan ular raksasa ciptaan Patih Kalitri. Dengan lincah Endang Patibrata menghindar dan menyerang balik pada hewan melata ini. Beberapa jurus berlalu, Endang Patibrata yang melihat ada kesempatan, langsung melenting tinggi ke udara dan menebas leher ular raksasa itu segera.
Chhrrrraaaaaasssshhh!!!
Tajamnya pedang Endang Patibrata yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi langsung membuat tubuh ular raksasa ciptaan Patih Kalitri ini terpisah menjadi dua. Begitu badan ular ini roboh ke tanah, wujud nya kembali menjadi keris pusaka dengan gagang terpisah dari bilah nya.
Patih Kalitri langsung marah besar. Tapak tangan nya dengan cepat dilapisi dengan cahaya biru kehitaman yang bergulung-gulung melingkari kedua lengan warangka praja siluman Randugrowong ini. Dia hendak melepaskan Ajian Gagar Langit yang merupakan ilmu pamungkas yang dia kuasai.
Melihat itu, Endang Patibrata langsung menyimpan pedang ke sarungnya. Dia tidak bisa main-main lagi sekarang karena lawan sudah bersiap dengan ilmu kanuragan andalannya. Mulutnya yang mungil pun segera komat-kamit membaca mantra. Kali ini dia ingin mengadu nyawa dengan Patih Kalitri menggunakan Ajian Waringin Sungsang yang dia kuasai hingga tahap kedelapan. Cahaya hijau kebiruan pun segera tercipta melingkari seluruh tubuh Endang Patibrata.
Begitu Ajian Gagar Langit selesai di rapal, Patih Kalitri langsung melesat cepat kearah Endang Patibrata sembari menghantamkan tangan kanannya ke arah dada perempuan cantik itu.
"Modar kowe, bocah sinting!!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!!!!"
__ADS_1
Dhhaaaassshhh!!!!
Ledakan dahsyat yang harusnya terdengar tiba tiba saja menghilang begitu saja. Dan cahaya biru kehitaman dari tangan Patih Kalitri terhisap masuk ke dalam tubuh Endang Patibrata yang diliputi oleh cahaya hijau kebiruan. Tak hanya sampai disitu, perlahan seluruh tenaga dalam dan daya hidup dari Patih Kalitri tersedot masuk ke dalam tubuh Endang Patibrata.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Patih Kalitri berteriak keras begitu merasakan sakit yang teramat sangat menyerang setiap persendian dan otot tubuhnya. Daya hidup nya terus tersedot oleh Ajian Waringin Sungsang dan ini sangat menyiksa diri nya. Perlahan tubuh kurus Patih Kalitri terlihat semakin kurus dan mulai menghitam. Darah segar keluar dari setiap lobang di tubuh Patih kerajaan siluman Randugrowong ini.
Endang Patibrata langsung menendang dada Patih Kalitri dan tubuh kurus nya langsung terpental jauh ke samping pembaringan kencana tempat Dewi Sekar Kedaton berada. Meski masih hidup, tapi pria bertubuh kurus ini sudah sekarat.
Melihat lawannya sudah berhasil dia kalahkan, Endang Patibrata langsung melesat cepat kearah tubuh Dewi Sekar Kedaton dan membopong tubuh putri Prabu Jayengrana ini segera. Dia segera bergegas meninggalkan istana siluman Randugrowong secepat mungkin.
Di tengah lantai Balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang, tiba-tiba saja muncul Dewi Sekar Kedaton di pangkuan Endang Patibrata. Bersamaan dengan itu, Endang Patibrata telah sadar dari Ajian Ngrogoh Sukmo nya. Dan ini langsung membuat gempar seisi balairung.
Prabu Jayengrana pun langsung mendekati mereka berdua. Begitu melihat Dewi Sekar Kedaton masih dalam pengaruh sihir istana siluman Randugrowong, Prabu Jayengrana segera meletakkan jempol tangan kanannya ke langit-langit mulut nya, lalu mengoleskan nya pada dahi Dewi Sekar Kedaton.
Perlahan mata Dewi Sekar Kedaton terbuka dan melihat sekitar nya seolah baru saja tersadar dari mimpi panjangnya.
"A-aku ada dimana, Kanjeng Romo Prabu?", tanya Dewi Sekar Kedaton dengan suara lirih.
Semua orang langsung menghela nafas lega mendengar suara dari putri Prabu Jayengrana itu. Sang Maharaja Panjalu pun segera tersenyum lebar.
"Kau sudah selamat anak ku..
Berterimakasihlah pada Nini Endang Patibrata yang sudah berhasil membawa mu pulang dari istana siluman Randugrowong", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.
"Terimakasih atas bantuannya, Nisanak..
Seumur hidup aku pasti akan selalu mengingat nya", ujar Dewi Sekar Kedaton sembari menganggukkan kepalanya pada Endang Patibrata.
"Aku hanya berjuang semampu ku, Gusti Putri. Jika Hyang Batara Agung tidak menghendaki, pasti ini semua tidak akan terjadi ", jawab Endang Patibrata sembari tersenyum tipis saja.
Kebahagiaan atas pulangnya Dewi Sekar Kedaton langsung tersebar luas di seluruh penjuru Istana Katang-katang. Ratu Pertama Nararya Ayu Galuh pun sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan oleh Endang Patibrata untuk menyelamatkan putrinya ini.
Sementara itu, Prabu Gendarmanik raja kerajaan siluman Randugrowong yang baru saja pulang dari Gunung Raung terkejut bukan main melihat keadaan istana Kerajaan Siluman Randugrowong yang porak poranda. Dia segera bergegas menuju ke arah kamar pribadinya dimana Dewi Sekar Kedaton kemarin dia sembunyikan.
Mata sang raja siluman itu membeliak lebar tatkala ia melihat Dewi Sekar Kedaton telah hilang sedangkan Patih Kalitri yang dia tugaskan untuk berjaga, terbaring sekarat tak jauh dari tempat itu. Prabu Gendarmanik segera mendekati sang warangka praja siluman Randugrowong ini.
"Katakan pada ku, Kalitri..
Siapa yang sudah berani mengacau di istana ini ha?", ucap Prabu Gendarmanik sembari gemerutuk gigi nya menahan amarah.
"Eehhhh..
Wa..ni..ttttaaa i..i-itu.. u..tus...ssaaannn Pra..buuu Jay..yengg..rraa..naaa....", setelah berkata demikian, kepala Patih Kalitri terkulai lemas pertanda bahwa dia telah tewas akibat luka di sekujur tubuhnya.
Prabu Gendarmanik meletakkan kepala warangka praja nya itu ke tanah lalu berdiri tegak dengan tangan mengepal erat.
"Akan ku balas kalian, Wong Panjalu!!!"
__ADS_1